NEVER DEAD

NEVER DEAD
BENTROK DENGAN SANG MASTER (2)



Kenapa aku harus bentrok dengan seorang tingkat master di sini.


Saat ini, pak tua itu sedang mencekik leherku. Mungkin ia berniat untuk mematahkan leherku sekarang juga dengan


satu tangan.


Di depan mataku, gadis tadi yang kuselamatkan belum pergi juga. Ia masih menonton kami dengan khawatir di balik dinding. Aku memberi nya isyarat agar dia harus pergi dari sini dengan cepat.


Ia mengerti kemudian melarikan diri, bersamaan dengan itu bang Joker juga berdiri. Ia memberi hormat pada pak tua ini.


"Master, sekali lagi kau menyelamatkanku. Aku benar benar mengucapkan Terima kasih padamu. Bocah ini tadi hampir membunuhku tadi." Ucap nya dengan penuh kebencian sambil menunjukku. Seolah olah mengisyaratkan kepada kakek tua ini untuk membunuhku.


Kakek tua ini mengerutkan kening, ia juga ikut ikutan marah.


"Tenang saja, aku akan memusnahkan bocah ini."


Lalu ia berbalik menatapku, mengecangkan genggaman di leherku hingga aku tidak bisa bernapas.


Pria itu bersorak gembira, sambil mengatakan terimah kasih pada pak tua ini ia pergi mengejar gadis yang melarikan diri tadi.


Kakek itu menggenggamku cukup lama, melihat aku yang belum mati. Ia mencibir.


"Nak, nyawamu panjang juga yah."


Aku tidak bisa menjawab apa apa, kemudian dengan ringan ia mengakatku. Dia sebenar ny jauh lebih pendek dariku. Hanya sekitar 160 cm. Tapi dengan tangan nya yang panjang, cukup membuatku untuk tergantung di dinding.


Dengan keras ia membantingku kelantai.


BUUARKH....


Tubuhku tertanam kelantai di sertai dengan retakan lantai yang cukup besar. Kekuatan kakek ini terlalu kuat.


Tapi aku tidak menyerah, walaupun aku tadi terintimidasi dengan aura membunuh nya tapi aku bukanlah tipe orang yang takut mati. Pendirian itu telah ada di dalam darah dagingku, sehebat apa pun orang di depanku ini. Aku juga tidak akan menyerah begitu saja.


Aku langsung menggunakan salah satu teknik yang di ajarkan guruku.


Blink.


Tubuhku tiba tiba langsung menghilang dari tangan nya, dan mendarat di bagian dinding yang lain nya.


Kakek tua itu langsung terkejut melihat kemampuanku. Ia berdiri menatapku dengan penuh ketidak percayaan.


"Aku tidak percaya bisa bertemu dengan jenius yang sudah mencapai tahap Elit di umur yang begitu mudah. Dunia ini benar benar luas yah." Ucap sambil tersenyum licik.


Kamudian ia melanjutkan.


"Tapi masih di tahap Elit, setidak nya aku akan membunuhmu hari ini. Karna di masa depan kau akan menjadi lebih berbahaya nanti nya dan akan selalu menyusahkanku. Aku ingin lihat sampai di mana kau akan bertahan."


Aku terdiam sambil menatap nya dengan waspada. Ia akan membunuhku hari ini karna ia tahu aku akan menjadi lebih kuat dari nya di masa depan. Dan bahkan jauh lebih muda.


Di dunia ini jika ingin membunuh seseorang maka bunuhlah dia sewaktu ia masih kecil, sebelum ia menjadi kuat dan ganas. Sebelum menjadi batang pohon yang kuat dan tangguh, ia harus di musnahkan dulu sewaktu menjadi benih atau di waktu masih menjadi pohon kecil agar mudah di patahkan.


Begitulah cara dia membunuhku, tapi niscaya jika aku masih hidup kali ini. Maka ia percaya, aku akan berusaha mencari identitas nya lalu membalas dendam.


Di dalam dunia bela diri, bagi para ahli yang sudah mencapai puncak dari bela diri itu. Maka akan di ajarkan suatu budidaya kultivasi tenaga dalam. Kultivasi di mana seseorang akan mengolah dan mengendalikan tenaga dalam yang ada di dalam diri nya. Dalam tingkatan kultivasi ini di bagi menjadi Warrior, Elit, Master, dan Dewa. Masing masing tingkatan itu juga di bagi menjadi 10 tahap. Tahap Yi, er, Liang, san, si, wu, liu, qi, ba, dan jiu.


