
sementara di ruang Coo(chief operational officer)
Zee tengah sibuk berkutat dengan komputer dan beberapa berkas yang tampak menumpuk di atas meja nya
Al pun tiba-tiba masuk....
"permisi tuan" salam Al sedikit menunduk memberi hormat
"ada apa?" tanya Zee yang masih sibuk tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer itu
"tuan besar kambuh kembali tuan, beliau kambuh di cabang perusahaan saat sedang menaiki lift dengan kondisi lift mati" papar Al menjelaskan dan seketika memberhentikan kegiatan Zee, Zee mengalihkan pandangannya yang kini menatap Al
"bagaimana keadaan nya sekarang?" tanya Zee datar
"sekarang tuan besar berada di mansion utama tuan dan sudah di dampingi oleh dokter rian"
"apa parah?" lagi-dan lagi Zee berbicara datar tanpa menunjukkan kekhawatiran
"menurut informasi yang saya dapat, tuan besar sempat pingsan di sana" Al menyampaikan semua informasi yang di terimanya
"apa wanita itu sekarang di mansion?" tanya Zee pada Al, yang langsung dimengerti oleh Al siapa yang Zee maksud.
wanita yang dimaksud Zee adalah Melinda Klaus, Zee dari dulu memang tidak berhubungan baik dengan Melinda karena suatu alasan yang membuat nya sangat membenci Melinda, jadi jangan salah jika Zee menunjukan sifat kurang sopan nya pada Melinda
"menurut informasi yang saya dapat, nyonya Melinda sekarang sedang bersama nona Monica di sebuah pusat perbelanjaan"
"cih...decih Zee, ia tersenyum remeh
"apa kita akan ke mansion utama tuan?" tawar Al bertanya dengan begitu hati-hati
"baiklah kita ke mansion sekarang"Zee berdiri menyampirkan jas ke lengannya, dan berjalan mendahului Al
Al berjalan mengikuti Zee
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
sementara di kantor cabang klaus....
Aruna sedang sibuk bekerja di masa pertama nya bekerja ini, walaupun ada sedikit masalah yang mengganjal di pikiran nya, tetapi Aruna tetap bersikap profesional dalam bekerja menyelesaikan semua berkas yang di tugaskan padanya
bagi Aruna ini adalah peluang untuk menunjukkan keahliannya agar bisa secara resmi bekerja di perusahaan ini, perusahaan impiannya
"huh.... akhirnya" Aruna menghembuskan nafas kasar sembari menghapus sedikit keringat di dahi nya
"ternyata capek juga, tapi aku harus semangat!, semangat runa kamu pasti bisa!" serunya mengangkat tangan menyemangati diri nya
"hey..." sapa seorang perempuan sembari tersenyum dari balik meja pembatas karyawan
saking begitu fokus nya Aruna bekerja sampai dia tak begitu memperhatikan karyawan di sekitarnya, karena aktivitas di perusahaan ini begitu padat sampai tak ada komunikasi selain pada jam istirahat yang begitu singkat. karyawan di perusahaan Klaus group cenderung bersifat individualis
"eh, hey juga" jawab Aruna tak kalah memberikan senyuman termanis nya.
"kamu anak baru ya?kenalin nama aku sela" wanita tersebut memperkenalkan diri pada Aruna
"iya, masih masa percobaan, kenalin juga nama aku Aruna" jawab Aruna, ia sepertinya akan mendapatkan teman di sini
"sama dong aku disini juga masa percobaan loh, aku pikir nggak ada angkatan aku yang bekerja disini, ternyata aku punya teman "
"semoga kita bisa berteman baik ya" ucap Aruna
tiba-tiba ada seorang wanita dengan dandanan yang cukup menor menyela pembicaraan mereka
"anak baru itu tugasnya kerja, bukan malah ngerumpi" sindir seorang wanita yang berdiri di depan meja mereka sembari melipat tangan di dada
"iya, buk maaf" Aruna pun kembali melanjutkan pekerjaannya
begitu pun dengan sela yang nyali nya ikut menciut melihat wanita tersebut
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"lihat Al dia tak mendengarkan ku sama sekali" adu tuan jeff pada Al yang hanya di tanggapi senyuman kaku oleh Al
"aku tidak melihat nyonya rumah ini?, sepertinya sedang bersenang-senang, atau apa dia tidak tahu kalau suami nya sakit" ucap Zee menyindir
Jeff hanya menggelengkan kepala dengan tingkah Zee, entah sampai kapan Zee akan menghormati Melinda semestinya, sepertinya itu semua mustahil, dan entah sudah berapa kali Jeff menegur Zee, Zee terus mempertahankan rasa bencinya pada Melinda yang tak tahu sampai kapan semua itu usai.
