
Iringan musik dj memenuhi segala ruangan, semua orang menari takkaruan seperti orang gila dengan senangnya. Diatas langit-langit lampu disko berkelip-kelip dengan cahaya warna-warni membuat suasana ruangan menjadi lebih ricuh. Apalagi diatas panggung, beberapa wanita setengah tanpa busana menari sambil memamerkan keindahan tubuh mereka. Pakaian yang mereka kenakan hanya menutupi bagian penting saja. Dan sisanya menampilkan kulit mereka yang putih dan cantik. Ada juga beberapa meja dan kursi tempat mereka duduk dan menikmati beberapa meinuman.
Di lantai 40 ini ternyata adalah sebuah disotik, tempat di mana sangat besar dan mewah sehingga banyak pengunjung yang datang.
Di bagian sudut, tempat dimana tidak ada orang memperhatikan. Aku diam-diam berdiri menyaksikan suasana ini. Rasanya aku sudah berada didunia lain, tak pernah aku melihat hal seperti ini seumur hidupku. Aku tak bisa mengaktifkan mataku karena kelap kelipnya lampu bulat yang menggantung diatas sana.
Kupandangi semua orang yang ada ditempat ini, baik laki-laki maupun perempuan semuanya terlihat matre. Mereka bahkan dengan bebas menyentuh lawan jenis mereka tanpa memperdulikannya sama sekali. Seolah-olah itu adalah hal yang biasa. Aku dari tadi sudah berusaha mencari Taesik namun aku tidak bisa menemukannya. Bahkan aku sudah berulang kali berputar ditempat ini, tetap saja tak bisa menemukannya.
Seorang wanita mendatangiku, dia nampak sangat imut dan manis. Terlihat jauh lebih pendek dariku. Namun bentuk tubuhnya tidak bisa dikomentari lagi. Lekukan pinggangnya yang begitu menggoda dan tonjolan berisi yang menjulang tinggi membuat siapa pun pasti akan meneguk air mereka saat melihatnya. Bahkan kulihat beberapa pria yang menatapku dengan tatapan iri. Tapi juga tak bisa berbuat apa-apa.
"Bisakah kau menemaniku minum." ucap wanita itu sambil tersenyum padaku.
"Minum." Aku tidak mengerti apa yang dikatakan oleh wanita ini.
Namun sebelum aku berbicara ia sudah menarik lenganku dan menggandengnya, menempelkan tanganku pada gumpalan lembut ditubuhnya itu. Seketika aku jadi gugub tak tahu harus berbuat apa. Aku hanya diam dan pasrah terhadap wanita ini.
Ia membawaku kemeja minum dimana ada 4 orang disana. Masing-masing berpasangan, laki-laki dan perempuan. Mereka menatap kedatangan kami, apalagi mereka menatapku karena belum pernah melihatku sebelumnya.
"Wah, Angel. Apakah dia pacarmu.? Tampan sekali." Ucap salah satu wanita yang duduk disampingnya.
"Tampan yah, sayangnya dia bukan pacarku. Dia orang yang baru kutemui disini. Jadi aku memanggilnya untuk minum bersama kita." Ucap wanita yang bernama Angel itu sambil tersenyum padaku, kemudian memberikan sebuah minuman.
Aku semakin bingung dengan apa yang mereka bicarakan. Aku hendak pergi tapi dia menghentikanku dan memegang erat tanganku.
"Mau kemana.? Bukankah terlalu cepat." tanyanya dengan mengurutkan keningnya.
"Anu, aku mau pergi ketoilet dulu sebentar." jawabku sambil terburu-buru.
"Ketoilet." ucap mereka bersamaan.
Aku hanya mengangguk canggung ke mereka, lalu dengan cepat pergi dari sini. Tapi ketika hendak pergi, aku lupa sesuatu.
"Arah toilet dimana yah." Tanyaku pada mereka sekali lagi.
Mereka kembali menatapku, sebelum si pria berbicara. Wanita bernama Angel berdiri dan menatapku sambil tersenyum.
"Kau tidak tahu dimana toilet, aku bisa mengantarmu." perkataannya membuat teman-temannya menatapku dengan aneh.
Kemudian mereka tertawa kecil, seperti mengerti tentang sesuatu.
"Tidak perlu. Kau hanya perlu menujukan dimana arahnya saja." ucapku dengan malu-malu. Kapan aku bisa lari dari sini.
Angel cemberut sambil memegang kedua pinggangnya, wajahnya yang imut membuat siapapun merasa gemes dan ingin sekali mencubitnya.
"Ayolah Angel, tidak usahlah kau paksa dia. Dia mungkin terlalu malu atau mungkin terlalu takut melakukannya. Benarkan." Ucap salah satu wanita temannya sambil menatapku. Menggoyangkan gelasnya lalu meminumnya.
"Takut melakukan apa.?" tanyaku dengan polos, aku benar-benar tidak tahu arti perkataan mereka.
