
Kota Seoul.....
Pinggir kota...
"Rian, Rian, Rian....Bangun."
Aku terbangun saat ada orang yang memanggilku. Ketika kulihat, ternyata paman Chi tae dari tadi berusaha membangunkanku. Sementara Taesik disampingku juga baru terbangun. Pada saat ia menguap, ia merentangkan tangan sehingga mengenaiku. Sungguh tidak sopan sekali. Ditambah lagi mulutnya bau sekali. Bahkan paman juga menjauh darinya, terlihat kalau ia tidak menyikat gigi tadi pagi. Tidak, bukan hanya tadi pagi. Sepertinya ia tidak pernah menyikat gigi saat ia melakukan tugas ditempat ledakan. Terlihat bahkan giginya sangat kuning diseratai dengan sisa-sisa makanan disela-sela giginya.
"Uh."
Keluh paman sambil menutupi hidungnya sementara tangan yang lain berusaha menghilangkan udara bau mulut yang berusaha masuk kehidungnya.
"Nak, sudah berapa lama kau tak menyikat gigi." Kata pamannya dengan nada jijik.
"Hm, sudah berapa lama yah.?? apakah mulutku bau." Tanya balik pada paman kemudian mencoba mencium bau mulutnya sendiri.
"Ukh..." kini giliran Taesik yang mengeluh. Bagaimana tidak, ia sudah mencium bau mulutnya sendiri. Dan ternyata mulutnya bahkan lebih busuk dari got yang ada dijalanan.
"Sudah sudah, mari kita turun. Cepatlah! Si sopir sudah menyuruh kita dari tadi." Paman menarik tangan kami dengan cepat.
Sekilas aku melihat kearah sopir, wajahnya dari tadi sudah sangat menyeramkan. Tampaknya ia dari tadi sudah susah payah menahan amarahnya pada kami. Aku merasa ia Sudah jelek tambah jelek lagi.
Kami dengan cepat keluar dari bis. Saat kami turun, aku hanya mengikuti langkah kaki mereka. Ketika aku melihat pemandangan sekeliling, aku terkejut kalau aku ternyata sudah ada di tengah-tengah dari banyaknya perumahan disekitarku. Ditambah dengan suasana yang hidup dan ramai membuatku tak bisa menahan rasa senang dihatiku.
"Waah....... He...hebat..!!"
Teriaku yang heboh membuat orang-orang disekitarku memandangku dengan tatapan aneh. Bagaimana tidak, saat ini mataku berbinar dan memandangi sekeliling seperti orang gila. Untungnya aku memakai masker, jadi mereka tidak mengenaliku. Yah niatku kan hanya untuk menutupi diriku agar tidak dikenali orang lain.
"Wah...wah....apakah ini yang namanya rumah. Eh hai..." Ketika aku melihat seorang wanita menatapku, aku langsung menyapanya. Sebenarnya dalam hidupku belum pernah melihat seorang wanita dewasa selain ibu yang mengasuhku.
"Iiih...jijik...phui..." ia langsung meludah kearahku. Tapi aku tak perduli, aku hanya berputar-putar sambil memandangi sekitar dan menyapa mereka tanpa harus memperdulikan ekspresi mereka terhadapku.
"Hoi hoi hoi, apakah ia tak pernah melihat perumahan." Bisik pamannya dengan hati-hati ketelinga Taesik agar tidak ketahuan para massa.
"Entahlah paman, mari kita tinggalkan dia sendiri. Dia hanya mempermalukan kita jika ada didekatnya. " Ucap Taesik dengan pelan, kmeudian ia hendak melangkah pergi dengan cara mengendap-ngendap.
Pamannya juga mulai mengikutinya dan mulai mengendap-endap pula.
"Eh, paman, Taesik. Kalian mau kemana, dimana rumah kalian." Tanyaku dengan senang pada mereka dan tak memperdulikan ekspresi massa.
Mereka yang sudah sedikit jauh dari kerumunan langsung membeku seketika dalam keadaan salah satu kaki terangkat. Ketika mereka berbalik kearahku, ratusan pasang mata juga menatap mereka. Mereka dengan malu menatap massa, wajah mereka juga sedikit merah, kemudian menatapku dengan tajam dan berpura-pura tersenyum padaku.
"Rian, ayo kita pergi. Akan kuantarkan kau kerumah kami." kata pamannya sambil pura-pura sopan padaku.
"Tapi paman bukankah kita harus.....wu.."
Sebelum aku melanjutkan perkataanku, paman sudah merampas mulutku dengan tangannya. Lalu membawaku pergi dengan paksa seperti orang yang sedang dibius. Aku meronta-ronta tak berdaya sambil menyapa mereka dengan senangnya.
