
Setelah kami masuk kedalam rumah, Taesik membawaku kedalam kamarnya. Sementara paman dan bibi sedang membahas masalah mengapa mereka pulang begitu cepat.
Kamarnya tidak begitu luas, hanya ada satu tempat tidur, satu meja belajar, dan satu lemari barang. Yah, setidaknya kamar ini lebih besar daripada kamarku diakademi dulu.
Taesik menyuruhku menyimpan barangku dibagian sudut. Setelah itu aku berbaring ditempat tidurnya dan meregangkan tubuhku disana. Sangat lembut, belum pernah aku merasakan betapa lembutnya kasur. Walaupun aku melihat kasurnya agak kusam, tapi aku bersyukur karena aku akhirnya bisa tidur dikasur sekarang.
Taesik menendangku kesamping lalu berbaring disebelahku. Ia menghela napas panjang dan merenungkan apa yang terjadi kemarin. Kemudian ia melirikku dan mencibir.
"Hei, apakah kau belum pernah menyentuh kasur."
Aku yang saat itu sedang mengelus-ngelus kasur mengangguk dengan senangnya. Sementara ia memandangiku dengan tatapan aneh.
"Sebenarnya kau itu dari mana. Mengapa aku merasa kalau kau sepertinya berasal dari dunia yang berbeda."
Aku tidak menjawabnya dan hanya membenamkan tubuhku pada kasur itu.
Melihatku yang hanya diam, ia kembali menghela napas. Tak tau harus berbuat apa.
"Sepertinya percuma bertanya seperti itu padamu yah. Semua orang juga punya rahasia masing-masing. Tapi aku merasa kalau kehidupanmu sepertinya lebih buruk dari pada aku."
Ia kembali melirikku, aku juga memandanginya tapi tidak mengatakan apa-apa. Kemudian ia berbalik lagi.
"Rian, kau tahu. Sejak aku umur 7 tahun, ibu dan ayahku meninggal karena kecelakaan. Adikku saat itu baru berumur 5 tahun. Sejak saat itu kami hidup sendirian dan sangat merindukan orang tua kami. Untungnya paman dan bibi membawa kami keluar dan mulai merawat kami disini. Paman dan bibi sangat baik, dia menyekolahkan kami, menyayangi kami seperti anaknya sendiri. Mungkin karena mereka tidak mempunyai anak jadi mereka memperlakukan kami dengan sangat baik. Kami pikir kami akan hidup seperti ini selamanya sampai kami berkeluarga juga.
Hingga suatu hari bencana mendatangi kami."
Aku mulai mendengarkan ceritanya dengan seksama. Kemudian ia melanjutkan.
"Paman dan bibi awalnya mereka adalah seorang detektif. Mungkin karena pekerjaan itu mereka jatuh cinta dan menikah. setelah menikah bibi mendirikan sebuah tokoh, tokonya cukup besar hingga mampu mencukupi kebutuhan selama ini. Tapi toko itu tiba-tiba meledak karena kebocoran gas yang tidak diinginkan. Kami pun kehilangan tempat penghasilan kami. Tapi paman masih bisa menghidupi kami dengan pekerjaannya sebagai detektif.
Namun tidak lama kemudian setelah kebakaran itu, adikku juga mengalami kecelakaan dan ia sedang koma dirumah sakit. Kami membutuhkan uang yang sangat banyak untuk biaya operasi. Terpaksa paman meminjam uang dari bank demi bisa membayar biayanya.
Itu terjadi dua tahun lalu. Awalnya kami mengira kalau paman memang berhutang pada bank tapi ternyata itu semua bohong. Sebulan kemudian setelah sembuhnya adikku beberapa preman datang kerumah kami. Meminta-minta untuk membayar hutang pinjaman pamanku. Disitulah kami sadar kalau paman telah meminjam uang pada orang yang salah. Orang yang meminjamkan uangnya pada paman adalah seorang kepala gengster. Dan ketahuan juga kalau paman telah masuk kedalam jebakannya. Uang yang dipinjam paman menjadi 2 kali lipat dari pinjaman aslinya.
Jadi kami berusaha membayarnya walau harganya menjadi dua kali lipat sekalipun. Kebanyakan kami menyicil uangnya dan utangnya tidak pernah habis karena adanya bunga hutang yang selalu meningkat setiap bulan. Sudah 2 tahun kami berusaha membayar hutang itu. Tapi hutangnya tidak penah berkurang bahkan makin bertambah seiring perkembangan waktu. Ditambah dengan tekanan yang mereka berikan pada kami membuat kami selalu ketakutan dan menanggung rasa malu dari masyarakat yang menonton atas kekacauan yang mereka perbuat.
