
Aku berdiri dan memperbaiki posisi Rey di punggung ku agar lebih nyaman saat di gendong. Aku berbisik padanya, mengatakan kalau semua baik baik saja.
Tapi kulihat tatapan Taeyun yang tampak cemberut padaku.
"Ada apa." tanya ku pada nya.
Taeyun memalingkan wajah nya, ada jejak kemerahan di pipinya lalu ia melipatkan tangannya di pinggang nya.
"Sejak kapan aku jadi adikmu." ucapnya sambil mencemberutkan bibir mungilnya.
Aku tertawa saat melihatnya, lalu ku usap kepalanya. Sepertinya ia sedikit tertegun dengan tindakanku. Tapi aku tidak memperhatikan nya.
"Taesik bilang kalau kau juga adikku maka aku juga punya tanggung jawab untuk melindungimu."
"Huh, orang itu." ucap Taeyun sambil mencemberutkan bibir mungilnya.
Wajahnya masih tetap memerah, tapi ia tidak menatapku lagi malah memalingkan wajahnya dan pergi begitu saja.
Kupanggil dia dulu sebentar.
"Adik, bisakah kau kumpulkan uang itu. Rey dari tadi sangat ingin mengambilnya, bukan."
Dia berhenti dan menyadari sesuatu, tentu saja ia mengerti apa yang ku katakan. Lalu ia menatapku lagi.
"Benar juga." ucapnya.
Kemudian ia mengambil uangnya dan memasukan kembali dalam koper.
Aku menunggunya sejenak, setelah ia membereskan uangnya baru berjalan di depan.
Sementara di belakang, Taeyun mengikuti ku pergi berjalan keluar dari ruangan itu.
Di sepanjang perjalanan ia tak pernah memalingkan tatapannya di wajah ku. Entah apa yang di pikirkannya. Mungkin ia mengingat kejadian tadi jadi ia terus memikirkan nya.
Beberapa saat yang lalu...
Rey terus terusan di injak oleh para berandal itu, Taeyun tak bisa lagi melihat adegan berdarah dan kejam di depan nya ini. Ia menangis dan ingin melepaskan diri, namun tak bisa. Di tambah lagi genggaman pria yang menahan nya terlalu kuat hingga membuat nya kesakitan. Ia lemas dan tak berdaya lagi, menutup matanya erat erat.
Sementara aku saat ini sesang berlari di tangga dan hampir mencapai pintu. Dari tadi aku terus menyaksikan Rey yang di pukuli dari kejauhan. Melihatnya yang sudah sekarat itu membuatku geram dan ingin mempercepat langkahku.
Pintu sudah ku capai, aku langsung menendangnya.
Buagthk....
Pintunya rusak, aku memasuki ruangan dengan pelan. Mereka juga menatapku dan berhenti melakukan aktivitasnya saat ini. Kul ihat Rey yang saat ini sedang berlumuran darah. Hatiku jadi tidak senang melihatnya. Kemudian aku menoleh ke arah Taeyun yang saat ini sedang di tahan dengan mulutnya di bungkam sambil menutup matanya. Tak sanggup melihat kejadian ini.
Berpikir dalam hati. Sialan, Bang Badui benar benar tak bermoral. Ia membawa seorang gadis dan membiarkan ia menyaksikan pertarungan mengerikan ini. Siapa pun juga pasti akan syok di hatinya. Aku takut kalau di masa depan Taeyun akan mengalami kelainan mental. Jika itu terjadi maka itu akan mempengaruhi masa depannya.
Ku pandangi mereka dengan penuh niat membunuh, pokoknya para berandalan ini harus benar benar ku bereskan.
"Siapa lagi kau."
Aku tak memperdulikan pertanyaan nya, itu karna ia menatapku dengan penuh kejijikan.
Bang Badui menatapku dengan penuh merendahkan. Sudut bibirnya melengkung keatas, di pikirannya pasti aku hanyalah seorang bocah yang salah masuk ruangan.
Taeyun juga membuka matanya, mungkin karna situasinya sekarang sudah mulai mereda. Di tambah lagi bang Badui yang menanyakanku pasti membuatnya sedikit penasaran dengan datangnya aku.
Benar saja, matanya terbelalak saat melihatku. Mungkin karna tak percaya karna bisa ada di sini.
Melihatku yang tidak mendengarnya, bang Badui sedikit kesal. Ia perlahan maju kearahku dan melotot padaku.
"Anak ini benar benar kurang pengasuhan orang tua ya."
Selesai berteriak, ia hendak menamparku. Namun aku langsung memegang tangan nya, meremasnya sampai mebgeluarkan bunyi...
Kreek... kretek....
"Aaaah.....!!!"
