My Wild Wife

My Wild Wife
pesan asing



Aruna keluar dari ruangan Niko dengan kebingungan yang jelas terlihat dari wajahnya. ana yang melihat wajah kebingungan Aruna pun mengajukan pertanyaan


"runa kenapa?" tanya ana yang dari tadi berada di kursi tunggu, mendengar lontaran pertanyaan ana, Aruna buru buru tersadar dari lamunannya


"nggak, runa nggak pa-pa" jawabnya tersenyum berjalan menuju ana dan duduk di sampingnya, ana tersenyum ia tahu ada yang Aruna sembunyikan darinya


"runa mau cerita?" ana menyentuh pundak Aruna dengan sayang, walaupun keadaan apapun ia harus tetap memperhatikan anak-anaknya. biasanya Aruna akan selalu curhat kepada ana


Aruna bergeleng sebagai jawaban, menurutnya bunda nya tak perlu tahu keresahan nya saat ini. ana tak ingin memaksa Aruna karena jika Aruna sudah yakin pasti akan bercerita dengan sendirinya. ia hanya perlu mendengarkan tanpa membuat nya merasa tak nyaman


"kak Rey mana bunda?" tanya ana yang menyadari jika tak ada Rey di sana, ia menoleh ke kanan dan kiri


"keluar, katanya cari angin" jawab ana yang membuat Aruna mengangguk pelan


"ell belum keluar?" Ana beralih menanyai putrinya yang satu itu karena dari tadi ell tak kunjung keluar


"katanya sebentar lagi, bunda" Aruna menatap ana yang tampak menghela nafas kasar, tercetak jelas gurat kesedihan dan lelah di wajah nan sayu itu


"bunda udah makan?" Aruna bertanya karena tampak dua kotak bubur masih terbungkus rapi.


"bunda udah makan, kak Rey sama ell yang belum makan" jawab ana mengerti dengan arah pandang putrinya itu


"kenapa kak Rey nggak makan bunda? kak Rey nggak suka?"


"katanya mau makan nanti, tapi sampai sekarang belum kembali" jawab ana memasukkan bubur itu kedalam papar bag. yang membuat Aruna mengangguk


"oh ya, runa nggak ke kantor?" Aruna baru tersadar jika putrinya itu tak berangkat kerja


"runa cuti dulu Bun, sampai papa sadar"


"runa, disini banyak yang jagain papa. runa nggak usah cemas, nanti kalau runa di pecat gimana? bukanya itu perusahaan impian runa selama ini?" ana menggenggam kedua tangan Aruna, memberi nasehat. runa menunduk mendengar nasehat ana yang sepenuhnya benar tetapi di sisi lain ia hanya ingin menunggu Nicolas sadar.


"maafin runa bunda" lirih Aruna yang masih tertunduk, ana meraih dagu Aruna yang mana membuat mereka saling menatap


"runa kenapa minta maaf? bunda cuma mau anak-anak bunda maju. lakukan hal yang memang harus dilakukan, bunda nggak ingin kalian berlarut dalam kesedihan. contohnya runa,, runa nggak boleh ngelupain tanggung jawab runa. runa ngerti apa yang bunda bilang?" ana mengusap pipi Aruna sayang. itulah cara ana mendidik anak-anak nya. tak ada kekerasan yang ada hanya kelembutan yang mampu membuat anak-anak nya luluh. tak terkecuali Aruna, ia langsung mengangguk membenarkan ucapan ana


"runa besok masuk kantor" Aruna berkata dengan yakin, ia memutuskan akan kembali ke kantor Klaus group besok.


"lakukan yang terbaik" ana memeluk Aruna dengan memberikan usapan di rambut Aruna.


dert..... getaran ponsel menyadarkan mereka, Aruna mengurai pelukan dan merogoh ponsel yang berada di dalam tasnya


"tuan Jeff?" Aruna tertegun membaca nama yang tertera di layar ponselnya, matanya sedikit terbelak tapi ia buru-buru menetralkan perasaannya.


