NEVER DEAD

NEVER DEAD
Prolog



Namaku Rian, Rian Arianto. Rian adalah nama yang diberikan oleh ibu kandungku sebelum ia membuangku. Sementara nama Arianto diberikan oleh keluarga konglomerat kaya raya yang saat itu membeliku dari orang yang menemukanku. Tapi saat ini aku tidak memakai nama belakang itu.


Sekarang umurku 17 tahun dan duduk dikursi Smk kelas 1. Kalian pasti berpikir kalau ini adalah awal dari perjalananku menuju jalan yang lebih panjang. Yah, bisa dibilang seperti itu. Tapi sebenarnya untuk bisa sampai seperti ini aku benar-benar menempuh kehidupan yang sangat panjang dan menyakitkan.


Aku ditemukan oleh seorang petani ditepi hilir sungai ketika aku baru dilahirkan. Saat itu, aku punya tanda lahir dibagian bahu kananku dan otomatis namaku Rian, karena di leherku terdapat kalung liontin yang bertuliskan nama Rian.


Mereka mengadopsiku selama 7 tahun, tapi karena ada seorang konglomerat kaya raya yang ingin membeliku, mereka pun menjual diriku pada mereka dengan harga yang lumayan mahal. Aku akui, dari kecil aku memang tidak pernah merasakan kasih sayang dari kedua orang yang mengasuhku itu. Tapi untungnya anak perempuannya bernama Rindy yang seumuran denganku bisa menjadi temanku dan selalu menghiburku ketika aku sedang sedih. Sebenarnya juga aku tak mau berpisah dengannya, tapi mau bagaimana lagi kehendak orang tuanya yang menjualku pada Juragan besar itu.


Kukira kehidupanku akan lebih baik setelah memasuki kehidupan baru ini. Tapi ternyata tidak, bahkan lebih mengerikan dari pada yang kurasakan dikeluargaku sebelumnya. Juragan itu mempunyai dua orang anak, satu laki-laki dan satu perempuan, Cherly dan Rachel. Setiap hari aku selalu menjadi bahan dari kenakalan mereka. Ditambah lagi ibu mereka, nyonya Elli. Sangat garang padaku. Aku dipukul dan disiksa setiap hari tanpa alasan seperti layaknya hewan peliharaan yang dibeli. Tidak, bahkan aku pun iri dengan hewan periharaan. Diberi makan, minum, dielus-elus, dicium, dipeluk dan dimanja. Sungguh kehidupan yang sangat menyedihkan untukku.


Dikediaman itu aku dibatasi, gak bisa bermain, tidur digudang barang, bahkan makanan pun hasil sisa dari mereka. Kadang jika aku berbuat kesalahan aku akan dihukum tidak makan berhari-hari. Lebih enak dikeluargaku sebelumnya, walaupun mereka kejam, tapi tak sekejam keluarga ini.


Untungnya Juragan Josep Arianto, kepala keluarga mereka sedikit pengertian padaku, pada umur 9 tahun, dia akhirnya memasukanku keakademi khusus, Akademi Kemiliteran.


Disana, aku juga melihat banyak anak seumuranku juga memasuki akademi tersebut, sebetulnya akademi baru didirikan dan kami adalah murid pertama yang masuk dalam akademi itu. Pelatihan kami sehari hari itu sederhana, walaupun sedikit kejam tapi bisa ditoleransi. Kami dilatih dari berbagai bela diri agar menjadi anak yang kuat. Sehingga kami bisa menjadi tentara yang tangguh. Tentu saja aku juga tidak mau kalah, aku selalu berusaha agar bisa menjadi yang terkuat dan bisa merubah nasib dimasa depan. Aku teringat dengan juragan kepadaku sebelum aku masuk keakademi ini, laki-laki tidak boleh lemah dan selalu kuat dalam menjalani kehidupan.


Hal itulah yang membuat kepala akademi tertarik padaku. Ia kemudian memasukanku kedalam Jalur khusus akademi rahasia. Diakademi ini kami dilatih menjadi prajurit sejati, tapi akademi jalur khusus ini dilatih menjadi pembunuh profesional. Dimana kami dilatih sangat keras dan penuh penderitaan. Diakademi sebelumnya, siapapun yang tidak tahan dengan latihan kemiliteran itu bisa dipulangkan. Tapi disini, siapapun yang tidak bisa bertahan, akan berakhir tewas ketika latihan maupun hukuman. Itulah aturan dalam akademi itu. Kalau mau dibilang, akademi itu bisa dikatakan akdemi ilegal. Dimana kehidupan tidak berarti jika tidak bisa bertahan. Bahkan pak kepala akdemi biasa saja tidak tahu apa isi akdemi itu. Mereka hanya tahu kalau dalam akademi itu dibentuk pasukan khusus dengan mendapat pelatihan yang sangat khusus.


Tapi nyatanya tidak sesuai dari yang dilihat, bukan lagi namanya pelatihan tapi penyiksaan untuk melatih prajurit seperti kami. Berbagai macam siksaan kami hadapi didalam situ. Banyak murid tewas dalam pelatihan itu, tapi pihak mereka menutupi kebusukan dan kejahatan mereka. Apalagi akademi jalur khusus itu dilindungi oleh pihak yang lebih tinggi. Saat itu aku tau kalau semua anak yang dimasukan kedalam jalur khusus ini adalah anak yang tidak mempunyai identitas. Kebanyakan sama sepertiku, anak yang terbuang.


Bahkan akupun pernah tewas dalam pelatihan itu. Tapi anehnya, aku dihidupkan kembali setelah 3 hari kemudian. Jelas itu membuat para ahli terkejut dengan keadaan tubuhku, bahkan banyak yang iri dengan kelebihanku itu. Mereka mulai datang berbondong-bondong memeriksa tubuhku. Tapi setelah semua murid diakdemi jalur khusus itu diperiksa, ternyata bukan hanya aku saja yang mempunyai kelebihan yang aneh. Masih ada beberapa anak yang mempunyai kelebihan menantang alam.


Saat itu, pihak akademi memanggil salah satu profesor profesional. Prof. Doktor Delanni. Dilihat dari luar tampangnya dia memang kelihatan seperti profesor profesional tapi tidak disangka sebenarnya dia mengalami gangguan kejiwaan. Dia banyak membuat eksperimen-eksperimen yang berada diluar nalar manusia. Dia bahkan menyiksa kami sampai mati demi mewujudkan kebenaran ditubuh kami. Dia juga sangat terobsesi dengan kelebihan tubuh kami. Banyak sekali eksperimen-eksperimen berbahaya yang ia kembangkan. Seperti menciptakan manusia setengah binatang, dengan mencampurkan sel ****** manusia kedalam ovum hewan betina sehingga melahirkan sebuah monster. Mengambil darah hewan dan mencampurkannya kedalam tubuh manusia serta masih banyak lagi kejahatan-kejahatan yang ia lakukan.


Dia bahkan menjadikan kami sebagai bahan percobaannya, akibatnya hampir seluruh siswa diakademi jalur khusus kami mengalami ketidak normalan tubuh. Dan bahkan ada diantara mereka menjadi monster menjijikan.


Karena perilaku profesor yang tidak berkemanusiaan itu, kami pun mulai merencanakan operasi meninggalkan akademi ini. Kami saling berkejasama untuk membunuh orang itu. Orang yang telah membuat kami jadi tidak normal. Jumlah seluruh korban dari pak tua itu lebih dari 50 orang. Kami semua menyembunyikan efek dari eksperimennya itu dan menggunakanya sebagai senjata untuk menghancurkan akademi ilegal ini.