NEVER DEAD

NEVER DEAD
JANGYEON YANG TAK BERDAYA



"Jadi, apakah memang kau tahu tentang mereka." Tanya bang Joker pada Eun jung.


"Ya, tapi untuk saat ini aku belum mengetahui lebih detail tentang mereka." Eun jung berkata dengan sungguh sungguh, namun tatapannya pada bang Joker terlihat ragu ragu.


Takutnya mungkin bang Joker takkan mempercayainya.


Benar saja, ternyata bang Joker memang tidak mempercayainya. Ia menampar dengan keras hingga kemerahan dan meninggalkan bekas tangan di wajahnya yang putih kemudian mencubit dagunya lalu memaksakan dirinya agar menatap nya.


"Aku tidak mau di permainkan. Kau pikir kau bisa membohongiku seperti ini." ucapnya dengan dingin sambil menatap wajah Eunjung yang hampir menangis.


Gadis kecil yang dari dulu selalu di manjakan dan tak pernah sekalipun di perlakukan dengan kasar. Sekarang sadar kalau ia tidak selamanya menjadi seorang tuan putri. Dan dunia luar tidak sebaik seperti orang tuanya yang selalu menyayanginya di rumah. Tamparan hari ini adalah kejadian pertama kalinya sejak ia di besarkan. Sangat sakit, namun ia tak mau menangis. Ini bukan seperti sifatnya selama ini yang begitu keras kepada orang lain.


Ibunya tak tahan melihat putrinya yang hampir menangis, ia berulang kali berteriak ke bang Joker agar tidak memperlakukan nya dengan kasar. Tapi bang Joker hanya mengabaikannya. Ia hanya berfokus pada Eun jung yang saat ini terdiam.


"Jelaskan apa ciri ciri mereka, dan di mana mereka tinggal."


Eun jung hanya diam mendengar pertanyaannya, tapi ia juga berusaha menjawabnya.


"Mereka ada 3 orang, dan masih muda. Umurnya sekitar 17 tahun, seumuran denganku. Dia terlihat seperti...."


Eun jung berpikir sejenak...


Sementara di luar Taesik berusaha tetap berjalan melewati lantai 45, ketika ia mendengar suara kebisingan tidak jauh di sekitarnya. Ia mulai beranggapan kalau itu adalah tempat di mana adiknya berada.


Ia kemudian berlari dengan cepat ke arah suara itu.


Di dalam, Eun jung dengan penuh tekanan dari bang Bang Joker berusaha mengingat tampang Taesik dan Rian. Ia mengingat tampang Taesik yang dulu pernah memarahinya saat di rumah sakit.


"Bagaimana ciri ciri mereka." tanya bang Joker sekali lagi.


Eun jung dengan penuh keringat berusaha mengatakan.


"Ciri ciri mereka seperti......


Buugkh.....


Pintu terbuka, Taesik masuk ke dalam.....


Semua orang yang sedang tegang berbalik ke arah pintu. Awalnya sang ibu akan mengira kalau yang datang adalah suaminya atau pendukungnya. Ternyata hanya seorang bocah belasan tahun yang datang.


"Itu dia orangnya." Teriak Eun jung.


"Eh."


Taesik tanpa sadar berbalik ke arah mereka, tatapan mereka tertuju padanya. Apa yang terjadi di sini. Taeyun tidak ada di sini, hanya ada seorang pria yang sedang bersenang senang dengan gadisnya, jadi ia hanya kembali mencari adiknya.


Sambil menggaruk garuknya kepalanya, Taesik tersenyum canggung sambil meminta maaf pada mereka.


"Maaf mengganggu kalian. Silakan di lanjutkan."


Lalu ia melangkah keluar, namun belum sampai beberapa langkah, seseorang memanggilnya dari belakang.


"Tunggu."


Panggil Bang Joker dengan santai.


Taesik berbalik, lalu menatap si pria bertopeng joker.


"Eh, ada apa." Tanya Taesik ragu ragu, melihat 3 orang gadis sedang di sekap olehnya membuat hatinya berdecak kencang. Mungkin ia salah masuk, hingga masuk ke lubang harimau.


Bang Joker hanya berdiri di tempat, namun tangannya memberi kode pada anak buahnya agar mereka menangkapnya.


Mereka semua maju, Taesik ingin lari namun beberapa orang menangkapnya dan langsung melayangkan beberapa serangan pada bagian fatal.


Taesik hanya melindungi wajahnya, layaknya petinju. Namun ratusan tangan sudah mengenai berbagai tempat di tubuhnya hingga membuat dirinya goyah. Di tambah lagi, orang orang ini bukanlah orang biasa. Pukulan mereka sangat terlatih dan kuat. Meskipun Taesik juga bukan anak biasa sekarang, namun ia tak bisa melawan beberapa orang yang kuat ini. Di tambah lagi ia tak pandai berkelahi dan kekuatan dia gunakan tadi juga ada batasnya.


'Ukh.. apa yang aku lakukan.' Teriak Taesik dalam hati.


__________


Lantai antara 49 dan 50.....


