
Demi melarikan diri dari akademi, kami terpaksa membunuh profesor dan guru Li yang selama ini hanya memanfaatkan kami. Di sana aku mengorbankan nyawaku demi teman temanku yang ada di luar dengan meledakan bom nuklir terbesar ciptaan guru Li sendiri untuk menghancurkan semua nya. Dan aku berpendapat kalau ledakan itu sangat kuat sampai harus menghancurkan segalanya.
Saat itu aku hanya merasakan pandanganku jadi gelap, setelah membuka mata kembali aku melihat seorang remaja juga sedang menatapku dengan tajam.
"Siapa kau...??" tanya nya.
Aku juga menatapnya dan mulai memandangi sekeliling, seperti nya sudah 3 hari berlalu. Dan seperti biasa aku di lahirkan kembali setelah 3 hari kemudian. Ditenda ini seharusnya bertepatan dengan kamar tidurku dimana aku terakhir kali tidur.
Tapi anak itu tidak sabaran, karena aku hanya terbengong saat ditanya olehnya. Ia langsung mendesakku dan mengancamku memakai pisau.
"Katakan siapa kau, dan mengapa kau ada disini. Eh...?"
Aku menatap nya dengan bingung, seperti nya ia mulai kebingungan sambil memegang kacamata nya. Lalu ia membandingkan antara memakai kacamata atau melepasnya.
Setelah itu ia bersorak gembira,
"Hahah.... Aku sekarang bisa melihat tanpa kacamata. Yuhuh."
Ia bergembira cukup lama, tapi setelah melihatku kembali. Ia kembali jadi serius.
"Kutanya kau dari tadi, tapi kenapa kau gk jawab jawab. Siapa kau sebenar nya.?"
Ia mulai memperkeras suaranya berusaha mengancamku, namun aku dapat melihat dibalik ekspresi garangnya ada rasa ketakutan yang sangat besar. Tampaknya ia sudah berusaha menekan ketakutannya sejauh ini.
Melihatku yang hanya tenang menanggapinya membuatnya sedikit gemetar, apalagi pisau yang dipegaginya mulai bergetar tapi ia tidak menariknya malah makin mengarahkannya padaku. Wajahnya juga mulai menujukan rasa ketakutannya tapi ia menutupinya dengan bersikap lebih kejam.
Aku tersenyum kearahnya, membuatnya sedikit tertegun. Lalu aku mengangkat tanganku sendiri menandakan aku menyerah dan mencoba menenangkannya.
"Tenanglah aku tidak akan berbuat apa-apa, aku juga hanya kebetulan lewat sini dan hanya berteduh."Aku juga berkata seperti ini padanya, agar ia tidak terlalu panik. Lalu perutku tiba-tiba mengeluarkan suara. Ia mulai memandangiku dengan tatapan heran dan matanya tertuju diperutku.
Aku memandanginya dengan rasa malu dan dengan terpaksa berkata:
"Anu, apakah kau punya makanan..??" kataku sambil tersenyum malu padanya.
Ia masih memandangiku dengan heran, kemudian tanpa melepas kewaspadaannya ia meraih tasnya dan mengeluarkan beberapa roti bungkus dan melemparkannya padaku.
Aku langsung menangkap roti itu dan tanpa menghiraukannya, aku membuka bungkusannya dan langsung menyantapnya. Rasa rotinya kering dan mengangkut ditenggorokanku membuatku tersedak dan terbatuk sambil menepuk-nepuk dadaku. Tampaknya ia orang yang baik, ia langsung memberiku sebotol minuman setelah melihatku seperti ini. Aku juga tidak sungkan menerima bantuannya dan tak lupa pula aku mengucapkan terima kasih padanya.
"Terimah kasih."
Ucapku dengan tulus padanya, kemudian aku langsung meminum airnya. Lucunya juga setelah aku meminum airnya aku langsung cegukan membuatnya tak bisa menahan tawa.
