NEVER DEAD

NEVER DEAD
PERTARUNGAN HIDUP DAN MATI



Buakh......


Jeongho berlari dengan kencang, lalu menghantam seseorang dengan kaki nya hingga membuat pria itu terpental kebagian dinding di mana ke 3 gadis yang sedang terikat di sana. Untung nya tubuh pria itu tidak mengenai mereka dan hanya melewati nya. Untuk sesaat mereka tertegun, dengan apa yang terjadi. Sebelum nya keadaan sangat tenang namun sekarang kekacauan kembali lagi.


Taesik dan Jeongho menyerang musuh dengan brutal. Bukan sampai di situ, gadis yang tadi sudah terlepas sekarang juga bangun lalu membantu mereka berkelahi. Ia juga tidak perduli lagi dengan statusnya sebagai polwan junior, sekarang ia juga bertarung ganas dan dengan brutal mematahkan tulang mereka. Pikiran mereka sekarang sudah tidak berjalan dengan jernih lagi, mereka juga bukanlah orang yang gampang tunduk pada orang lain. Mereka juga punya kaki, punya tangan dan punya akal. Kenapa juga mereka tak bisa membalas mereka.


________


Tap... tap... tap.... tap.....


Jangyeon bersembunyi di balik dinding, di belakang nya, anak buah pak Dongwo mulai mencari keberadaan Jangyeon. Dengan napas yang cepat dan keringat yang bercucuran di badannya, ia sadar kalau ia tak bisa lagi melarikan diri terus dari para pengejar ini. Badannya sekarang di penuhi banyak luka memar, baik di tubuhnya ataupun di wajahnya. Pertarungan yang tadi benar benar melelahkan, untungnya ia bisa mengelabui musuh dan punya kesempatan untuk melarikan diri dari jalan buntu tadi.


Tapi sekarang ia sadar kalau ia terus berlari keatas ia hanya akan mencapai puncak dari hotel ini. Dan pasti setelah itu ia tak punya jalan lain selain lompat dari atas. Bukankah itu sama saja dengan bunuh diri. Memikirkan itu ia merasa takut, ternyata sekarang ia tidak punya lagi pilihan selain melawan mereka. Dan koper yang ada di tangan nya ini adalah benda yang di incar sialan itu. Tapi walaupun ia menyerahkan benda ini tetap ia takkan bisa lolos karena ia dan Rey sudah mengganggu bisnis mereka.


Dengan berat hati ia mengepalkan tangan nya, kemudian keluar dari persembunyian nya.


"Hei, aku di sini."


Semua orang berhenti, menatap nya dengan penuh ketidak percayaan. Namun tidak lama mereka tersenyum.


"Kenapa, kau tidak bisa lari lagi atau kau sekarang sudah menyerah pada takdir." ucap ketua anak buah tersebut dengan senyum liciknya.


Mendengar itu, Jangyeon tidak ketakutan tapi malah membalasnya dengan senyuman licik pula.


"Masalah tentang takdir itu biar tuhan yang atur. Oh, sepertinya kau benar, aku memang sudah menyerah pada takdir ini. Tapi tenang saja, walaupun aku menyerah pada takdir tapi aku tidak akan menyerah dengan kalian. Lagian, takdir memang harus diterima mau tidak mau. Kalian hanya sekelompok anjing dan juga buat apa aku menyerah pada binatang."


Kata kata Jangyeon sangat menyakiti harga diri mereka hingga mereka memaki maki Jangyeon beberapa kali. Sementara wajah ketua nya gelap, dengan dingin berkata.


"Teruslah berbicara omong kosong, sampai saat nya aku akan memutuskan lidahmu karena penghinaan yang kau berikan hari ini. Setidak nya kau harus kusiksa dulu sebelum kau mati."


Jangyeon tertawa, pria itu bertanya apa yang ia tertawakan.


"Heh... mari kita lihat apa kalian punya kemampuan seperti itu."


Mereka makin emosi setelah mendengar nya dan ingin maju menghajar anak ini, namun di tahan oleh ketua mereka.


"Tetaplah sombong dengan perkataanmu itu."


Jangyeon tidak menjawab nya, sebalik nya malah membuka koper di tangannya. Semua orang bingung dengan apa yang di lakukan anak ini. Namun setelah melihat isi dari koper itu tertumpah dan kemudian ia menginjak injaknya sampai isi dalam nya keluar dan berserakan di lantai. Semua orang terdiam saat melihat tingkahnya. Wajah ketua nya jadi tidak enak di lihat setelah melihat isi koper itu di injak injak olehnya.


Dirinya gemetar karena kemarahan yang memuncak, wajahnya merah padam. Lalu menunjuk anak itu dengan penuh amarah.


"BUNUH DIA.....!!!" Teriaknya.


HIYAAAAH.......


Semua orang mengambil alat mereka masing masing dan dengan ganas maju ke depan.


Jangyeon mengambil sebuah besi panjang, lalu menunggu kedatangan mereka.


Bukh.....


Pukulan pertama nya mendarat di kepala orang yang maju pertama, lalu ia mundur dan melarikan diri dari kebelakang.


