
Aku langsung berbalik kearah suara itu, ketika aku melihat tampang orang yang memanggilku itu. Mataku terbelalak bahkan hampir keluar ketika melihatnya. Bahkan tanpa sadar keringatku mulai membasahi wajahku.
Didepanku seorang pria paruh baya berusia sekitar 45 an berbaju tentara juga sedang menatapku. Dibahunya terdapat loreng kuning dengan bintang 1. Ia memandangiku dari kaki sampai kepala lalu tersenyum padaku.
"Tidak salah lagi, kau benar-benar Rian. Apakah kau sudah lupa denganku."
Aku juga memandangi orang tua ini, tanpa sadar aku menelan ludahku sendiri dan terdengar suara "guld" bersamaan dengan tarian jakungku.
Tubuhku tanpa sadar berdiri tegak dan dengan tegasnya aku menarik tanganku keatas.
"Salam hormat Djendral Major Jo Dook seon." Ucapku dengan tegas sambil dalam posisi aba-aba hormat. Aku dengan tegas menghadap kedepan dan tak berpaling kemanapun, bahkan matapun tak berani berkedip.
Perubahan mendadak ini membuat sepasang paman dan keponakan ini tercengang. Saat ini paman sedang meminum air mineral dengan tenangnya. Tapi saat melihat sikapku yang tegas seperti ini, ia langsung menghembuskan air kedepan. Ia bahkan tak perduli dengan apa yang ada didepan. Sementara Taesik hampir jatuh walaupun tidak tersandung batu apapun. Ia juga menatapku dengan penuh keterkejutan, bahkan mulut mereka tak berhenti menganga.
"Kopral Rian." jawab pak tua itu tanpa ekspresi pula. Ia juga memanggilku dengan tegas.
"Ya."
Aku berhenti sejenak lalu melanjutkan.
"Nomor 98005, Kopral Rian...."
"Cukup." sebelum aku melanjutkan pembicaraanku ia langsung memotongnya.
Kemudian ia tersenyum ramah padaku dan mulai menyentuh badanku.
"Wah, Rian. Kau sudah besar sekarang yah, benar-benar beda dengan dua tahun yang lalu." ia juga mengecek ketinggian tubuhku.
Aku mengerti mengapa jenderal Jo memotong pembicaraanku, ia ternyata tak ingin aku berbicara formal padanya kecuali hanya pada saat pertemuan formal saja.
Aku juga tersenyum menanggapi Jendral, dari dulu ia memang sudah sangat baik padaku. Berbeda dengan guru Li yang penuh ambisi, orang yang saat itu mati bersamaku. Didepanku adalah seorang yang sangat kuhormati selama ini. Orang bijaksana, adil, baik, perhatian, dan tegas. Membuat siapapun sangat menghargai pak tua ini.
"Rian, bagaimana kabarmu.?? sepertinya kau sehat-sehat saja." Tanyanya kepada ku.
Aku hanya mengangguk menanggapinya. Dia pun bertanya sekali lagi.
"Rian, bisakah kau jelaskan bagaimana ledakan ini terjadi. Bukankah kau tinggal disini."
Pertanyaan pak tua benar-benar membuat membeku, tapi aku memang sudah memperkirakannya. Pendekatannya padaku tidak akan lari dari kasus ini.
Aku perlahan mendekat kearah telinga Jenderal.
"Kita jangan membicarakannya disini."
Seketika Jenderal pun mengerti dengan perkataanku ia juga memilih tempat dimana kami akan berdiskusi nantinya. Kemudian aku juga memohon kepada Paman dan juga Taesik agar mereka menungguku.
"Paman, Taesik mohon tunggulah sebentar. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan tuan Jenderal."
Mereka masih terbengong saat melihatku tadi, tapi mereka tetap menggangguk dan bilang kalau mereka akan menunggu.
"Janganlah lama-lama." ucapnya Taesik padaku.
Aku hanya mengangguk padanya kemudian mengikuti Tuan Jenderal Jo dari belakang. Pak tua ini membawaku kesebuah tenda yang relatif kecil, tenda itu juga sangat jauh dari kebanyakan tenda lainnya. Lalu kami masuk kedalam tenda tersebut, didalam hanya ada kami berdua. Kemudian ia bertanya padaku dengan serius.
"Rian, coba jelaskan padaku bagaimana daratanya bisa jadi seperti ini."
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku dan berkata padanya dengan polos.
"Aku tidak tahu lebih detailnya, kami saat itu sedang menjalani sebuah misi. Disaat sebelum keberangkatan kami, Profesor Delani kedatangan beberapa tamu. kami tidak berani bertanya pada prof siapa tamu itu sebenarnya karna kami juga melihat kalau profesor Delani sangat menghormati mereka. Oleh karena kami hanya pergi menjalankan misi kami yang diberikan olehnya. Siapa yang tahu setelah sehari kami meninggalkan, tempat ini langsung meledak. Jadi aku datang untuk memeriksanya."
Aku sengaja berbohong padanya agar ia tidak menyadari kalau kamilah yang telah membunuh profesor. Ia juga tampak tenang saat mendengar ceritaku itu. Namun tatapannya padaku tiba-tiba menjadi lebih tajam, membuat sedikit gemetar dalam hati. Walaupun aku hebat dalam bertarung tapi aku tidak begitu hebat dalam hal berbohong. Tapi aku tetap tenang. Lalu ia berkata padaku.
"Misi apa yang kalian laksanakan.?" Pertanyaan itu membuat kepalaku sakit jika memikirkannya.
Aku terus memutar otak bagaimana caranya aku mendapat alasan untuk misi ini, namun sekeras apapun aku berpikir, aku tak bisa menemukan jawabannya, apalagi disituasi gugub ini membuatku jadi makin tak bisa menghadapi pak tua ini.