"Heh, sebenarnya kamu itu darimana.??"
Tanyanya padaku dengan pelan, saat ini ia mulai lembut padaku namun tak menurunkan penjagaannya.
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku dan tak tahu bagaimana harus menjawabnya.
"Aku tinggal di dekat sini, dan karena adanya ledakan ini, tempat tinggalku sudah tidak ada lagi." Aku beralasan padanya, walaupun sebenarnya semua itu bukanlah kebohongan.
Dia juga hanya menatapku, tapi sekarang dengan pandangan kasihan. Seolah-olah ia juga mengerti keadaanku.
"Lalu kenapa kau tak melapor.??"
Aku menatapnya sekilas lalu menoleh kesamping dengan acuh tak acuh, pertanyaan membuatku terdiam. Memangnya kau mengerti,Melapor sama saja mencari masalah, kami berusaha melarikan diri dengan bersusah payah dan kau bilang aku akan menyerahkan diriku pada mereka. Sama saja, aku akan diintregosi oleh mereka dan dijatuhi ribuan pertanyaan.
Melihatku yang tetap diam, ia tak lagi mengajukan pertanyaan. Malah memberiku nasihat.
"Setidaknya kau harus melapor dulu pada pemerintah yang berwajib, setidaknya beban hidupmu dapat lebih ringan. Jika kau malu bertanya pada mereka maka aku dapat mengantarkanmu."
Aku memang tahu kalau niatnya itu baik, tapi aku tak bisa melapor pada mereka. Entah kenapa ada penolakan batin yang ada dalam diriku. Oleh karena itu, aku hanya berkata padanya tidak perlu melakukan itu. Dilihat dari ekspresinya, sepertinya ia tak mengerti dengan keputusanku, namun ia tak menanyakan balik. Ia malah mengambil sesuatu dari dalam tasnya, kemudian melemparkannya padaku.
"Lebih baik kau mengenakan pakaian, tidak enak jika melihatmu telanjang seperti itu." Lalu ia mulai mengemasi semua barang-barangnya.
Ketika aku melihat pakaian pemberiannya lebih jelas, ia ternyata memberikanku 3 pakaian yakni baju kaos, switer bertopi, dan celana jeans hitam. Karena ia menyuruhku memakainya maka aku juga tidak segan-segan untuk memakainya.
"Jadi, kita mau kemana." tanyaku sambil tersenyum padanya.
Ia tertegun sejenak saat mendengar kata-kataku. Ia memandangiku dengan tatapan rumit, kemudian berkata.
"Apakah kau tak punya tempat untuk pulang.?" Ia bertanya balik.
Aku menatapnya tak berdaya, memangnya aku akan pulang kemana, tujuanku dari awal itu adalah leluar dari penjara ini dan melihat seperti apa dunia luar itu sebenarnya.
"Kau bisa lihat kan, tempat tinggalku sudah tidak ada. Untuk keluargaku..." Aku berhenti sejenak kemudian merenungkan sebentar. Lalu berkata balik. "Akupun juga tidak tahu dimana mereka."
Ia tampaknya mengerti dengan perkataanku, kemudian ia menghela napas.
"Hei, jika kau tidak punya siapa-siapa di luar sana, maka kau akan makan apa. Kau juga tinggal dimana, apakau mau jadi pengemis disana." Ia mulai menceramahiku.
Tapi aku tetap santai dan berkata padanya.
"Aku tinggal dirumahmu. Tenang saja, aku akan bekerja dan membayar ongkosnya."
"Cih."
Ia malah mencibir, bahkan menertawakanku dan mengatakan kalau aku naif sekali.
"Apa kau pikir mudah mencari pekerjaan dengan usiamu itu yang begitu mudah.?"
Aku terdiam sesaat ketika mendengarnya, tapi aku tetap memaksakan senyum.
"Aku akan berusaha."
"Taesik, siapa ini."
Ternyata remaja yang bernama Taesik meliriku sekilas kemudian berkata pada orang itu.