Mereka tertawa, apalagi yang laki-laki. Seolah-olah mereka sedang berbicara orang bodoh.
"Ayolah kawan, jangan bercanda. Kau tahukan, apa itu yang namanya begini." Pria itu memberiku sandi tangan yang tidak kumengerti.
Jari jempol dan telunjuknya membentuk huruf o dan telunjuk dari tangan yang lain dimasukan kedalamnya.
Sementara Angel memegang tanganku dan dengan cepat membawaku ketoilet. Kulihat wajahnya memerah, mungkin ia kebanyakan minum kali.
Angel membawaku sampai ketoilet, lalu menyuruhku buang air disana. Aku memang masuk, tapi anehnya ia tidak pergi dari depan pintu. Kapan aku perginya kalau begini.
"Kau tidak pergi.?" tanyaku dengan penasaran. Apa yang sedang wanita ini lakukan.
"Aku akan menjagamu disini, nanti ada orang yang menyakitimu." jawabnya dengan manja.
Apa. Menjagaku disini. Apa dia gila, dia mau mendengarkanku beraktivitas disini.
"Pergilah. Aku bisa jaga diriku sendiri." Ucapku dengan tenang, tapi dalam hati sudah terlalu gugub.
Dia diam sebentar dan tak berbicara lagi. Kukira dia akan pergi, tapi kenapa aku tak mendengar langkah kakinya.
Tiba-tiba pintu dibuka dan aku belum sempat bereaksi saat itu. Untungnya aku hanya pura-pura buang air. Kalau tidak akan sangat memalukan.
Dengan cepat ia menekanku sampai kedinding. Menempelkan bibirnya ketelingaku, napasnya bahkan membuatku terasa geli. Lalu dia berbisik padaku.
"Malam ini temani kakak yah." Ucapnya dengan lembut hingga membuat diriku bergetar. Bahkan tanpa sadar, reaksi yang tak pernah kurasakan sebelumnya terjadi secara tiba-tiba.
Apa ini apa yang terjadi. Aku jadi linglung apa yang harus kulakukan. Tubuhku tak mau mendengarkan isi hatiku. Apa yang harus kulakukan. Aku bagaikan sebuah mesin yang tak bisa kukendalikan lagi. Seketika aku langsung teringat kalau aku datang kesini untuk mencari Taeyun. Mengingat Taeyun yang berada ditangan sialan itu membuatku merasa geram.
Saat ini Angel hendak menciumku, namun aku langsung menghindar dan meninggalkannya sendirian ditoilet. Aku tak perduli apa yang ekspresinya saat ini, yang penting aku harus menemukan Taeyun dulu. Kebetulan aku berada di luar pesta itu, jadi aku bisa mengaktifkan mataku.
Tapi aku langsung terjatuh saat melihat isi lantai ini. Pemandangan disekelilingku ini membuatku tak bisa berkata-kata. Apa ini.
Ditoilet ini bukan dipakai untuk buang air, tapi hal yang lain. Kalian tahukan apa yang kumaksud jadi tak usah dijelasin lagi deh.
Tapi aku langsung melihat Taesik yang sedang melawan beberapa orang. Jadi aku langsung menuju kesana.
Kulihat Taesik yang tak bisa bertarung tapi bisa menjatuhkan beberapa orang. Pupil matanya berubah menjadi hijau, sepertinya ia dalam mode mengamuk. Tapi saat ini ia bertahan sambil melindungi wajahnya sendiri dengan kedua tangannya.
Walaupun mereka memukulnya beberapa kali, tapi Taesik tidak apa-apa. Bahkan dia tidak bergeming sedikit pun menerima serangan mereka apalagi terjatuh. Namun sekali ia memukul, orang yang terkena pukulan itu langsung KO dan terlempar jauh kedinding. Membuat mereka sedikit waspada dan menjaga jarak padanya.
Kebanyakan mereka menghindar dari serangan Taesik, karena naluri bertahan hidup, ditambah lagi mereka sepertinya berpengalaman dalam hal beladiri. Jadi Taesik sedikit kalah disini.
Ketika aku sampai disana, aku langsung menuntaskan musuhnya. Tak sampai 1 menit, mereka sudah terbaring dilantai sambil meringit kesakitan.
Tapi anehnya aku tidak melihat Taeyun dimana pun dilantai ini. Jadi aku bertanya kepada Taesik.
"Taesik, dimana Taeyun.?"
Taesik berteriak marah, tapi bukan padaku. Ia memaki si Badui beberapa kali.
"Taeyun dibawah oleh si Badui berensek sialan itu kelantai atas, sialan dia lolos dariku." Ucap Taesik dengan serak. Wajahnya sangat merah dan uratnya keluar di dahinya, tangannya dikepal erat bahkan darahnya keluar karena kukunya yang menantap kedagingnya.
"Apa.! sialan." Caciku sambil membuang ludah.
"Ayo kita kejar dia." Ucap Taesik kemudian kami berlari kembali kearah Lift.