NEVER DEAD

NEVER DEAD
MUTASI GENETIK



Kami menemani Rey cukup lama, bagaimanapun luka dikepalanya sangat berat ditambah lagi itu adalah bagian yang bebahaya. Untungnya dokter bilang ia tak apa-apa dan dia butuh waktu untuk sadar.


Kamipun meninggalkannya sebentar, kemudian menuju keruangan adik Taesik. Disana kami sudah melihat bibi sedang membawa seorang gadis kecil. Cukup tinggi sekitar 160 cm dan sedikit matang walaupun hanya berusia 15 tahun, tentu saja ia saudarinya Taesik. Saat melihat kami, ia terbengong sebentar. Tetapi ia segera kembali pulih.


Kemudian bibi menatap kami, setelah itu ia berjalan kedepan.


"Ayo kita pulang." Ucapnya sambil membawa adik Taesik dengan hati-hati.


Kami pun mengikutinya dibelakang diam-diam. Adiknya Taesik menatapku sekilas tapi ia berbalik lagi, mungkin ia mengira kalau aku hanya teman kakaknya saja.


Kami berjalan sampai-sampai hampir melewati kamar Rey dan tak sengaja berpaspasan dengannya. Ternyata ia sudah sadar dari pingsannya dan ingin keluar.


Saat melihatnya kami ingin menyapanya, namun adik Taesik menyapanya lebih dahulu.


"Kak Rey...."


Rey tertegun saat melihat adik Taesik menyapanya. Kemudian ia tersenyum.


"Tae yun, bagaimana kabarmu." Tanyanya dengan senyum ramah.


Adik Taesik juga tersenyum kepada Rey, bibi juga tersenyum.


"Aku sekarang sudah baik-baik saja kak. Terimah kasih atas bantuanmu yang waktu itu."


Adik Taesik membungkuk padanya. Rey hanya mengangguk dan bilang sama-sama.


Sementara kami saling memandang, bahkan bibi sendiri cukup bingung. Untungnya adik Taesik juga menyadari kebingungan kami. Iapun buru-buru menjelaskan.


"Bibi, waktu itu ketika aku diculik oleh kelompok bang Badui, kak Rey lah yang menolongku. Hanya saja ketika berlari aku sempat terjatuh dan pingsan disana."


Bibi sepertinya mengerti dengan penjelasan Tae yun. Kemudian ia berterimah kasih pada Rey dengan tulus. Tepat sebelum hari dimana terjadi ledakan Rey membuat kekacauan di bar para gengters itu. Kebetulan juga ia bertemu dengan adik Taesik yang hampir ditiduri. Karena adanya dendam dengan kepala gengters itu, ditambah lagi adik Taesik yang dalam bahaya ia pun mencoba melepaskannya.


Melihat bibi yang tersenyum tulus padanya, Rey hanya membalas tersenyum pula padanya, kemudian ia menatap kami.


"Taesik, bagaimana kabarmu dengan temanmu itu. Apakah kalian baik-baik saja." tanya pada kami.


Taesik buru-buru menjawab.


"Kami baik-baik saja kok, kamilah yang membawamu kerumah sakit ini."


Rey mengangguk dan tersenyum lagi pada kami, dia bilang terimah kasih karena telah menyelamatkannya tapi tampaknya sedikit tidak puas dengan jawaban kami makanya ia balik bertanya.


"Bagaimana dengan mereka."


"Mereka siapa??." bibi bertanya balik pada Rey.


Pertanyaan itu membuat Rey dan kami jadi tertegun, Taesik berusaha mengedipkan matanya pada Rey agar tidak memberi tahukan padanya. Rey juga mengerti, ia segera menjawab pertanyaan bibi.


"Maksudku bibi teman-teman kami. Aku bertanya bagaimana keadaan mereka saat ini." ucap Rey berbohong.


"Oh." Bibi menatap kami, kemudian berkata. Nampaknya ia ingin bertanya sesuatu namun ia tidak jadi bertanya.


Rey menatap bibi yang percaya pada perkataannya, kemudian ia menatapku.


"Halo... apakah kau temannya Taesik. Namaku Reyhan, kamu bisa panggil aku Rey." ucapnya sambil menawarkan tangannya padaku.


Aku tersenyum padanya menjabat tanganya.


"Salam kenal, namaku Rian. Kau juga temannya Taesik yah."


Rey mengangguk dan menjawab ya. Setelah kami berjabat tangan, kami saling berbincang tentang pertarungan kami tadi. Dia sangat jujur padaku, dia bilang kalau aku sangat hebat dalam bertarung. Aku juga bilang kalau ia juga hebat. Dia hanya menggelengkan kepalanya dan bilang kalau aku yang paling hebat.


Dia juga bertanya padaku, aku belajar beladiri apa. Aku hanya mengatakan kalau aku dari kecil sudah belajar kung fu. Taesik dan Rey kagum menatapku, bahkan Taesik bilang kalau ia ingin berguru padaku. Namun aku hanya mengabaikannya dan bilang kalau aku tidak terlalu hebat dalam hal itu.


Kami pulang kerumah sambil bercanda tawa, tetapi Rey tidak mengikuti kami. Ia pergi menjenguk ibunya yang sakit. Aku bertanya pada Taesik ibunya sakit apa. Dia bilang kalau ibunya terkena kanker hati. Akupun cukup kasihan saat mendengarnya, tampaknya ia juga memiliki kehidupan yang sulit.


Setelah sampai kerumah, bibi memasakan sesuatu untuk Taeyun. Tentu saja aku membantunya memasak didapur, sementara Taesik langsung kekamar memikirkan hal yang terjadi hari ini.


Masakan kami semua siap, aku membantu bibi mengantarkan makanannya kemeja.


