NEVER DEAD

NEVER DEAD
MIMPI YANG NYATA



"Taesik, Taesik, Rian....... apa yang terjadi disitu."


Buk, buk, buk, buk....


Paman dan bibi mulai memukul pintu dengan keras. Mamanggil manggil nama kami.


"Roar...."


Gawat, Taesik bahkan mulai mengaum. Ia menatapku dan mulai menyerang. Jika aku menghindar maka dinding akan menjadi sasarannya dan hancur. Jadi aku hanya bisa menahannya, kekuatanku juga tidaklah lemah karena aku juga seorang mutasi.


Aku langsung menghempaskan tangannya, dan seketika mengaktifkan mataku dengan kekuatan penuh. Mataku jadi bersinar sangat terang hingga membuatnya lemah dan pingsan karena gangguan psikologis yang kugunakan padanya.


Sementara pintu mulai didobrak, aku dengan cepat membereskan semuanya. Dan langsung membuka pintunya.


Ketika pintunya terbuka, itu juga berpaspasan langsung dengan paman yang saat ini sedang hendak mendobrak pintu jadi paman hanya lewat tanpa suara dan jatuh didepanku.


Brukk....


"Aduh..." paman mendesis kesakitan.


Kemudian bibi dan Taeyun masuk kedalam kamar dan mengecek keadaan Taesik. Saat ini mereka berlari kearahnya.


"Apa yang terjadi disini." Bibi datang bertanya padaku.


Aku menatap bibi kemudian berkata dengan pelan.


"Taesik tampaknya mimpi buruk."


Semua menatapku dengan tidak percaya. Bibi kemudian berbicara padaku.


"Mana mungkin ia mimpi buruk sampai-sampai berteriak sebesar itu. Rian, katakan padaku apakah kau menyembunyikan sesuatu."


Aku menggeleng-gelengkan kepala dengan pelan. Perkataan bibi membuatku tertekan. Bibi kembali mendesakku, aku menatapnya dengan sayu, kemudian berkata.


"Sungguh bibi, aku tidak tahu apa-apa. Aku hanya terbangun mendengar suara teriakannya."


Aku berkata yang sebenarnya, aku juga tidak tahu apakah bibi percaya atau tidak. Aku benar-benar tak pandai berbohong, ditambah lagi disituasi seperti ini membuatku semakin tertekan saja.


Paman juga berniat menanyaiku namun hanya menelannya saja, begitupun dengan Taeyun. Disaat bibi hendak mengatakan sesuatu, Taesik berteriak histeris.


"Aaah...., Aaaah.... jangan tuduh aku. Bukan aku yang membunuhnya. Sumpah. Aaaahk...aaaakh..."


Ia berteriak sambil menggeliat diatas tempat tidur, hatiku kembali tertekan lagi. Jika Taesik kembali mengalami proses mutasi genesis lagi maka seluruh keluarganya akan dalam bahaya. Aku bahkan tidak tahu lagi apa yang kau lakukan lagi. Melihat mereka datang ketempat tidur, sambil berusaha menenangkan Taesik. Aku tak bisa menghentikan mereka.


"Taesik, bangun. Apa yang terjadi padamu. Bangunlah..." ucap bibi sambil memeluknya.


Sementara paman pergi mengambil segelas air. Adiknya juga hanya menangis melihat kakak berteriak seperti itu.


"Haaah... haaah...haaah....."


Taesik akhirnya terbangun, ia memeluk bibinya sambil ketakutan. Badannya juga dipenuhi keringat, ia bahkan menangis histeris. Aku tidak tahu mimpi macam apa yang membuatnya bisa seperti ini. Tapi lama kelamaan ia akhirnya tenang. Paman memberikan segelas air untuk diminum dan aku duduk didekat mereka. Setelah meminum airnya, ia menatapku kemudian menghela napas.


"Terimah kasih." ucapan yang diberikan padaku membuat kami bingung, bahkan aku sendiri tidak tahu apa maksudnya.


Tapi ia tidak memberi tahukan alasanya, ia juga menatapku dengan rasa bersalah.


"Dan... maafkan aku. Kau baik-baik sajakan."


Aku kembali menatapnya dengan heran, dia berterimah kasih sekaligus meminta maaf padaku. Apakah ia mengamuk dalam keadaan sadar namun tidak bisa mengendalikannya dan melihat semua perbuatanku padanya. Aku juga tidak tahan untuk tidak bertanya padanya.


"Untuk apa.? dan kenapa kau bertanya begitu. Seharusnya bertanya seperti itu adalah kami." Tanyaku dengan ragu.


Ia kemudian memegang bahuku, lalu berkata.


"Kau menyelamatkanku tadi di dalam mimpiku."


Aku memutar mataku saat mendengarnya, memangnya adakah alasan seperti itu. Bibi dan lainnya juga berekspresi sama sepertiku.


Taesik kesal dengan ekspresi kami, ia dengan kesal berkata.


"Aku sungguh-sungguh."


Bibi kemudian tertawa ringan ia menepuk-nepuk bahu Taesik.


