NEVER DEAD

NEVER DEAD
WANITA YANG MALANG



Jeongo memperlihatkan sebuah foto seorang pria paruh baya. Ia memakai pakaian setelan jas, tapi tidak terlihat seperti seorang pengusaha. Justru lebih terlihat seperti preman berpakaian pengusaha.


"Orang ini bernama Dongwo Kim, seorang suruhan dari perusahaan KIMFAR. Dia akan melakukan meeting dengan kliennya dihotel ini. Kau lihat koper ditangannya.?"


Jeongo mulai memperbesar gambar itu. Ia memperbesar dibagian koper yang dipegangnya.


"Koper ini berisi uang ratusan juta, dia akan datang sebentar lagi. Jika ia sudah terlihat, maka kalian akan mengejarnya diam-diam. Tenang saja aku dibelakang kalian untuk membantu. Untuk sekarang kita harus mengawasi kedatangannya."


Mereka pun mulai mengawasi keadaan dihotel itu. Beberapa saat kemudian sebuah mobil BMW berhenti didepan hotel, lalu seorang pria yang ditunjukan oleh Jeongo keluar dari mobil. Bersamaan dengan itu sebuah mobil juga berhenti lalu seorang pria juga keluar dari mobilnya.


Mereka berdua berjabatan tangan dan saling memberikan senyuman. Lalu masuk kedalam hotel.


Tidak lama mereka masuk, sebuah mobil juga berhenti. Itu adalah bang Badui yang sedang membawa Taeyun keluar dari mobilnya lalu mereka juga masuk kedalam hotel tersebut.


Rey dan kedua temannya terkejut seketika melihat adik Taesik sedang dibawa kesana.


"Hei, bukankah itu adik si kacamata." tanya Jangyeon.


"Sepertinya mereka menculiknya lagi." Ucap Rey dengan tenang, kemudian melanjutkan.


"Ayo kita pergi sekarang."


Teman-temannya mengangguk bersamaan. Kemudian melangkah maju dan hendak masuk kedalam hotel tersebut.


Sebelum mereka masuk, mobil taksi berhenti lalu Taesik dan aku keluar dari taksi tersebut. Taesik tidak sabaran dan ingin masuk, namun dihentikan oleh Rey dan temannya.


"Kau ingin masuk dan menyelamatkan adikmu bukan." Tanya Rey padanya.


"Rey. Kenapa kau ada disini.??" tanya Taesik dengan bingung. apakah dia datang untuk menyelamatkan adiknya. Jangan-jangan Rey ini punya perasaan khusus untuk adiknya.


Seolah-olah Rey sadar apa yang dipikirkan oleh Taesik jadi ia cepat menjawabnya.


"Aku disini tidak untuk menyelamatkan adikmu, aku hanya kebetulan melihatnya saja. Jadi jika kamu ingin masuk kedalam sana maka lebih baik kau jangan masuk sendiri. Karna kau akan dikeluarkan, lebih baik kau ikuti kami."


Kemudian Rey memberikan sebuah alat komunikasi padanya, alat ini sangat kecil dan hanya bisa dipasang ditelinga saja. Tentu saja aku juga menerimanya. Setelah itu kupasangkan ia ditelinga kiriku lalu bersiap-siap mengikuti mereka.


Kami berempat masuk kedalam lobby, Jangyeon berurusan dengan Resepsionis hotel itu dan mengurus semuanya. Detik berikutnya resepsionis itu membawa kami kekamar masing-masing.


Kami duduk dikamar, menunggu aba-aba dari Jeongho.


Sementara itu, Jeongho diluar mulai mengotak atik leptopnya. Di dalam laptop itu dibagi menjadi empat sisi, duanya adalah cctv kamar kelompok kami dan kelompok Rey. Kami memesan kamar dengan dua orang didalamnya. Sementara dua lainnya adalah cctv kelompok si Dongwo incaran mereka.


"Baiklah Rey, Jangyeon. Kalian keluarlah dan menuju kelantai ke 50. Taesik, maafkan aku. Aku tak bisa mengawasi kalian, karena hanya ini batasanku. Tapi tenang saja, semua cctv dihotel itu telah ku blok. Jadi kemanapun kalian pergi, jangan takut pada pengawas. Para gengters itu pergi menuju kelantai 40. Semoga berhasil."


Kami tertegun sejenak, apalagi aku. Benda ini dapat menghubungkan kami satu sama lain dan dapat berkomunikasi didalamnya. Seketika aku teringat Alif yang punya kemampuan seperti ini. Tapi aku tepis pikiran ini secepatnya karena Taesik sudah berlari duluan.