Jangyeon berlari sampai di suatu meja, ia langsung menggunakan meja itu untuk menabrak mereka. Beberapa orang tertabrak, ia mengambil kesempatan itu untuk memukul kepala nya masing masing.


Karena sudah berhenti di situ, mereka sudah mencapainya sekarang.


Seseorang maju dengan kapak di tangan nya, hendak memotong lehernya. Tapi Jangyeon menghindar lalu memukul kaki nya menggunakan besi hingga orang terjatuh.


Satu orang lagi hendak memukul kepala nya memakai pemukul bisbol, karena tak sempat menghindar jadi ia menahan memakai tangan nya. Sangat menyakitkan hingga mundur beberapa langkah, namun ia tidak punya waktu untuk meringis. Karena musuh ingin menikam nya jadi ia lebih menghindar lalu kembali menendangnya menendang nya dengan kuat.


Untungnya, kulitnya sudah di lapisi dengan kertas besi pelapis. Walaupun menyakitkan tapi setidaknya tulang tidak patah jika terkena serangan seperti itu. Atau tusukan pisau tidak akan masuk terlalu dalam.


Tiba tiba ada seseorang yang menangkap nya dari belakang dengan mengkancing tangan nya. Bersamaan dengan itu seseorang datang ingin memukul nya memakai plat besi.


Untung nya, Jangyeon menggunakan kaki nya untuk menendang orang itu agar menjauh dari nya. Di saat bersamaan juga ia menggunakan dorongan kakinya itu sebagai tumpuan agar badan lebih berat ke belakang.


Hasil nya orang yang menekan nya tak bisa menahan berat badanya. Mereka berdua pun terjatuh dengan badan Jangyeon menindih tubuh pria itu.


Saat ia berusaha melepaskan diri, seseorang juga datang menyerang nya memakai kapak. Sama hal nya seperti tadi, Jangyeon menggunakan kakinya untuk menendang pria ity agar pergi menjauh.


Setelah itu ia bangun dan melarikan diri lagi dari mereka. Tentu saja, musuh juga akan mengejarnya bahkan ada hampir mencapai nya. Namun ketika ia hampir mencapai kerahnya, Jangyeon langsung menginjak kedinding dan berbalik menendang nya.


Ia menggunakan besi panjang nya memukul orang selanjutnya.


Bukh....


Orang itu juga terjatuh. Tapi tiba ada yang menendang perut nya ia mundur dan mendarat kedinding dengan keras.


Saat Jangyeon memegangi perutnya yang kesakitan, sebuah kapak melayang ke wajahnya. Ia refleks memiringkan kepalanya, dan kapak itu tertanam di dinding. Ia merinding dengan kelegaan jika kapak itu mengenai nya, pasti wajahnya sudah terbelah dua.


Sebelum ia sempat sadar, musuh menebas perutnya. Ia mundur sedikit, namun kapak itu tetap menebas perut nya. Darah mengalir keluar, Jangyeon meringis kesakitan sambil memegangi perut nya. Walaupun ada kertas pelapis besi tapi tetap saja, kapak itu mampu merobek nya hingga merobek perut nya juga. Untungnya tidak terlalu dalam karna itulah kegunaan kertas pelapis besi.


Namun mereka juga hendak menikamnya memakai pisau, ia dengan cepat menghindar lalu mundur beberapa langkah.


Setelah itu baru ia menyerang lagi.


Pertarungan terus berlanjut, Jangyeon terus bertarung dengan mereka. Musuh hanya ada 10 orang, namun dengan kebrutalan dan kemampuan mereka yang pandai bertarung, Jangyeon hampir tidak mampu mengalahkan mereka.


Setelah melewati waktu yang cukup lama baginya, ia akhirnya dapat mengalahkan mereka semua.


Hah... hah..... hah..... hah.... hah.... hah....


Jangyeon bersandar di dinding, tangan kanan nya memegang bahu kirinya yang tadi terkena tusukan pisau. Sementara tangan kirinya memegang perut nya yang kesakitan. Darah dan keringat bercampur dan bercucuran di berbagai tubuhnya. Sekarang bajunya juga dipenuhi banyak robekan robekan senjata tajam. Di dalam tubuhnya juga di penuhi banyak luka karena melawan anak buahnya tadi. Bahkan wajahnya di penuhi banyak luka memar.


Ia menghela napas panjang, menatap langit langit lalu terduduk di lantai.


Tak lama ia beristrahat, si ketua anak buah pak dongwo datang melewati para anak buahnya yang tergeletak dilantai . Pria dengan beladiri Aikido itu menatapnya dengan penuh senyuman licik.


"Nak aku akui kau memang punya kemampuan. Sampai sampai kau bisa mengalahkan seluruh anak buahku. Tapi tenang saja nyawamu tidak akan bertahan lama setelah ini." Pria itu meluruskan tangan dan pinggangnya dan menatapnya dengan sinis.


Jangyeon juga menatapnya, alisnya sedikit berkerut.


Pertarungan kali ini pasti akan menentukan hidup dan matinya.