Bang Badui gemetar ketakutan saat tangannya di patahkan seperti itu. Ia tanpa sadar berlutut, memegangi tangan nya yang kesakitan. Namun aku tidak sekalipun melepaskan tangan malah tambah meremasnya.
Bang Badui berteriak kesakitan lagi dan teriakan ini lebih leras dari pada sebelumnya, anak buahnya hanya diam dan tak berani maju. Bahkan anak buah pak Yoran tampak waspada saat melihatku.
Anak buahnya maju, kuhempaskan tangan nya dengan kuat hingga ia terdampar di lantai. Salah satu anak buahnya maju ke arahku, jaraknya kami sekitar dua meter. Aku langsung muncul di handapan nya, dan menendang kaki nya dengan kuat. Hingga badannya berputar di udara seperti orang salto dan terlentang di lantai dalam keadaan kaki bengkok.
"Ukh..." ringisnya kesakitan.
Di depanku, sekitar ada 40 orang terpampang di hadapanku, 20 anak buah bang Badui dan 20 lainnya anak buah pak Yoran.
Kupukul orang yang paling dekat hingga sebagian wajahnya hancur, mulutnya menghembuskan darah segar dan langsung jatuh ke tanah.
Lalu kulanjutkan perterunganku..
Buuukh...
Buagkh...
Caaght...
Buaght....
.........
Sekarang aku berdiri di tengah tengah mereka yang kini sedang meringis dan menggeliat kesakitan.
Kutatap orang yang menahan Taeyun, pria itu langsung jatuh lemas. Bukan main, aku mengalahkan mereka dalam waktu 5 menit tanpa terkecuali. Makanya melihatku sedang menatapnya, ia langsung lari lari terbirit birit ke pintu luar.
Sementara Taeyun berdiri terbengong di tempat.
Kemudian aku berjalan ke arah bang Badui.
Saat ini bang Badui menatapku seperti seekor monster, ia berusaha mundur walaupun tak bisa berdiri.
"Siapa yang menyuruhmu menyentuh adikku." ucap dengan dingin.
"A.....adik, mak.... maksudmu gadis itu. Kak, aku salah, aku minta maaf. Ke depannya aku tak akan mengganggu adik kakak lagi. Aku akan melindunginya di luar." ucapnya sambil menangis.
Tapi aku hanya diam dan memandang rendah dirinya. Sangat jijik padanya. Ku angkat kakiku tinggi tinggi dan langsung ku injak dirinya.
"Kraak...."
"Aaahk...." Teriak bang Badui terlihat kesakitan.
Tidak lama ia berteriak, ia berhenti dan terbengong sesaat.
"Eh." Pertama tama ia memandangi tubuhnya, tak ada apa apa.
Namun saat melihat kakiku berada di bawah ************ nya, ia jadi berkeringat. Bahkan pipis di celana. Dengan gemetaran ia menatapku. Aku sengaja tidak menginjak tubuhnya dan malah menginjak lantai. Lantai juga retak akibat pijakanku, bisa di bayangkan bagaimana kekuatanku saat itu di mata mereka. Dan itu hanya peringatanku padanya.
"Pergilah. Aku tak ingin melihatmu lagi." ucapku dengan penuh tekanan.
Pada akhirnya ia berbalik dan merangkak untuk menghindariku. Bekas air pipisnya berceceran membentuk sebuah garis lurus searah dengan jalan nya. Lalu ia juga lari terbirit birit keluar pintu seperti anak buahnya sebelumnya.
Aku juga langsung menuju ke arah anak buah pak Yoran.
"Hei, kami tidak pernah mencari masalah denganmu kan." ucap ketua dari anak buah pak Yoran dengan sedikit ketakutan. Jejak keringat menetes di dahinya.
Ketika aku maju ke arah mereka, mereka langsung mundur perlahan. Tak ingin aku mendekati mereka. Pokoknya kedatanganku kesini bukanlah main main, melainkan memberikan kalian apa itu yang namanya ketakutan.
"Pergi, aku tak ingin melihat wajah kalian lagi." ucapku dengan dingin.
Mereka juga langsung lari dan tak peduli lagi dengan uang yang mereka kejar tadi. Tak peduli apa, nyawa dan keselamatan mereka adalah yang paling penting.
Sekarang masalah telah selesai. Pertama tama, aku menanyakan keadaan Taeyun.
"Apa kau baik baik saja."
Dia terdiam sesaat sambil menatapku tapi tidak mengatakan apa apa. Mungkin tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Setelah itu ia mengangguk padaku, itu menandakan kalau ia baik baik saja.
Kemudian ku periksa Rey yang saat ini sedang terbaring lemas.
"Rey, apa kau baik baik saja."