
aku tidak ingin pulang dulu, aku ingin sedikit menenangkan pikiran ku
"hmm, saya ke jalan x pak "ucap Aruna memberitahu alamat rumahnya dulu, ya rumah masa kecilnya. meski sudah dijual oleh Tante Erika dan neneknya tapi Aruna masih sering melihat nya dari jauh meski hanya dari jauh tapi itu berhasil mengurangi kerinduan nya terhadap papa dan mama....
20 menit berlalu...
"berhenti disini pak" ucap Aruna kepada supir taksi
"baik mbak"
"ini pak, kembaliannya buat bapak aja" Aruna memberikan uang lembaran 100 ribu kepada supir taksi tersebut.
"terima kasih banyak mbak" balas supir taksi sembari tersenyum
yang dibalas anggukan oleh Aruna
Aruna pun turun dari taksi tersebut... melihat rumah itu, rumah dimana kenangannya, mama dan papa terukir.. melihat rumah itu hati Aruna kembali teriris teringat kejadian 17 tahun lalu
rasanya ia sangat ingin sekali masuk kerumah itu kembali, terlihat ada anak-anak bermain di perkarangan rumah mereka tampak sangat ceria dengan senyum polosnya, rumah itu dihuni sekitar 5 tahun lalu, sebelum nya rumah itu kosong, walaupun kosong Erika tidak memperbolehkan Aruna untuk masuk, semua barang termasuk kenangan foto Aruna dan mama, papanya dibakar oleh erika, walaupun semua kenangan itu dibakar tapi Aruna masih tetap menyimpan rapi di hatinya.
"neng"suara seseorang mengejutkankan Aruna
dari belakang
"eh, iya buk ada apa?" tanya Aruna kepada wanita paruh baya tersebut.
"cari siapa?" tanya wanita itu
"hmm, nggak buk saya cuma liat-liat aja"jawab Aruna sopan
"ouhh, ibu kira cari siapa, soalnya ibuk sering lihat neng disini lihat-lihat rumah ibuk"
"jadi itu rumah ibuk?"tanya Aruna kaget, pasalnya ia tak pernah tahu pemilik dari rumah ini karena yang ia lihat hanya anak-anak yang bermain di sekitar perkarangan rumah
"iya itu rumah ibuk" jawabnya
"sebenarnya dulu itu rumah saya buk, orang tua saya meninggal, lalu rumah itu dijual oleh nenek dan Tante saya"ucap Aruna menjelaskan
"oh,jadi itu teh dulu rumahnya Eneng?"tanyanya
"iya" jawab Aruna mengaguk
"buk apa boleh saya masuk? sebentar saja"mohon Aruna mumpung ia bersama pemilik nya, sepertinya pemilik tersebut tampak baik dan ramah
"boleh atuh"jawab wanita tersebut sembari tersenyum
"beneran boleh buk?" tanya Aruna lagi
"Iyah boleh, ayo" ajaknya mereka pun berjalan menuju rumahnya
"nama neng siapa?" tanya wanita tersebut
"saya Aruna buk" jawab Aruna tersenyum manis
"namanya bagus sama kaya orangnya" puji wanita itu
"nama saya Ira, panggil buk Ira ajah"ucapnya tersenyum
ternyata ibuk ini sangat ramah batin aruna
"dulu ibuk kira neng orang jahat, sampe ibuk kira neng itu selingkuhannya suami ibuk" ucap buk Ira sembari tertawa
"beneran buk?" tanya Aruna kaget
"Iyah, sampe ibuk diamin tuh suami ibuk"
ucap buk Ira terkikik geli
"maafin runa ya buk, jadi buat masalah di keluarga ibuk" ucap Aruna merasa bersalah
"tidak, hanya pertengkaran kecil, sesudah itu kami mesra kembli" senyum buk ira
sesampainya dihalaman rumah kulihat seorang bocah laki-laki dan perempuan sedang asik bermain...
"hei..."sapa Aruna pada kedua bocah yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan yang kira-kira mereka berumur enam tahun.
