My Wild Wife

My Wild Wife
bapak aneh



di perjalanan ke kantor Aruna tampak murung


sampai-sampai ia tidak mendengar supir taksi yang menegurnya


"mbak sudah samapai" tegur supir taksi


"mbak" tapi tak juga mendapat sahutan dari Aruna


"mbak sudah sampai" panggil supir taksi dengan sedikit keras Aruna pun tersentak dibuat nya


"eh, ada apa pak?" tanya Aruna bingung, ia sekarang seperti orang yang linglung


"ini sudah sampai" jawab supir taksi tersebut dengan tersenyum melihat Aruna yang kebingungan


"eh, sudah sampai?, cepat sekali" Aruna pun turun dari mobil taksi, dan berjalan


baru beberapa langkah Aruna mendengar seseorang yang memanggilnya


"mbak" panggil supir taksi setengah berteriak


Aruna pun menoleh pada sumber suara ternyata supir taksi yang tadi memanggil nya


"ada apa pak?" tanya Aruna menghampiri sang supir taksi


"mbak nya belum bayar" jawab supir taksi dengan tersenyum


"eh, saya belum bayar pak?" tanya Aruna tak percaya, bisa-bisanya ia belum membayar taksi


"iya, mbaknya langsung pergi, jadi saya panggil"


"maaf ya pak, saya lupa perasaan saya tadi udah bayar ternyata belum, sekali lagi maaf ya pak" ucap Aruna merasa bersalah,ia merogoh tiga lebar uang lima puluh ribu dan memberikan nya


"ini mah, kelebihan mbak" ucap supir taksi dengan mengembalikan satu pecahan lima puluh ribu pada Aruna


"nggak pa-pa kok pak, ambil aja sekali lagi saya minta maaf ya pak " ucap Aruna sungkan


"iya, Ndak pa-pa saya tau mbaknya seperti ada masalah" senyum supir taksi


Aruna pun mulai melangkah memasuki kantor tersebut tidak lupa senyum ramah nya pada resepsionis yang berada di lobi perusahaan


Aruna memasuki lift....


belum sempat menutup lift, seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi dan masker menutupi wajahnya, ikut masuk ke dalam lift


lift pun tertutup....


suasana begitu canggung hanya ada mereka berdua di dalam lift


sesekali pria paruh baya tersebut melirik Aruna mencuri-curi pandang


Aruna sangat merasa risih dengan pria tersebut


lift ini begitu lama baginya


"saya seperti mengenal kamu" ucap pria tersebut membuka maskernya tampaklah wajah yang tampan walaupun sedikit kerutan di wajahnya, namun tak mengurangi ketampanan dan kharisma nya


tapi anehnya Aruna seperti pernah melihatnya pria tersebut, tentu saja Aruna meresa pernah melihat pria tersebut karena yang sekarang berdiri di depannya tak lain pemilik dari perusahaan tempat dia bekerja ini Klaus group, ya pria yang sekarang berada di depan Aruna tak lain adalah Jeff Warren Klaus, tapi sayangnya penyakit kelupaan yang mendarah daging padanya membuat dia lupa bahwa yang berada di depan nya sekarang adalah tuan besar Jeff


" tunggu, wajah ini tidak asing bagiku?, tapi siapa dia?" batin Aruna bertanya-tanya


"kamu....nama kamu Aruna bukan? tanya Jeff berbinar, ia seperti mendapatkan apa yang ia cari di perusahaan cabang ini


"benar aku pernah melihatnya tapi dimana?"batin Aruna bertanya tanpa menjawab tuan besar Jeff


"jadi ini benar-benar kamu?, ternyata aslinya lebih cantik ya, wah saya hampir tidak mengenal kamu, kamu benar-benar mirip dengan nya, seperti manggis di belah dua" ucap Jeff tersenyum geleng-geleng kepala


"pinang pak" koreksi Aruna


"maaf pak sebelumnya, seperti nya bapak salah orang" Aruna menyangka jika pria yang di depannya ini salah orang.


"ahhh, tidak saya tahu kamu Aruna benar bukan?" tanya nya


"iya saya memang Aruna, tapi saya tidak mengenal bapak, lagi pula Aruna tidak hanya saya saja pak banyak yang bernama Aruna"


"tunggu sebentar, saya punya bukti nya" Jeff pun mengeluarkan handphone di saku celananya dan menunjukan foto Aruna yang sempat di potretnya saat di ruangan Zee


"'ini kamu kan?" tanya Jeff menyodorkan ponselnya di depan akan memperlihatkan foto yang berhasil ia ambil dari berkas Zee


"dari mana bapak mendapatkan foto saya?" tanya Aruna kaget, melihat foto dirinya di handphone Jeff


"kamu tidak perlu tau, yang penting saya sudah menemukan kamu"


