NEVER DEAD

NEVER DEAD
KETEMU POLWAN



Suara-suara alarm mobil polisi berdengung dimana-mana. Para polisi mulai turun dan masuk kedalam hotel. Berpencar dan mulai bertanya pada mereka yang ada didalam.


Mereka bilang kalau para pencuri itu pergi kelantai atas, lantai 15. Para polisi juga mulai menginvestigasi litf tersebut. Ketika lift terbuka, hanya ada dua mayat tergelatak disana. Si kurus dan sigendut, orang yang telah berencana mencabuli seorang wanita didalam sebuah lift sebelumnya.


Sebenarnya pada saat para pencuri bertopeng itu masuk, mereka berdua sedang pingsan. Tapi karena mereka hanya menghalangi jalan, pemimpinnya malah menembak mereka berdua dan akhirnya tak punya waktu bangun selama-lamanya.


_______


Diruangan penbelajaan Fashion....


Saat ini ruangan itu sedang dalam masa kekacauan. Pakaian-pakaian indah yang sebelumnya terpampang dan tersedia dengan rapi, sekarang malah jadi seperti sampah berserakan yang merusak pemandangan.


Dua orang gadis sedang meronta-ronta dalam keadaan ditahan oleh pria dibelakang mereka. Mereka memanggil-manggil nama ibu yang ada didepannya.


"Lepaskan mereka sialan, atau suamiku tidak akan memaafkan kalian." Teriak ibu itu pada si pencuri.


Saat ini sedang ia juga sedang ditahan, sebuah pistol menempel didahinya yang putih itu.


"Ibu jangan bergerak." ucap seorang gadis yang ada didepannya sambil menangis.


Ternyata ibu dan anak itu adalah orang yang pernah ditemui oleh kami. Ibu itu adalah orang yang telah kami bantu ambil tasnya kembali waktu itu. Dan gadis didepannya adalah orang sombong yang pernah menghina kami saat itu. Sepertinya ia mempunyai seorang teman yang juga ikut ditahan oleh mereka.


"Diamlah kau wanita sialan, jika kau bergerak lagi maka peluru ini akan menembus kepalamu." ucap si pencuri bertopeng yang ada dibelakangnya.


"IBUUUU.....!!!!!!" Teriak gadis itu dengan keras kemudian menggigit tangan orang telah menahannya.


"Aah..." pencuri itu spontan melepas tangannya.


Kemudian gadis itu memanfaatkan kesempatan itu untuk menendangnya dari belakang. Lalu menendang pria yang telah menahan temannya.


Temannya juga langsung terlepas, kemudian terjadilah pertempuran yang epik diruangan itu. Seluruh pencuri maju dan melawan mereka berdua. Tampaknya mereka belajar beladiri Taekwondo, lihat saja cara mereka bertarung menggunakan kaki mereka hingga membuat para pencuri itu kewalahan dan tak bisa mendekati lawan.


Tapi sebenarnya mereka hanya melawan sebagian kecil dari kumpulan pencuri itu, jumlah pencuri itu ada sekitar 50 orang dan yang dihadapi dua gadis itu hanya beberapa orang saja. Dan itu sudah membuat mereka kewalahan bagaimanapun mereka hanya seorang gadis. Mereka mana mungkin punya kekuatan yang sebanding dengan pria. Apalagi jumlah lawan lebih unggul dari mereka sendiri.


Disaat mereka sedang berada ditengah perkelahian, ibu mereka berteriak lemah.


"Ukh...."


Mereka berdua tertegun sejenak dan langsung memanggil


"Ibu." "bibi."


Tapi timing itulah yang di tunggu-tunggu oleh si pemimpin bertopeng dan membuat mereka berdua jadi lengah.


Disaat mereka sedang tertegun, beberapa pria menangkap mereka sekaligus langsung mengunci gerakannya agar mereka tak bisa bergerak lagi.


Si pemimpin pencuri itu tertawa, ia memakai topeng Joker sehingga bisa dipanggil bang joker. Ia maju menghampiri kedua gadis itu lalu menyentuh dagunya.


"Gadis yang manis, kenapa begitu galak. Bukan hanya cantik, tapi juga pandai bertarung. Benar-benar sebuah harta yang unik." Ucap bang joker sambil mendekatkan wajahnya.


Disaat wajahnya sudah dekat, gadis itu meludahinya. Membuat bang joker sedikit menyerngik lalu langsung menamparnya.


plaak....


"Gadis sialan, beraninya kamu. Awas saja nanti." ucapnya dengan marah, bahkan napasnya saja sudah takkaruan.


