
"Master, kau sudah datang."
Kalimat ini membuat semua orang jadi terdiam, dalam hati waspada dengan master yang ia panggil.
Orang hebat mana yang mampu menggentikan lajunya suatu peluru, eksitensi seperti itu tidak ada di dunia ini. Namun jika di lihat ekspresi senang nya bang Joker, semua orang jadi berkeringat. Mungkinkah ada orang seperti itu, jika itu benar, hari ini mungkin mereka akan tewas.
Saat ini Park Jung telah melepaskan ibu dan adiknya, dengan khawatir ia memeriksa keadaan ibu nya.
"Ibu, kau baik baik saja.?" tanya dengan khawatir.
"Ibu baik baik saja. Tapi mereka....?"
Ibu itu menoleh ke arah Taesik dan dua lainnya yang sedang terkapar di sana.
"Tidak apa apa, yang penting ibu selamat." jawab Park Jung dengan lega.
Ibu itu mengangguk lalu berkata lagi pada nya.
"Kalau begitu kau tolong mereka."
Park Jung mengangguk lalu bergegas ke mereka. Tapi aneh kenapa di luar sangat diam setelah tembakan tadi.
"Apa yang terjadi di luar, kenapa sangat diam.?" Gumam nya sambil mengarah keluar.
Ibu dan adik nya juga menoleh di sana, setelah itu mereka juga bergegas ke arah Taesik dan Si gadis yang bertarung tadi.
Sementara di luar.....
Saat ini para polisi dan sekelompok pria ber helm menyaksikan kemunculan seorang pria tua yang tadi melindungi bang Joker. Pria tua itu memakai baju kuno dari Tiongkok dengan kumis dan janggut putih yang panjang. Ia tampak seperti master bela diri kuno.
Bang Joker tersenyum menyeringai ke arah mereka lalu memberi hormat pada master itu.
"Master, aku benar benar berterima kasih telah datang menolongku. Jika kau tidak datang mungkin aku sudah mati di tangan mereka."
Pria tua mengangguk lalu berkata.
"Tenang saja, aku akan membereskan mereka yang telah berani macam macam denganmu."
Bang Joker langsung memberi hormat pada nya, lalu ia tersenyum licik pada mereka yang sedang berdiri sana.
Dengan cepat ia meraih si gadis yang tadi ingin melarikan diri, lalu kembali menahan nya. Setelah itu ia pergi dari sana.
Para pria ber helm ingin mengejar nya namun pak tua itu malah menghentikan mereka.
Pandangan mata pak tua itu sangat tajam, ia juga tersenyum sinis pada mereka dengan menampilkan gigi kuning nya. Membuat orang yang melihat itu ketakutan hingga mundur beberapa langkah.
"Tembak dia.!!" teriak ketua kelompok berhelm tersebut.
Ratusan peluru menuju ke arah nya.
Namun tiba tiba kakek tua itu menghilang dari pandangan mereka.
Mereka mengerutkan kening dan dengan panik mencari kakek tua itu.
"Di mana dia.?" ucap salah satu pria berhelm itu.
Tiba tiba orang yang baru berbicara itu membeku, lalu ia jatuh tanpa peringatan.
Semua orang menatap nya, salah satu teman nya memeriksa keadaan nya. Ia kaget karena orang ini sudah tidak bernyawa lagi. Di tambah darah mengalir lewat dada kiri nya. Ia segera membalikkan tubuh nya dan sadar kalau jantung nya telah di ambil.
Semua orang gemetar saat melihat teman mereka mati tanpa tahu apa yang terjadi, kapan ia di serang. Yang pasti kakek tua itu telah melakukan sesuatu.
"HUAAAAA, Kaker tua sialan.!!" teriak ketua kelompok itu sambil mengangkat dua senjatan nya di atas. Lalu menembak ke segala arah.
Dudududdududur.......
Ia menembak ke sembarang arah, tapi tiba tiba ia juga berhenti. Pandangan matanya jadi kosong, darah mengalir keluar dari mulut dan dada kiri nya. Ia juga terjatuh sama seperti teman nya tadi.
"BUNUH DIA....!!!!" Teriak mereka ketakutan. Semua mengangkat senjata dan menghujani siluet itu dengan ribuan peluru.
Peluru mereka tidak satupun mengenai siluet itu, malah mengenai lampu hingga lampu nya padam dan pandangan jadi lebih gelap.
Namun walaupun begitu, mereka tidak menghentikan tembakan mereka dan hanya menembak terus menerus tanpa arah yang jelas.
Sreet....
"Aaaaahk....."
Sreet.....
Sreeut...
"Ukh...."
