
"Itu mereka. Cepat tangkap mereka berdua."
Rey dan Jangyeon membeku ditempat, berbalik kearah belakang. Segerombolan orang mengejar mereka. Padahal saat ini mereka sedang mengecek apa yang ada di dalam koper itu.
Koper yang dia bawa oleh Rey berisi uang setengah milliar sedangkan koper yang di bawa oleh Jangyeon berisi obat-obatan terlarang.
Berpikir dalam hati kalau sebenarnya pak Dongwon itu ternyata seorang pencandu narkoba. Mereka akhirnya mengerti mengapa pak Dongwon selalu melukukan bisnis dengan pak Yoran. Ternyata selama ini mereka sudah melakukan transaksi ini berkali-kali.
"Kita berdua harus berpisah, nanti kita bertemu lagi ditempat yang sama oke." Ucap Rey pada Jangyeon.
Mereka berdua pun berpisah, gerombolan orang yang mengejarnya juga terpisah. Jangyeon menuju lantai atas, sementara Rey menuju lantai bawah. Mereka berlari dengan kencang, tak perduli apa pun yang ada di depan mereka.
Dengan lincah, Rey berlari berliku-liku dengan koper ditangannya. Ia juga dengan lincah melompati benda-benda yang menghalanginya. Sementara pengejarnya itu kadang kadang terjatuh saat menabrak benda di depan mereka.
Rey tetap berlari, di depannya ada sebuah tangga. Ia langsung turun kebawah dengan cara meluncur di samping tangga seperti bermain seluncuran anak anak. Sangat cepat, tanpa butuh waktu lama sudah sampai dilantai bawah, lantai 48.
Para segerombolan dibelakang tetap mengikutinya, tapi mereka tidak melakukan hal yang sama seperti Rey. Mereka menuruni tangga dengan hati hati. Tapi karena Rey sudah terlalu jauh, mereka mulai mempercepat langkahnya bahkan sampai lupa kalau ini adalah tangga. Sehingga orang yang paling belakang terpeleset hingga jatuh dan menimpa teman di depannya. Mereka juga ikut terjatuh dan berguling-guling menuruni tangga.
Orang-orang dilantai 48 itu tercengang, ada juga yang berteriak histeris. Ketika sampai keujung tangga, Rey melompat dan mendarat dengan aman. Lalu kembali berlari seperti semula.
Sementara para gerombolan itu berguling-guling sampai kebawah. Kepala mereka ada yang berdarah, ada juga hindung nya yang berdarah. Tapi mereka tetap tidak menyerah, dan terus mengejar Rey.
"AAAAHHH......" para tamu berteriak histeris sambil menghindari mereka.
Braakh...
Bruuught...
Clinng....
Traang....
Meja hidangan jatuh berserakan ditabrak oleh rombongan ini. padahal lantai ini adalah sebuah Lounge. Tapi mereka tetap tidak memperdulikannya. Pesta yang awalnya tenang dan mewah jadi begitu ricuh dan berantakan karena datangnya beberapa orang tak dikenal ini.
________
Sementara Jangyeon berlari menaiki tangga. Ia juga dikejar oleh para segerombolan, sama seperti Rey.
Ketika Jangyeon berlari, salah satu orang yang mengejarnya menangkap bahunya. Seketika Jangyeon berbalik dan langsung memberinya pukulan.
BUUKH.....
Pukulan itu mengenai wajahnya, orang itu jatuh dari tangga namun dua yang lain juga ikut maju. Jangyeon kemudian menendangnya sampai orang itu menempel di dinding dan yang satunya lagi ia hanya memukulnya hingga juga jatuh dari tangga.
Buught....
Baght.....
Setelah mereka berdua turun, yang satunya lagi maju kehadapanya.
Jangyeon langsung memukul wajahnya, namun ia hanya menangkap tangannya.
Saat itulah Jangyeon mengerti kalau pria yang satunya ini bukanlah orang sembarangan. Kemungkinan ia adalah ketua dari gerombolan ini.
Benar saja, orang itu lansung menarik tangannya dan hendak menguncinya. Namun reaksi Jangyeon cukup cepat, ia langsung memberinya tendangan lutut hingga pria itu jadi batal mengancingnya karena harus menahan tendangan lutut ini.
Setelah itu pertarungan epik pun terjadi diatas tangga dengan ruang lingkup yang sangat kecil. Pertarungan antara Jangyeon melawan pria dihadapannya beserta anak buahnya. Ungtungnya Jangyeon pernah belajar Kick Boxing sewaktu kecil dan sudah biasa berkelahi dengan para preman dijalanan. Jika bukan karena itu mungkin ia akan langsung di injak injak oleh mereka.
Namun diluar dugaannya, pria yang ia lawan ini juga bukan pria biasa. Ia adalah seorang ahli beladiri Aikido. Seorang petarung yang sangat sulit untuk di lawan. Bela diri yang cenderung menggunakan kuncian dan bantingan. Ini merupakan lawan yang sangat sulit untuk di hadapi ditempat seperti ini, apalagi ia sedang mempunyai beban di tangannya.
Tidak ada cara lain selain lari. Itulah gagasan dalam pikiran Jangyeon.
Ia sudah bersiap untuk lari, namun pria itu menangkapnya dan langsung menguncinya.