Mereka menatap bang Joker dengan penuh kebencian.


Tanpa menghiraukan ekspresi dan perkataan ibu dan anak itu, bang Joker menuruh anak buahnya untuk segers melaju ke lantai 45.


Namun disaat mereka hendak pergi kepintu lift, polisi tiba-tiba menyergap mereka. Tapi polisi itu hanya ada beberapa orang. Si joker sama sekali tidak takut, ia hanya menyuruh anak buah mereka untuk maju. Tapi sepertinya itu hanya akan membuang-buang waktu dan pasti para polisi ini sengaja untuk mengulur waktu agar teman-temannya sapai kelantai ini.


Tanpa pikir panjang, ia langsung menyodokan pistolnya kearah ibu itu di tangannya. Para anak buahnya juga melakukan hal yang sama dan menyodokan pistolnya ke gadis yang mereka tahan.


"Jangan bergerak jika tidak maka ibu ini akan kutembak." gertaknya pada polisi.


"Mundur semuanya." Pinta ketua dari polisi itu dengan hati-hati dan mundur secara perlahan.


Mereka berjalan kearah lift, para polisi membuka jalan. Disaat mereka hampir masuk, salah satu polisi ingin menjebaknya. Namun...


DOORR....


"TIDAAAAK......." teriak histeris dua gadis itu.


Para polisi juga langsung terdiam. Sementara si ibu sudah pucat dipenuhi keringat dingin. Untungnya peluru hanya lewat didepan matanya. Bukan menembus kepalanya.


Menyaksikan gertakan kuat seperti itu, polisi juga tak bisa melakukan apa-apa dan hanya membiarkan mereka lewat dengan penuh lewaspadaan agar tahanan tidak apa-apa.


Sementara dilantai bawah, Jeongho sudah menyusup kedalam hotel tanpa sepengetahuan mereka. Ia bersembunyi disuatu tempat sambil mengotak-atik komputernya dimana tidak ada orang yang melihatnya.


Sepertinya ia berniat mematikan sistem Liftnya. Namun itu membutuhkan waktu, dan disaat ia berhasil. Ia hanya menahan para polisi yang hendak naik keatas.


Para polisi sudah pada masuk kedalam lift, namun mereka sudah menekan lantai 15 berkali-kali tapi lift tidak mau naik.


Dan seketika lampu pun jadi mati. Semua orang mulai panik. Pintu lift mulai tertutup dan terbuka tak terkendali, lampu-lampu juga berkedip-kedip. Mati menyala, mati menyala dengan cepat hingga membuat mata orang jadi sakit.


Karena mereka tahu kalau ada yang salah dengan lift ini, para polisi yang ada didalamnya mulai keluar satu persatu memanfaatkan setiap pintu lift yang hendak terbuka.


Didalam lift sepertinya sudah kehabisan orang. Jadi Jeongho mulai bertindak, disaat momen detik-detik pintu lift tertutup, Jeongho berlari sangat kencang dan langsung masuk kedalamnya.


Tidak disangka. Ketika masuk, dia sepertinya menabrak seseorang. Ia berlari sangat kencang, jadi ia lebih mendominasi dan dia sendiri mendarat ditubuh orang ini.


Tanpa sengaja ia mencium aroma wangi, bahkan ia tanpa sadar mendengus. Mencium aroma wangi orang ini, tangannya juga sepertinya menyentuh sesuatu yang lembut.


Tapi itu tidak bertahan lama. Ia dengan cepat bangkit kemudian membuka laptop dari tasnya. Lalu menekan sesuatu dan semuanya kembali normal. Lampu-lampu jadi menyala dan tidak mati lagi dan pintu lift sepenuhnya tertutup. Disaat para massa diluar ingin masuk, Jeongho menekan salah satu tombol dikomputernya lagi dan secara otomatis tombol lift lantai 49 menyala. Kemudian lift berjalan seperti biasanya.


Setelah itu ia bernapas lega. Tiba-tiba sebuah suara lembut terdengar disamping kirinya.


"Jadi kau yang membuat lift yang begini yah."


Jeongho terkejut dan segera berbalik kearah suara itu. Ia langsung mundur dan waspada saat melihat penampilan orang ini.


Seorang polisi wanita sedang menatapnya dengan dingin dan tajam, memancarkan aura kebencian yang kuat. Mungkin itu karena ia adalah dalang dibalik semua ini dan ia juga tak sengaja menyentuhnya tadi.


Dahi Jeongho berkeringat dingin. Dalam hati, Jeongho berteriak.


"Matilah aku hari ini."