"runa kenapa?" tanya ana menangkap gelagat aneh dari putrinya itu. seperti ada yang tidak beres


"nggak pa-pa bunda, ini teman kantor Aruna nelfon" Aruna berusaha tetap tenang, ia tak ingin ana semakin curiga dengan nya. tak juga diangkat pesan pun mulai datang


"ke restoran X sekarang" sama seperti pesan yang Aruna terima, tapi kali ini tuan Jeff sendiri yang mengirim pesan dan dapat di pastikan jika pesan yang Aruna terima beberapa menit lalu adalah pesan dari orang suruhan Jeff.


"runa kenapa?" tanya ana, berharap jika putrinya itu bersedia bercerita.


"nggak pa-pa kok bun, oh ya runa mau ketemu teman sebentar, boleh kan bun?"


"dimana?" ana mengajukan pertanyaan, karena merasa aneh dengan Aruna yang ingin pergi tiba-tiba setelah menerima pesan


"sebentar kok bunda" Aruna tak memberi jawaban ke mana ia akan pergi, yang semakin membuat ana merasa aneh


"bunda tanyanya runa mau ketemu temennya di mana, kok jawabnya itu?" ana menatap putrinya itu dengan intens.


"di rumahnya, yang waktu itu runa nginap" jawab Aruna yang akhirnya tetap berbohong, sebenarnya ia tak ingin melakukan hal ini tapi apa boleh buat? ini adalah satu satunya pilihan agar ana tetap tenang.


ana menaikan sebelah alisnya, yang namanya orang tua pasti ia jelas tahu tentang sifat anak-anaknya, walaupun Aruna berkata dengan yakin tapi menurut ana itu bukanlah jawaban yang benar.


"baiklah, bunda percaya sama runa" serangkaian kata itu keluar dari bibir ana. ia tak bisa memaksa Aruna, Aruna yang mendengar itu sedikit tersentil ia merasa telah berdosa membohongi ana tapi mau bagaimana lagi? sepertinya ini jalan yang harus Aruna tempuh


"ya udah, runa pamit bunda" runa meraih tangan ana meminta izin,


"hati-hati ya" peringat ana yang dijawab anggukan oleh Aruna


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


tak menunggu lama....


Aruna telah tiba di sebuah restoran berdasarkan pesan yang ia terima dari Jeff. restoran bukan sembarang restoran karena Aruna perhatikan sepertinya yang masuk ke sini hanya kaum atas, walaupun restoran nya tampak begitu sepi yang terkesan sedikit pengunjung. orang-orang berpakaian begitu rapi tapi Aruna? jangan ditanya ia hanya menggunakan celana jeans dan cardigan serta tas selempang yang tak pernah absen di pakainya.


"huh, yang benar saja! jadi ini restorannya? dengan dandanan seperti ini apa boleh masuk?" Aruna memandangi dirinya dari bawah yang tampak sedikit berantakan.


"bagaimana ini? baiklah apapun yang terjadi aku masuk saja" Aruna mulai melangkah tapi baru beberapa langkah ia melihat dirinya di pantulan kaca restoran tersebut.


"gue gini amat sih" decaknya yang kembali tak percaya diri.


"perasaan gue bawa bedak sama lipstik ell deh" Aruna merogoh tas nya hingga menemukan satu lipstik Dengan warna fuchsia lover dan bedak wajah. tanpa menunggu lagi Aruna langsung menuju toilet terdekat. ia buru-buru memoles wajah nya dengan taburan bedak dan lipstik


sesaat Aruna memandangi lipstik milik ell yang begitu berwarna cerah, Aruna adalah tipe orang yang tidak begitu suka dengan lipstik yang terlalu berwarna


"bagaimana bisa ell memakai lipstik ini?" decak Aruna memandang lipstik milik ell tersebut


"persetan dengan lipstik ini, hanya untuk hari ini! agar tak terlalu terlihat kucel" Aruna memoles bibirnya dengan perasaan tak rela. tak lupa ia membuka ikat rambutnya yang awalnya terpasang.


"ck,ck. aku sudah seperti model papan atas" decak Aruna bergeleng-geleng di depan cermin melihat pantulan dirinya yang terlihat lebih fresh dengan polesan dan rambut yang di gerai.


to be continued.....


jangan lupa, like, coment, and add to your favorit.....


...terima kasih...