My Wild Wife

My Wild Wife
ke kantor papa



disebuah apartemen.....


"sayang gimana?" tanya Monica yang sudah bergelayut manja pada Sean


baru saja pintu apartemen tersebut dibuka, Sean sudah dicerca pertanyaan


"aku pusing banget sekarang" ucap Sean memijat kepalanya


"sayang...kamu belum jawab pertanyaan aku, jadi kelanjutan nya gimana? aku masih ngambek nih" Monica melipat tangannya di dada dengan bibir yang mengerucut, selalu saja begitu jika permintaan nya tak terpenuhi


"' kamu kerja sama aku aja ya, nggak usah di perusahaan pusat di perusahaan cabang aja kita kerja sama-sama, biar kita bisa lebih sering ketemu" bujuk Sean, Sean masih berusaha terus membujuk Monica agar ia tak perlu melaksanakan perintah Zee


"itu lagi, itu lagi udah berapa kali sih aku bilang sama kamu? kalau aku itu cuma mau kerja di pusat, aku nggak mau ke perusahaan cabang dan cuma mau posisi sekretaris! titik!" ucap Monica kekeh dengan posisi duduk di sofa membelakangi Sean


"iya, aku ngerti sayang tapi masalah nya kak Zee itu nggak mau ngasih kamu posisi sekretaris"


"itu semua tugas kamu, kamu harus berusaha agar Zee mengizinkan aku kerja sebagai sekretaris di sana!" Monica terus memaksa Sean menuruti keinginan nya, yang semakin membuat Sean pusing. dia masih ragu dengan tawaran Zee yang menurutnya tak akan mudah ke depannya. jadi ia berusaha untuk membujuk Monica


"kenapa kamu terobsesi sekali jadi sekretaris kak Zee?" Sean menatap Monica intense


"kenapa kamu nanya gitu?"


"ya aku cuma penasaran aja, kamu se ambisi itu jadi sekretaris nya dan kalau soal gaji aku bisa nge belanjain semua yang kamu butuh, jadi ini bukan soal gaji kan?" tanya sean merengkuh pinggang Monica sembari mengusap pipi nya


"kamu kira aku mata duitan? iya?" tanya Monica marah


"nggak bukan gitu maksud aku,kamu jangan salah paham dong"


"gimana aku nggak salah paham, kamu nuduh aku gitu, Sean aku tuh cuma mau kerja mengasah skill yang ku punya" ucap Monica yang kini telah menitihkan air mata buayanya


"hey, sayang kamu jangan nangis , besok kamu udah bisa mulai kerja" ucap Sean memeluk Monica erat. sepertinya ia memang harus menerima kesepakatan itu


"kamu serius? kamu nggak lagi ngebogongin aku kan?" Monica kembali bersemangat, padahal baru saja wajahnya terlihat menyediakan tetapi sekarang? sungguh acting yang luar biasa


"nggak, aku nggak bohong, besok nona yang cantik ini sudah bisa bekerja menjadi sekretaris" Sean mencubit hidung Monica gemas


"ahhh.....aku senang banget!" Monica memeluk Sean erat


"kamu tahu nggak aku harus lakuin syarat yang dia kasih, kamu tahu apa syaratnya?" Sean mengelus lembut rambut Monica, dengan posisi Monica yang berada di pelukan Sean


"apa?" Monica mendongak menatap Sean


"aku harus ngelakuin perintah dia selama sebulan penuh"


"oh itu, kamu pasti bisa" ucap Monica memberi semangat, Tampak sekali jika ia menggapi dengan sepele


"aku nggak yakin bisa, pasti kita jadi jarang ketemu nanti"


"nggak pa-pa itu semua pasti udah yang terbaik" ucap Monica menyentuh rahang Sean dengan manja


"apapun akan aku lakuin demi kamu" ucap Sean dengan segala perkataan manisnya


"makasih" pelukan Monica semakin membelit pinggang Sean


"apa hadiahnya?" tanya Sean


"hmm ...kamu mau apa?"


"cium"


cup...kecupan langsung mendarat di bibir Sean, hubungan mereka hanya sebatas kontak fisik ringan belum sampai pada tahap yang intim.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


sementara di apartemen Zee


saat ini Zee tengah bersantai di sofa ruang tamunya menatap sebuah album lusuh dengan ditemani secangkir matcha latte, matcha latte adalah minuman yang paling Zee sukai


lembar-demi lembar dibalik dengan berbagai ekspresi yang ditampilkan nya


"benar-benar aneh, sungguh aneh" lirih Zee dan tanpa sadar sebuah senyum terukir di wajahnya tak bisa dibayangkan Semanis apa wajahnya saat ini


tak berapa lama bunyi bel terdengar dari luar...


