NEVER DEAD

NEVER DEAD
KEKACAUAN YANG TERJADI DIHOTEL



Wanita itu sepertinya masih belum menyerah, ia menggigit tangan si gendut hingga berdarah. Si gendut berteriak kesakitan lalu menampar wanita itu.


"Wanita sialan. Sudah dikasih hati malah minta jantung. Mam mam nih."


"Eemm..." wanita itu berteriak. Tapi si gendut masih saja kasar pada wanita itu.


Lalu aku menepuk-nepuk punggungnya, Si gendut yang hendak memulai permainannya terlihat tidak senang saat diganggu seperti ini.


"Jack, tunggulah aku selesai baru giliran kamu. Jaga dulu bocah itu, tenang ajah kok, kau pasti kebagian."


Tapi aku masih tidak berhenti menepuk punggunya.


"Jack.! Tunggulah sebentar. Kau dengar tidak." si gendut mulai kesal.


Kali ini aku tidak menepuk punggungnya, tapi malah menekan punggungnya itu. Sepertinya si dendut kesakitan, trus dia berbalik.


"Jack..!!." Ia berteriak emosi.


Kemudian ia berbalik, melihat temannya Jack didepannya terjatuh.


"Jack.... Apa yang terjadi. Apa yang kau laku......"


BUKKHH.....


Ia berteriak marah padaku, namun sebelum menyelesaikan pembicaraannya. Aku sudah menendangnya hingga ia tertindih didinding.


Kemudian ia ikut terjatuh, meninggalkan bekas kepalanya didinding aluminium yang penyok akibat tendanganku yang terlalu kuat. Bahkan kakiku saja belum ku tarik, masih dalam posisi menendang si gendut.


Sepertinya tindakanku membuat wanita itu tertegun, lalu aku menarik kakiku dan bersandar di dinding, berdiri seperti biasa.


Wanita membersihkan dirinya lalu merapikan pakaiannya. Kemudian ia mendekatiku.


"Terimah kasih."


Wanita itu sedikit membungkuk padaku.


Aku hanya tersenyum, tapi tidak membalasnya. Lalu kembali seperti biasa, menunggu liftnya berhenti.


Lift akhirnya berhenti, tapi tidak ada diantara kami yang keluar. Aku memandang wanita itu dengan aneh. Lalu ia pergi menekan tombol lantai 30. Aku memperhatikan semua cara menggunakan lift ini secara detail.


Kemudian ia berbalik dan berjalan mendekatiku lagi.


"Kau akan pergi kelantai mana.??" tanyanya dengan malu.


Kulihat wajahnya memerah sambil menyisihkan rambut ketelinganya.


"Lantai 40." jawabku dengan singkat dan tanpa ekspresi.


Sebenarnya aku tak tahu harus bekspresi bagaimana, ditambah lagi saat ini aku sedang gugub. Walaupun diluar aku tampak tenang dan dingin, tapi sebenarnya aku sangat canggung dan berhati-hati dalam memilih jawaban agar tidak merusak suasana ini.


"Wah, itu berarti kamu tamu VIP dong. Apakah kamu juga diundang untuk menghadiri acara itu." ucapnya dengan kagum.


"Eh, yah. Begitulah." Ucap dengan malu-malu sambil menggaruk-garuk kepala.


Acara apaaan, aku datang kesini hanya untuk menyelamatkan adik Taesik. Bukan untuk alasan lain.


Ia masih tertunduk padaku. Kemudian menatapku lagi.


Sebenarnya aku lebih beberapa inci dari wanita ini, batas tingginya ada dileherku lah. Soalnya tinggiku 175 cm saat dipengukuran kemarin dan berat badanku 65 kg. Sementara dia sekitar 165 cm dan berat 55 kg.


Jadi ketika ia menatapku maka ia akan mengangkat wajahnya sedikit keatas. Kulit wajahnya putih seperti susu, bulu matanya yang indah serta bibirnya yang tipis dibalut dengan lipstis merah terang membuat jantungku berdebar kencang tak menentu.


Aku bahkan tanpa sadar mundur dan memalingkan wajah, tak berani menatapnya. Wajahnya memerah, kemudian mengulurkan tangannya.


"Halo, namaku Karina."


Melihat tangannya yang putih dan mulus, membuatku tak tahan untuk memegangnya. Dengan tangan gemetar dan jantung yang berdegub kencang, aku berusaha tersenyum padanya.


"Na..namaku Rian kak." Hampir saja suaraku terbata-bata. Jika itu terjadi maka akan sangat canggung hatiku ini untuk menatapnya.


"Loh kok panggil kakak sih. Emangnya umurnya berapa.?" Tanyanya padaku dengan penasaran.


"Umurku 17 belas tahun kak." jawabku sambil tersenyum padanya.


"Oh, 17 tahun yah. Beda jauh rupanya. Kalau begitu panggil ajah aku kak Karina. Umur kakak saat ini 25 tahun."


Dia tersenyum padaku, namun, walaupun begitu masih terlintas kekecewaan diwajahnya saat ia berbalik.


Ditengah suasana yang canggung dan sedikit berbunga-bunga itu, terasa waktu seperti berjalan lambat.


