My Wild Wife

My Wild Wife
rumah sakit



Tiba di dalam rumah sakit.....


Aruna langsung menuju lobi rumah sakit untuk menyelesaikan administrasi


"Permisi sus, saya ingin menyelesaikan administrasi atas nama bapak Nicolas" ucap Aruna sopan


"Sebentar nona kami periksa dulu" perawat tersebut langsung memeriksa nama pasien dan tunggakan biayanya


"Hmm...total biayanya sebesar tiga ratus tujuh puluh lima juta sudah terhitung segala biaya selama pasien berada di rumah sakit ini" papar sang perawat menjelaskan


"Apa biaya itu selama papa dirawat disini?" Tanya Aruna menganga, pasalnya ia berharap uang yang ia pinjam ini cukup untuk menyelesaikan semua masalah yang terjadi tapi harapan nya hanya tinggal harapan, karena uang tersebut jauh dari kata cukup, apalagi jika papanya di rawat lebih lama lagi


"Betul nona, semua itu biaya selama tuan Niko dirawat disini dan belum masuk biaya kedepannya" papar perawat itu menjelaskan dengan rinci


"Oh begitu" Aruna langsung menanyakan


" lalu bagaimana kira-kira biaya rawat papa saya kedepannya?"


"Hmm....kalau itu saya kurang tahu nona, anda bisa menanyakan langsung pada dokter untuk tahu lebih jelasnya"


"Terima kasih sus untuk penjelasan nya, kalau begitu saya bisa minta tolong?" Tanya Aruna


"Tentu bisa nona, asalkan saya mampu" ucap suster tersebut tersenyum


"Begini, saya ingin suster merahasiakan uang yang saya berikan ini jangan beritahu siapa-siapa termasuk keluarga saya bahwa saya yang telah melunasi biaya operasi ini, suster bilang saja jika yang melunasi nya itu sahabat dari pasien, apa bisa?"


"Kalau saya boleh tahu tujuan nya untuk apa ya nona?"


"Hmm....rumit sekali jika saya jelaskan, saya harap suster bisa kan membantu saya?" Tanya Aruna sekali lagi, ia sangat berharap jika suster di depannya ini bisa membantu nya


"Kalau begitu masalahnya,  saya akan membantu sebisa saya nona"


"Sekali lagi terima kasih suster, maaf sudah merepotkan kalau gitu saya pamit dulu


Aruna pun melangkahkan kakinya menuju ruang rawat Niko


"assalamualaikum" ucap Aruna masuk ke dalam ruangan tersebut dimana ana dan ell saling berpelukan dengan wajah yang sembab sebab air mata tak kian terhenti


"waalaikum'salam" jawab ell dan ana serentak dengan sigap langsung menghapus air matanya, dengan tujuan Aruna tak mengetahui kesedihan mereka


Aruna langsung mendekat dan memeluk ell serta ana dengan erat, air mata yang Aruna tahan kembali luruh seketika memeluk sang bunda


"runa darimana? kenapa lama?runa okey?" tanya ana mengelus air mata di pipi Aruna


mendengar rentetan pertanyaan


itu Aruna merespon hanya dengan anggukan dan kembali memeluk ana dan ell


"papa gimana bunda?" tanya Aruna menatap ana dengan sorot mata keduanya penuh kesedihan


"kita sama-sama berdoa, minta yang terbaik sama Allah" hanya itulah jawaban yang dapat di berikan ana untuk menenangkan kedua anaknya


Tak berselang lama....


Seorang dokter menghampiri mereka


"Permisi nyonya, sepertinya tuan Niko harus segera dioperasi"


"Tapi, kami belum mendapatkan biayanya dok. Tidak bisakah jika suami saya dioperasi dahulu? biayanya akan segera saya Carikan" mohon ana pada dokter tersebut


"Bukankah biaya nya sudah dibayar?" Tanya dokter tersebut, pasalnya perawat baru saja memberitahu jika biaya operasi pasien atas nama Niko sudah dilunasi"


"Apa? bahkan kami belum membayar sepeserpun dok bagaimana bisa biaya operasi papa telah lunas?" tanya ell


Dokter dan ana serta ell pun dibuat bingung dengan situasi tersebut, apa benar sudah dilunasi?atau hanya sebatas kekeliruan saja?


