NEVER DEAD

NEVER DEAD
TARGET



"********."


Mendengar perkataan paman, kalau Taeyun diculik oleh orang bernama bang Badui. Taesik makin marah, wajahnya langsung memerah dan ia menggenggam tanganya erat-erat.


Tanpa membuang waktu, ia langsung berlari mengejar mereka.


"Taesik, mau kemana kau." Pamannya bersaha memanggil Taesik, namun hanya diabaikan.


"Taesik. Tunggu dulu. Hei." lalu paman mulai mengejarnya.


Untungnya paman masih sempat untuk mencapainya.


"Taesik jangan sembrono." ucap paman sambil memegang bahunya.


Taesik langsung menghempaskan tangan paman.


"Apa maksudmu paman.?! Taeyun dicuri dan kau bilang aku tak boleh mengejarnya." Jawab Taesik dengan marah. Air matanya bahkan tidak bisa ia tahan lagi.


"Aku tahu perasaanmu saat ini Taesik. Kami juga merasakan hal sama, tapi kau juga jangan memasukan dirimu dalam bahaya."Paman buru-buru menenangkannya.


"Tidak paman, aku tak bisa menahan diri lagi. Taeyun sekarang sedang dalam bahaya. Aku tak bisa berdiam diri lagi." Taesik tak bisa mengendalikan diri lagi, ia mulai berteriak.


"Lalu apa yang kau lakukan. Kau pikir kau bisa mengalahkan mereka hanya dengan dirimu sendiri hah." Paman juga mulai emosi, dia juga mulai membentak Taesik.


"Lalu kau pikir apa yang kita lakukan. Berdiam diri, menunggu polisi datang dan melihat Taeyun ditangan polisi yang sedang pingsan seperti kemarin." perkataan Taesik membuat paman terdiam.


Karna paman hanya diam dan tak tahu harus menjawab apa. Taesik langsung melanjutkan.


"Tidak paman, tidak. Bahkan jika nyawaku hilang hari ini, aku juga tak akan membiarkan Taeyun kenapa-kenapa. Taeyun adalah adikku, aku tidak perduli bagaimana pun caranya. Aku takkan pernah lagi berbuat kesalahan kedua kalinya seperti kemarin. Aku sebagai kakak sudah sepantasnya melindunginya sampai batas keringat darahku."


Kemudian Taesik berlari mengejar para preman itu tanpa memperdulikan reaksi pamannya.


"Taesik tunggu."


Paman hendak mengejarnya, namun ketika ia melihat punggung Taesik yang menjauh ia jadi putus asa. Ia tak lagi mengejar Taesik, hanya berdiam diri disana menatap kepergiannya.


"Tae oh, maafkan aku. Karna tak bisa melindungi anakmu dengan baik." Ucapnya sambil memandang keatas langit. Lalu air matanya keluar kemudian ia berbalik dan berjalan ke bibi.


Melihat pemandangan mereka yang dipenuhi suasana sedih aku hanya terdiam tak bisa apa-apa. Dan tanpa pikir panjang aku juga mengejar Taesik.


_________


"********, ********. Brensek kau Badui sialan. Akan kubunuh kau."


Ucap Taesik sambil dengan geram sambil mengusap air matanya.


"Pokoknya kali ini, tak perduli apa. Aku akan merobekmu sialan."


"Taesik, Taesik. Tunggu.!" Teriakku padanya.


Awalnya ia tidak mendengarkanku, tapi karna aku memanggilnya berkali-kali jadi ia berhenti.


Ia menatapku dengan tajam, seperti hewan yang ingin makan orang.


"Apa kau ingin menghentikanku.?" tanyanya dengan dingin.


Aku juga berhenti, dan balik menatapnya kemudian tersenyum padanya.


"Sejak kapan aku melarangmu. Aku ini bukan pamanmu, aku saudaramu."


"Apa." katanya dengan sesikit kejutan diwajahnya.


"Apa kau tidak dengar aku. Kau bilang aku adalah saudaramu, jadi adikmu adalah adikku juga. Lalu kenapa cuman kamu yang menyelamatkannya, kenapa tidak ajak aku juga." Aku makin melangkah padanya.


"Maksudmu...?" tatapnya padaku dengan terbengong sebelum ia mengeluarkan senyumnya.


"Maksudku, mari kita pergi bersama-sama. Bukankah sudah pernah kubilang, kalau berandalan itu datang lagi. Mari kita pukul mereka." Ucapku dengan penuh mendominasi, sehingga membuatnya sedikit tertegun.


Akupun memegang bahunya kemudian berlari, ia juga mengikutiku dibelakang.