"Rian, pergi panggil Taesik. Bilang kalau kita akan makan siang." ucap bibi menyuruhku.


"En." aku mengangguk kemudian memanggil Taesik.


"Bibi, apa dia tinggal disini.?" tanya Taeyun penasaran.


"Ya, dia namanya Rian. Ditemukan oleh pamanmu saat menyelidiki kasus ledakan kemarin. Keluarganya sudah tidak ada lagi, jadi dia menginap kesini dan melanjutkan sekolahnya."


"Oh." Sampai disini ia akhirnya mengerti, ibunya sudah duduk dan bersiap untuk makan.


"Bibi, Taesik tertidur. Dia tidak mau bangun saat kubangunkan. Apaka harus kupaksa dia." Tanyaku pada bibi.


Bibi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar itu.


"Tidak perlu. Jangan ganggu dia, mungkin dia lelah hari ini." jawabnya padaku. kemudian ia bergumam sendiri.


"Anak itu kenapa akhir-akhir ini ia sering tidur siang yah. Sampai lupa makan siang."


Aku kemudian dengan cepat kemeja makan. Menggosok-gosok tanganku kemudian mengambil sumpit dan bersiap untuk makan.


"Apakah kau sudah cuci tangan.??" tanya bibi padaku.


Aku membeku sesaat kemudian menatapnya.


"En." aku mengangguk dengan cepat kemudian bersiap untuk mengambil nasi.


"Sudah berdoa.?"


Aku kembali membeku dalam keadaan mengambil nasi. Sementara mulutku sudah menganga menunggu nasi masuk. Aku menelan ludah. Kemudian mulai berdoa, setelah itu aku bertanya padanya.


"Bolehkah aku makan sekarang bibi." Tanyaku dengan penuh harap.


Bibi melihat wajah penuh harapku, ia tidak bisa menahan tawa. Lalu mengucapkan.


"Makanlah."


Aku dengan senang mengambil sumpit, kemudian mengambil nasi dan ingin memasukannya dalam mulut. Tapi lagi-lagi dihentikan oleh bibi.


"Tunggu."


Saat ini air liurku sudah menetes kebawah. Kulihat bibi tertawa terbahak-bahak. Lalu aku menyeka air liurku dan menunduk dengan malu, sepertinya aku punya kesalahan.


Siapa yang tahu kalau bibi mengelus-elus kepalaku. Sambil berkata.


"Makanlah. Bibi tak akan menahanmu lagi."


Aku dengan perlahan memasukan nasi kedalam mulutku, mengunyahnya dengan pelan dan melirik bibi dengan hati-hati. Ia saat ini sedang makan sambil tertawa melihatku.


Sementara adik Tae yun terus menatapku dari tadi dengan tatapan yang rumit diwajahnya. Aku juga menatapnya, wajah mungilnya memerah kemudian menghindari tatapanku.


Bibi juga melihat kami bertatapan, kemungkinan juga ia melihat reaksi Taeyun. Jadi ia memperkenalkan dirinya padaku.


"Taeyun, ini Rian. Dia tinggal disini bersama kita. Rian, ini adiknya Taesik, Taeyun. Kalian bertemanlah tapi jangan terlalu berlebihan."


Perkataan bibi membuatku tertegun, tentu saja aku tahu maksud dari perkataannya. Tapi aku hanya tersenyum lalu menyapa Taeyun. Taeyun juga tidak bersuara tapi mengangguk padaku dengan sedikit rasa hormat. Tampaknya ia tipe orang yang pendiam.


Setelah perkenalan kami yang begitu singkat, kami bertiga melanjutkan makan. Paman sedang pergi bekerja sementara Taesik sedang tertidur. Jadi hanya kami bertiga yang makan.


Setelah makan, kami tak punya pekerjaan khusus. Jadi aku hanya tinggal dikamar saja sambil membaca buku milik Taesik dan Taeyun. Kadang-kadang aku juga membaca buku milik paman dan milik bibi. Buku milik bibi semuanya adalah tentang dunia masak. Sementara buku milik paman sangat beragam. Mulai dari cerita, sosial, ekonomi, dan lain sebagainya.


Dari siang sampai malam, semuanya tampak tenang dan tidak ada aktivitas apapun. Jadi pada malam tiba, aku tidur istrahat bersama Taesik. Kukira malam ini juga akan tenang seperti tadi siang. Jadi aku tidur saja.


Tapi tidak lama aku tertidur, Taesik mulai tidak nyaman. Ia mulai menggeliat seperti orang kesakitan. Gerak-geriknya mulai mencurigakan dari pada saat bermimpi buruk. Sampai-sampai ia menendangku jatuh dari kasur.


Karna terjatuh, aku jadi terbangun dan melihat keadaannya. Kulihat Taesik sedang menggeliat sambil berteriak kesakitan. Aku datang menanyainya apakah dia baik-baik saja atau tidak.


"Taesik, Taesik. Hei, apakau baik-baik saja?." Tanyaku sambil memegang kedua bahunya.


Taesik yang hanya berteriak tiba-tiba membuka matanya. Aku yang melihat matanya seketika langsung aku kaget. Sebelum aku bereaksi, aku sudah ditinju duluan olehnya hingga membuatku terlempar keras kedinding. Untungnya dindingnya cukup kuat untuk meanahanku jika tidak mungkin aku akan tertembus kekamar Taeyun.


Aku menatap matanya, matanya sekarang berwarna hijau. Ia juga balik mentapku dan kami saling bertatapan.


Akhirnya aku mengerti mengapa tadi pagi Taesik sangat kuat dan kehilangan kendali saat membunuh pria yang menahannya.


Ternyata ia sama seperti kami yang ada di labolatorium profesor. Ia juga mengalami


"Mutasi Genetik."