"Paman, ini temanku. Kebetulan ia juga bertugas disini, makanya ia singgah disini." katanya sambil kepada pamanya itu.
Setelah mengatakan itu, paman itu langsung tersenyum kearahku. Ia maju dan memegang bahuku.
"Temannya Taesik toh. Aku pamannya Taesik, Chi tae." katanya sambil menepuk bahuku. Kemudian berbalik kearah Taesik. "Taesik, apa kau tidak membuatkan minuman untuk temanmu ini."
"Sudah, aku sudah membuatkan kopinya tadi." Jawabnya dengan acuh tak acuh.
Kemudian ia tersenyum padaku sekali lagi.
"Ayo duduk. Eh, tadi siapa namamu.?"
Aku juga tersenyum balik padanya.
"Namaku Rian, paman bisa panggil aku Rian."
Kemudian aku duduk disebelah tempat tidur mereka. Aku juga melihat pamannya mulai mengemasi barang-barangnya.
"Apakah kalian mau pulang." Aku tak bisa menahan rasa penasaranku pada mereka.
"Yah, karna pekejaan kami sudah selesai makanya kami akan pulang." Jawab pamannya dengan senyuman, namun aku bisa merasakan dibalik senyuman itu terdapat rasa sedih yang ia tutupi.
"Bagaimana denganmu, kapan kau akan pulang.??" tanya balik pamannya.
"Aku juga akan pulang kok." jawabku sambil membalas senyumannya.
"Berarti kita sama-sama dong." kata paman dengan ekspresi terkejut diwajahnya.
Aku hanya mengangguk menanggapi perkataan paman. Diam-diam aku melirik Taesik yang dari tadi hanya diam dan sibuk dengan pekerjaannya.
"Taesik, paman pergi dulu. Aku akan memesan mobil penjemput."
Taesik hanya mengangguk pada pamanya, setelah itu pamannya pergi meninggalkan kami berdua dalam tenda. Lalu ia memberikanku aku sebuah topi hitam dan sepasang sepatu putih. Ia tampaknya jauh lebih sopan sekarang.
"Pakailah itu, lalu kita akan pulang bersama-sama."
Aku mengangguk padanya dan mulai memakai sepatunya, aku juga mengikat rambutku agar bisa dipasangkan topi. Setelah itu kami pun keluar dari tenda dengan tas masing-masing dipunggung kami. Aku mengangkat tas milik paman sementara Taesik hanya mengangkat tas miliknya sendiri.
Setelah itu paman datang pada kami, ia bilang kalau mobilnya sudah menunggu. Lalu ia membongkar tenda kemudian membawanya seperti kami. Tapi ia menatapku dengan tatapan heran.
"Taesik, apakah temanmu ini akan ikut dengan kami." Tanyanya dengan penasaran.
"Yah." jawab Taesik dengan singkat.
Melihat masih ada keraguan dimata paman, Taesik mulai menjelaskan padanya. Tentang asal-usul diriku, tentang tempat tinggalku yang hilang serta orang tuaku yang sudah tidak ada.
Setelah itu barulah paman mengerti, ia juga memandangiku dengan pandangan kasihan. Sebenarnya ia ingin membawaku kekantor polisi untuk ditulusuri, namun Taesik menolak dan memberitahukannya kalau aku tak mau dibawa kesana. Aku juga mengangguk dan membantunya menjawab.
"Pantas saja aku melihat kalau dia memakai pakaianmu. Eh, dimana kacamatamu." Tanya pamannya dengan terkejut.
Taesik langsung tersenyum ketika mendengarnya.
"Paman coba tebak."
Paman jadi tambah bingung menatap Taesik yang ingin memberikan sesuatu. Melihat nya yang seperti itu membuat Taesik sedikit kesal namun ia tetap senang karena memberi tahukan kabar baik ini pada paman nya.
"Paman, sekarang aku dapat melihat tanpa memakai kacamata." Ucapnya sambil melompat lompat kegirangan.
