
"Apa yang kalian tunggu.!! Patahkan kedua kaki dan tangan anak ini. Lalu bawa padaku hidup-hidup."
Teriak sang pria botak dengan suara serak sambil memegangi perutnya, menyuruh mereka menyerangku.
Terlihat semua anak buahnya mulai serius dan memasang ancang-ancang. Lalu mulai mengambil alat mereka masing-masing. Kemudian mereka berlari bersamaan kearahku.
HIAAAAAAHHHH........
Teriak mereka bersamaan, aku maju kearah mereka dan masuk kedalam kumpulan orang tersebut. Pertama kali ketika sampai disana, aku memberikan sebuah hadiah tendangan lutut pada orang yang paling terdepan hingga membuatnya terpental kebelakang. Setelah itu.....
Buuuukh....
Braaakkhh....
pleeng....
plaak...
Buahg....
Aku dan mereka akhirnya bentrok, kebanyakan mereka ternyata bukan petarung profesional dan hanya semata-mata menggunakan kekerasan. Pukulan dan kekuatanku juga bukan main, selain itu bagian-bagian yang terkena seranganku tepat pada bagian fital musuh. Sehingga banyak dari mereka jatuh ketika terkena serangan pertama.
Dibelakang, seorang remaja yang juga mengejar pencuri tadi akhirnya menemukanku. Mungkin karna ia mendengar suara gaduh di tempat ini, jadi ia datang kesini. Pertama kali ia sampai, matanya terkejut saat melihatku diborong mereka semua.
Ia juga maju dan melawan beberapa orang. Mungkin karna ingin membantuku. Walaupun kemampuannya tidak dianggap hebat, tapi ia bisa menangani beberapa lawannya. Tidak sepertiku yang langsung menumbangkan lawanku. Sepertinya aku harus berkenalan dengan anak ini nantinya, soalnya ia langsung membantuku melawan segerombolan preman-preman ini tanpa ragu-ragu.
Aku menendang, memukul, jungkir balik, membanting, menyikut lawanku dengan brutal tanpa memperdulikan keadaan mereka. Sementara dilihat dari gerakan anak itu sepertinya ia belajar beladiri karate. Dilihat saja dari gaya pertarungannya, sudah bisa ditebak kalau memang anak ini mempunyai tingkatan yang cukup tinggi dalam dunia karate.
Tiba-tiba teriakan Taesik terdengar dari kejauhan.
"RIAAAAANN......."
Suara itu berdengung memenuhi salah satu lorong didekat kami. Dengan cepat dilorong itu terdapat suatu gambar bayangan yang lama-kelamaan jadi semakin jelas. Dalam waktu singkat Taesik akhirnya sampai ditempat kami dalam keadaan terengah-engah.
Pertama-tama Taesik menstabilkan tubuhnya dan pernapasannya, setelah itu ia mendongak kearah Rian dan para gengters yang sedang dalam keadaan bertarung.
"Ri....Rian." Katanya terbata-bata sambil melihat Rian.
Kemudian ia melihat seorang remaja yang dikenalnya juga sedang bertarung.
"Rey..."
Anak bernama Rey mendongak, melihat kearah Taesik. Diwajahnya ada sedikit keterkejutan. Ia ingin mengatakan sesuatu pada Taesik, namun seseorang dari belakang memukulnya memakai balok kayu.
"Rey.....awas dibelakangmu." Teriak Taesik.
Namun sebelum ia bereaksi, balok kayu itu sudah mengenai kepalanya.
BUUUKKHH....
Rey terjatuh ditanah, darah mengalir keluar dari belakang kepalanya. Sementara Taesik membeku ditempat dan aku sendiri masih melanjutkan pertarungan.
Taesik ingin mendekati Rey dan hendak menolongnya, namun dari belakang juga seseorang menangkapnya.
"Lepaskan aku. Lepaskan aku sialan."
Aku melihat kearah Taesik yang sedang berjuang melepaskan diri. Aku juga ingin menolongnya tapi seseorang berani menghalangiku. Setelah itu aku sadar, jika aku terlalu banyak bermain dengan mereka maka situasinya tidak akan terlalu baik.
Dengan cepat aku langsung menggunakan beberapa teknik ajaran mantan guruku. "langkah kilat." "Serangan tak terduga." dan "jurus seribu tangan."
SREETT SREET SREET......
Aku langsung bergerak secepat kilat, disaat bersamaan aku menyerang mereka tanpa disadari. Aku juga mengeluarkan pukulan bertubi-tubiku yang disebut "Jurus seribu tangan" sehingga membuat orang terakhir tewas.
Semua tumbang.
Sementara Taesik sedang berusaha melepaskan diri dari genggaman pria itu.
"Aaaah...Lepaskan aku. Lepaskan aku. Le...pas...kan.... AKU....!!!"
Amarah Taesik meledak, membuat pria itu tak bisa lagi menahannya hingga terjatuh.
BRAAAKKHH.......
Ia menginjak pria itu, kakinya sangat kuat. Hingga pria itu memuntahkan darah dan tanah yang diinjaknya jadi retak. Sepertinya kakinya menembus tubuhnya membuat pria itu tewas seketika.
Aku tertegun saat melihat adegan itu, adegan itu sama seperti kami yang saat itu mengamuk seperti binatang buas setelah keluar dari eksperimen profesor. Reaksi itu terjadi setelah beberapa bulan ketika kami sesudah keluar dari percobaan. Oleh karena itu profesor tidak mengetahui dengan jelas perubahan kami.
