My Wild Wife

My Wild Wife
kesedihan



"bunda" lirih seseorang yang membuat perhatian ketiga wanita yang sedang berwajah sedih itu menatapnya


"Rey" lirih ana menatap pria yang tampak berantakan dengan koper di sampingnya


ia berlari memeluk ana dengan erat


"bunda, maafin Rey" lirih Rey memeluk ana erat, tanpa di sadari air matanya menetes


kedua adik perempuannya ikut berhambur memeluknya, mereka sama-sama memeluk meluapkan perasaan kesedihan yang tengah menyelimuti


"papa gimana?" tanya Rey dengan lirih, suaranya menyiratkan begitu banyak kesedihan. tak ada lagi Rey yang ceria, usil , konyol yang hanya ada dihadapan Aruna sekarang Rey yang rapuh


"papa lagi di Operasi" jawab ana dengan menghapus air mata yang jatuh di pipi putranya itu,


"maafin kakak" lirih Rey lagi, ia benar-benar menyalahkan dirinya atas kejadian ini


"hey, kenapa kakak minta maaf?" ana merengkuh wajah Rey yang membuat Rey kini menatap ana sedih


"Kakak nggak salah" ana menatap sendu wajah putranya, ia tak pernah melihat Rey sehancur ini


"bunda benar, kakak nggak salah" Aruna ikut menimpali, ia tak ingin Rey menyalahkan dirinya


"andai saja kakak tidak melanjutkan kuliah dan tetap di perusahaan membantu papa, pasti ini semua nggak akan terjadi" lirih Rey yang terus menyalahkan dirinya, Rey sekarang benar-benar berfikir jika ia memang akar dari masalah ini


"kak, kak Rey mikir apa sih" sentak ell kesal dengan fikiran bodoh kakaknya


"kakak, semua itu udah di atur, kita ikuti takdir"nasehat ana pada Rey dengan panggilan kakak, ya ana memang memanggil Rey dengan panggilan kakak. ana selalu memberikan nasehat yang begitu menenangkan untuk anak-anaknya, Rey menatap ana dengan sendu wajah rapuh bundanya tak sepenuhnya tertutupi dengan senyuman yang ia berikan


"kita hadapin sama-sama ya" ana merengkuh wajah putranya, Aruna dan ell ikut memeluk, Rey, ya mereka kini saling memeluk memberikan ketenangan dan kekuatan....


tak lama kemudian....


lampu yang semula merah kini bertukar warna menjadi hijau, pertanda jika Operasi telah selesai dilaksanakan, dokter pun telah keluar. empat manusia yang saling berpelukan tadi langsung berdiri menuju dokter dan menodongkan rentetan pertanyaan pada dokter tersebut


"dok papa saya gimana?"tanya Rey yang lebih dulu menodongkan pertanyaan


"operasi nya berhasil kan dok?" tanya Aruna dan ell serentak, yang membuat dokter tersebut tersenyum


"operasi nya berjalan dengan lancar, dan kita tunggu saja tuan Niko sadar" tutur sang dokter yang membuat senyum mereka terukir


"syukurlah, operasi nya lancar" lirih ana


Nicolas pun dipindahkan ke ruang rawat.


mereka hanya bisa melihat secara bergantian. dan yang sekarang di dalam ruangan itu hanya ell, sementara Rey dan ana berada di luar. Aruna? entah kemana gadis itu menghilang


"bunda perusahaan gimana?" Rey kini ingin tahu semua yang terjadi ketika ia tak ada. ana menghela nafas kasar, sebenarnya ia tak ingin membuat beban pada putranya. tetapi apa boleh buat mau tak mau ia harus jujur mengenai keadaan perusahaan


"bunda harap kakak bisa menerima semua ini, perusahaan kita tidak ada lagi kak, semua sudah hilang, rumah, dan semua aset di sita.kita sekarang sudah tidak memiliki apapun" tak ada wajah sedih yang ana. tampilkan, ia berbicara dengan sedikit senyuman untuk menguatkan putranya


"kakak janji, kakak akan berusaha untuk mengembalikan perusahaan kita" Rey berucap dengan yakin tapi ana menjawab dengan gelengan


"ini semua sudah takdir, kita harus menerima garis takdir itu, bunda harap kakak juga bisa menerima. kita sekarang harus fokus dengan kesembuhan papa. apapun kedepannya jangan terlalu keras, jika itu milik kita maka semua itu akan kembali pada kita" ana tak pernah bosan memberi nasehat yang begitu menyejukkan sehingga Rey yang mendengar itu hanya mampu tersenyum tipis. bundanya tak pernah berubah.