"Apakah ada yang kamu sembunyikan padaku."
Keringatku mulai menetes didahiku saat mendengar pertanyaan itu. Tidak cara lain selain menjawabnya.
"Jenderal, misi ini sangat rahasia dan tak bisa diberitahu oleh orang luar. Walaupun anda adalah seorang Jenderal, namun tetap saja aku tak bisa memberitahunya."
Ternyata pak tua ini makin penasaran ketika aku memberitahunya hal ini. Tapi ia mengerti dengan jawabanku. Dia juga tidak bertanya lebih lanjut tentang misi rahasia kami walaupun ia sangat ingin tahu.
Kemudian ia menghela napas dan menatapku dengan tenang.
"Aku tak perlu bertanya lagi tentang misi rahasia kalian, aku hanya ingin bertanya padamu. Setelah dua tahun lamanya ketika kau dibawa oleh profesor, apa yang profesor lakukan pada kalian.??"
Ekspresiku langsung berubah ketika mendengar tentang apa yang dilakukan profesor pada kami. Banyak sekali rasa sakit dan penderitaan saat kami tinggal disana. Tidak banyak pula teman-teman kami yang tewas ditangannya. Oleh karena itu kami berusaha melarikan diri darinya.
Aku menatap Jenderal dengan dengan tenang, lalu aku menjawab.
"Kami seperti biasa melakukan pelatihan, ditambah lagi profesor juga mengajari kami tentang pelajaran fisiologinya. Tidak ada apa-apa yamg terjadi pada kami selain kegiatan itu."
Aku berbohong sekali lagi pada Jenderal, tidak tahu apakah ini dapat membohonginya atau tidak. Aku hanya berharap agar ia tidak bertanya lebih banyak lagi. Entah kenapa, aku sangat tertekan saat ditanya seperti itu.
Rupanya Jenderal tahu kalau aku sedang berbohong, ia menatapku sekali lagi.
"Aku tidak tahu mengapa kau berbohong padaku, tapi Rian ingatlah berbohong itu tidaklah baik. Tidak tahu sampai kapan kamu akan menutupinya namun suatu saat nanti pasti akan terbongkar juga. Tapi lebih baiknya jangan terbongkar secepat ini. Karna kau pasti berharap, kau ingin melanjutkan kehidupanmu diluar sana. Siapa juga yang tak ingin hidup bahagia tanpa adanya rasa tekanan."
Perkataan Jenderal barusan membuatku sedikit lega, tapi diam-diam aku mengangguminya, dia bisa mengenaliku apa aku berbohong atau tidak.
"Tapi Rian, apa kau tidak berpikir mengapa aku bertanya hal ini padamu." tanyanya padamu sekali lagi.
Aku terdiam sesaat, lalu segera menjawabnya.
"Bukankah itu memang tujuan kalian untuk datang kesini." jawab dengan percaya diri padanya. Kukira dia akan membenarkan jawabanku, namun siapa yang sangka kalau ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Itu memang benar kalau kami memang datang kesini untuk mencari iniformasi, namun tidak untukmu Rian. Hari ini aku akan memberi tahumu sebuah informasi yang sangat berharga bagimu."
Aku makin penasaran setelah mendengar ucapan Jenderal. Aku bertanya-tanya informasi apa itu.
"Setelah kalian dibawa oleh profesor saat itu, 1 bulan kemudian kalian dinyatakan tewas karena kecelakaan."
Mataku terbelalak saat mendegarnya, bagaimana itu mungkin. Kami masih hidup dan selalu berada didalam tangan profesor sampai saat ini. Bagaimana bisa dinyatakan tewas. Namun Sekarang ini aku mengerti mengapa mereka menyatakan kami tewas dan tidak dimasukan dalam kependudukan negara. Ini pasti ulah Profesor agar ia dapat memanipulasi kami dengan seenaknya.
"Anehnya kasus kecelakaan kalian itu ditutup dan tidak ditindak lebih lanjuti. Seperti ada tangan yang kuat dibelakangnya membuat kasus itu cepat dilupakan. Dan kau bilang sendiri bukan kalau kau dan teman-temanmu selama ini menjalani hidup seperti biasa. Itulah yang membuatku juriga, mungkin saja kamatian kalian dipalsukan agar Profesor dapat semena-semena melakukan uci coba pada kalian."
Aku benar-benar setuju dengan perkataan Jenderal. Lalu ia melanjutkan.
"Rian, walaupun kau keluar nantinya, kau akan dianggap ******* karena kau tidak mempunyai identitas. Walaupun kau mempunyai keahlian dan pernah bersekolah diakademi meliter, mereka takkan mempercayaimu jika kau tak punya bukti. Malah kau akan membuktikan kalau kau benar-benar seorang *******."
Aku tercengang mendengar hal itu, ini tak pernah terpikirkan olehku. jika aku keluar dan tak bertemu dengan Jenderal, aku tak tahu lagi apa nasibku dimasa depan. Mungkin Taesik dan pamannya akan terjerat bersamaku nantinya. Dengan hati bingung aku bertanya pada Jenderal.
"Jadi, apa yang harus aku lakukan Jenderal." Tanyaku dengan hormat padanya.
Ia tersenyum menanggapiku lalu berkata dengan serius lagi.
"Pertama-tama, kita akan membuat identitasmu yang baru, setelah itu kau akan bersekolah di Smk Swasta Billeon. Karna disanalah terdapat orang yang pernah mendukung profesor."
Hatiku merasa lega saat mendengarnya, ternyata masih ada cara untuk melanjutkan hidup ini.
"Jenderal kapan kau akan membuat identitasku."
Jenderal menatapku sekali lagi. Kemudian berkata padaku.
"Aku butuh satu hari untuk mempersiapkan identitasmu."