Tak lama datanglah seorang suster menghampiri mereka


"Maaf dokter ruang operasi nya sudah siap"ucap sang suster menyadarkan dokter dari lamunannya


"Siapa nama lengkap pasien yang akan di operasi?" Tanya sang dokter memastikan jika ia tidak salah


" tuan Nicolas dok" jawab sang suster


ana dan ell pun ikut bingung dan Aruna hanya bisa menggigit bibir, ia takut jika usahanya untuk menutupi fakta itu akan ketahuan


"panggilkan pihak administrasi kesini" perintah dokter


"baik dok"


tak berselang lama...


suster yang bekerja pada pihak administrasi pun datang


"dokter memanggil saya?"


"iya, apa benar biaya operasi atas nama tuan Nicolas sudah lunas?" tanya dokter


"ya, itu benar dok"


"siapa yang menlunasi? sedangkan pihak keluarga belum melunasi?"


"orang itu hanya bilang bahwa ia sahabat dari pasien dok" suster menatap Aruna sekilas


"jadi yang melunasi nya sahabat dari tuan Nicolas?"


"benar dok"


"huh..."dokter tersebut menghembuskan nafas kasar


"baiklah, bagaimana pihak keluarga? biaya operasi telah dilunasi dan yang melunasi biaya tersebut sahabat dari pasien, apakah sekarang kita bisa melakukan operasi?"


"j-jadi suami saya bisa segera dioperasi dok?"


tanya ana terbata, rasanya sekarang ia sangat bersyukur dengan apa yang telah terjadi, tangis bahagia tak terhelakan


"benar, tuan Nicolas sekarang sudah bisa di operasi"


"terima kasih dok, terima kasih" tangis ana


begitu pula dengan ell dan Aruna mereka juga sangat bahagia


proses operasi pun dimulai malam itu juga.....


ketiga wanita itu tak hentinya memanjatkan doanya....


"bunda, kenapa dokternya lama banget keluar nya?" tanya ell dengan cemas menatap lampu ruang operasi yang masih merah


"kita doakan yang terbaik untuk papa, semoga operasi yang kedua ini bisa lancar" ucap ana menenangkan


Aruna terus menatap ruangan operasi tersebut dengan cemas


"papa pasti selamat" monolog Aruna dalam hatinya, saat ini ia hanya ingin keajaiban. hal yang pernah ia harapkan tujuh belas tahun silam saat kedua orang tua nya meninggalkan nya


ana melihat Aruna hanya diam, memegang tangan Aruna hingga menyadarkan si empunya yang sedang bertarung dengan fikirannya


"Aruna okey?" tanya ana yang melihat Aruna dari tadi hanya diam, ia takut jika Aruna kembali seperti tadi pagi, mengingat kejadian tujuh belas tahun silam, ana tak ingin Aruna kembali tertekan dan ketakutan.


tak ada kata yang keluar, Aruna hanya menjawab dengan anggukan semata.


ell yang melihat itu hatinya seakan teriris, bagaimana tidak, ia tahu betul Aruna mengalami trauma karena kejadian tujuh belas tahun silam, sampai-sampai ia dirawat oleh psikolog hingga sembuh. tetapi Aruna belum sepenuhnya sembuh total karena sesekali Aruna akan memimpikan kejadian itu dan mengalami ketakutan dan kecemasan hingga sekarang Aruna masih sesekali bermimpi buruk tetapi semua itu ia sembunyikan dari keluarga Nicolas ia tak ingin membebankan keluarga yang telah sangat baik padanya, cukup waktu kecil ia telah menyusahkan mereka. menurut psikiater ketakutan dan tekanan akan kembali ia rasakan jika mengalami peristiwa yang mengingatkan ia pada kejadian itu.


tap...tap..


detakan sepatu yang bersentuhan dengan keramik rumah sakit membuat suara yang cukup nyaring di ruang sunyi itu


"bunda?"


happy reading.....


jangan lupa, like, coment, vote and add to your favorit.....


...terima kasih...