NEVER DEAD

NEVER DEAD
BERTAHANLAH



Kedua belah pihak sedang bertarung sekarang, Rey berusaha bangun secara diam diam agar tidak di ketahui mereka. Dengan hati hati ia merangkak di mana uang nya berada. Lalu mengumpulkan dan memasukan kembali ke dalam kopernya.


Tiba tiba ada menendang pantat nya dari belakang hingga terdorong ke depan. Setelah ia berbalik ternyata anak buah bang Badui tidak senang jika ia memanfaatkan situasi ini.


"Sialan kau, di saat seperti ini kau malah mencuri uangnya."


Lalu ia langsung menendang Rey.


Rey berdiri dan langsung menangkis tendangan itu, namun ia masih mundur beberapa langkah.


Kemudian ia melangkah maju lalu memukulnya balik, di saat bersamaan juga orang itu juga sedang melayang pukulannya.


Tangan yang ia gunakan untuk memukul kini berubah memegang kepalan pria itu, setelah itu ia langsung membantingnya ke lantai.


Melihat salah satu anak buahnya di taklukan, alis bang Bandui berkerut. Ia tidak lagi memperhatikan musuh yang menyerangnya. Karna sekarang musuhnya bukan hanya para segerombolan ini tetapi juga pencuri yang sedang merebut uang ini kembali.


"Jaga uang itu, jangan biarkan pencuri itu mengambilnya." Teriak bang Badui.


Kemudian dua orang anak buahnya maju dan menghadang Rey, ternyata bukan hanya mereka tapi anak buah pak Yoran juga maju melindungi uangnya.


Yah tentu saja kedua belah pihak akan menjadi musuh yang sama bagi Rey walaupun saat ini mereka juga sedang bertarung satu sama lain. Itu karna mereka juga mengincar benda yang sama dengan nya.


Dengan cepat ke empat orang tersebut mengepung nya, menyerang dan hendak melumpuhkan nya. Namun ia juga bukan orang biasa, ia belajar karate sejak ia masih kecil dan itu akan menjadi bekalnya untuk menghadapi mereka semua.


Kini salah satu dari mereka menendang kepala nya, ia dengan cepat membungkuk dan cepat pula ia berputar 180 derajat lalu menendang kaki yang satu nya yang masih berdiri.


Musuh terjatuh, Rey langsung menginjak kaki nya dengan kuat. Hingga mengeluarkan bunyi.....


Kreeek....


"Aaaahhk...." tariak nya dengan sangat kesakitan sambil memegang kakinya yang di injak Rey.


Yang satu teman nya juga maju, dan memukul Rey dari belakang. Namun ia langsung berbalik dan mengambil tangan nya lalu menyikut hidung nya hingga berdarah.


Orang ketiga juga maju namun sebelum mencapainya, Rey sudah menendang kaki bawah nya dengan kuat hingga ia hanya terjatuh seperti orang tersandung.


Lalu ia langsung menaiki tubuh orang yang ke empat kemudian menendang dagu nya sambil melakukan akrobat sistem.


Ke empat orang itu langsung tumbang seketika, mereka bukan apa apa bagi nya.


Menyadari kalau anak buah mereka di kalahkan, bang Badui dan anak buah pak Yoran jadi berhenti bertarung. Mereka saling menatap sejenak, seperti pikirang mereka saat sama. Yaitu ingin melumpuhkan dulu pencuri ini.


"Bagimana jika kita singkirkan pengganggu itu." ucap ketua anak buah pak Yoran.


Bang Badui mengangguk setuju lalu menyuruh anak buah maju menghadapi Rey. Anak buah pak Yorang juga melakukan hal yang sama.


Mereka bahkan tidak menyangka kalau musuh bisa di jadikan teman sekutu. Walaupun Rey juga hebat dalam hal bertarung tapi tentu saja tak bisa menghadapi segitu banyak orang. Apalagi mereka bukan anak buah biasa.


Rey mundur, entah kenapa ia punya firasat buruk tentang ini. Ia ingin lari namun sudah terlambat. Anak buah bang Badui sudah menyerbunya duluan.