"Darimana anak tadi berasal, apakah dia keponakan Chi Tae lagi. Sebenarnya berapa banyak keponakan pak tua itu." ucap salah satu dari kerumunan tersebut.
"Tapi tampaknya keponakannya yang satu ini agak sedikit tidak waras." jawab salah satu wanita gemuk yang habis nonton tingkahku yang aneh tadi.
Setelah jauh dari kerumunan, kami bertiga berlari seperti pencuri dengan aku sebagai korbannya. Setelah ditempat yang sepi mereka melepaskanku.
Bagaimana tidak, tingkahku tadi benar-benar mempermalukan mereka. Tapi aku hanya mengangguk pada mereka dengan jujur.
Setelah melihatku mengangguk seperti itu, mereka yang awalnya sedikit marah padaku langsung terdiam dan saling berpandangan satu sama lain.
Hening....
Tapi saat ini paman memecah keheningan.
"Heh, aku tidak mengerti kau berasal dari mana bocah. Sepertinya kau butuh penyesuaikan untuk tinggal disini."
Taesik juga menghela napas, dan memandangiku dengan tatapan rumit. Seperti ada rasa penasaran dengan kehidupanku.
"Aku akan berusaha paman." jawabku dengan penuh senyum, hari ini suasana hatiku sangat senang.
"Baiklah, mari kita pulang." pamannya langsung membawaku pergi.
Kami pun berjalan melewati beberapa lorong yang berkelok-kelok. Setelah begitu lama kami berjalan, akhirnya kami berhenti disebuah rumah. Rumah itu tampak sederhana, dikedua sisinya diapit dengan dua rumah masing-masing berjejer seperti berbaris. Kupandangi bagian atap rumah mereka yang dipenuhi banyak kabel-kabel yang menghubungi rumah yang satu dengan yang lainnya. Terdapat seorang ibu-ibu sedang menjemur pakaiannya di lantai atas rumah mereka.
"Eun ji, kami pulang.." panggil paman sambil sambil memegang kembali barangnya.
Ibu-ibu itu menoleh kearah kami, lalu ia meninggalkan pekerjaannya kemudian menuju tangga bawah dan pintu rumah terbuka. Setelah itu ia keluar menuju kearah kami.
"Kenapa kalian pulangnya begitu cepat. Bukankah masih ada 1 bulan." tanya ibu itu dengan heran.
"Ada apa, apa kau tak ingin aku pulang cepat." Paman menjawab dengan senyum menggoda.
"Tidak, bukan begitu. Bukankah kalian memang pulang terlalu cepat. Baru beberapa hari kalian pergi dan kalian sudah pulang. Dan kasus yang kalian telusuri itu bukan kasus yang kecil. Katakan padaku apa masalah kalian."
Ternyata bibi ini cukup pandai menganalisis keadaan. Ia bahkan sudah tahu kalau paman dan Taesik memiliki masalah.
"Tidak ada masalah apapun aku hanya rindu padamu sayang" Sekali lagi paman hanya tersenyum padanya dan ingin memeluknya. Tapi bibi dengan cepat menghentikannya dan berkata kalau ini sedang didepan umum. Lalu ia berbicara dengan cemberut.
"Huh, jika kalian tak memberi tahu ya sudah. Ayo masuklah. Eh.!!"
Bibi berhenti dan memandangiku. Kemudian berbalik menghadap paman. Tanpa menunggu pertanyaan bibi, paman langsung menjawab.
"Dia adalah salah satu korban dari ledakan itu dan keluarganya sudah tidak ada. Jadi kubiarkan dia tinggal disini bersama dengan Taesik."
Bibi itu langsung terkejut kemudian sekilas memandangiku lagi.
"Kasihan sekali kamu yah nak." bibi datang membelaiku dengan lembut. Kemudian kembali menatap paman. "Tapi Sejak kapan kau suka mengadopsi anak orang."
Paman terkekeh saat mendengarnya, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku bukan mengadopsinya, tapi dia akan menyewa."
Kemudian ia memberi uang yang kuberikan kepada bibi itu. Bibi itu mengambil uangnya, tapi tidak melihat isi didalamnya. Ia menatapku dengan tatapan simpati lalu mengajak kami semua masuk.
"Tapi bukankah kita hanya punya 3 kamar. Satu kamar kita, satunya lagi kamar Taesik dan yang terakhir kamarnya Tae yun. Lalu ia akan tinggal dikamar mana.??"
"Dia bisa tidur dikamar Taesik." jawab paman dengan singkat.