
Ketika aku memojokannya kedinding, dia berteriak kesal. Memakiku berkali-kali, aku bingung mengapa tiba-tiba anak ini menyerang kami dengan penuh kebencian.
Karena pertengkaran kami ini banyak mengundang perhatian. Beberapa orang terdekat menonton kami, sementara petugas datang meleraikan.
"Berhenti, kalian tidak boleh membuat keributan disini. Ini adalah rumah sakit, kalian akan dikenai sangsi dan jika belum mengerti kami bisa memanggil polisi." Teriak petugas itu memisahkan kami.
Orang itu memandangi kami, kemudian memandangi petugas.
"Pak, mereka ini pencuri. Mereka mencuri tas ibuku dan membuat ibuku terbaring dirumah sakit ini."
Mata kami terbelalak saat mendengar ucapan anak ini. Siapa, ibunya??. Kami mengambil tas ibunya.???
Setelah itu tatapanku tertuju pada tas yang dibawa Taesik. Karena aku membawa Rey, jadinya aku menyuruhnya membawa tas itu.
"Hei, siapa yang kau panggil pencuri.??" Saat ini Taesik maju, tentu saja ia kesal dibilang pencuri.
Kami sudah bertaruh nyawa untuk mengambil balik, dan enaknya ia memanggil kami pencuri seenaknya.
"Masih tidak mau mengaku." tatapnya dengan tajam. Kemudian mengambil dengan paksa tas itu.
Kami juga tidak menghentikan gerakannya. Sekejap setelah ia mengambil tasnya, seorang gadis juga datang pada kami.
"Apa yang terjadi disini." teriak gadis itu kepada kami sambil melipat tangan kedadanya.
Ketika ia melihat tas itu, tatapan menjadi terkejut.
"Kak, itukan tas mama."
Laki-laki itu melirik tas ditangannya, kemudian menatap kami dengan tatapan hina.
"Ya, aku menemukannya pada pencuri ini." Ucapnya dengan keras sambil menunjuk Taesik. Gadis itu juga menatap kami dengan tatapan dingin.
Taesik marah, menggenggam tanganya erat-erat. Dibelakang aku juga tampak kesal, dituduh seperti ini setelah menolongnya. Bukankah mereka tidak tahu cara berterimah kasih.
Aku maju dan menepuk bahu Taesik. Kamudian mulai berbicara dengannya tenang.
"Tidakkah kalian mengucapkan terimah kasih pada kami." ucap ku dengan datar.
Pria itu melirikku, sudut bibirnya melengkung dengan penghinaan.
"Berterimah kasih, berterimah kasih untuk apa.?" tanyanya dengan puru-pura terbengong sambil memiringkan kepalanya.
Aku hanya menatapnya dengan dingin membuatnya kesal terhadapku. Ia melototi dengan ganas seolah-olah sedang menatap mangsa. Tapi kenapa aku harus takut padanya, bahkan jika ayahnya disini aku juga tidak akan mundur. Kemudian aku menjawab pertanyaannya.
"Apa kau tahu bagaimana gerak-gerik seorang pencuri.?"
Ia sedikit bingung dengan perkataanku, itu membuatku tertawa kecil padanya. Seolah-olah aku sedang menghinanya. Memang aku sedang menghinanya, pertanyaan seperti itu membuatnya terbengong, memangnya otak apa yang ia pakai. Ia bertanya dengan marah mengapa aku tertawa. Tapi aku tetap tertawa.
Sementara adiknya tampak acuh tak acuh menatap kami, ia berkata pada kemudian kakaknya.
"Kak, ayo kita pergi. Kenapa juga harus berurusan dengan mereka."
Tapi kakaknya jelas tak mau meninggalkan kami.
"Tidak, anak ini telah berani menertawaiku. Katakan apa maksudmu." pria itu menggertakan giginya padaku.
Aku berhenti tertawa, menatapnya dengan lucu. Kemudian bertanya padanya.
"Apakah kau bodoh. Jika kami pencuri apakah kami akan datang kerumah sakit ini dengan tas curian kami. Bukankah kami akan mengekspos diri kami kepenjara."
Perkataan itu jelas membuat mereka tertegun. Untuk sesaat pria dan gadis itu terdiam. Menatapku menunggu penjelasan.
"Bukankah hanya ada satu keterangan disini." Aku mulai menatap mereka dengan penuh kehinaan.
"Kami telah berusaha mengejar pencuri itu bahkan nyawa kami hampir melayang. Kami datang kesini karena salah satu teman kami terluka. Dan kau, menyebut kami pencuri. Bung, dimana rasa terimah kasihmu. Seharusnya kalianlah yang menanggung uang harga pengobatan teman kami." Taesik tidak tahan lagi, ia sudah mengeluarkan semua keluhan yang ada dihatinya.
