My Wild Wife

My Wild Wife
kunjungan Sean



malam harinya......


ceklek.....


Aruna membuka pintu kamar ell, dengan posisi ell yang sedang berbaring di ranjang sembari memainkan ponselnya....


"lagi ngapai lo?" tanya Aruna menaiki ranjang


"biasa ngereog" jawab ell asal


"hiss!" Aruna pun menoyor kepala ell membuat si empunya kesal


"ihh...paansih na, Lo nggak bisa ya kalau sehari aja nggak ganggu gue" kesal ell dan kembali memainkan ponselnya


"sok sibuk lo!"


"gimana tadi siang?" tanya Aruna perihal interview ell


"nggak keterima" lirih ell dengan bibir mengerucut


"nggak pa-pa besok coba lagi" Aruna terus memberikan ell semangat


" tapi, Lo tahu nggak?" ucap ell bersemangat dan meletakkan ponselnya di atas nakas, ia lupa jika mempunyai kabar baik dan kabar buruk, kabar buruk nya ia tak di terima di perusahaan hari ini tapi kabar baiknya...


"apa?" Aruna penasaran melihat ell yang begitu bersemangat


"gue besok interview loh" ucap ell memegang tangan Aruna dengan semangat berapi-api


"beneran?" tanya Aruna tak kalah semangat


"iya dong, siapa dulu ell gitu loh" sombong ell melipat tangannya ke dada


"dih sombong, ya udah besok Lo traktir gue"


"ih, enak aja gue kan baru di interview tapi semoga aja keterima, kalau udah pasti gue traktir Lo deh"


"janji?"


"iya janji, Lo kaya nggak pernah gue traktir aja"


"emang di perusahaan mana?"


"hmm....rahasia" tawa ell


"ish,...ketimbang ngasih tahu doang pake rahasia-rahasiaan segala" ucap Aruna melipat tangannya


"nggak gitu maksud gue, gue tuh mau ngasih surprise jadi kalo diterima gue kasih tau deh kantornya gimana?" ucap ell bernegosiasi dengan saudaranya itu


"' hmm...gue doain besok semoga interview nya lancar" ucap Aruna sembari memeluk ell erat


"uhhh...makasih adikku" balas ell tak kalah erat memeluk Aruna


"'ih enak aja"


"hehe....iya maap, Lo sekarang baperan banget sih na"


mereka pun mulai menghabiskan waktu dengan bertukar cerita yang terjadi hari ini


sementara Zee yang sekarang telah berada di apartemen sibuk dengan alat memasak nya di dapur pisau dan talenan beradu terdengar berirama, Zee cukup ahli dalam memainkan alat dapur nya, tak heran sebab dia terbiasa hidup mandiri di luar negri, Zee merupakan tipikal orang yang kurang suka dengan makanan luar apalagi cepat saji, ya...Zee merupakan tipe pria yang mengutamakan kesehatan


"di mana aku menyimpannya?" gumam Zee sembari memeriksa satu persatu lemari dapurnya sehingga Zee menemukan sebuah botol ketumbar bubuk yang telah kosong


"ck.."Zee menatap botol yang berisi ketumbar bubuk yang telah kosong


"mau tak mau aku memang harus membelinya" gumam Zee mematikan kompor, lalu menuju kamarnya mengambil topi dan masker


sesampainya di sebuah minimarket yang berada tidak jauh dari apartemen Zee, Zee langsung menuju rak berbagai macam bumbu masakan, terdengar percakapan antar wanita sehingga mengalihkan perhatian Zee, ketika namanya di sebut.


"putra pertama tuan jeff itu mengalami penyimpangan "


"g*y? yang benar saja aku tidak percaya"


"itu fakta, semua yang kau lihat di luar itu hanya pencitraan"


"kau jangan mengada-ada" dua wanita itu tengah asik membicarakan Zee tanpa mereka sadari jika orang yang sedang mereka bicarakan berada di sana.


"aku tidak mengada-ada!, apa kau pernah melihat atau mendengar nya kencan? rumor dekat dengan wanita saja tidak"


"apa iya? tapi yang kulihat dia seperti pria pada umumnya"


"kau tidak tahu aslinya, hanya melihat di majalah dan tv saja"


percakapan mereka pun terhenti, Zee yang dari tadi mendengar percakapan itu seketika naik pitam, andai saja tidak menjaga image pasti dua orang itu sudah di tendang Zee keluar minimarket


"ck, kenapa aku harus mendengar rumor sampah itu!" umpat Zee dalam hati dan segera menuju kasir dan meninggalkan minimarket


tiba di apartemen........


saat membuka pintu apartemen...


