NEVER DEAD

NEVER DEAD
TEMAN LAMA



Setelah masalah sudah selesai, kami keluar menuju tangga dengan Rey di punggungku dan Taeyun membantuku membawakan uang hasil curian Rey tadi.


Rencanaku ingin pergi melihat keadaan Taesik. Karena ketika aku mengaktifkan mataku aku melihatnya sedang di pukuli oleh para berandalan yang ada di bawah.


________


Lantai 45......


Salah satu anak buah bang Joker menyeret Taesik dengan satu tangan ke hadapan nya.


"Bos, anak ini tidak sehebat yang di kita kira. Mana mungkin ia bisa mengalahkan anak buah bos yang di kirim waktu itu."


Ucap anak buah itu sambil menjambak rambut Taesik ke hadapan bang Joker. Taesik yang sudah tak berdaya tak bisa menatap bang joker dengan benar. Kepala nya di penuhi darah, sekujur tubuh nya di penuhi luka. Berbicara pun ia tak mampu karna saking sakit nya.


Bang Joker memandangi Taesik dengan serius, orang ini tampak nya sangat hati hati. Tapi akhirnya ia tidak menemukan apa apa. Kemudian ia menampar Taesik dengan keras hingga Taesik ingin terjatuh namun karna rambut nya yang di jambak sehingga ia tidak jatuh.


Lalu dengan kuat ia memegang dagu nya, rasa nya ia ingin sekali menghancurkan dagu anak ini.


"Katakan siapa yang menghajar anak buah kami waktu itu." ucap bang Joker dengan dingin.


Taesik hanya diam, bukan karna tak bisa berbicara namun karna ia tak ingin Rian dan Rey terlibat dengan masalah nya ini. Di tambah lagi mulut dan sekujur tubuh nya sangat sakit saat ini. Dari rambut hingga kaki terasa perih karna luka yang mereka berikan pada nya.


"Dasar tidak berguna." teriak bang Joker dengan kesal karna Taesik ini tidak menjawab nya.


Ia langsung menampar nya kembali, namun Taesik juga tidak bereaksi. Ia berdiri kemudian menendang nya dengan sekuat tenaga.


Bukhg......


Taesik mundur di belakang dan tergeletak di lantai. Ia terbatuk dengan menyedihkan dan memuntahkan seteguk darah segar. Bang Joker mendatangi nya dan hendak menginjak injak sampai ia mati. Tapi ibu yang di ikat di sana berteriak histeris hingga membuat semua orang terkejut.


"Jangan pukul anak itu lagi, bagaimana pun ia adalah orang yang telah membantuku. Jika tidak kalian memukul nya lagi, kalian pasti akan menyesal, ingat itu baik baik." teriak nya dengan keras.


Perkataan itu tampak nya membuat bang Joker sedikit kesal. Ia kembali berjalan ke ibu itu, lekas ingin menampar nya. Agar ia tak berisik lagi, agar ia tahu siapa di sini yang harus diam dan menutup mulut. Walaupun ibu ini sedang di ikat dan di ambang kematian, tapi ia masih banyak bacot di hadapan nya. Terus berteriak kalau suami nya akan datang menyelamatkan nya.


Harus di ketahui, walaupun suami ibu ini kelihatan hebat. Tapi mereka juga tidak tampak takut, karna ada organisasi yang mendukung di belakang mereka.


"Haaah......" Bang Joker mengangkat tangan nya tinggi tinggi.


Sang ibu menutup mata sambil menggigit bibir bawah nya, pasrah menerima semua perlakuan ini.


"Berhenti." Suara tegas seorang gadis berbunyi keras di balik pintu.


Bang Joker berhenti, tangan nya masih berada di atas. Semua orang menatap ke arah pintu.


Seorang gadis tak di ketahui oleh mereka berdiri di depan pintu. Memakai pakaian hitam tertutup, dengan pistol di tangan nya mengarah ke arah bang Joker.


"Siapa kau." Bang Joker mengurutkan kening saat melihat gadis itu.