"Rey akan buat bunda,papa, runa, ell bahagia" kalimat itu keluar dari bibir Rey


"makasih, tapi kami sudah sangat bahagia punya kakak, kita jalani saja semuanya. apapun itu bunda berharap kita selalu sama-sama" ana berkata dengan senyum tipis dengan tangan yang mengelus pundak Rey


tanpa mereka sadari seseorang mendengar percakapan mereka.


Aruna buru-buru menghapus air matanya dan menghampiri Rey dan ana


"runa bawa makanan" ceria Aruna memecah suasana sedih, kedua orang yang ia hampiri tersenyum. Aruna duduk di samping ana dengan membuka paper bag yang berisi empat kotak bubur ayam


"runa beli dimana?" tanya ana


"runa beli di depan, bunda sama kakak makan ya" Aruna menyodorkan dua kotak bubur ke hadapan Rey dan ana


"terima kasih" lirih Rey dengan mengacak rambut Aruna menutupi kesedihannya


"ell, mana bunda?" tanya Aruna yang tak mendapati ell berada di sana


"ell masih di ruang rawat papa" jawab ana menatap pintu ruang rawat yang masih belum menampakkan tanda-tanda ell keluar dari sana


"Aruna mau masuk?" tanya ana menatap Aruna yang sepertinya ingin masuk ke dalam ruang rawat Niko


"emang nggak papa bunda?" Aruna malah melontarkan pertanyaan karena ia takut jika mengganggu istirahat Niko yang menunda kesadarannya


"nggak pa-pa, siapa tahu papa jadi cepat sadar dengar suara putri-putri cantiknya" lontar ana yang membuat Aruna tersenyum tipis


tanpa menunggu lagi Aruna melangkah memasuki ruang rawat...


dapat ia lihat Niko yang masih terbaring dengan beberapa alat medis terpasang di sekujur tubuhnya. pandangan Aruna beralih menatap ell yang tengah meringkuk di samping brankar. walaupun wajah nya tak terlihat, Aruna bisa merasakan dengan jelas kesedihan itu


Aruna menarik nafas dalam-dalam, ia hanya ingin menguatkan dirinya sekarang. melangkah mendekati ell


"ell" panggil Aruna yang membuat ell langsung mendongak berbalik menatap Aruna, buru-buru ia menghapus air matanya


"runa, Lo dari mana aja?" tanya ell mengalihkan perhatian Aruna, ia masih berusaha menghapus air matanya yang tak kunjung kering


"jangan ditutupi, ell" Aruna memegang kedua tangan ell yang masih berusaha menutupi lelehan bening itu, bukannya berhenti kini isakan keluar dari bibir ell


"runa gue cengeng ya" lirih ell merengek, Aruna merengkuh tubuh ell ke dalam dekapannya, biasanya ell yang akan sering menguatkan nya tapi sekarang sebaliknya


"nangis itu normal ell, bukan berarti kita cengeng. kita bebas mengekspresikan diri kita" mendengar nasehat Aruna, ell semakin merengek yang membuat Aruna bingung


"ell, sedih itu boleh tapi jangan berlebihan, kemaren Lo kan yang nenangin gue?" nasehat Aruna mengusap kepala ell pelan


"na, kenapa kita harus ngalamin ini sih?" lirih ell, entah bagaimana kalimat itu terlontar begitu saja dari bibirnya


"ell, ini takdir... nggak ada yang tahu, kita jalanin aja apa yang udah di takdirkan Allah" Aruna mencoba untuk terus memberi semangat, walaupun ia sekarang masih merasa sedih


"lo benar na, gue nggak boleh cengeng" ell kini mendongak menatap Aruna dengan tersenyum ia memeluk Aruna erat seakan merasa tenang berada di dekapan saudaranya itu.


tiba-tiba....


Ting...satu pesan masuk melalui ponsel Aruna, Aruna merogoh ponselnya yang berada di dalam tas. terlihat disana nomor tak dikenal yang mengerimi nya pesan


(datang ke restoran X sekarang) pesan yang tertulis di sana membuat Aruna mengerenyitkan mata


"siapa?" batin Aruna bingung, pasalnya ia tak mengenal siapa pengirim pesan tersebut


to be continued.....


jangan lupa, like, coment, vote and add to your favorit.....


...terima kasih...