"maksud bapak apa?, jangan macam-macam ya bapak pikir saya takut pada bapak?, jangan macam-macam ya, bapak fikir saya takut pada bapak?, jangan berani-berani macam-macam dengan saya" sentak Aruna marah dan melangkah mundur, ia mulai awas melihat gelagat Jeff yang menurutnya mencurigakan


"jangan takut, saya bukan orang jahat" Jeff pun maju lebih dekat tapi tindakan nya itu membuat Aruna semakin takut


perdebatan Jeff yang menjelaskan dan Aruna yang keburu terbakar emosi pun terjadi di dalam lift


tiba-tiba lift rusak menyebabkan kegelapan di dalam lift


"ke..kenapa lift i..ini" sesak Jeff, Jeff memang phobia tak bisa di tempat sempit dan gelap, jika sudah begini akan sulit nantinya


Aruna yang melihat pun berfikir Jeff berpura-pura dan ingin melecehkannya


"bapak berpura-pura ya, sudahlah pak saya tahu trik zaman sekarang,bapak pasti berpura-pura seperti orang sesak nafas dan saat itu bapak akan melecehkan saya iya kan?" ucap Aruna yang masih berdiri


"ti... tidak, saya ingin lam...pu" ucap jeff yang tergagap


" tidak dia pasti sedang berakting sekarang" batin Aruna yang masih menguatkan hatinya


"jika bapak tidak bangun sekarang, saya akan memukul bapak" ancam Aruna mengangkat tasnya sedikit ke atas


"to...long" lirih jeff lemah


Aruna pun membungkukkan badannya dan segera memegangi tangan Jeff untuk berdiri


tapi alangkah kagetnya saat memegangi tangan Jeff yang sangat dingin


"ya ampun, kenapa seperti ini?" cemas Aruna


"pak?" panggil Aruna


tapi hanya erangan kecil yang terdengar di telinga Aruna yang menambah kepanikannya


"pak... maafkan saya, apa yang harus aku lakukan sekarang?" panik Aruna yang sudut matanya sudah basah, menandakan kepanikan


"pak, tolong bangun....." teriak Aruna dan tanpa izin air matanya lolos, memori kehilangan di masa lalu nya pun kembali berputar di ingatanya, kejadian kehilangan mama dan papa kembali mengingat kan nya


walaupun tak mengenal pria yang kini berada di lift dengan nya, Aruna merasa bahwa ini kesalahan nya karena lambat menolong Jeff yang meminta bantuan padanya


merasa ada air yang jatuh di tangannya membuat Jeff kembali bersuara


"la..lmpu"


"apa?, bapak ingin lampu? tapi saya tidak punya, oh tunggu " Aruna pun mengeluarkan handphonenya dan menghidupkan senter sebagai pencahayaan


terdengar nafas Jeff sudah sedikit teratur


"ahh, syukur lah" ucap Aruna menghembuskan nafas lega


"aku hampir gila Karena ini" gumamnya dan menghapus jejak air mata yang belum sempat kering, air mata itu jatuh begitu saja


15 menit kemudian....


pintu lift pun terbuka


"tolong...." teriak Aruna pada para petugas yang sudah berhasil membuat pintu lift tersebut


"tolong bapak ini" teriak Aruna yang masih memangku kepala Jeff


"astaga tuan besar" cemas para petugas dan segera membawa Jeff menuju ruangan nya


serta para karyawan pun membantu Aruna berdiri


"tuan besar?" bingung Aruna mendengar para karyawan memanggil Jeff tuan besar


"Aruna kamu tidak pa-pa?" tanya kepala hrd


"saya nggak pa-pa kok buk" jawab Aruna tersenyum


"tuan besar kenapa bisa satu lift dengan kamu?"


"tuan besar?, kenapa ibuk memanggil bapak mesum tadi tuan besar?" tanya Aruna heran mendengar kepala HRD


Aruna heran mendengar kepala hrd pun ikut memanggil bapak mesum yang dipanggilnya tuan besar


"Aruna apa yang kamu katakan!?, kamu mau dipecat langsung dari sini?, atau dipenjara?" ucap kepala hrd dengan kesal


"maaf buk tapi itu emang kenyataan nya" ucap Aruna menunduk


"hentikan semua bualan mu itu sebelum tuan Jeff mendengar nya"


"apa tuan Jeff?" otak Aruna berputar mengingat nama itu


"astaga!, apa yang sudah kulakukan" teriaknya terduduk lemas di lantai


"makanya kalau ngomong itu di jaga lisannya, ingat kamu disini masih masa percobaan jadi jaga sikap" ucap kepala hrd mengingatkan


"maaf buk" Aruna menunduk hormat


"sudah, ikut saya saya akan tunjukan ruangan dan pembagian kerja mu dengan jelas"


Aruna pun mengikuti kepala hrd....


happy reading...


like, coment and vote dan tambahkan ke favorit....