NEVER DEAD

NEVER DEAD
PULANG KERUMAH TEMAN



Aku menunggu Jenderal membuatkanku identitas baruku selama seharian. Tidak lupa juga aku memohon kepada Taesik dan pamannya untuk menungguku. Walaupun mereka agak sedikit kecewa tapi mereka tetap menunggu dengan sabar. Mobil yang telah dipesan oleh paman sekarang telah pergi menjemput orang lain. Tapi bagi paman itu tak masalah karena ia dapat memanggil taksi penjemput yang baru untuk menjemput kami nantinya.


Aku akui, menunggu profesor benar-benar membosankan. Malam ini aku selalu tinggal didalam tenda dan tidak berani keluar, takutnya nanti ada orang yang mengenaliku lagi. Itu benar-benar repot urusanya. Sepanjang malam, paman dan Taesik bertanya-tanya padaku mengapa aku mengenal Jenderal dan sikapku yang tiba-tiba tadi benar-benar membuat mereka berdua terkejut.


Aku hanya menjawab mereka dengan tenang kalau aku sebenarnya berasal dari akademi militer, hanya saja dua tahun yang lalu aku keluar dan berniat menjaga kedua orang tuaku. Tentu saja mereka mengerti apa selanjutnya. Setelah mereka bertanya seperti itu padaku, kamipun mulai membahas yang lainnya sambil becanda tawa untuk menghilangkan rasa kantuk dan bosan.


"Jadi Rian, apakah kau akan melanjutkan pendidikanmu.?" tanya Taesik padaku dengan penasaran.


"Tentu saja aku akan melanjutkannya bahkan sampai diperkuliahan." jawabku senyum pada mereka. Tentu saja aku akan bilang begitu. Soalnya menurut apa yang dikatakan Jenderal kalau orang yang mendukung profesor ada disekolah itu. Aku berniat untuk menyelidiki kasus ini.


Paman dan keponakan itu saling bertatapan lalu mereka berbalik padaku.


"Rian, kalau kau ingin bersekolah, setidaknya kau harus punya pekerjaan. Kalau tidak bagaimana kehidupanmu nantinya." pamanya bertanya padaku.


Aku menanggapinya dengan senyuman, kemudian berkata dengan tulus.


"Aku akan berusaha."


Jawabanku membuat paman terkikik mendengarnya. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata padaku.


"Anak muda yang baik, semoga saja kau akan tetap memegang perkataanmu itu, tenang saja kalau soal tempat tinggal. Rumah paman bisa menjadi tempat tinggalmu." ucap paman sambil tersenyum tulus padaku.


Sementara Taesik awalnya ragu-ragu, namun ia sepertinya juga mengerti keadaanku. Oleh karena itu ia juga menyetujui perkataan pamannya.


"Tenang saja, kau dan Taesik akan masuk kesekolah yang sama. Disana kalian dapat saling berinteraksi satu sama lain, bertemanlah dengan akrab." ia lalu memegang bahu kami berdua. kemudian melanjutkan.


"Sudah malam, mari kita tidur."


"Ya." kami menjawab dan mengangguk bersama-sama. Setelah kami pun tertidur.


Jam 4 subuh....


Jenderal memasuki tenda kami dan memberi tahuku agar aku mengikutinya ketendanya. Saat aku memasuki tendanya, aku diberi beberapa surat keterangan identitasku. Mulai dari akta kelahiran, Ktp, Sim, bahkan Ijazah bukti kalau telah lulus dari akademi Militer jalur khusus. Ia juga memberikanku sejumlah uang yang isinya ada 10 juta. Dia bilang uang ini cukup untuk mencukupi kebutuhanku dibeberapa masa yang akan datang.


Ketika aku mengambil semua itu, hatiku juga menghangat. Ternyata masih ada orang yang peduli padaku. Aku benar-benar bersyukur untuk hal ini. Ketika ia memberikanku suratnya, ia bertanya padaku.


"Apakah teman-temanmu juga masih ada yang selamat."


Aku terdiam saat mendengarnya pentanyaan itu, seingatku sebelum ledakan terjadi Alif pernah bilang kalau mereka sudah sangat jauh dari tempat ini. Tapi melihat efek ledakan itu membuatku bingung, apakah mereka masih bertahan dari ledakannya atau tidak. Aku hanya teringat akan janji yang kami buat sebelumnya, kalau kami akan tetap hidup dan bertemu lagi dikemudian hari apapun yang terjadi.


Janji itulah yang membuatku percaya kalau mereka masih hidup. Sama seperti mereka, aku juga harus percaya padanya jika tidak maka akan sama saja membuat janji seperti itu.


"Mereka masih hidup, tapi untuk saat ini aku tidak tau dimana mereka." kataku dengan sungguh-sungguh.


Jenderal menghela napas lega. kemudian menepuk bahuku.


"Jika kamu menemukan mereka maka beritahukan padaku, mereka juga tidak punya identitas yang layak seperti dirimu sebelumnya. Setidaknya kehidupan mereka akan sedikit lebih baik daripada tidak mempunyai identitas, hidup mereka akan jauh lebih menderita." katanya dengan serius.


Aku hanya mengangguk-ngangguk penuh syukur padanya. Aku juga tak lupa untuk berterima kasih padanya.


