
"kesalahan mu adalah hadir di dunia ini!" ucap seseorang yang sudah sangat lama suara itu tidak di dengar Aruna, ia pun menoleh ke arah samping, seorang wanita tua tengah duduk di kursi roda dengan pelayan di belakangnya, wajah keriput itu memandang Aruna dengan tatapan yang sama seperti 17 tahun lalu. selalu tatapan itu yang ia lihat pada Anjani sang nenek yang tak pernah menganggap nya ada.
degh....
"nenek?" lirih Aruna berharap ada belas kasih yang ia dapat
"sudah berapa puluh kali ku katakan padamu?aku bukan nenek mu, karena cucuku satu-satunya adalah Vera!" sentak Anjani menatap Aruna tajam, Vera dan Erika seolah tertawa melihat pemandangan seorang cucu yang tak di akui neneknya
Aruna yang mendengar itu hanya memandang Anjani dengan wajah sedihnya, entahlah ia seperti tak bisa melawan ucapan pedas yang di hujam Anjani padanya ia begitu lemah di depan seseorang wanita tua yang ia harapkan sekarang akan menyanginya tapi sayangnya itu hanya angan
"kau...kenapa menampakkan wajah mu itu?kenapa kau berani kesini?" tanya Anjani Masih setia dengan tatapan kebencian nya itu
"melihat wajah mu itu, aku jadi mengingat wajah wanita j*lang yang telah menghancurkan putra ku, kau tahu jika saja tidak ada kau dan ibumu itu pasti Rendra masih hidup sampai saat ini!" Anjani duduk di kursi roda dengan wajah yang sudah di aliri air mata menatap nyalang Aruna. entah apa yang ada di pikiran nya saat ini sehingga mengucapkan kata-kata yang begitu menyakitkan
"sampai sekarang nenek masih tidak menerima Aruna?" tanya Aruna sendu, ada harapan di matanya melihat Anjani tapi harapan itu hilang seketika mendengar rutukan dan hinaan Anjani
"ya, dulu sekarang dan selamanya kau tetap anak haram dari wanita pembawa sial yang telah merenggut nyawa putraku!" perkataan bagai sembilah pedang yang Anjani layangkan pada Aruna
"runa bukan pembawa sial" lirih Aruna hampir tak terdengar tapi Anjani masih bisa mendengarnya
"putraku meninggal, wanita j*lang itu juga mati kan? dan sekarang lihat orang yang memungut mu juga tertimpa musibah, apa namanya jika tidak pembawa sial?" tak ada kata-kata yang baik keluar dari mulutnya. dendam dan kebencian yang begitu tampak terukir di wajah yang termakan usia itu
lagi-lagi cacian itu begitu menyayat hati lagi-lagi mamanya ikut di caci, Aruna membuang nafas kasar mencoba menguatkan dirinya yang rapuh, ia menatap Vera dan Erika yang sedang tersenyum manis di depannya nampaknya mereka sangat gembira saat Aruna di perlakukan seperti itu dari dulu hingga sekarang mereka begitu bahagia saat melihat Aruna menderita dan Anjani membuang muka begitu nampak tak Sudi menatap Aruna
"maaf kedatangan saya kesini seharusnya saya tidak meminta pertolongan kepada orang-orang yang berhati iblis!"
Aruna menatap Anjani dengan tatapan tajamnya, rasanya sudah cukup harga diri nya dan orang tua nya di injak-injak, Ia tak boleh diam begitu saja walaupun neneknya sekalipun! sudah cukup Aruna diam mendengar semua cacian itu!
"untuk nyonya Anjani yang terhormat, kata-kata anda begitu terdengar menyakitkan,anda tahu? sebenarnya saya begitu berharap anda menghargai dan menyayangi saja sebagai cucu. harapan saya sekarang hancur dengan segala yang telah anda lontarkan hari ini,itu semua seperti bukti bahwa tidak ada kasih sayang sedikit pun untuk saya, dan anda perlu tahu orang yang anda hina, mama saya tidak pernah mengeluarkan kata-kata kotor seperti anda! ia wanita terhormat dengan segala tutur kata lembutnya tetapi anda yang katanya wanita terhormat berbicara begitu menjijikkan, dan tenang saja mulai sekarang hingga selamanya saya benar-benar akan berhenti memanggil anda nenek! dan satu lagi saya tidak akan mengenal anda kedepannya" ucap Aruna dengan tubuh yang bergetar, rasanya ia sangat lelah dengan semua tingkah mereka, Aruna melangkahkan kakinya hendak keluar dari rumah itu tapi sebuah suara menghentikan nya
"kami menunggu kabar kematiannya" ucap Vera dengan tersenyum remeh
"kalau sampai itu terjadi, ck..ck sungguh kesialan abadi yang melekat pada dirimu" Erika ikut berbicara dengan menggeleng-gelengkan kepala.mendengar perkataan itu seketika membuat Aruna mengepalkan tangan dan hendak berbalik tetapi dua satpam segera memegangi tangannya dan menyeret keluar, bukan Aruna namanya jika tidak melepaskan sakit hatinya. entah kekuatan datang dari mana Aruna menyentak kasar tangan kedua satpam yang memegangi nya.ia seperti kesetanan ia membalik meja mewah yang terbuat dari kaca itu dan menendang guci di sudut ruangan. melihat itu semua yang berada di ruang itu ketakutan
"lepaskan! aku harus memberi pelajaran pada mulut sampah itu!" teriak Aruna tetapi dua satpam itu lebih dulu mendorong Aruna keluar dari rumah menuju gerbang hingga Aruna terjerembab ke aspal
"sebaiknya anda pergi dari sini nona, jika tak ingin kami melakukan yang lebih kasar!" ucap salah satu satpam dan masuk ke dalam gerbang lalu menutup nya
"akan ku ingat semua perlakuan kalian padaku!" batin Aruna dengan tangan yang terkepal menunjukkan dendam
ia pun bangkit dan berjalan meninggalkan kediaman mewah itu....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
rintik-rintik hujan mulai jatuh seakan tahu jiwa yang sedang terluka, Aruna terus berjalan diiringi gelap malam dengan guyuran hujan membasahi tubuh lemahnya. keadaan nya sekarang terlihat sungguh kacau pakaian yang ia kenakan sejak pagi telah basah akibat guyuran hujan, rambutnya terlihat kacau dengan wajah sembab menyiratkan penuh luka. sekarang ia hilang arah. apa yang akan ia lakukan? ia tidak berdaya! orang yang menolongnya 17 tahun lalu kini terbaring tak berdaya, kemana ia harus mencari pertolongan?. air mata terus mengalir tapi setidaknya air matanya tak akan terlihat di derasnya hujan yang mengguyur bumi. ia berharap cahaya datang padanya.
tubuh yang sudah gemetar tak menyurutkan nya untuk terus berjalan menyusuri jalan gelap ditemani angin dingin dan kian derasnya hujan yang menerpa kulit putihnya apakah tidak ada cahaya yang akan menghampiri nya dan menunjukkan jalan?
tiba-tiba
Tit... suara klakson mobil mengundara di tengah-tengah hujan deras, Aruna yang ingin menyeberang tak melihat mobil di sampingnya
kakinya tiba-tiba kaku ia hanya melihat cahaya itu kian mendekat... apakah cahaya pertolongan atau cahaya yang akan merampasnya di dunia yang kejam ini?
"apa sekarang? aku belum menyelamatkan papa" batin Aruna dengan mata terpejam
brukh.....
"oh...shitt!!"
happy reading.....
jangan lupa like, coment, and vote..... sebagai bentuk apresiasi
terima kasih