"apa yang papa cari di perusahaan cabang" Zee kembali bersuara tapi perkataan nya terdengar mengintrogasi
"papa-?, ya papa hanya mengontrol perusahaan, ya mengontrol" jawab Jeff dengan terbata, lagi-lagi ia tak mampu bersikap tenang ketika di tatap oleh mata elang nan tajam milik Zee
"cih... mengontrol?, aku seperti mendengar hal baru" Zee mencibir kata-kata yang baru keluar dari mulut papanya
"'ya tentu saja mengontrol, apalagi jika tidak ha?" ujar Jeff kesal karena sepertinya Zee curiga dengan nya
Zee pun berdiri dari duduknya berjalan meninggalkan kamar Jeff
belum sampai meninggalkan kamar Jeff, Jeff bersuara membuat langkah Zee terhenti tanpa berbalik
"terima kasih sudah menjenguk papa" lirih Jeff dengan mata yang sedikit berkaca
namun hal itu hanya disaksikan oleh Al yang berada di belakang Zee
jika melihat hal itu Al merasa aneh bagaimana ayah dan anak yang saling menyayangi tetapi dibatasi gengsi untuk saling menunjukkan rasa sayang nya.
Al tidak pernah melihat Zee dan Jeff berpelukan penuh kasih sayang terkadang senyum antara ayah dan anak itu pun jarang dilihat Al tapi Al sangat mempercayai bahwa dibalik sikap dingin itu, menyimpan rasa cinta dan sayang yang terhalang oleh gengsi
Zee hanya mendengar sejenak tanpa menangapi ucapan dari papa nya, Zee pun melanjutkan langkahnya meninggalkan kamar
"Al kau disini saja menjaganya" ucap Zee berhenti sejenak tanpa membalikkan badan. sepertinya rasa sayang itu tak mampu Zee sembunyikan, walaupun jika dilihat dari luar Zee tak begitu peduli dengan papanya tapi sebaliknya Zee begitu peduli tapi dibalut dengan keangkuhan dan sikap dinginnya.
"saya sudah menyuruh beberapa penjaga dan pelayan rumah ini untuk menjaga tuan besar
tuan, jadi tuan tidak perlu khawatir" Al seakan tahu apa yang sedang Zee pikirkan.
"baiklah, kita ke perusahaan sekarang" ucap Zee melanjutkan langkahnya
tiba-tiba di pintu mansion....
"Zee bagaimana papa?" tanya wanita paruh baya dengan banyak paper bag yang melingkar di tangan nya siapa lagi jika bukan nyonya besar keluarga klaus, dan tak lupa Monica bersamanya
"Zee?" Zee ucap Monica ikut kaget melihat Zee
tanpa niat menanggapi, Zee masih menatapnya dengan datar dan tersenyum remeh
"cih, sampah apa yang ada di depan ku sekarang?" batin Zee menatap kedua wanita yang berbeda umur itu
sementara Al yang berada di Belakang Zee hanya diam menunduk melihat interaksi ibu dan anak itu, sebenarnya Zee tidak kaget, hal seperti ini sudah biasa, Zee dan Melinda memang tidak seperti ibu dan anak pada umumnya, Al dibut heran dengan tatapan penuh kebencian Zee pada Melinda, Zee begitu menyimpan dendam yang sangat besar pada Melinda dan itu dapat dirasakan oleh Al, tapi tak sekalipun Al bertanya hubungan Zee dan Melinda, hanya keluarga Klaus yang tahu dibalik misteri Zee dan Melinda
Zee kembali melangkah kan kaki nya dengan wajah datar nya tanpa mengindahkan pertanyaan Melinda, dan diikuti Al dibelakangnya
tak mendapat jawaban Melinda beralih bertanya pada Al
"Al bagaimana keadaan tuan?" tanya Melinda
"tuan pingsan saat beliau di perusahaan, nyonya bisa melihat keadaan nya langsung diatas" jawab Al dan kembali melanjutkan langkahnya menyusul Zee
"tante aku pulang dulu" pamit Monica
"baiklah" jawab Melinda dan langsung menuju kamarnya
to be continued....
happy reading...
jangan lupa, like, coment, vote and add your favorit....