Dan adikku sedang dirawat dirumah sakit saat ini. Beberapa hari yang lalu mereka menculik adikku lalu mereka bilang jika ia mau tidur dengan mereka semua, maka hutang yang belum kami bayar bulan ini telah terbayarkan dengan menggunakan tubuh adikku. Aku tidak tahu apa yang terjadi saat itu. Sebagai seorang kakak, aku tidak berguna. Saat itu kami tak bisa berbuat apa-apa. Kami hanya berusaha menelpon polisi, namun semuanya sudah terlambat. Adikku sudah......."
Sampai disitu Taesik menangis, menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Aku bisa merasakan betapa sakitnya kejadian itu. Sampai-sampai adiknya yang saat ini hanya umur 15 tahun sudah mendapat perlakuan seperti itu. Entah kenapa dihatiku muncul rasa simpati dari anak ini. Rasa yang tidak pernah kurasakan, selama latihan keras dimasa lalu, baru kali ini aku merasakannya.
"Hei apa kau bodoh, dasar gak peka. Orang lagi sedih-sedihnya, kau malah tersenyum sialan."
"Hei, aku juga berusaha menghiburmu. Aku juga tidak tahu bagaimana." Jawabku dengan jujur.
"Berusaha apaan, hanya tertawain aja." Balasnya dengan kesal.
"Bedakan tertawa dan tersenyum." Aku juga mulai kesal dengannya.
"Sudah sudah..... tak perlu dijelasin lagi." jawabnya dengan acuh tak acuh kemudian ia memeluk gulingnya dan kembali tertidur.
"Hei...."
Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya diam dan berbaring disampingku. Aku juga diam dan tak berbicara lagi. Aku berusaha tidur namun tak bisa tidur dan itu sepertinya juga terjadi padanya. Sampai beberapa lama aku akhirnya membuka mulut.
"Hei, kalau kita bertemu dengan ********-******** yang mengganggu keluargamu itu, mari kita pukul mereka." kataku berusaha menghiburnya.
Namun ia masih saja tetap diam. Sepertinya ia masih marah. Kemudian aku berkata lagi.
"Hei, mau dengar ceritaku." tanyaku kemudian.
Dia tetap tidak bergerak, namun aku tahu kalau ia belum tidur.
"Benar apa yang kamu katakan Taesik. Bisa dibilang keadaanmu sedikit lebih baik daripada keadaanku."
Saat mendengar ceritaku ia mulai bergerak. Lalu aku melanjutkan.
"Aku dari kecil tak pernah mendapatkan kasih sayang orang tua. Mendengar ceritamu tadi sebelumnya aku sangat iri padamu. Bisa mendapatkan kasih sayang saat masih kecil. Sementara aku, aku hanya anak buangan."
"Apa, anak buangan apa maksudmu." Kemudian ia mendengak kearahku, menatapku dengan penasaran.
"Kata bu Ryun, aku temukan didekat hilir sungai. Bu Ryun dan suaminya adalah orang yang telah memungutku dan membesarkanku. Tapi karna alasan anak pungutan itu mereka selalu memarahiku dan bilang kalau aku anak buangan. Meskipun aku dibesarkan oleh mereka, namun aku tidak dapat kasih sayang asli dari mereka. Mereka hanya membesarkanku seperti anak hewan yang nantinya akan mereka jual. Kemudian......."
Aku malai menceritakan masa laluku. Tentang aku hidup bersama petani itu, dijual kekeluarga konglomerat dan siksaan keluarga itu. Taesik juga mendengarkanku dengan seksama. Ia juga memandangiku dengan tatapan kasihan. Ia juga tak lupa bertanya padaku mengenai kehidupanku itu dan tentu saja aku menjawabnya dengar jujur.
Aku juga menjelaskan mengapa aku sangat senang saat melihat kerumunan dan rumah. Karna aku memang dari kecil tak pernah melihat hal seperti itu apalagi melihat wanita. Hidupku dihabiskan didalam gudang ketika aku masih kecil dan dihabiskan dihutan saat latihan diakademi. Hanya saja tentang kemampuan aneh kami, aku menyembunyikannya. Dan mengenai nyaman atau tidaknya aku tinggal dalam rumah ini, aku belum mengetahuinya.