Sreet....
Terdengar suara tebasan di sertai dengan teriakan kepedihan. Polisi hanya melihat siluet siluet yang berputar di antara mereka dan di sertai dengan darah yang terciprat lalu anggota anggota tubuh mereka yang tiba tiba terpisah.
Para polisi yang melihat peristiwa itu tiba tiba kaki mereka melemas, dan terjatuh. Ada juga yang masih berdiri, namun masih tidak percaya dengan apa yang di lihat di depan nya ini.
Lalu tiba tiba siluet berhenti di kegelapan, lalu perlahan keluarlah kakek tua tadi dengan sebilah pisau di tangan nya yang berlumuran darah.
Kakek tua itu menatap mereka dengan dingin, membuat mereka jatuh ketakutan.
"Si...siapa kau sebenar nya..??" Ucap ketua mereka dengan sedikit ketakutan. Namun ia masih berdiri tegar saat melihat kakek tua ini. Tidak seperti bawahan nya yang sudah KO dari tadi.
Lalu tiba tiba kakek itu menghilang sekali lagi kemudian mulai menyerang para polisi.
Teriakan menyakitkan dari para polisi terdengar di seluruh ruangan.
Membuat Park Jung dan keluarga nya juga kaget dengan apa yang terjadi di luar sana.
Lalu tiba tiba di balik pintu, seorang kakek tua masuk ke dalam. Park Jung, mundur beberapa langkah berusaha melindungi ibu dan adiknya. Wajah nya pucat setelah melihat salah satu mayat pak polisi yang tidak utuh lagi terlempar ke dalam ruangan.
Kakek itu berjalan ke arah mereka dengan pelan. Park Jung masih tetap berdiri walaupun kaki nya sudah gemetar.
Ibu nya tiba tiba maju dan bersujud pada kakek itu.
"Tolong biarkan kami hidup, kami hanya penghuni hotel ini yang tidak tahu apa apa. Tolong biarkan kami hidup." Ucap ibu sambil menangis terisak isak.
Park Jung juga tertegun melihat ibu nya lalu ia memanggil nya "ibu" dengan pelan. Namun ibu nya tidak mendengarkan nya, malah masih bersujud di hadapan pak tua itu. Ia juga maju, membantu ibu memohon agar membiarkan mereka pergi. Namun ia tidak bersujud seperti ibu nya, hanya berlutut saja itu sudah cukup, karna ia berpikir kalau ia masih punya harga diri.
Melihat tampang mereka yang menyedihkan, kakek itu mengerutkan kening. Ia berpikir kalau mereka ini seperti nya tidak ada hubungan nya dengan permasalahan ini. Ia juga malas membunuh mereka apalagi melihat mereka yang sudah memohon seperti ini. Ia lebih baik pergi dan mengejar bang Joker tadi.
Kakek itu pergi tanpa peringatan meninggalakan mereka. Setelah melihat kakek itu menghilang di balik pintu baru mereka menarik napas lega. Untuk sesaat hati Park Jung tampak hancur, ia tak bisa melindungi ibu nya dan malah membiarkan ibunya bersujud di depan orang lain. Ia menggenggam erat tangan nya, berpikir kalau ia terlalu lemah. Pokok nya di masa depan ia harus lebih kuat lagi.
Ibu itu menangis, memeluk kedua anaknya yang datang padanya. Sambil mencium mereka dengan penuh kasih sayang ia berkata dengan rasa penuh bersyukur.
"Sukurlah kalian baik baik saja."
Putrinya juga menangis, lalu membalas perkataan ibunya.
"Sukurlah Ibu juga baik baik saja."
Lalu mereka bergegas ke arah Teasik dan Jeongho. Park Jung lebih memilih menggendong Taesik, ibunya menggendong Jeongho dan Eunjung menggendong si gadis yang menolong mereka.
Dengan nada pelan ia memanggil nama gadis itu.
"Yuh Hee." Lalu ia mengangkat nya dan mengikuti kakak dan ibunya yang berjalan keluar.
Setelah keluar dari pintu, mereka kaget. Kaki mereka tiba tiba lemas hingga tak sanggup berdiri, di depan mereka puluhan mayat berserakan di atas lantai.
Park Jung berteriak dan memanggil nama saudaranya disana apakah masih ada yang hidup. Namun seperti yang di lihat nya, tidak ada satupun yang hidup di ruangan ini selain mereka sendiri. Ia berpikir, apakah kakek tadi yang membantai mereka. Kakek tadi itu siapa, dan pembantaian yang di lakukan ini pasti ia akan mengingat nya untuk membalaskan dendam para saudaranya di masa depan.