Untuk yang serangan orang pertama, ia masih menghindari nya dengan menunduk. Namun tak bisa di pungkiri lagi kalau ia sekarang sudah berada di dalam lingkungan mereka.


Seseorang datang menendang nya, ia masih menangkisnya. Namun bersamaan dengan datang tendangan itu, pukulan juga masuk, untungnya ia juga masih menahannya.


Bukh...


buaghk...


Buhgt..


Ratusan serangan di lancarkan oleh mereka bertubi tubi, dan Rey hanya bisa bertahan dan menangkis serangan nya tapi tak bisa keluar dari situasi ini.


Sepandai pandai nya Rey bertahan pasti ia juga kehabisan napas. Di saat ini, itulah kelemahan terbesarnya. Ia sudah mulai lelah dengan pertarungan ini.


Lalu tiba tiba kaki nya di tendang hingga ia berlutut, ketika hendak berdiri sebuah tendangan juga melayang ke wajahnya. Tapi ia masih menangkis nya, namun di saat ia menangkis serangan itu. Sebuah besi menghantam bagian belakang kepala nya.


Bugthk....


Ini membuat luka yang sebelumnya hampir sembuh jadi makin parah. Rey hanya terjatuh tak berdaya setelah terkena serangan itu.


Lalu ratusan kaki jatuh ke tubuhnya. Tidak peduli itu tubuh, tangan atau pun kepala. Semua nya di injak tanpa ampun.


Penglihatan Rey sudah buram, pikiran nya sekarang kosong. Ia hanya teringat ibunya terbaring di rumah sakit sambil meminta maaf dalam hati kalau ia sudah melanggar perintah ibunya. Ia hanya ingin melihat senyum ibunya kembali, sekali saja sebelum ia mati. Menyesal dalam hati karena dari awal ia tak memperlakukan ibunya cukup baik. Hingga saat ini ibunya belum terbangun dari sakitnya selama ini.


Ia menangis, walaupun tubuhnya sekarang keadaan di injak injak tapi ia hanya merasakan rasa penyesalan di hatinya.


"Maafkan aku ibu." Ucapnya sebelum ia memejamkan mata.


Keadaan menjadi hening, tidak tahu apakah itu adalah efek dari kematian atau kekosongan. Yang penting ia sudah yakin kalau ia memang sudah mati.


"Hei, Rey kau baik baik saja." ucapku dengan panik.


Kini Rey membuka matanya, melihatku yang saat ini dengan tatapan lemah. Aku langsung mengambil kotak p3k yang aku curi sebelum menyelamatkan nya lalu aku menyandarkan nya di dinding.


Aku buka bajunya perlahan lahan agar tidak membuatnya menderita. Taeyun duduk di samping ku sambil memperhatikan Rey. Ia juga melihatku dengan tatapan kagum.


Ku gunakan salah satu teknik rahasia milik guru untuk membantu menutup luka nya. Walaupun sangat menyakitkan namun ku harap Rey dapat menahan nya. Ku gunakan alkohol untuk membersihkan luka nya. Setelah itu, aku memakai perban untuk membalut lukanya.


Lalu aku membuka maskernya, Taeyun berteria kaget.


"Kak Rey." ucapnya sambil menutupi mulutnya.


"Dia akan baik baik saja." jawabku padanya.


Kubersihkan wajahnya, dia perlahan membuka matanya. Walaupun lukanya hampir sepenuhnya ku pulihkan namun rasa sakit yang tadi pasti masih ia rasakan.


Ia memandangi sekitar, melihat anak buah pak Yoran dan anak buah bang Badui tergeletak di atas lantai. Ia tersenyum puas dan mengatakan dengan sangat pelan.


"Terimah kasih."


Aku hanya tersenyum padanya lalu menawarkan punggungku. Ku suruh Taeyun untuk membawa tubuh Rey di punggungku.


"Adik, tolong bawakan tubuh Rey ke punggungku."


Taeyun langsung menurutinya, kurasa anak ini sedikit penurut. Lalu aku berdiri dan memperbaiki posisi Rey di punggungku agar lebih nyaman.


"Bertahanlah sebentar Rey."