Jang yeon berlari mencari jalan untuk bersembunyi di jalan yang berkelok kelok ini. Di belakangnya juga terdapat anak buah pak Yoran mengejarnya tak henti hentinya. Awalnya semuanya berjalan sesuai keinginan, musuhnya masih jauh dari di belakang. Sampai akhirnya, ia menemukan jalan buntu.


"Hahahaha...."


Semua orang yang mengejarnya tertawa, tertawa karena akhirnya ada jalan buntu. Tertawa karna ia tidak bisa lari kemana lagi.


Lalu dari belakang, ketua dari gerombolan itu maju ke depan. Menatap Jangyeon dangan penuh ejekan.


"Kau tidak bisa lari lagi sekarang."


Jangyeon mundur perlahan sampai ia bersandar di dinding. Ras takut menyelimuti dirinya dan keringat bercucuran seperti sedang bermandi hujan. Ia menatap segerombolan orang ini, dan pada akhirnya tersadar kalau ia memang tak bisa lari selain menghadapinya.


Ia menutup matanya lalu mengehela napas panjang, kemudian kembali menatap mereka yang sejak tadi sudah lama menahan diri mereka untuk memukuknya.


Setelah itu ia membuang tas ke samping. Memperbaiki lehernya yang kaku kemudian Memasang ancang ancang siap bersiap untuk bertarung sambil mengucapkan 4 kata yang sangat memprovokasi.


"Oke, mari kita lanjutkan."


Setelah itu ia memasang kuda kuda bertarung, kemudian tangannya kanannya menggunakan sandi provokatif untuk membiarkan mereka maju.


Ketua gerombolan itu tersenyum sinis, tersenyum karna menghina betapa bodohnya orang di depannya ini. Orang yang sudah memasukan dirinya sendiri dalam kematian.


"Hahahaha....." Ia tertawa lepas.


Jangyeon bertanya apa yang ia tertawakan.


Dia bilang.


"Aku tidak pernah melihat orang sebodoh dirimu, apakah kau benar benar menentang kami." ucap pria itu dengan sombong.


"Cih memangnya siapa kalian, hingga kalian tidak bisa di ganggu." Tanya Jangyeon dengan acuh tak acuh.


Mereka tertawa, seperti menertawai orang idiot. Lalu ketuanya berkata.


"Kau tidak perlu siapa kami, yang penting jika kau mau berlutut pada kami dengan sepenuh hati maka kami bisa mempertimbangkan hukumanmu setelah ini."


"Ahahahahaha....." kini giliran Jangyeon yang tertawa. "Apa ini, aku akan berlutut pada kalian tapi masih di kenai hukuman. Tidak masuk akal, dengar yah, aku tidak akan pernah menyesali tindakanku ini apalagi berlutut pada kalian sekelompok anjing sialan."


Mendengar ejekan ini wajah para segerombolan itu mengeras. Bahkan ada yang memaki dan ingin maju memukulnya. Namun ketuanya masih menghentikannya.


"Berani sekali, kau sangat berani sekali. Kita lihat sampai berapa lama kau akan bertahan."


Kemudian ia memberi kode pada bawahannya untuk maju.


Pertempuran pun di mulai, Jangyeon bertempur dengan segerombolan preman ini. Sementara ketuanya hanya berdiri menonton pertunjukan yang menarik.


Seseorang memajukinya, Jangyeon langsung menyepak pinggangnya hingga ia terjatuh. Lalu ia berbalik dan memukul orang yang ada di belakangnya. Orang itu mundur tapi melancarkan kakinya lagi pada Jangyeon. Jangyeon memegang kakinya lalu memuatarnya hingga mengenai teman temannya. Setelah selesai baru Jangyeon membantingnya kelantai.


Bukhg.....


Tiba tiba ada yang menyerangnya dari belakang di saat ia sedang membanting pria itu. Ia segera menunduk dan menggunakan pantatnya untuk mendorong orang yang memukulnya ke belakang.


Tapi reaksi orang itu cukup cepat, ia langsung maju satu langkah dan melayangkan tinjunya. Jangyeon sudah berbalik dan langsung menahan tinjunya itu lalu memukulnya balik.


Setelah itu ia menahan tendangan lain dengan menggunakan kakinya, lalu berbalik melakukan tendangan Dwi hurigi. Salah satu istilah yang di gunakan dalam dunia taekwondo. Tendangan atas yang berputar 180 derajat sehingga mengenai wajahnya sehingga membuatnya terjatuh.


Buhgk....


Tiba tiba seseorang menangkapnya dari belakang dan mengunci lehernya hingga membuatnya tak berdaya. Ia tak bisa melakukan apa apa lagi, kedua tangannya terkunci dan kepalanya tertunduk karena kuncian itu.


Seseorang langsung memberikan ratusan tinju ke perutnya bagaikan meninju sebuah sambak. Dan serang terakhir di luncurkan ke atas sehingga mengenai wajahnya karena sedang tertunduk.


Buagkh.....


Hidung Jangyeon mengeluarkan darah, pukulan itu sangat keras seperti menghancurkan hidungnya sendiri.


Lalu seseorang juga maju kemudian memberinya kendangan lutut ke perutnya hingga membuat Jangyeon memuntahkan kembali apa yang di makannya tadi pagi.


Seluruh badanya mati lemas, ia tak berdaya lagi menghadapi mereka.