
"Rian, bagaimana keadaan kakak." Tanya Taeyun dengan cemas.
"Sudah kubilang panggil aku kakak." ucapku padanya dengan sedikit kesal.
"Huh, kakak Rian. Dimana kakakku.?" Tanya nya lagi dengan cemberut.
Aku mengerutkan kening saat mendengar pertanyaan Taeyun. Aku juga tidak tega bagaimana menjawab nya, yang jelas di bawah sana terjadi suatu masalah dan juga tiba tiba muncul nya sosok yang sangat kuat. Hingga membuatku sedikit cemas saat memikirkan nya.
"Kak Rian...., apa yang kakak pikirkan." Untung nya Taeyun menyadarkanku dari lamunanku sendiri.
"Huh, tidak ada."
Taeyun memutar bola matanya.
"Kak, aku ini bertanya di mana kakakku." Tanyanya nya lagi.
"Dia ada di bawah sana, tapi kayak nya ada masalah deh."
Taeyun tiba tiba terkejut.
"Hah, masalah. Masalah apa yang menimpa kakakku."
Aku mengerutkan kening sambil menatap nya perasaan bersalah.
"Aku juga tidak tahu. Kita berdoa saja semoga ia baik saja."
Raut wajah Taeyun tiba tiba bersedih lalu menggigit bibir nya, berkata dengan penuh harap.
"Iyah semoga ia baik baik saja."
Aku memandang nya sekali lagi, gadis ini tampak nya sangat sayang pada kakak nya. Dengan gugub, aku bertanya pada nya.
"Tampak nya kau sangat sayang pada kakakmu."
Taeyun menatapku lalu tertawa kecil.
"Kenapa, kau iri." Ucap nya sambil menatap nakal padaku.
Aku menghindari tatapan nya, dengan sibuk berkata "Tidak". Wajahku juga sedikit memerah, seharusnya aku tak menyakan hal ini. Tapi jujur, di dalam lubuk hatiku aku sebenar nya sangat menginginkan seorang adik yang sangat sayang dan pengertian seperti Taeyun. Aku teringat saat masih berumur 7 tahun. Saat itu aku terpisah dengan Rindy, anak dari seorang petani yang telah mengadopsiku.
Walaupun ia seumuran denganku, tapi kami masih berbeda beberapa bulan. Dan dia sudah kuanggap sebagai adikku sendiri karena aku lebih tua dari nya. Walaupun saat itu ibu tidak mau membiarkan aku dekat dengan nya. Tapi jujur saja aku sangat sedih saat meninggalkan mereka saat itu Hingga saat ini, aku ingin sekali mempunyai adik perempuan.
Taeyun sepertinya menyadari pikiranku, lalu ia menghela napas panjang.
"Hanya dia satu satunya kakakku di dunia ini. Setelah ayah dan ibu meninggal karena kecelakaan waktu itu, hanya kakakku lah yang berusaha menghiburku atas kesedihan yang aku alami. Walaupun sekarang kami tinggal di rumah paman dan bibi, tapi dia juga selalu membantu paman mencari nafkah. Ia juga sering memberiku uang saku. Bagiku dia adalah kakak yang paling baik sedunia."
Ucapan nya sangat tulus, membuatku tak tahan untuk menatap nya.
Kemudian ia melanjutkan.
"Paman dan bibi juga sangat baik, namun aku hanya menyusahkan mereka. Aku selalu membuat mereka kesusahan, akulah yang membuat mereka berhutang banyak oleh bang Badui. Saat aku kecelakaan waktu itu, paman meminjam 10 juta darinya demi membayar biaya rumah sakitku. Paman meminjam nya 2 tahun yang lalu dan sekarang utang itu telah menjadi 100 juta. Saat menjaga toko bibi, aku juga tidak berhati hati waktu itu dan malah meledakkan tabung gas hingga membuat toko kami hancur.
Sekarang paman dan bibi tidak punya uang lagi untuk membayar utang. Dan pasti utang itu akan terus bertambah membuat keluarga kami akan terus sengsara. Itu semua karena aku, aku selalu menjadi beban untuk mereka. Aku tidak berguna, aku lebih baik tiada dari pada harus terus menyusahkan mereka terus."
Aku kaget, menatap nya dengan tidak percaya. Saat ini aku melihat nya, sedang meneteskan air mata. Entah betapa susah nya ia menanggung semua penderitaan ini. Ia pasti terus kepikiran tentang keluarga nya. Melihat nya yang tidak berdaya aku tak tahan untuk menghibur nya.
"Jika mereka mendengarmu berbicara begitu, pasti mereka sangat marah."
Taeyun menunduk, lalu mengusap ingus nya. Entah apa yang pikirkan nya setelah mendengar perkataanku.
