
Pertarungan kali ini pasti akan melibatkan hidup dan mati nya sekarang.
Jika ia tak dapat bertahan melawan orang ini ia pasti akan mati. Dia butuh waktu untuk menenangkan napasnya.
"Tunggu, jika kau pria maka biarkan aku beristrahat sebentar."
Pria itu mengerutkan kening nya saat mendengar kata kata nya, apalagi melihat ia duduk dengan santai tanpa memperdulikan dirinya. Padahal ia akan segera membunuh bocah ini. Tapi kenapa tidak ada jejak ketakutan dalam diri nya. Sepertinya anak ini merencanakan sesuatu.
Diam diam Jangyeon tersenyum licik, ia mengeluarkan korek dari saku nya dan langsung menyalakan nya tepat di wajah orang itu. Hendak ingin menghipnotis diri nya.
Namun seketika tangan nya langsung di tendang oleh nya hingga korek itu terlempar jauh ke lantai.
Jangyeon ingin lari dan hendak mengejar korek itu, pria itu langsung menendang nya lagi dan menekan perut nya di dinding hingga ia berteriak kesakitan.
"Aaakh.... Ukh...."
Jangyeon mendesis ketakutan, wajah nya pucat. Kaki pria itu menekan luka di perut nya hingga darah bercecer keluar.
"Sudah kuduga kau pasti mempunyai rencana licik. Biar kutebak, kau pasti menggunakan cara ini untuk mengelabui pak Dongwon bukan. Cara menjijikanmu ini tidak berguna di hadapanku." Ucapnya sambil tertawa senang.
Jang yeon tidak menjawab. Tubuh nya sudah terlalu banyak mengeluarkan darah membuat kepala nya pusing dan tubuh nya sedikit mati rasa. Sebenarnya ia sudah terlalu lelah dan terluka parah, ia tak bisa bergerak dengan bebas lagi. Apalagi bertarung dengan seorang ahli yang satu ini.
Namun ia sadar kalau ia menyerah di sini maka ia akan mati dan tak bisa melihat dunia lagi. Sekali ia pingsan maka ia akan pingsan selama lamanya tanpa terbangun lagi.
Memikirkan ini membuat nya sakit hati, ia tidak rela jika mati sekarang. Masih terlalu cepat untuk mati sekarang, masih ada dendam yang harus ia bayar di kehidupan ini. Oleh karna itu ia harus bertahan hidup.
Kemudian ia dengan susah payah menekan kengantukan nya, berusaha mengangkat kepalanya menatap pria di depan nya ini dengan wajah yang gemetar kesakitan. Sudut bibir pucat nya terangkat keatas, menatap nya sambil tersenyum.
Alis pria terangkat melihat anak di depan nya ini malah tersenyum padanya. Sepertinya anak ini belum puas dengan apa yang di berikan nya. Kemudian ia menekan perutnya lagi dengan kekuatan yang lebih kuat.
"Aaakh....." Ringisnya sekali lagi.
Mulut nya mulai memuntahkan darah, tapi ia masih mempunyai sisa tenaga. Dengan cepat ia terduduk sambil menendang salah satu kakinya yang masih berdiri.
Bukh...
Pria itu terjatuh, kemudian ia menjauh sedikit dari pria itu.
Pria itu dengan cepat bangun dan menatapnya dengan garang. Mereka saling bertatapan satu sama lain. Karena lukanya terus mengeluarkan darah, ia terpaksa membuka bajunya. Menampilkan kertas besi pelapis yang tertempel di beberapa bagian tubuh nya. Namun jelas kalau kalau kertas itu juga penuh dengan sobekan karena pertempuran tadi.
Pria itu tertawa dan menatap nya dengan geli.
"Pantas saja, aku merasa kalau kulitmu itu sedikit keras jika berhadapan dengan benda tajam. Ternyata kau sudah membuat persiapan yah."
Jang yeon tidak menjawab nya, ia hanya berusaha membuka kertas pelapis di perut nya. Lalu mengikat perutnya dengan baju yang ia pakai, demi menghambat darah yang keluar.
Setelah itu, ia memasang ancang ancang. Menatap pria itu dengan tenang sambil menunggu nya maju.
Pria itu masih saja tertawa sambil memandang remeh diri nya.