"kenalin ini kak Aruna...dia dulu yang punya rumah ini"ucap buk Ira mengenalkan Aruna
melihat Aruna kedua anak tersebut tampak hanya melongo dengan wajah yang sangat menggemaskan
"cantik"lirih bocah perempuan tersebut
"ha?nama kamu cantik?" tanya Aruna
"kakak cantik" ucap bocah laki-laki
dipuji cantik Aruna serasa melayang,bukan tak pernah dipuji tetapi sensasi di puji anak kecil itu begitu membuat Aruna bahagia. tapi Aruna mencoba bersikap biasa saja, sebenarnya hatinya sekarang serasa terbang dipuji cantik..
"terima kasih. kamu juga cantik, dan kamu juga sangat tampan" puji Aruna kepada kedua bocah tersebut..
"nama kamu siapa? tanya Arunai lagi yang belum sempat mereka jawab
"aku kila" jawab gadis tersebut tersenyum
"dan kamu?" tanya Aruna lagi
"aku Ari" tambah bocah laki laki
"nama kalian bagus, orang nya juga cantik dan tampan"puji Aruna sambil mengelus pipi mereka yang bak mochi
"ayo masuk Aruna"ajak buk Ira
"iya buk," jawab Aruna dan ikut masuk kerumah dan meninggalkan kedua bocah itu yang kembali asik bermain
masuk kerumah, terlihat semuanya banyak berubah dari warna, hiasan semuanya seperti sudah didekor ulang
"banyak berubah ya?" tanya Ira yang memperhatikan Aruna
Aruna hanya tersenyum menanggapi nya
"memang ibuk sengaja merubahnya, agar terlihat lebih cerah" ucapnya tersenyum
"kamu mau minum? "tawar ira
"nggak usah buk, aku cuma sebentar"tolak Aruna sopan karena tak ingin merepotkan buk Ira. diijinkan masuk saja Aruna sudah sangat senang
"baiklah, oh ya tunggu sebentar ibuk mau mengambil sesuatu dulu" ucap Ira berlalu
"baik buk" Aruna mengangguk sembari terus tersenyum melihat sekeliling rumah yang tampak lebih berwarna, walaupun di dekor tapi Aruna masih bisa mengingat kenangan di rumah itu satu persatu. bayangan dirinya yang digendong papanya dan berlari-lari disekitar ruang tamu berputar bak cuplikan film. tak terasa setetes air mata jatuh begitu saja. Ira pun datang hingga Aruna buru-buru menghapus air mata tersebut.
"runa ini milik kamu?" tanya buk Ira sembari memberikan album yang tak asing menurut Aruna
"boleh saya lihat sebentar buk?" izin Aruna meraih album foto tersebut
"silahkan"
Aruna pun membuka album tersebut dan seketika Aruna menitihkan air mata, tak Mampu terbendung lagi saking bahagianya. Aruna benar-benar sangat bahagia melihat foto nya dan kedua orangtuanya. dimana senyum indah begitu terukir diwajah mereka, Aruna tampak sangat senang melihat album itu, akhirnya ia menemukan foto ia dan keluarganya.saking bahagianya Aruna sampai memeluk buk Ira erat
"makasih buk, makasih udah nyimpen album ini,runa sangat berterima kasih sama ibuk"
"Iyah, sama-sama, ibuk cuma nemuin itu di atas lemari waktu bersihin rumah"ucapnya
"jangan nangis lagi,"tambahnya menenangkan
setelah beberapa menit kami mengobrol....
Aruna pun memilih untuk pamit
"ya udah runa pulang dulu ya buk" pamit Aruna
buk Ira pun mengantar Aruna keluar rumah...
" Aruna pamit dulu buk"pamit Aruna mencium tangan bik Ira tanda sopan santun dan tak lupa kedua bocah imut yang berada di depannya
"kakak cantik pamit ya, Kila, ari" Aruna melambaikan tangan pada kedua bocah itu. tampak mereka tak rela jika Aruna meninggalkan mereka, entah mengapa mereka begitu menyukai Aruna mungkin mereka terakhir akan senyum manis yang Aruna tampilkan.
"hati hati dijalan" peringat ira yang dibalas anggukan oleh Aruna
Aruna pun berlalu,
sial dan beruntung? hari ini sial ,begitu sial saat bertemu dengan Vera dan Tante Erika, tapi siapa sangka aku sangat beruntung bisa mendapatkan album foto ini, walaupun hanya album rasanya begitu sangat bahagia, bisa melihat kebersamaan ku, papa dan mama dulu.
batin Aruna