"kak"


seseorang memanggil Zee dengan suara yang dikenalinya, Zee pun berbalik


"kau?" ucap Zee memandang dengan senyum remeh Sean yang berada di depannya


"apa tujuanmu datang ke sini?" tanya Zee to the point karena mood nya sekarang ini memang kurang baik akibat dari mendengar percakapan sampah dari dua pengunjung minimarket tadi yang masih belum bisa ia lupakan.


"tidak ada, aku hanya ingin bertamu ke apartemen kakak ku ini, sudah lama bukan aku tidak kesini?"


"aku tidak ingin bertele-tele langsung saja apa tujuanmu?" tanya Zee yang masih mencurigai Sean, pasalnya Sean jarang sekali datang ke apartemennya jika tidak ada mau nya.


"ayolah kak, hidupmu itu datar sekali,adik mu ini hanya ingin bertemu dan menghabiskan waktu denganmu, bukankah aku adik yang baik?" tanya nya dan langsung menerobos Zee yang berada di depan pintu


"aku belum mengizinkan mu masuk!" sentak Zee pada Sean yang tak digubrisnya, Sean langsung menuju ruang tamu dan mendaratkan bokongnya di sofa empuk milik Zee


"waahhh....nyaman sekali, pantas saja kau sangat betah di sini" ucap Sean melesik perabotan milik Zee yang super mewah.


"kau tetap di sini!, aku ingin ke dapur"


Zee pun langsung menuju dapurnya menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda


"sudah kaya, tetapi tidak menyewa art pelit sekali" gumam Sean menyindir Zee


"kak mana remote tv mu?" teriak Sean


"jangan, mengacaukan apartemen ku!" teriak Zee dari dapur


"iya....tidak jadi! kau ini kejam sekali pada adik semata wayang mu ini" Sean pun merebahkan tubuhnya sembari memainkan ponselnya


tak perlu menunggu lama beberapa hidangan tersaji di meja makan seperti capcay, udang saus tiram, chicken katsu dan dessert coklat sebagai makanan pencuci mulut......


"wah harum sekali...muka datar itu selalu bisa membuat perut ku menjerit" gumam Sean dan berdiri dari sofa, tiba-tiba ponselnya terjatuh dan masuk ke dalam kolong sofa


"ck, menyusahkan saja!" kesalnya dan berjongkok mencari ponsel tersebut, saat sedang mencari tangannya tak sengaja meraba sesuatu dari kolong sofa


"ikat rambut?" gumam sean memandangi sebuah ikat rambut berwarna hitam


"milik siapa ini?, apa kak Zee membawa wanita ke apartemen ?"


Sean kembali mencari ponselnya


dan...


"huh, ketemu juga" gumamnya dan melangkahkan kaki menuju dapur dengan ikat rambut yang masih berada di tangannya, niat nya yaitu menanyakan siapa pemilik ikat rambut tersebut, tidak mungkin Zee bukan?


"kak, kau licik juga ternyata" ucap Sean menghampiri Zee yang sedang menyantap masakannya


"jangan mengganggu ku!"


"oh, baiklah kau rupanya masih berpura-pura sungguh mengesankan" ucap Sean bertepuk tangan


'apa yang dibicarakan si bodoh ini?" batin Zee tak mengerti arah pembicaraan Zee


"jika kau kesini hanya untuk menganggu ketenangan ku, lebih baik kau pulang!"


"lalu jika aku pulang kau akan membawa nya kesini dan bersenang-senang begitu?" sindir Sean dengan tubuh yang bersandar di kursi meja makan


barakk.....


"katakan!, apa sebenarnya tujuan mu datang kesini?" geram Zee menghentikan acara makannya dan menatap Sean dengan tatapan tajam dengan di balas tatapan remeh Sean


"wohoho....kau ini kenapa?, apa aku sebenarnya mengganggu waktu mu hari ini?, tenang... sebenarnya aku memang akan membicarakan suatu hal, tetapi tidak jadi karena perhatian ku teralihkan oleh ini" ucap Sean mengeluarkan ikat rambut tersebut di sakunya dan mengangkatnya di depan Zee


degh..


to be continued......


like, coment, vote...... jangan lupa