Aku bahkan tak bisa lagi menentukan dimana aku akan pergi, aku bingung dengan geogarafi yang berlapis-lapis dikepalaku ini. Mode penglihatan dua dimensiku ini membuatku sakit kepala ketika berusaha memahami tata letak hotel ini. Tapi yang kulihat dengan jelas adalah Bang badui dan anak buahnya menuju keatas memakai lift. Tentu saja kulihat Taeyun ada ditanganya sambil mengelus-elus tubuhnya dengan lembut.


Aku menggertakan gigi, dasar pria tak tahu malu. Kulihat Taesik mengikuti Rey dan temannya juga sedang menuju keatas mengejar mereka. Kupikir kalau Taesik ini tidak sebodoh yang kupikirkan, karena mereka satu tujuan maka mereka pergi bersama.


Aku langsung tersadar, kalau aku sebenarnya sudah ketinggalan jauh dari mereka. Dasar Taesik sialan, ia meninggalkanku sendirian dikamar ini.


Tanpa pikir panjang aku langsung mengejar mereka, aku tak perduli lagi bagaimana tatapan orang padaku. Yang penting aku harus bisa menyusul mereka.


Sayangnya ketika aku hampir mencapai mereka yang ada di Lift, pintunya tiba-tiba tertutup. Aku tak bisa mencapai mereka disaat yang yang tepat.


Kutunggu orang yang menggunakan Lift selanjutnya, soalnya aku tak tahu bagaimana menggunakannya. Untungnya belum lama mereka pergi, sesorang datang menggunakan Lift itu. Dia seorang wanita cantik berambut pendek, umurnya sekitar 25 tahunan. Menggunakan rok span pendek berwarna hitam, dan baju putih sedikit ketat sehingga menampilkan lekukan tubuhnya yang indah. Kaki yang putih mulus dan ramping, serta dua tonjolan yang membuat pria menelan air liur saat melihatnya.


Tak terkecuali aku yang terpesona saat melihatnya. Tampaknya ia menyadari tatapanku yang agak lama padanya. Ia kemudian menjauh dariku hingga ia sampai disisi dinding. Aku langsung mengalihkan pandanganku saat menyadari itu.


Sebelum pintu tertutup, dua orang pria juga masuk dengan cepat kelift kami. Satu gendut dan satu kurus, tampaknya dua orang pria ini sedikit mesum. Dari tadi mereka terus memandangi keelokan wanita itu. Mereka bahkan tidak menganggapku ada disini, tapi jika aku memang tidak ada disini maka wanita ini sudah dalam bahaya.


Lift terus melaju katas, si pria kurus tadi menekan lantai ke 9 jadi ketika lift berhenti mereka diam-diam menyuruhku pergi. Tapi mana mungkin aku akan pergi sementara tujuanku ada dilantai 40, masih terlalu jauh.


Wanita itu melihat kami bertiga tidak pergi juga, ia tahu kalau ia sudah dalam bahaya. Jadi ia buru-buru keluar, namun si pria gendut menekannya kedinding sehingga wanita itu berteriak meminta tolong. Tapi ia tidak sempat berteriak, karna tangan pria gendut itu langsung membungkam mulutnya hingga ia hanya meronta-ronta dan tak bisa berbuat apa-apa .


Si pria kurus dengan cepat menekan tombol lantai 22 dan lift kembali berjalan. Pria gendut mulai berbuat tidak senonoh wanita itu dengan senyum licik diwajahnya. Senyumnya sangat mengerikan hingga membuat wanita itu bergetar dan mulai menangis. Namun apa yang bisa dilakukannya.


Sementara pria kurus mengancamku memakai pisau.


"Kalau kau berbuat yang tidak-tidak maka lehermu akan putus." ucapnya dengan marah padaku.


Tampaknya ia memang berniat memotongku, sepertinya ia cukup berpengalaman dalam hal ini. Dan aku hanya diam dan berpura-pura tak terlibat dalam hal ini.


Melihatku yang hanya diam, dia tersenyum puas.


"Anak pintar." ucapnya sambil tersenyum licik.


"Jack, jangan bunuh dia. Biarkan saja dia jadi penonton." Ucap pria gemuk dibelakang.


Si pria kurus tertawa sinis padaku.


"Seharusnya kau merasa bangga bocah."


Wanita itu menangis, ia berusaha meminta tolong padaku. Mungkin karena aku tidak mempunyai hunbungan dengan dua pria ini. Jadi akulah harapannya satu-satunya.


Aku melihat wanita itu yang sedang menangis padaku, rasanya tak tega juga melihatnya begitu. Dalam pikiranku wanita ini nasibnya sangat malang.