Jeongho di balik pintu hanya terbengong atas keberanian gadis ini. Apakah ia tidak takut mereka akan menyerang nya. Sungguh gadis yang berani.


"Hanya seorang gadis, kenapa begitu banyak bacot. Pukul dia." Perintah bang Joker pada anak buah nya.


Para anak buah nya maju, gadis itu mundur seketika.


Di belakang Jeongho tampak panik melihat situasi, tanpa pikir panjang ia langsung berlari ketakutan.


Gadis yang melihat kepergian Jeongho tampak ada kekecewaan di mata nya. Tapi tidak terlalu memikirkan nya, seolah oleh ia sudah tahu sifat asli Jeongho yang memang anak yang lugu.


Gadis itu mulai menembaki para pria bertopeng yang maju.


Dor dor dor dor.....


Peluru pistol nya kadang mengenai kaki, paha dan bagian tubuh bawah lainnya kecuali ******** mereka hingga terjatuh. Tampak nya ia sedikit terlatih dalam hal menembak hingga tembakan nya tidak mengenai bagian lain selain bagian kaki bawah nya.


Bahkan bang Joker juga sedikit terkejut saat melihat pistol asli di tangan nya. Seorang gadis kecil bahkan bisa memegang sebuah pistol, ia mulai mempertanyakan latar belakang gadis ini.


Para pria yang terkena tembakan itu langsung terjatuh di lantai, karena saking sakit nya mereka tak bisa apa apa. Namun mereka juga bukan tipe manusia yang takut mati, para pria di belakang nya juga maju tanpa henti.Tunggu sampai peluru di pistol gadis itu habis, baru mereka akan menghajar nya.


Ceklek.....


Sekarang pistol di tangan nya sudah kehabisan peluru, sementara para musuh masih banyak yang belum terluka, ia terpaksa menggertakan gigi nya. Memegang pistol nya erat erat, mengeluarkan tongkat besi nya. Bersiap menghadapi musuh tapi di dalam hati nya ia sedikit takut menghadapi orang sebanyak ini. Ia juga bukan orang hebat atau seorang ahli, ia hanya seorang gadis yang selalu berlatih setiap harinya demi bisa mencapai impian untuk menjadi polisi. Jadi untuk melawan orang sebanyak ini ia hanya pasrah bertahan dan mengambil kesempatan untuk melarikan diri.


Hiyah.....


Semua orang berteriak menyerbu dengan ganas, tanpa mempertimbangkan ia pria atau wanita. Pokok nya sikat...


Gadis itu terus terusan mundur, dan memasang kuda kuda bertahan.


Orang paling depan maju dan hendak memukul nya, tiba tiba Jeongho dari luar pintu dengan cepat melompat dan menendang ke samping hingga membuat orang itu terhuyung huyung ke samping kanan.


Buakhg....


Untuk sesaat semua orang berhenti dan melihat salah satu teman nya terlempar ke sana.


Bahkan si gadis itu juga tampak terkejut, menatap punggung seorang anak laki laki di hadapan nya ini. Seorang anak laki laki yang tinggi dan tegap, tampan bahkan wajah nya tidak kalah cantik dengan seorang wanita. Memasang ancang ancang dan tanpa takut menatap musuh yang ada di hadapan nya.


Headphone masih bergantung di leher nya, ia tahu kalau selama ini Jeongho memang suka musik jadi ia selalu membawa headphone itu ke mana mana. Di tambah lagi ia sangat terkejut melihat kalau headphone itu adalah hadiah ulang tahun yang di berikan pada nya sewaktu kecil.


Ternyata ia tadi salah sangka kalau Jeongho melarikan diri, rupanya ia hanya pergi meletakkan komputer nya di tempat yang aman. Komputer nya saat ini dalam keadaan menyala sambil mengirim sinyal bala bantuan kepada pihak yang berwajib. Setidak nya ia bisa berusaha mengulur waktu agar mereka datang.


Gadis itu tanpa sadar meneteskan air mata terharu melihat teman lama nya ini yang sudah berubah dan juga tanpa sadar ia memanggil namanya..


"Jeongho."