"Terimah kasih Jendral. Jika aku menemukan teman-temanku, maka aku akan memberi tahukannya padamu. Dan juga untuk kebaikan ini, aku Rian akan bersumpah suatu hari nanti akan membalasnya walaupun nyawaku pertaruhannya." ucapku dengan tulus padanya.


Membuatnya sedikit terharu padaku, ia hanya tersenyum padaku sambil menepuk-nepuk bahuku.


"Jangan pernah kecewakan aku Rian atas bantuanku hari ini, jadilah orang sukses dikemudian hari. Ketika saat itu tiba, maka panggilah aku untuk berfoto denganmu sebagai guru sangat bangga padamu. Namun jika sebaliknya kau gagal dan hidupmu hancur maka jangan berpikir kalau kau punya harga diri untuk bertemu denganku." Katanya dengan serius membuatku sedikit tertegun saat mendengarnya.


"Siap Jendral." hormatku padanya dengan tulus.


Lalu aku keluar dari tenda membawa sebuah tas yang didalamnya terdapat dokumen-dokumen identitasku. Perlahan aku berjalan ketenda paman dan Taesik lalu menunggu mereka bangun sampai pagi.


Taesik melihatku bangun pagi-pagi sekali, ia menatapku dengan heran ketika melihatku.


"Hei, sejak kapan kau bangun." Tanya Taesik dengan penasaran. Bahkan wajahnya saja belum dibersihkan masih banyak kotoran-kotorang yang menempel pada wajahnya, tapi sudah sibuk menanyaiku.


"Barusan." jawabku sambil tersenyum.


Sementara paman, ia langsung membersihkan wajahnya dan mulai menyiapkan sarapan agar kami dapat berangkat pulang pagi ini.


"Hei, sarapannya sudah siap, mari kita makan." ajak paman kekami.


Kamipun makan sarapan bersama-sama, setelah itu kami menyiapkan barang kami lalu menuju jalanan. Taesik melihatku membawa sebuah amplop kuning. sepertinya ia sangat penasaran apa isi yang ada didalamnya.


"Apa itu.??" tanyanya padaku, matanya tertuju pada amplop ini.


Aku tersenyum saat menatapnya lalu memberikan amplop itu padanya.


"Anggap saja ini adalah harga sewa rumahmu."


Dia menatapku heran, lalu melihat isi dari amplop itu. Matanya terbelalak saat melihat isinya.


"I..ini." ucapnya tanpa sadar, ia juga kembali menatapku. Namun aku hanya mengabaikannya.


"Hei, darimana kau dapat uang sebanyak ini." tanyanya padaku.


"Jendral tadi yang memberikanku." jawabku acuh tak acuh padanya.


"Tapi....."


"Sudahlah terimah saja uang itu, aku tulus memberikannya padamu." kataku sambil tersenyum padanya.


Sepertinya ia terharu dengan pemberianku, bahkan aku bisa melihat kalau ia ingin menangis. Matanya saja sudah berair, tapi aku pura-pura tidak lihat saja.


Ia menyeka air mata dipipinya lalu menatapku dan mengatakan:


"Terimah kasih."


Aku tertawa saat melihatnya. Jujur saja, diumurku segini, aku tidak pernah menangis. Bahkan diwaktu kecilku saja jarang aku menangis apalagi sekarang.


"Hei, kenapa kau malah tertawa.??"


tanya dengan kesal tapi aku tetap tertawa.


"Hei, sudah kubilang kan. Kenapa kau tertawa."


Akhirnya aku berhenti tertawa, aku terbatuk-batuk saat sudah mencapai batasnya. Bahkan perutku juga sakit.


"Baru pertama kulihat ada pria yang sangat cengeng sepertimu." Yah itu memang bukan kebohongan, teman-temanku semua jarang nangis. Apakah dunia luar dipenuhi pria seperti ini.


"Apa." Ia menatapku dengan kesal, dan juga ada rasa malu diwajahnya. Siapa juga yang tidak malu saat dibilang pria cengeng.


Ia kemudian mengejarku dan berharap memberikanku sebuah pukulan, tapi aku hanya bisa tertawa sambil berlari kesana kesini.


Akhirnya kami menaiki sebuah bis yang kebetulan lewat, sehingga paman tidak perlu repot-repot untuk memesan sebuah mobil taksi penjemput.


Aku duduk dipaling belakang dibagian jendela, sementara disampingku ada Taesik yang saat ini tertidur lelap. Mungkin saja ia kelelahan saat mengejarku tadi. Diam-diam aku memandangi sekitar, tempat-tempat yang mobil ini lewati. Pemandangan yang sangat indah bagiku, karena aku tak pernah keluar sebelumnya. Aku melihat gunung, bukit, sungai, pedesaan, taman dan masih banyak lagi tempat yang tidak tahu harus bagaimana kusebutkan.


Diam-diam dalam hati aku bahagia, akhirnya aku bisa keluar dari penjara ini dan memulai perjalanku kedunia luar. Sekilas aku teringat dengan teman-temanku, apakah mereka juga sudah keluar dari wilayah ini. Aku bahkan tidak tahu berapa banyak yang selamat dari ledakan itu, yang kutau Alif saat itu sedang membawa yang lainnya pergi dari sini. Aku hanya berharap suatu saat nanti kita semua akan bertemu lagi dan merayakan keberhasilan kita.