"Kita lihat sampai kapan kau akan bertahan. Dengan luka seperti itu, kuharap kau bisa menjadi boneka yang memuaskanku hari ini."
Jangyeon malah tersenyum sinis.
"Kita lihat saja, apakah boneka ini memang bisa bertahan atau mampu mengalahkanmu."
Senyum pria itu menghilang di gantikan perasaan marah. Berpikir kalau mulut anak ini masih saja aktif di saat seperti ini membuat nya sangat kesal. Ia menggertakan giginya lalu berteriak.
"Jangan mimpi."
Ia langsung menerjang ke arah Jangyeon, dan memberikan nya tendangan.
Namun Jangyeon malah menghindar, dan dengan cepat pula ia mendekati nya lalu menyerang dengan tinju sekencang angin.
Pria itu tidak dapat menghindar hanya menggunakan tangan nya juga untuk menangkis beberapa pukulannya.
Pukulan Jeongho terlalu cepat dan tangan nya yang licin karena keringat menyebabkan ia tak bisa menangkap tangannya atau mengancingnya.
Jelas itu bukan keuntungan baginya dalam perkelahian ini.
Pria itu menunggu kesempatan di cela cela pukulan nya, lalu di saat yang tepat ia langsung menendang perutnya.
PIAAK...
Tabrakan antara dua kaki itu sangat keras mengakibatkan mereka mundur ke belakang.
Jangyeon dan pria itu menarik napas bersama sama, lalu berteriak...
Hiyaah.....
Heaaaah....
Kemudian mereka melanjutkan pertarungan.
________
Ting.....
Pintu lift terbuka, Park Jung dan 5 orang polisi keluar dari pintu tersebut.
Dengan cemas, ia ingin pergi mencari ibunya. Namun pak polisi menghentikan nya.
"Apa yang kau lakukan.?" Park Jung dengan marah bertanya pada polisi itu.
Polisi itu menyuruh nya tetap tenang dan diam, lalu samar samar mereka mendengar ada keributan tidak jauh dari sana.
Tentu saja mereka semua yang ada di situ juga mendengar nya.
Tiba tiba seorang wanita datang ke arah mereka, tampak nya ia adalah salah satu penghuni hotel ini.
"Pak polisi, Dikamar 476 ada keributan. Aku tadi melihat dengan jelas sekelompok pria bertopeng datang menyekap 3 orang wanita." Ucap wanita itu dengan ketakutan.
"Benarkah.? Dimana mereka.?" Tanya Park Jung dengan tergesa gesa.
Namun polisi itu bergegas datang ke arah wanita itu.
"Terimah kasih atas informasimu nona, katakan kapan mereka datang." Ucap nya dengan tenang.
Wanita itu jadi bingung harus menjawab siapa dulu. Namun ia tetap menjawab pertanyaan polisi terlebih dahulu.
"Mereka datang 1 jam yang lalu, dan mereka ada di arah sana."
Wanita itu menunjuk kerah kiri.
Semua orang menoleh ke arah sana, namun Park Jung sudah lama pergi dari mereka.
"Hei tunggu, jangan ceroboh."Teriak polisi itu.
Tapi Park jung tidak menghiraukannya dan hanya berlari ke arah keributan itu.
"Kalian cepat kejar dia, jangan sampai anak itu membuat yang tidak tidak."
Ke empat polisi lainnya berdiri tegak Lalu memberi hormat padanya.
"Baik insperktur."
Setelah itu mereka pergi mengejar Park Jung.
"Kami benar benar berterimah kasih nona atas informasimu. Nanti kami akan menanyaimu lagi. Mari tunjukan KTP mu."
Wanita itu langsung memberinya KTp nya, setelah memeriksanya dan mencatatnya ia kemudian memberi salam pada wanita itu lalu bergegas pergi mengejar yang lainnya.
Park Jung berlari ke arah keributan tersebut, semakin dekat maka suaranya semakin jelas. Ia jelas dapat mendengar kalau ada yang bertarung di dalam sana.
Ia berhenti sampai ke depan pintu, dimana keributan itu berasal. Sebelum ia masuk, seseorang terlempar melewati pintu tersebut. Melihat keadaan orang itu yang berdarah darah ia pun mengerutkan kening.
Segera ia masuk, matanya terbelalak menemukan ibu dan adiknya beserta teman nya sedang di ikat di sana.
"IBUU.....!!"