Tapi tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi dilantai paling bawah.


Didepan hotel....


Beberapa mobil hitam berhenti didepan jalan. Keluarnya beberapa pria berbaju hitam yang menutupi wajah mereka dengan topeng. Mereka membawa pistol ditangan mereka.


Tanpa sepatah kata pun mereka langsung menembak security penjaga gerbang.


Dorr, dorr....


"AAAAAHHHH......."


Teriakan histeris memenuhi ruangan, para pegawai dan pendatang mulai berlari tanpa arah yang jelas. Berusaha mencari tempat yang aman untuk berlindung.


Diluar Jeongho memperhatikan kedatangan mereka dengan hati-hati.


"Apa yang mereka lakukan." gumamnya pelan. Kemunculan mereka benar-benar diluar dugaannya. Mungkin saja bisa menggagalkan rencana mereka.


Ia kemudian langsung menghubungi Rey dan temannya.


"Rey, dibawah ada beberapa pencuri bertopeng masuk kehotel. Mereka membawa senjata tajam, sepertinya mereka juga mengincar apa yang kita incar. Apakah kita akan menghentikan opreasi ini.?"


Sementara Rey sedang berjalan mencari keberadaan orang itu berhenti saat mendengar suara Jeongho.


"Rey, apa yang terjadi." Tanya Jangyeon dibelakangnya.


"Sepertinya ada beberapa orang yang memiliki tujuan yang sama dengan kita." jawabnya.


"Apa.!!" jelas kalau Jangyeon terkejut, akan ribet nanti urusannya nanti kalau ada saingan.


"Jadi apa yang kita lakukan sekarang."


Rey berpikir sejenak, lalu memutuskan.


"Kita lanjutkan saja operasi kita. Toh mereka ada dibelakang. Kalau polisi datang, mereka pasti yang akan diperhatikan, bukan kita. Jangan lupa beritahu Taesik dan juga temannya agar mereka berhati-hati."


"Baiklah, jaga diri kalian baik-baik." jawab Jeongo yang ada diluar.


Lalu ia memberikan informasi kepada aku dan Taesik.


Aku hanya menjawab "ya" dan tentu saja Taesik juga menjawab jawaban yang sama.


Sementara para pencuri bertopeng masuk kedalam lobby dan menembak kearah atas.


DOR....


"Aaaahh...."


Semua orang berteriak kaget sekali lagi.


"DIAAAAMM......." Kata orang yang menembak itu.


Hening......


"Berlutut.!!"


Ada yang berlutut, Tapi ada juga yang masih terbengong dan ragu-ragu saat menuruti perintahnya.


"Apa kalian tidak mendengarnya.? Berlutut.!!"


Doorr.....


Pria bertopeng itu menembak kearah atas sekali lagi.


Ketika tembakan kedua, semua orang gemetar dan mengikuti apa yang dikatakannya. Beberapa teman pria bertopeng itu masuk dan mulai merogo bagian keuangan. Sementara yang lainnya mengawasi orang yang berlutut. Selain para pegawai hotel, masih banyak lagi orang-orang terperangkap dan berlutut karena takut. Mereka disuruh untuk mengeluarkan harta mereka, tidak peduli baik itu uang, emas atau barang berharga milik mereka. Asalkan itu berharga mereka takkan sungkan-sungkan mengambilnya.


"Cepat cari gadis itu." Ucap pemimpinnya kepada anak buahnya.


Beberapa anak buahnya mulai maju dan menggeladah berbagai ruangan.


Tiba-tiba telepon sang bos yang ada disaku celananya berdering. Ia langsung mengangkatnya.


"Halo bos." Ucap suara dibalik telepon.


"Bagaimana, apa kau sudah menemukan gadis itu." tanyanya dengan dingin.


Sementara itu, seorang mata-mata sedang mengawasi dua orang gadis yang sedang berbelanja pakaian. Saat ini ia sedang menelepon orang diam-diam.


"Sudah bos, mereka ada dilantai 15 sedang berbelanja pakaian bersama."


"Oh, ternyata dihotel ini terdapat mallnya." suara bosnya terdengar senang dari balik telepon.


Lalu bos itu memberi perintah pada anak buahnya.


"Ayo kita kelantai 15."


Dengan diikuti beberapa anak buahnya, para pencuri bertopeng itu manaiki lift dan menuju kelantai atas.


Tepat ketika mereka sudah berangkat, salah satu resepsionis menekan tombol alarm.


Alarm berbunyi memenuhi segala ruangan yang ada dihotel itu. Para penghuni hotel pun mulai panik dan mulai mengunci diri mereka kekamar masing-masing.


"PERHATIAN BAGI SEMUA PARA PENGHUNI HOTEL. ADA SEKELOMPOK PERAMPOK YANG MASUK KEHOTEL INI. DIHARAPKAN BAGI KALIAN SEMUA UNTUK WASPADA DAN PASTIKAN AGAR DIRI KALIAN TETAP AMAN. MASUKLAH KEKAMAR KALIAN DAN JANGAN LUPA UNTUK MENGUNCI PINTU KAMARNYA."


Kemudian resepsionis itu menelpon polisi. Tidak lama kemudian polisi datang menginvasi hotel tersebut.