Zee segera meletakkan album tersebut di atas meja


"Al kau rupanya" Zee membuka pintu apartemennya dan masuk diikuti Al di belakangnya


"apa ada hal penting?"


"apa anda telah mengizinkan nona Monica bekerja di perusahaan tuan?"


"ya...itu benar" jawab Zee dan kembali duduk di sofanya dan Al pun ikut duduk di depan Zee


"tidak ada tuan, saya hanya ingin memastikan saja" ucap Al melirik benda yang berada di atas meja


"bukankah itu milik gadis aneh kemarin?nona Aruna? bukankah itu benda yang ia cari kemarin dan kenapa tuan Zee tidak memberikan nya pada nona Aruna?" batin Al sembari terus melirik album itu, rasanya ia sangat penasaran apa hal menarik yang ada di album itu sehingga tuan nya lebih memilih menyimpan nya, Zee pun sadar dengan arah pandang Al


"khem..." dehem Zee mengalihkan perhatian Sean


"apa ada hal lain yang ingin kau sampaikan Al?"


"oh tidak tuan, saya pamit" Al langsung berdiri dari duduknya


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


di rumah keluarga Nicolas....


"di angkat nggak?" tanya Aruna menetap ell cemas


"nggak" ucap ell gusar sembari terus menghubungi


rupanya mereka sedang menghubungi kedua orang tua nya yang tak lain ana dan Niko yang tak bisa dihubungi


"kenapa mereka nggak ngangkat?apa bunda baik-baik aja ell?" tanya Aruna


"nggak tahu, semoga aja bunda sama papa baik-baik aja"


"nggak biasanya bunda gini, apa-apa pasti selalu ngabarin pasti ada yang nggak beres sama perusahaan ell" ucap Aruna yang membuat ell seketika menatapnya


"maksud lo?"


"Lo ingat kan papa jual mobil kita, itu ada hubungan nya sama perusahaan, kayanya keuangan perusahaan kacau deh"


"apa iya na?"


"pokoknya besok kita ke perusahaan papa, kita lihat kondisi di sana" ucap Aruna dan langsung di angguki oleh ell


pagi harinya.....


Aruna dan ell terlihat telah rapi dengan pakaian casual mereka


"na, Lo nggak pa-pa cuti?"


"iya, nggak pa-pa, lagian gue udah bilang sama sela kalau gue sakit"


"loh, kok bohong sih"


"kalau gue nggak bohong, bisa-bisa gue ditendang dari perusahaan itu, udah ayok"


mereka pun pergi ke perusahaan Niko yaitu jaya utama dengan mengendarai scooter


tapi sebelum itu, mereka pamit dengan pak Umar yang sedang duduk di pos satpam


"pak kita keluar sebentar ya pak" teriak Aruna


"siap neng"


di atas motor tak hentinya Aruna berdoa, berbagai pikiran buruk muncul di benaknya


tak beberapa lama mereka tiba di sebuah perusahaan kecil dengan nama jaya utama


suasana di sana sangat ramai, karyawan tak hentinya berdemo dan berteriak di depan kantor dengan membawa spanduk yang beragam tulisan cacian di sana, beberapa petugas keamanan tampak kewalahan menghadapi para karyawan yang sedang mengamuk


degh....


dari kejauhan Aruna dan ell pun turun dari motor


"na, ini kenapa?" tanya ell menatap Aruna dengan mata berkaca-kaca


seakan tak ada tenaga, tulangnya serasa melemas Aruna tak mampu menjawab pertanyaan ell, ia hanya memilih diam sembari menatap para karyawan dari kejauhan


cukup lama terdiam dengan kondisi tersebut, Aruna pun berdiri bangkit, ia ingin melihat keadaan bunda dan papanya begitu juga dengan ell yang sejak tadi memegangi Aruna


"kita ketemu papa sekarang!" ucap Aruna berdiri


"na, tapi disini rame, gimana kalau kita tanya satpam dulu" usul ell dan di angguki oleh Aruna


mereka pun berjalan ke arah ke ramaian dengan memakai masker dan helm yang masih melekat di kepalanya


dan memanggil salah satu satpam yang ada di sana


happy reading.....


jangan lupa, like, coment, vote and add to your favorit.....