Taesik kembali sadar dan ketika melihat kakinya menembus tubuh laki-laki itu, ia jadi gemetar. Ia perlahan menarik kakinya keatas. Setelah kakinya terlepas ia langsung terjatuh menatap mayat yang tak bernyawa dihadapannya. Saking gemetarnya, bibirnya bahkan menggigil tak terkendali. Ia hanya menggunakan tangannya untuk menutup mulutnya itu.
Aku langsung bergegas kearahnya, kemudian menanyakan keadaannya.
"Taesik, apa kau baik-baik saja." Aku memegang bahunya dan menatap wajahnya yang ketakutan.
Wajahnya sangat pucat bahkan bibirnya tidak mempunyai warna lagi. Air matanya turun tak tertahankan, sepertinya ia sangat tertekan.
Aku menepuk bahunya dan kemudian berkata padanya.
"Tenangkan dirimu kawan. Jangan terlalu memikirkannya."
"Apa maksudmu, ini namanya pembunuhan. Apakah kau tak merasakan apa-apa." Ucapnya dengan marah, namun rasa takutnya tidak bekurang sedikit pun.
Aku menghela napas, kemudian melirik dimana Rey berada.
"Lebih baik kita urus temanmu itu."
Baru saat ini Taesik tersadar, ia kemudian berlari menuju temannya, Rey. Ia mencoba membangunkan Rey berkali-kali namun Rey tak merespon sedikit pun. Akupun datang menenangkannya.
"Dia terkena pukulan keras tepat dibelakang kepalanya. Jadi itu pasti membuatnya pinsang. Mari kita bawa dia kerumah sakit." Ucapku sambil menggendong Rey dipunggungku.
Aku berdiri dengan Rey dipunggungku, memperbaiki posisi agar lebih nyaman. Lalu diam-diam mengaktifkan mata intelektualku. Posisi kami sedang berada di gang yang cukup sepi, oleh karena itu sekeras apapun kami berteriak mungkin hanya sedikit saja orang yang mendengar. Dan tentu saja para warga juga mungkin ketakutan jika datang disini sendirian.
Aku memandangi Taesik yang saat ini masih saja ketakutan akan banyaknya orang yang pingsan disini. Lalu tatapanku berhenti dikaki kanannya yang masih berdarah-darah akibat serangannya tadi. Kemudian aku menyuruhnya membersihkan kakinya.
"Bersihkanlah kakimu." Ucapku.
Taesik malah menatapku kembali dan terbengong ditempat.
Aku menghela napas saat melihat kebingungannya.
"Bukankah kau seorang detektif, pikirkan saja bagaimana pelaku menghapus jejaknya."
Taesik akhinya mengerti, ia dengan cepat pergi tempat yang mempunyai air. Kebetulan ada sebuah baskom besar yang berisi air didekat sini. Ia menuju air itu dan mencuci kakinya disana.
Sambil menunggunya, aku memeriksa keadaan Rey. Banyak sekali darah yang keluar, akupun menghentikan pendarahannya dengan teknikku. Setelah itu mengikuti Taesik untuk membersihkan kepalanya.
"Apa yang kita lakukan sekarang." Tanyanya padaku.
"Tentu saja kita lari. Memangnya apalagi." Kataku sambil berlari.
Tiba-tiba kami mendengar suara ramai orang menuju kesini. Kamipun jadi semakin panik, dengan cepat kami berusaha melarikan diri dari tempat itu. Berkat kemampuan mataku, aku mampu menentukan jalan yang benar dan aman agat tidak tertangkap mereka.
Kami berlari hingga menjauh dari tempat itu. Aku bertanya pada Taesik dimana rumah sakit. Ia menjawabku kalau ia akan mengantarkanku kesana.
Kami pun naik taksi, uang dipakai buat beli ikan sekarang terpakai sebagai ongkos naik kami. Kami menyuruh sopìrnya untuk menuju rumah sakit.
Tidak menunggu waktu yang lama, kami sudah sampai kerumah sakit. Dengan cepat kami membawa Rey ke tempat itu.
"Tolong, tolong, tolong. Temanku terluka parah."
Kami berteriak meminta tolong saat masuk. Beberapa petugas disertai suster mendatangi kami. Melihat Rey yang saat ini pingsan di punggungku, mereka juga ikut berteriak. Menyuruh mereka mengambil Rey dan membawanya keruang UGD.
Setelah Rey dibawa keruang itu, kami pun jadi sedikit lega melihat dari balik jendela Rey sedang dirawat.
Ketika kami hendak duduk tiba-tiba seseorang datang memukul Taesik hingga terjatuh.
Ia ingin memukul Taesik lebih banyak lagi dan mengatainya "Pencuri" berualang kali. Namun aku mengehntikannya. Tapi ia tidak mau menyerah, ia tetap bersih keras memukulnya. Seketika emosiku melonjak, aku menangkis semua gerakannya. Ia tampak tertegun saat serangannya hanya ditangkis. Jadi ia lebih brutal lagi, tapi aku menangkap lengannya dan memutarnya kebelakang lalu mendorongnya dengan paksa kedepan hingga ia menabrak dan melekat kedinding. Aku bertanya dengan dingin padanya.
"Siapa kamu, dan kenapa kamu mencari masalah dengan kami."