
Kota Seoul di kejutkan dengan ledakan di pulau sebelah nya, pulau Jeju. Ledakan itu mampu mengguncang pulau di dekat nya seperti pulau Jepang dan pulau Korea sendiri. Sehingga menarik perhatian publik internasional. Mereka mengajukan banyak sekali pertanyaan mengapa ledakan itu bisa sampai terjadi. Pihak negara mengatakan kalau salah satu pabrik di pulau Jeju meledak karena kesalahan penggunaan mesin. Untuk saat ini pihak negara menggunakan alasan itu agar menjegah isu isu negatif yang akan menyebar tentang berita negaranya.
Sementara di balik itu, pihak negara saat ini mengerahkan seluruh pasukan untuk menyelidiki kasus ledakan tersebut.
Lokasi ledakan.
Sebuah kawah raksasa berukuran diameter sekitar 15 km telah dipenuhi banyak rombongan. Tenda-tenda pengungsian berserakan dimana-mana, entah itu tenda militer, polisi, dan lain-lain. Mereka berjalan kesana kemari mencari informasi yang layak untuk diberitakan. Tidak sedikit pula wartawan-wartawan yang datang kelokasi tersebut.
Seorang remaja berkacamata sedang mondar mandir dengan kamera ditanganya. Setiap ia melihat sesuatu yang tidak biasa ia akan memotretnya, namun sejauh yang ia lakukan hari ini, ia belum mendapatkan apa-apa.
"Taesik, kemarilah. Ayo kita pulang." Seorang pria paruh baya memanggil nya.
Dilihat dari pakaiannya, seperti nya ia bekerja sebagai seorang detektif.
Taesik merapikan kacamatanya. kemudian menjawab "Ia paman, tunggulah sebentar." Jawab nya sembari menyelesaikan pemotretan nya. Kemudian ia mengejar paman nya yang saat ini sedang menunggu nya.
"Apakah kau menemukan sesuatu..??" paman nya bertanya padanya sambil menyalakan sebatang rokok.
"Aku tidak menemukan apa-apa." Jawab Taesik dengan tak berdaya, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ia sebenar nya diajak oleh paman nya ini untuk menjelajahi tempat terjadi nya ledakan ini. Hitung-hitung dia bisa mendapatkan pengalaman lah, dan yang kedua ia membutuhkan biaya pengobatan untuk adik nya yang saat ini menderita penyakit Hipotitis.
"Sudahlah jangan putus asa, kau harus semangat. Lihatlah paman juga tidak menemukan apa-apa."
Paman nya menghiburnya sambil menampilkan gambar-gambar yang ia ambil. Sudah berapa hari ia bermalam ditempat ini namun ia tidak menemukan apa-apa. Gambar yang ia tampilkan kepada Taesik hanyalah gambar bebatuan yang ia ambil dipinggir jalan.
Bahkan saat melihat gambar itu, Taesik hanya tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala nya. Pekerjaan nya ini terlalu tidak menghasilkan, ditambah lagi banyak sekali saingan yang ia dapatkan. Mau bagaimana lagi, ia hanya seorang remaja 17 belas tahun. Mau dimana lagi ia dapat pekerjaan. Selama ini ia hanya tinggal bersama dengan adiknya, orang tuanya sudah lama tamat ketika ia masih kecil. Oleh karena itu selain pamannya yang selalu merawatnya ia tidak punya siapa-siapa lagi.
"Eh paman, kenapa kau memanggilku.?" Tanya Taesik.
Paman menghirup sebatang rokok nya yang hampir habis kemudian menjawab.
"Ketua bilang, tim kita akan pulang. Dan di gantikan tim lain."
"Oh..." Jawab Taesik dengan singkat.
"Ya sudah, kalau begitu kau bereskan barang barang dulu sana."
Taesik mengangguk lalu berkata.
"Oke."
Kemudian Taesik kembali ketenda mereka sendirian dan mulai mengemas barang-barang nya.
Tanpa sadar, seekor kalajengking berwarna hijau tua keluar sebuah kain, berjalan melewati beberapa barang kemudian sampai ketangan kanan Taesik. Setelah itu kalajengking itu mengengatnya.
"Ah..."
Teriak Taesik dengan suara kecil. Ia melihat punggung tangan kanannya yang saat ini bergetar karena rasa sakit. Kemudian ia melihat kalajengking hijau sedang berjalan keluar. Karena penasaran, ia mengikutinya sambil membawa sebilah pisau ditangannya.
Kalajengking itu keluar dari tenda menuju tempat yang lebih jauh hingga Taesik sendiri tak bisa mengejar nya dan hanya bisa kembali ke tenda milik nya.
Sementara itu, tanpa dikehuinya, bekas gigitan kalajengking yang ada ditangannya perlahan berubah menjadi sebuah tato. Dan tato itu terbuat dari darah nya sendiri kemudian membentuk gambar kalajengking. Proses itu membuat kepalanya pusing dan bahkan ingin sekali pingsan.
"Ah..."
Ia benar-benar tak tahan lagi untuk tidak berteriak, sekujur tubuh nya mengalami rasa sakit yang luar biasa membuat diri nya tak terkendali dan mengegeliat ditanah seperti cacing kepanasan.
Disaat bersamaan, kalajengking yang tadi menggigit Taesik perlahan-lahan menghilang menjadi abu. Sementara Taesik sendiri meronta ronta kesakitan di tenda nya, seluruh pembuluh darahnya panas dan melonjak seperti membentuk sel kromosom baru. Sampai akhir nya ia pingsan karena tak dapat menahan nya lagi.
Disaat Taesik sedang pingsan, ditenda nya terjadi sesuatu hal yang aneh.
Terdapat ribuan bintik-bintik cahaya terang yang kemudian bersatu membentuk sebuah tubuh manusia setelah beberapa saat tubuh itu akhir nya sempurna dan kemudian jatuh terbaring dengan tidak sadarkan diri.
Tak lama kemudian tubuh itu membuka matanya dan disaat yang sama Taesik juga tersadar dari pingsan nya.
Taesik kaget dengan apa yang dilihatnya, seorang remaja berambut panjang tiba-tiba ada dikamarnya. Remaja itu mempunyai kulit yang putih dan bersih, wajahnya juga tidak kalah cantiknya dengan seorang wanita. Untuk sesaat ia terpesona saat melihat remaja itu, namun ketika ia melihat ada barang seperti miliknya, ia langsung tersadar kalau orang yang ia kagumi adalah seorang pria. Dengan cepat ia menatap tajam pada anak itu dan bertanya.
"Siapa kau......?????"