
Bip.....
Bip.....
Bip....
Aku perlahan membuka mata, melihat ruangan putih kosong di sekelilingku.
Apakah 3 hari telah berlalu, ini seharus nya kamar nya Taesik. Di mana kali terakhir aku tidur. Tapi kenapa kamar nya berwarna putih, setahuku kamar nya tidak seperti ini.
Kemudian Paman dan bibi perlahan masuk dari balik pintu. Melihatku yang sudah mereka keluar dengan tergesa gesa sambil memanggil seseorang.
Aku kaget, jangan jangan mereka menyadari kebangkitanku.
Aku berusaha bangun, namun aku sadar, kalau tubuhku lemas dan tak bisa apa apa. Aku melirik tangan ku yang sudah di infus, lalu masker okesigen yang aku kenakan. Aneh, seperti nya aku sedang tidak berada di rumah Taesik. Tetapi berada di rumah sakit, itu berarti aku masih selamat saat ini.
Lalu seorang berbaju putih masuk ke dalam, di temani dengan bibi dan paman. Aku mendengar mereka berkata.
"Dokter bagaimana keadaan keponakan kami." Ucap mereka dengan tergesa gesa sambil menuju ke arah samping tidurku.
Aku mendongak ke sana, ternyata masih ada lagi orang selain diriku di kamar ini. Hanya saja kami tertutup dengan kain hijau. Mungkin itu seharus nya Taesik.
Untuk sementara dokter menyuruh mereka keluar terlebih dahulu. Lalu ia memeriksa tubuhku.
"Hebat, aku benar benar kagum padamu nak. Kondisi tubuhmu sudah pulih. Hanya saja belum bisa bergerak, aku tahu kau bisa bergerak nanti nya. Lukamu sangat parah, 8 tulang rusukmu tepotong di bagian kanan. Tapi aku benar benar tidak percaya karena hanya sebulan kau sudah sadar seperti teman temanmu. Padahal lukamu paling parah di antara mereka."
Aku syok mendengar nya, 1 bulan. 1 bulan aku tidak sadarkan diri, apakah dokter ini sengaja memberitahukan padaku agar aku mati karena kaget.
Kemudian ia pergi memeriksa Taesik, lalu memberitahukan hal yang sama pada nya. Setelah itu ia keluar, paman dan bibi menunggu di luar dan tidak sabaran untuk masuk. Kemudian menjenguk Taesik, bertanya apakah dia baik baik saja. Mereka juga melihatku dengan tatapan kasihan.
Lalu perlahan paman datang ke arahku.
"Rian, terimah kasih atas kepedulianmu. Kenapa kalian berbuat sampai sejauh ini." ucap nya sambil mengerutkan kening.
Aku ingin bicara, namun bibi melarangku. Ia bilang aku jangan dulu banyak bicara, soal nya lukaku sangat parah waktu itu.
Kemudian ia melanjutkan.
"Tapi, apapun yang terjadi kemarin, kami benar minta maaf karena telah merepotkanmu. Demi menyelamatkan Taeyun kau jadi seperti ini." Ucap bibì sambil meneteskan air mata.
Aku berusaha menggeleng gelengkan kepala. Dalam hatiku berkata tidak apa apa, sudah sepantas nya aku membantu teman.
Mereka juga tampak nya mengerti dengan apa yang kukatakan, jadi mereka menangis tersedu sedu sambil mengatakan terima kasih padaku.
Kulirik Taesik, saat ini dia juga melirikku. Seluruh tubuh nya di penuhi perban bagaikan seorang mumi. Seperti nya aku juga begitu. Setelah itu aku balik ke kanan, mataku kaget melihat yang lainnya juga di sana.
Ku lihat di sana, Rey sedang duduk di kasur sambil menatap kami. Dia tidak di perban seperti kami yang kayak mumi. tapi kondisi nya sepertinya sangat lemah hingga tak mampu berbicara. Tangan dan hidung nya juga di infus, ada begitu banyak luka di tubuh nya.
sementara juga kulihat Jeongho di samping nya sedang duduk di kursi roda. Tangan nya di gantungkan sebuah perban ke leher nya, tampak nya tangan nya itu patah. Di samping nya juga terdapat gadis yang tengah duduk mengobrol dengan nya. Gadis itu juga mengalami luka parah sama seperti nya.
Ya ampun, insiden kemarin itu ternyata membuat kami semua jadi seperti ini yah.
Sampai sampai kami tak bisa bergerak, ini benar benar sudah kelewatan. Bahkan kami hanya bisa menatap satu sama lain tapi tak bisa berbicara.
Pintu kemudian kembali terbuka, dokter yang memeriksa kami kembali masuk. Di belakang nya sepasang suami istri dan dua orang gadis juga mengikuti dari belakang.
Saat mereka masuk mereka menatap kami dengan senyuman, apalagi si gadis yang berambut panjang. Ia menatapku dengan waktu yang lama, sementara si gadis rambut pendek menatap Taesik dalam waktu yang lama pula. Karna mereka menatap kami dalam waktu yang lama, sang ibu pun terbatuk.
"Uhuk uhuk..."
Mereka sadar, memalingkan wajah nya ke arah lain dengan wajah memerah. Sepasang suami istri itu tersenyum sendiri melihat keadaan dua orang putri nya itu.
Mereka berdua berjalan ke arah paman dan bibi, saling bersalaman satu sama lain. Kemudian berjalan ke arah Taesik.
"Bagaimana keadaan nya dokter" tanya ibu pada dokter.
Dokter itu sedang mengambil berkas, karna ibu bertanya pada nya ia pun menjawab.
"Tubuh anak ini mulai membaik, tapi ini benar benar aneh sekali." Gumam dokter itu dengan serius.
Suami istri itu menatap dokter dengan penasaran.
"Memang nya apa yang terjadi dok." Tanya sang suami.
Dokter menggosok gosok pelipis nya.
"Sesuai dengan scren pertama nya itu, ada beberapa tulang yang patah pada anak ini. Temasuk bagian tangan, kaki, bahkan keretakan pada otak pak. Tapi saat scren kedua nya, tubuh nya baik baik saja tanpa ada gangguan sedikit pun. Dan seharus nya anak ini akan sembuh 2 bulan atau 3 bulan ke depan tapi sekarang, hanya 1 bulan dan ia sudah pulih sepenuh nya. Bukankah ini aneh."
"Hm... Coba ku lihat gambar nya."
Kemudian dokter itu memberikan 3 gambar tulang Taesik yang patah pada ayah gadis itu. Ia menggosok dagu nya sambil membandingkan antara gambar yang lalu dan gambar yang sekarang.
"Mana mungkin begitu pak, mungkin anda salah ambil gambar kali. Atau mesin anda yang rusak."
Mendengar itu dokter langsung menyangkal.
"Itu tidak mungkin tuan, mesin kami tidak rusak sedikit pun dan pada saat kami menscren ke adaan nya, di situlah lagi kami mencatat nya. Kami tidak keliru saat itu."
"Hm...." si tuan itu masih saja berpikir.
Dokter itu kemudian mulai menunjukku.
"Apalagi anak itu, dia abnormal sekali. Padahal dia mengalami luka yang sangat berat, bahkan ku kira ia takkan selamat lagi. Siapa yang menyangka kalau ia masih hidup, dan bahkan pemulihan sangat cepat dari pada orang normal pada umum nya."
Tuan itu langsung memandangiku dengan mengerutkan kening, seakan tidak percaya. Jantungku langsung berdegu kencang, apakah ia akan memeriksaku setelah ini.