Sementara pria yang memanggil kami pencuri tak bisa berkata-kata lagi. Ia hanya menundukan kepalanya diam-diam.
Kemudian gadis itu datang kearah kami. Memberi kami sebuah kartu kredit.
"Didalamnya terdapat uang sebesar sepuluh 10 juta. Anggap saja ini adalah kopensasi untuk kalian karena telah menyelamatkan tas ibuku. Dan untuk biaya rumah sakit temanmu, biarkan kami saja yang mengurusnya." Ucap gadis itu dengan dingin.
Ia melemparkan kartunya kepadaku, aku juga langsung menangkapnya. Tapi Taesik disampingku malah menggertakan gigi. Diberi kompesasi seperti itu tanpa adanya rasa hormat sedikit pun membuat kami sedikit marah pada sifatnya itu. Ia bahkan tidak berterimah kasih pada kami. Dengan nada geram Taesik maju dan hendak mengatainya, namun aku menghentikannya agar tidak berbuat masalah lagi dengannya.
"Sudahlah Taesik, orang seperti itu tak usah kita tolong lagi nantinya." kataku dengan sabar sambil mengelus-elus bahunya.
Gadis itu yang sedang berjalan, tiba-tiba berhenti ketika mendengarnya. Ia melirik kami sekilas tapi kemudian ia berjalan kembali.
Taesik awalnya memberontak jadi tampak tenang, ia pun mengangguk padaku. Sementara pria yang menuduh kami pencuri tadi tetap menunduk. Aku bertanya padanya mengapa ia menunduk dan malah tidak pergi. Kukira ia akan marah dengan perkataanku, tapi ternyata ia hanya memandangi kami dengan penuh rasa bersalah.
"Maafkan aku, tadi aku menuduh kalian yang tidak-tidak. Aku benar-benar minta maaf atas perlakuan adiku pada kalian."
Aku dan Taesik saling memandang saat mendengar perkataan itu. Yang lebih membuat kami terkejut, ternyata anak itu malah membungkuk pada kami.
"Terimah kasih banyak karena telah membantu ibuku."
Kami buru-buru mengangkatnya dan bilang tidak perlu berperilaku seperti itu, tapi malah menggeleng-gelengkan kepalanya dan memberikan sebuah kartu pada kami.
"Kak, namaku Park Jung. Ini kartu namaku, jika kalian membutuhkan bantuanku pastikan kalian menghubungiku."
Kemudian ia pergi dengan memberikan tatapan hormat pada kami.
Kami menatap kepergiannya yang kemudian menghilang dari pandangan kami. Setelah itu kami ingin memeriksa keadaan Rey.
"Taesik, Rian."
Suara itu memberhentikan langkah kami saat ingin melangkah masuk kedalam ruangannya Rey. Ditambah lagi suara itu agak tidak asing ditelingaku, sementara kulihat ekspresi Taesik sedikit agak ketakutan. Kami berbalik kearah suara itu bersama-sama.
Terlihat bibi Eunji sedang menatap kami dengan garang. Kedua tanganya berada dipinggangnya kemudian maju dengan dengan cepat kearah kami.
"Bibi, aku bisa jelaskan.??" Ucap Taesik dengan ketakutan sambil mundur dan mengangkat tangannya.
"Aaaah...." teriak Taesik saat telinganya dijewer oleh bibi.
"Kamu tuh yah. Sudah kubilang pergi beli ikan malah ada disini." ucap bibinya dengan marah.
"Bibi tolong hentikan, kan malu didepan banyak orang." Jawab Taesik sambil berusaha melepaskan telinganya.
"Ga usah banyak alasan. Kenapa kau bisa ada disini."
Aku buru-buru menjawab.
"Bibi, saat kami pergi kepasar, kami melihat teman kami terluka. Jadi kami membantu membawanya merumah sakit. Dan uang yang bibi berikan sudah terpakai untuk membayar uang sewa taksi."
Mendengar alasanku, bibi bertanya pada Taesik apakah itu benar. Taesik hanya mengangguk dan bilang kalau itu memang benar. Jadi bibi melepaskan jewerannya kemudian melihat kearah Rey yang sedang tertidur di ruangan. Dan balik menatap kami.
"Jika urusan kalian sudah selesai, maka datang jenguk adikmu. Hari ini adikmu sudah sembuh sepenuhnya dan boleh keluar dari rumah sakit ini."
Kami menggangguk kemudian ia pergi meninggalkan kami.