NEVER DEAD

NEVER DEAD
MENGAMUK



"Cepat lari....!!!"


Teriakku dengan keras pada nya, tapi saat ini aku melihat tangan kakek tua itu telah masuk ke dalam tubuh nya. Tepat di bagian dada kiri nya dan telah memegang jantung Taeyun yang berwarna merah mudah.


Matanya menjadi kosong namun ia masih menatapku, seolah olah ia masih hidup. Kemudian kakek itu mencabut tangan nya dan di jatuh ke tanah tepat di depan mataku.


Bukh.....


Mataku tidak salah melihat, adegan jatuh nya Taeyun terus berputar putar di bola mataku. Aku masih mengingat dia memanggilku "kakak" kakak dan kakak. Kedepan nya aku selalu berharap dia akan selalu memanggilku seperti itu. Namun di sudah... Aku membeku, menatap tak percaya dengan apa yang di lihatku. Taeyun sekarang sudah mati, dan sedang berbaring di sana dalam keadaan tak bernyawa lagi.


Kakek itu tersenyum puas lalu memakan jantung milik Taeyun dengan sangat menikmati.


"Jantung milik gadis virgin benar benar enak."


Mataku perlahan membesar saat mendangar nya, menatap Taeyun di sana. Darahku melonjak dari tubuhku langsung naik ke otakku. Otakku juga merespon nya, dengan bibir gemetar aku menggertakan gigi.


Saat ini kakek itu berjalan ke arahku, ia tersenyum licik dan mencibir.


"Bagaimana rasa nya nak, melihat adikmu sekarang mati tepat di depan matamu sendiri."


Kemudian ia tertawa menghina, melihatku yang cuman diam tak berkutik ia jadi tidak puas.


Ia mengangkat daguku menggunakan kuku tajam nya. Saat itu aku terdiam karena ada sesuatu yang tidak beres di dalam tubuhku. Seolah olah ada sesuatu yang terus melonjak dan perlahan mengusai setiap sel tubuhku di ikuti dengan rasa sakit yang sedikit aneh.


Aku menutup mataku karena rasa sakit ini, kakek itu mengira aku kesakitan karena kuku nya yang tajam. Ia kemudian mencibir sekali lagi.


"Bocah. Kenapa, kau takut padaku sekarang. Hahah, tapi sudah terlambat. Aku terlalu tidak puas bermain denganmu."


Saat ini aku mengeluarkan napas, mulutku mengeluarkan sebuah asap putih. Seperti sedang berada di tanah bersalju.


Entah kenapa rasa nya aku tak bisa mengendalikan pikiranku lagi, pikiranku sekarang sudah di penuhi dengan kemarahan dan kebencian yang mendalam pada kakek ini. Dalam pikiranku terus terusan terdengar suara "bunuh" bunuh bunuh. Kata kata itu selalu menghantui pikiranku.


Kakek itu melepaskan kuku nya dari daguku, menatapku dengan sedikit aneh kemudian ia mencibir lagi.


"Apakah kau setakut itu sampai sampai tak berani menatapku."


Mendengar nya, aku perlahan membuka mataku. Entah kenapa, ia seperti nya kaget setelah melihat mataku dan mundur beberapa langkah untuk menjauhiku.


Aku merasa tiba tiba tubuhku penuh dengan energik sekali lagi, luka yang aku derita sekarang tidak terasa lagi. Aku perlahan mencabut besi yang ada di dada kiriku. Lalu besi kedua dan besi ketiga.


Tubuhku tiba tiba mengeluarkan sebuah asap gas yang membuat lubang bekas besi tadi jadi tertutup kembali.


Kakek itu terkejut dan menatapku tidak percaya, aku menatap nya dengan dingin tapi api dalam diriku sedang membara untuk mencicipi darah nya.


Sekarang warna mataku berubah terbalik di mana warna putih bola mataku menjadi hitam dan pupil nya menjadi putih di dalam nya juga terdapat garis vertikal hitam yang berdiri.