"Benarkah." Pamannya bertanya dengan tidak percaya.
"Tentu saja, benar. Coba lihat ini." Taesik mulai menjelaskan tentang keadaan pada paman nya.
Awalnya pamannya agak ragu dengan penglihatan Taesik, tapi Taesik bersikeras memberi tahunya kalau ia memang sudah bisa melihat jernih walaupun tidak memakai kacamatanya. Bahkan mereka melakukan ujicoba pada matanya, akhirnya pamannya percaya kalau ia memang sudah sembuh.
Setelah mengemasi semuanya, kami pun pergi, sepertinya butuh beberapa jam agar kami sampai kejalan raya. Aku memandangi kawah bekas ledakannya. Luar biasa, aku tak mengira kalau efek ledakannya akan sebesar ini. Ini benar-benar mengejutkanku, dalam hati aku bertanya-tanya bagaimana keadaan Alif dan yang lainnya. Apakah mereka selamat atau tidak. Diam-diam aku juga menyesal telah menggunakan bom ini, dan merasa bersalah pada teman-temanku.
Kedua paman dan keponakan itu melihatku sedang termangu menatap kawahnya. Mereka berpikir kalau aku sedang merindukan keluargaku, oleh karena itu mereka datang menghiburku.
"Disitu tempat keluargamu yah." paman Chi tae datang menepuk pundaku.
Aku hanya mengangguk padanya tanpa menjawab sepatah katapun.
"Bersabarlah, kau pasti dapat melewati ujian ini kok. Kau harus kuat, orang tuamu pasti menginginkanmu begitu." Hibur paman padaku.
"Tenang saja Rian, aku mengerti perasaanmu, aku dulu juga kehilangan orang tuaku. Rasanya kehilangan orang yang kita sayangi itu benar-benar sangat sakit. Tapi tenang saja kau pasti bisa melewati ini." Taesik juga datang menghiburku, mereka benar-benar mengira kalau aku sedang berkabung atas kematian orang tuaku.
Tapi dikepalaku hanya terlintas kenangan tentang teman-temanku, kebersamaan kami, latihan kami, bahkan pertarungan kami terjadi disitu. Terlalu banyak kenangan ditempat ini membuatku meneteskan air mata saat melihat keadaan tempat yang sudah seperti ini.
"Yah sudah, ayo kita pergi." paman menepuk-nepuk pundakku beberapa kali kemudian mengajakku pergi.
Akupun juga mengikutinya, disepanjang jalan, aku melihat banyak tentara sedang berbaris dan berlatih. Aku juga melihat beberapa mobil ambulan terparkir ditempat ini. Para wartawan yang sedang melakukan siaran, para polisi yang sedang menginvetigasi tempat ini serta masih banyak lagi. Diam-diam aku memandangi para pasukan tentara dari akademi jalur khusus, ada beberapa orang yang kukenal. Namun tidak ada satupun diantara mereka yang mengenalku, seolah-olah aku hanyalah orang biasa yang sedang lewat didepan mereka. Bagaimanapun sudah 2 tahun sejak aku meninggalkan akademi jalur khusus itu, mana mungkin mereka akan mengenalku begitu saja.
Kami hanya melewati pasukan itu seperti biasa. Setelah kami sudah cukup jauh dari pandangan mereka, tiba-tiba seseorang datang memanggilku.
"Rian, Rian, nak Rian, kau pasti Rian, hei berhenti."
Aku kaget setengah mati saat mendengar panggilan itu. Kenapa, ada memanggil namaku. Jangan-jangan ada yang mengenalku disini, dan jika itu terjadi maka aku pasti tidak bisa meninggalkan tempat ini. Mereka pasti akan menangkapku dan mulai menginterogasiku apapun yang terjadi pada saat sebelum ledakan. Memikirkan itu membuatku sangat ketakutan bahkan aku sendiri merasakan kalau punggungku sudah dibasahi keringat.