"Yah, mau bagaimana lagi. Nyata nya begitu kok. Kalau aku tiada pasti mereka tidak akan menanggung beban berat lagi."
Aku berhenti, memegang lengan nya.
Masa kamu mau bilang tiada begitu saja. Bukankah kau akan mengecewakan mereka. Kalau begitu sia sia deh usaha mereka selama ini." ucapku padanya dengan sedikit candaan.
Yah saat ini sebenar nya aku sedikit malu, berkata panjang lebar seperti ini sebenar nya aku sudah biasa menyemangati temanku saat di akademi waktu itu. Setiap kali mereka menyerah dengan latihan nya atau tidak mampu melakukan sesuatu maka kadang aku akan menasehati mereka seperti itu. Tapi kali ini aku baru pertama kali menyemangati perempuan, jadi aku benar benar sangat gugub.
Taeyun mengusap air mata nya, mungkin ia sadar dengan perkataanku tadi.
"Begitu yah. Jadi aku harus bagaimana kak." Tanya nya sambil menatapku.
Aku melihat mata dan hidung nya yang merah dengan sangat jelas karena kulit wajah nya yang putih bersih seperti bunga teratai membuatku tak tahan untuk menghapus air mata dari wajah nya.
"Kamu harus tetap kuat, jalani hidupmu dengan baik. Kalau tidak apakah kamu mau mereka kecewa."
Ia menggelengkan kepala nya, dan sibuk berkata tidak.
"Makanya, harus tetap semangat dong.!"
Saat ini ia tiba tiba tersenyum dan mengangguk padaku, gigi putih nya membuatku sadar kalau aku sudah bertindak berlebihan.
Dengan cepat aku melepaskan tanganku, lalu berbalik sambil menggaruk garuk rambutku sambil mengatakan.
"Maaf."
Ucapku dengan gugub, Wajahku memanas, dan parah nya aku tak bisa menahan rasa maluku. Apa yang aku lakukan dengan seorang anak yang baru berumur 15 tahun. Parah nih, ini adik nya Taesik.
Aku menggelengkan kepalaku tanpa alasan, untuk menutupi rasa gugubku aku jadi melangkah terburu buru.
"Ayo kita pergi temui kakakmu." Ucapku sambil membawa Rey lebih cepat.
Taeyun tertawa, kemudian mengikutiku dari belakang.
"Kakak, rambutnya gatal yah.?"
Aku berbalik ke arahnya menyadari kalau ia sedang menahan tawanya dari tadi. Aku pura pura tidak tahu sambil berkata.
"Yah begitulah."
Dia tertawa sambil menarik narik kincir rambutku yang telah kuikat.
"Ini pasti banyak kutunya. Makanya kak, kau harus memotong rambutmu yang panjang ini. Seperti perempuan saja, kalau tidak mau yah setidaknya kau harus rajin berkeramas lah." Ejeknya.
"Memangnya rambutku bau." Tanyaku padanya.
Ia pasti berpikir kalau aku hanyalah anak kampung yang tidak tahu apa apa tentang kecantikan. Yah sebenarnya begitu sih, selama ini aku tak pernah mengkeramas rambutku pakai sampo. Jangankan sampo, kami mandi saja tidak pakai sabun dan mandinya sangat jarang kami lakukan. Jadi tidak heran kalau kami sangat bau saat tinggal di akademi.
Aku menghela napas disaat Taeyun menjawab kalau rambutku tidak bau. Hidupku benar benar naif.
Kami pun melanjutkan perjalanan sambil bercanda tawa.
Sampai di lantai 46 aku tiba tiba melihat bang Joker berjalan dengan terburu buru sambil membawa seorang gadis tidak jauh dari kami. Hanya saja mereka sedang di tutupi oleh dinding, oleh karena itu Taeyun tidak melihat mereka. Seperti nya ia akan pergi ke lantai atas dan hendak memakai lift. Melihat Gadis itu yang tampak menyedihkan itu membuatku sedikit kasihan.
Aku mengubah arah jalanku, lalu menurunkan Rey di punggungku.
"Taeyun, apakah kau bisa menjaga Rey di sini.??"
Taeyun mengangguk, dia dengan sedikit khawatir bertanya padaku akan pergi kemana. Aku hanya bilang pergi sebentar, kau tunggu di sini dan jangan kemana mana.
Ia mengangguk padaku saat aku pergi. Lalu ia memanggil lagi.
"Jangan lama lama yah."
Aku juga mengangguk padanya, aku tahu dia memang tidak harus di tinggalkan di saat seperti ini. Dan dia juga butuh perlindungan jika ada orang yang menyakitinya nanti. Oleh karena itu, aku berjanji akan pergi sebentar saja. Setelah menyelesaikan gadis yang di sana aku pasti akan segera pulang.