Aku merasakan ada sebuah tonjolan tanduk yang perlahan muncul di dahiku, beberapa lain nya muncul di bagian sikutku. Lalu dua lain nya juga tumbuh di punggungku. Ku lihat tanganku sekarang sudah di penuhi dengan akar akar urat yang berwarna putih.


Kakek itu benar benar tak percaya dengan apa yang di lihat nya, sambil menahan rasa penasaran nya ia bertanya padaku.


"Kau.... apa yang terjadi padamu.?"


Aku hanya merasa tubuhku terasa ringan sekali, hingga sebelum kakek itu bereaksi tanganku sudah hampir mencapai wajah nya.


BOOOOMM.....


Dinding nya meledak sekali lagi, saat ini kakek itu sedang berusaha sekuat tenaga untuk menahan pukulanku.


Kami berdua saling bertatapan, ia sedikit kesusahan menahan seranganku. Tampak nya dalam mode mengamuk ini kekuatanku melonjak menjadi berkali kali lipat.


Seketika auraku langsung naik dan membentuk sebuah tangan bening berwarna putih di atas kepalaku. Kedua tangan itu saling menggenggam, lalu dengan ganas membanting tepat di mana kakek itu berada.


"Apa."


Kakek itu terkejut dengan tangan beningku itu. Lalu ia menghindar dengan cepat dari tempat itu.


BOOOOMM....


Kedua tangan itu kembali dan seolah olah memegang kedua bahuku dari belakang, membuatku seperti mempunyai armor tersendiri.


Kakek itu menatapku dengan waspada.


Aku langsung mengaum ke arah nya dan melesat sekali lagi.


ROOAAAAAAR.....!!!!!


Aku langsung menendang nya, ia menghindari nya namun dengan cepat aku memutarkan balik dan menendang nya sekali lagi.


Aku terus menyerang nya tanpa memberikan nya kesempatan untuk membalas. Dia hanya bisa mengelak dan bertahan.


Aku meninju nya sekali lagi, ia menangkis nya lalu kedua tangan virtualku mencengkram kedua bahu nya yang kurus hingga membuat bahu nya berdarah. Aku langsung menarik nya ke arahku, dan hendak memberi nya tendangan lutut.


Siapa yang menyangka ia akan menggunakan kaki nya untuk menangkis lututku. Untung nya di bagian lututku juga di tumbuhi dengan tulang yang runcing sehingga tulang itu menembus kaki nya.


"Ukh...." kakek itu meringis kesakitan.


Aku menarik lututku kemudian memukul wajah nya dengan keras, sekarang di seluruh sendi tubuhku di penuhi dengan tulang runcing membuat setengah wajah nya terkelupas akibat tanganku.


BOOOOMM.....


Ia mendarat di dinding, menyemburkan darah segar. Tangan virtualku tiba tiba memanjang dan melaju ke arah nya.


Ia langsung menghindari tangan virtualku, tapi dengan kecepatanku bukan hal yang sulit untuk menangkap nya sekalipun.


Pokok nya tidak peduli apa, aku akan membunuh kakek ini. Dalam otakku sekarang tidak ada hal lain lagi, selain menjadi maniak yang haus akan darah. Darah kakek ini akan pembayaran yang sah dengan apa yang ia lakukan tadi.


Aku melirik Taeyun, yang terbaring di sana. Mata nya masih menatapku dengan tatapan kosong, aku tidak tahu apakah ia memang sudah pergi atau masih menyaksikan pertempuran kami. Aku benar benar menyesal tidak membawa nya jauh dari sini.


Taesik, maafkan aku. Aku tak bisa menjaga adikmu dengan baik.


Tapi maniak busuk pemakan jantung ini harus di hapuskan dari dunia ini. Dia membunuh Taeyun dengan memakan jantung nya benar benar kejam. Dari sekian pengalamanku di akademi, cara ini adalah cara terjijik yang pernah aku lihat. Kakek ini menggunakan jantung manusia untuk meningkatkan kekuatan nya, bisa di bilang ia adalah kanibal pemakan daging mentah.