Untuk Warrior adalah tahap permulaan bagi petarung yang sudah mencapai tahap puncak bela diri. Biasa nya mereka akan jauh lebih kuat dari ahli bela diri biasa.


Untuk Elit, akan di sebut sebagai jenius karena mencapai tahap itu. Tidak banyak juga orang yang akan mencapai tahap ini. Dan sekarang aku sudah mencapai tahap Elit tingkat Wu atau mari kita sebut saja tingkat 5.


Dan untuk Master itu sudah di anggap sangat langka, hanya ada beberapa saja seorang master di negara ini. Dan salah satu master itu ada di hadapanku sekarang. Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk kabur dari nya.


Terakhir, Tingkat Dewa. Tingkat seperti itu hanya akan di anggap sebagai legenda di dunia ini. Tidak ada yang tahu siapa yang bisa mencapai puncak itu, siapa pun itu ia pasti adalah seorang legenda yang mendunia di muka bumi ini.


Aku memandangi kakek tua ini, ia hanya bersikap santai di depanku. Tentu saja ia akan memperlakukanku hanya sebagai junior.


Untuk melarikan diri kemungkinan nya hanya nol persen, tapi jika berusaha sebaik mungkin akan mendapatkan 5 persen. Dan jika di tambah dengan mataku mungkin poin nya akan bertambah 15 persen. Sial, kenapa kekuatan nya begitu jauh. Keringatku mulai bercucuran saat memikirkan masalah ini, aku juga memikirkan bagaimana caraku melarikan diri dari si tua ini.


Sekarang mataku aktif, tapi tidak menyala. Aku memandangi seluruh tubuh kakek ini, dari segala sisi.


Tinggi badan 160 cm, mempunyai 14 luka di sekujur tubuh nya. Satu bekas tikaman pisau di bagian dada kiri, dua sayatan pedang di bagian punggung, 3 bekas sayatan belati di bagian depan, 6 bekas tembakan di belakang dan 2 bekas tikaman pisau bagian paha. Otot sangat proposional, kekuatan tumpu terdapat bagian tinjuan, dan titik lemah di bagian titik buta.


Dalam sekilas aku sudah memeriksa semua nya.


Kini saraf saraf tubuh nya mulai bergerak, otot otot kaki nya juga berkedut, kaki kiri bergerak satu inci dari tempat nya. Pandangan 150 derajat menghadap ke depan tanpa berkedip. Dapat di simpulkan...


'Tendagan kaki kanan..'


Saat ini kakek itu tiba tiba sudah berada di hadapanku dengan secepat kilat, ia melakukan pose menendang dengan kaki kanan nya sejajar di wajahku. Kaki nya sudah hampir mencapai 1 cm dariku. Waktu terasa lambat.....


BRAAAKHR.....


Kaki nya tertanam di dinding, dinding yang ia tendang langsung hancur dan runtuh seketika. Terdengar suara teriakan penghuni dari dalam kamar itu yang sedang enak enak. Mereka langsung melarikan diri tanpa memakai busana mereka saat melihat wajah kakek yang mengerikan.


Aku tiba tiba muncul di belakang nya, untung nya sudah kuprediksi dan melakukan Blink sebelum ia mengambil tindakan. Jika tidak aku mungkin sudah terlempar ke dinding sebelah.


Oh tidak, ia akan menyerang lagi.


Bola mata bergeser ke kanan, meliriku dari belakang. Lutut sedikit di tekuk, tangan kiri sedikit di turunkan, bahu kanan bergerak, lengan kanan di tarik ke belakang.


Pukulan...


Aku juga langsung menghindari pukulan nya lagi, walaupun jauh dari dinding tapi efek tekanan nya membuat dinding nya remuk dengan bekas gambar kepalan tangan raksasa yang menempel di dinding.


Aku menghela napas panjang ketika menghindari serangan kedua ini.


Pak tua itu menatapku dengan puas sambil menganggukan kepala nya dan tangan nya mengelus ngelus janggut nya.


"Lumayan juga kemampuanmu. Tapi mari kita lihat, apa kau bisa menghindari ini."


Ia kemudian memasang kuda kuda, lalu salah tangan nya di belakang, tapak tangan satu nya lagi di arahkan ke depan.


"Jika kau tidak bisa menghindari ini, maka aku akan putuskan kau akan mati."