"Benarkah, tapi mereka adalah geng Black Dragon dan mereka sangat kuat. Aku tak mau merepotkanmu hanya karna urusan pribadiku." ucap Taesik dengan nada bersalah.


"Apakah kau meremehkanku.? Apa kau tidak melihat aksiku saat pertempuran kemarin. Dan kau bilang ini urusan pribadimu, apa kau tidak mendengar ucapanku tadi. Sudah kubilang kan, adikmu itu adikku juga sialan. Jika kau masih tidak mengakuiku, maka jangan panggil aku saudara lagi." jawabku dengan kesal, apakah orang ini tidak mempercayaiku atau dia terlalu gugub.


Kami pun mulai berlari mengejar mereka. Tunggu, sepertinya ada yang tidak beres. Kenapa kita berlari tanpa arah yang jelas.


"Taesik, kemana kita akan pergi." tanyaku padanya.


Taesik berhenti, ia terdiam sesaat lalu menatapku.


"A...aku tidak tahu."


"Apa.!! Kau tidak tahu. Jadi bagaimana kita akan menemukan Taeyun. Ternyata memang benar apa yang dikatakan paman. Kau terlalu ceroboh." jawabku dengan kesal. Bocah ini bahkan tak tahu kemana jalan menuju adiknya.


"Maaf maaf." jawabnya sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Lalu kemana kita akan pergi." tanyanya kemudian padaku.


"Aku tidak tahu." aku juga tidak tahu harus kemana. Jika aku mengaktifkan mataku disini maka Taesik akan menyadarinya.


Tiba-tiba seorang anak kecil datang kearah kami.


"Kakak, apa kalian sedang mengejar para gengters itu. Tadi aku melihatnya, mereka membawa seorang kakak perempuan dan berjalan kearah sana."


Ucapnya sambil menujuk kearah lorong serong kanan.


"Makasih dek."


Ucapku dan tanpa pikir panjang aku langsung lari kearah yang ditunjuk bocah itu. Karena aku berada didepan aku sengaja mengaktifkan mataku. Terlihat rombongan orang sedang menuju kejalan besar sambil menggendong seorang gadis kecil. Tentu saja itu adalah Taeyun.


Kami berlari mengejarnya, saat itu kami sudah dekat dengan mereka. Tepat kami keluar dari lorong itu kami melihat mereka sudah menaiki kendaraannya masing-masing.


Kami langsung menghentikan taksi, taksi berhenti. Dengan cepat kami masuk kedalam.


"Pak, pak. Ikuti mobil itu pak." Ucap taesik dengan tergesa-gesa.


Saat sang sopir menoleh, baru kami sadar kalau sopirnya seorang wanita. Usia sekitar 30 tahunan. Kami tertegun saat melihatnya.


"Maaf." ucap Taesik tanpa sadar.


Lalu mobil melaju sangat cepat.


________


Diatas sebuah gedung.....


Didepan mereka ada sebuah Hotel.


"Apa kalian sudah siap. Rey, Jongho."


3 remaja sedang duduk diam mengamati suasana dihotel tersebut. Mereka memakai baju kemeja hitam dan celana jens hitam pula. Semua serba hitam.


Rey memperbaiki kaos tanganya yang berwrna hitam lalu memperbaiki masternya.


"Aku siap. Bagaimana denganmu Jongho."


Seorang remaja yang berpakaian persis seperti Rey sedang mengotak atik laptopnya Ia sedang mendengarkan musik dangan headset ditelinganya.


"Aku juga siap. Bagimana denganmu Jangyeon" Ucapnya sambil memperbaiki topinya.


"Baiklah aku juga sudah siap. Jongho kamu sebagai Hacker harus mengawasi kami dari belakang. Sementara aku dan Rey akan menyusup ke hotel itu."


Jongho mengangguk dengan serius mendengar perkataan Jangyeon ini. Kemudian Rey duduk dan bertanya padanya.


"Jongho coba kau jelaskan tentang Hotel ini dengan detail dan bagaimana keadaannya saat ini."


Jeongho mengangguk kemudian membalikan laptopnya.


"Hotel One MCN ini terdapat 40 lantai dengan 500 kamar. Lantai pertama dan kedua adalah Lobby dan bioskop, lantai ke 3-7 adalah lantai standar. Dan.......bla bla bla bla....."


Jeongho mulai menjelaskan tentang Hotel itu lebih detail, sementara Rey dan temannya yang bernama Jangyeon mendengarkannya dengan penuh seksama.


"Target kita adalah orang ini." Jeongo menampilkan foto seseorang.