"Sudah-sudah, kami percaya padamu. Tidurlah yang nyenyak, dan jangan lupa berdoa dulu sebelum tidur nanti kena mimpi seperti itu lagi loh." ucap bibi dengan penuh kasih sayang.


"Mungkin saja ia berpikiran kotor sebelum tidur." ejek pamannya.


"Paman, aku tidak melakukan itu." jawab Taesik dengan kesal membuat kami makin tertawa.


"Sudahlah kak, jangan ribut lagi. Kau hampir membuat jantungku tercopot tadi. Tiba-tiba dinding itu bergetar hebat membuatku langsung terbangun." Taeyun menunjuk kearah dinding dimana aku mendarat sebelumnya.


"Eh itu."


Aku dan Taesik bingung apa yang harus dikatakan. Berusaha mencari jawaban namun tidak menemukannya.


"Eh paman, bibi. Mari kita biarkan Taesik istrahat terlebih dahulu." Kataku sambil mngantar mereka kedepan pintu.


Mereka juga tidak mengatakan apa-apa untuk membantahku. Awalnya mereka menyuruh agar Taesik makan karena dia tadi tidak makan malam bersama kami. Tapi Taesik hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan bilang kalau ia mau tidur. Akhirnya paman dan bibi hanya memberikan kami ucapan selamat malam kemudian keluar dan pergi kekamar masing-masing.


Ditempat tidur, Taesik masih termangu mungkin karena kejadian tadi atau mungkin saja ia memikirkan mimpinya. Tapi aku bisa menebak kalau ia mungkin menebak salah satu dari keduanya atau mungkin dua-duanya.


Aku tidur disampingnya, melihatnya yang masih terbengong. Aku tak tahan untuk tidak bertanya.


"Apakah kau memikirkan mimpimu."


Taesik menatapku dan dia menjawab.


"Ya."


"Mimpi apa yang sebenarnya kau alami." tanyaku kemudian.


Taesik terdiam sebentar kemudian mulai menceritakan mimpinya.


"Aku bermimpi hal-hal yang terjadi tadi pagi, kejadian pembunuhan yang kulakukan pagi itu."


Taesik kemudian menghela napas lalu melanjutkan ceritanya.


"Aku juga bermimpi seolah-olah aku menjadi seorang monster, dan tak bisa mengendalikan tubuhku sehingga memukulmu hingga kau terlempar kedinding itu dan hampir pingsan. Tapi untungnya kau menyelamatkanku, walaupun aku tidak tahu bagaimana caranya. Kau juga yang menarikku dari kegelapan yang ada dihatiku."


Perkataan Taesik memperkuat kecurigaanku, tidak salah apa yang dikatakannya. Mungkin ia memang setengah sadar saat menyerangku tadi. Tapi darimana ia mendapat sel yang bisa membuatnya mengalami mutasi genetik seperti itu. Apakah ia mempunyai hubungan dengan profesor Delanni atau ia adalah subjek uji coba rahasia yang disembunyikan prifesor selama ini. Aku mulai mengolah gagasan ini dalam pikiranku.


"Rian."


Aku masih terbengong dan tidak mendengarkannya.


"Hei Rian, kau dengar aku tidak."


Aku masih tetap tenang dan mengabaikan Taesik.


"Ya tuhan... RIAN....!!!"


Aku langsung tersadar dengan panggilan yang terakhirnya. Ditambah lagi telingaku langsung gatal karena ia berteriak tepat ditelingaku.


Sambil menggosok-gosok telingaku akupun memarahinya.


"Hei, bisakah kau pelankan sedikit suaramu. Jika bibi dan paman dengar, mereka akan mendatangi kita lagi." Aku memarahinya seolah-olah aku tidak bersalah.


"Ya Tuhan, Astaga Rian, o Rian.... Aku sudah memanggilmu dari tadi dan kau tidak menjawabku. Apa yang kau pikirkan sebenarnya, aku sedang menceritakan mimpiku dan kau hanya melamun. Sepertinya aku benar-benar menyesal karena bercerita mimpiku padamu."


Taesik benar-benar kesal dan melototiku dengan geram, tapi aku hanya tenang memikirkan sesuatu sambil memegang daguku.


"Hei Rian. Kau dengar aku tidak.!! Ya astaga naga.."


Aku langsung menatapnya dengan serius, membuatnya sedikit tertegun.


"Hei, mengapa kau menatapku seperti itu."


Taesik mulai ketakutan ketika kutatap seperti itu. Aku kemudian tertawa melihat reaksinya.


"Hei kenapa kau tertawa."


Karena melihatku tertawa, rasa takutnya perlahan hilang dan digantikan rasa kesal.


"Lucu sekali melihat ekspresimu seperti itu."


"Ka.. kau..."


Taesik tak bisa berkata-kata lagi, ia kemudian memalingkan wajahnya dengan kesal dan ingin tidur.


Ketika ia hendak tidur, aku buru-buru bertanya padanya.


"Taesik, apakah kau menemukan sesuatu yang tidak biasa di lokasi ledakan itu."