"Ukh." keluh Jangyeon.
Tapi ia langsung menendangnya balik dan berhasil melepaskan diri. Tanpa pikir panjang Jangyeon langsung minggat dari tangga itu.
Pria itu mundur beberapa langkah kebawah, tendangan itu berhasil ditahannya namun masih membuatnya mundur.
Ia sadar kalau lawannya sudah melarikan diri.
"Kejar dia, jangan biarkan dia lolos." teriak pria itu.
Kemudian anak buahnya di belakang mulai mengejarnya. Hingga tersisa ia sendiri, diam diam ia tersenyum licik.
"Aku ingin lihat sampai mana kau dapat bertahan."
__________
Seorang pria berotot berumur 30 tahunan mendekati bosnya.
"Ada apa." Ucapnya dengan dingin.
Seorang pria paruh baya sedang duduk disebuah kursi, memandangi pemandangan yang indah di sebuah danau.
Suaranya membawa wibawa yang sangat tinggi membuat siapa pun akan spontan menunduk dengan hormat saat berbicara dengannya.
Tapi saat ini ia tidak menoleh sedikit pun pada managernya ini, ia hanya menikmati udara yang segar ini.
Pria itu terlihat tidak tenang, dan dengan berhati-hati berkata.
"Aku menerima telepon dari rumah kalau nyonya dan nona muda sedang diculik."
"Di culik." ucap Pria itu dengan tenang, kemudian ia berbalik kearah managernya itu. Membuat menejernya hanya diam dan menunduk.
Ia mempunyai wajah yang garang, tampaknya seorang tentara berpangkat tinggi. Di ujung bibirnya terdapat bekas irisan pisau yang membuat dirinya seperti orang yang perkasa.
"Siapa yang berani menculik istri dan putriku."
Walaupun ia berkata dengan tenang, namun aslinya perkataan itu mempunyai dominan yang sangat tinggi. Di dalamnya juga terdapat aura pembunuh yang kuat.
"Belum diketahui tuan, tapi mereka membawa nyonya dan nona muda ke hotel ONE MCN untuk melakukan transaksi."
"Oh jadi begitukah. Aku ingin lihat siapa yang berani menyinggung diriku ini. Cepat siapkan mobil, kita akan kembali ke Seoul."
"Baik."
___________
Di dalam salah satu kamar hotel, lantai 45.
"HMMMPHH....HMMMPHH....HMMPH...."
"Jangan bergerak sampai ayahmu datang." Ucap bang Joker sambil tersenyum pada gadis yang sedang mereka ikat.
Bukan hanya gadis itu yang diikat, tapi juga ibu dan temannya juga ikut diikat. Mereka meronta-ronta dan ingin sekali berteriak. Tapi bagaimanapun mulut mereka sedang di bungkam.
Bang Joker datang mendekati ibu si gadis itu. Menatapnya dengan senyum, sementara si ibu meronta ronta dan ingin mengatakan sesuatu.
Sepertinya bang Joker mengerti apa yang di inginkan wanita ini. Dia kemudian melepaskan lakban yang membungkam mulut ibu itu dengan kasar.
Percayalah itu sangat sakit, jika itu laki laki maka kumisnya langsung rontok.
Ibu itu menarik napas panjang, lalu memaki-maki bang Joker. Kemudian berkata.
"Berani sekali kalian melakukan ini, jika suamiku tahu maka kalian semua pasti akan binasa."
Bang Joker malah tertawa melihat kelakuan ibu itu, ia mencubit dagunya dan mengatakan.
"Aku tidak takut pada suamimu, yang penting dia pasti tak mau melihat kau menderita bukan."
Lalu ia mengeluarkan pisau dari sakunya, menempelkan pada leher ibu itu. Sementara dua gadis di sampingnya berteriak sambil meronta ronta. Tapi mau di apa, tangan dan mulutnya sudah di bungkam.
Pisau itu menggores lehernya, hingga mengeluarkan darah. Tampaknya pisau sangat tajam hingga lukanya tampak dalam. Wajah si ibu jadi tampak lebih pucat.
"Sudahlah, tidak ada gunanya aku membunuhmu sekarang. Kita tunggu orang yang menyelamatkanmu dulu. Orang yang telah menggagalkan rencana kami saat menculik tasmu kemarin. Merekalah sasaran kami sebenarnya."
Ibu itu langsung tertegun, tapi anak gadisnya terkejut. Bang joker tampaknya menyadari ekspresi mereka.
"Ho, tampaknya kalian tahu sesuatu."
Ibu itu hanya diam karena tidak tahu, sementara anak gadisnya membelalakan matanya.
Bang joker tersenyum, mendekati anak gadis itu dan membuka lakban di mulutnya.
"Jika kau menginginkan mereka, aku bisa memanggilnya untukmu." ucap gadis itu.
Ibu itu terkejut mendengar putrinya berbicara seperti itu.
"Eun jung, apa kau tahu tentang mereka.?"Tanya ibunya dengan penasaran.
"Ya ibu, aku melihat mereka waktu di rumah sakit. Kami menemukan tas ibu di tangan mereka." Jawab anak gadis yang bernama Eun jung itu.
Mendengar itu, bang Joker langsung tersenyum puas.
"Kau tau mereka, coba ceritakan mereka lebih detail."