My Wild Wife

My Wild Wife
permintaan tuan Jeff



sepeninggal Dila.... ponsel Zee pun berdering


rupanya Sean yang menelfonya


"kak apa maksudmu?kenapa menolak Monica menjadi sekretaris mu?!" teriak Sean yang sudah sangat kesal dengan sikap Zee


"hey...kau berteriak padaku hanya karena Masalah itu?"


"kak, bukankah kau setuju jika Monica bekerja di kantor mu? kenapa sekarang kau memepersulitnya?"


"aku memang membiarkan dia bekerja di sini tapi tidak untuk menjadi sekretaris ku!, kau mengerti?"


"aku tidak mungkin membiarkan nya menjadi karyawan biasa kak, kau bisa lihat pendidikannya Monica itu bukan wanita biasa dia istimewa kak dan lagi posisi sekretaris mu kan juga akan kosong


"apapun itu aku tidak akan menerima nya" Zee tetap pada keputusannya


"tapi papa telah menyetujui"


Tut....Zee segera memutuskan percakapan mereka sepihak dan mengetikkan sesuatu dari ponselnya sepertinya menghubungi sekretaris pribadinya


"Al aku ingin bertemu dengan papa malam ini, urus pertemuan nya" ucap Zee dan mematikan sambungan telepon


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


di rumah keluarga Nicolas.....


"ell, bunda udah pulang?" tanya Aruna menatap ell di sofa yang sedang fokus dengan laptop di depannya


"belum" jawab ell singkat matanya tetap fokus menatap layar laptop di depannya


"Lo udah nelfon bunda?"


"belum"


"kenapa nggak nelfon?"


"'ya ampun runa daripada Lo sibuk nanya Mulu, bunda sama papa kan udah bilang kalau mereka punya urusan penting Lo nggak usah cemas deh, daripada nanya mulu sini bantuin gue nyari lowongan kerja"


"emang yang kemarin gimana?"


"belum ngasih kabar, gue nggak yakin keterima"


"loh, kok pesimis gitu sih?" ucap Aruna mendekati ell kepalanya diletakkan di pundak ell


"runa Lo nggak bantu banget, malah ngasih beban, berat tahu pala Lo angkat!" geram ell yang di hadiahi senyuman oleh Aruna


"enak aja berat!, makannya waktu gue ajak ngelamar di perusahaan klaus group ikut"


"gue kan udah bilang dari awal gue nggak mau kerja di sana, senior kita kan sempat cerita kalau di sana tu kerja kaya robot, Lo aja tetap ngeyel gimana seru nggak?"


"kita tu jangan dengerin kata orang, di coba dulu, tapi setelah gue coba iya juga sih, karyawan di sana pada sibuk jatuh di depan nya aja mungkin nggak akan di tolong saking sibuknya" ucap Aruna membenarkan ucapan ell


"trus Lo betah kerja di sana?" ell melirik Aruna sekilas


"ya mau gimana lagi? hidup itu berjalan ell.,,banyak pengangguran di luar sana yang cari kerja tapi nggak dapat apalagi yang mau kerja di Klaus group? nggak ke itung, dan gue udah dapat kerja malah milih mundur? ya nggak bisa gitu lah, lagian gaji nya juga nggak main-main"


"iya sih, tapi gue nggak deh, nanti tuan Zee itu naksir lagi sama gue terus Lo patah hati, kan nggak lucu gue nikung saudara sendiri"


"enak aja siapa juga yang sama tuan Zee gue itu cuma karyawan nya ell, nggak lebih ini dunia nyata bukan dunia novel yang boss nya jatuh hati sama karyawan"


"nggak ada yang nggak mungkin kalau jodoh"


"jodoh?"


Aruna yang membayangkan itu rasanya ingin tertawa, bisa-bisanya dia membayangkan berjodoh dengan manusia kutub itu


"nggak mungkin dan nggak akan pernah mungkin"batin Aruna


ell menyipitkan mata melihat Aruna senyam senyum tak jelas


"na Lo kenapa?" tanya ell menepuk pundak Aruna pelan tapi tak kunjung sadar


"woii...!"


"hah jodoh? manusia kutub? maksud Lo apa sih?!," ell bingung dengan pernyataan spontan yang keluar dari mulut Aruna


"hah?" Aruna terlihat seperti orang linglung, ia sepertinya tak sadar dengan apa yang baru saja ia ucapkan


bwahahah.....tawa ell pecah


"kayak nya Lo pasti lagi ngebayangin jadi jodoh tuan Zee iya kan?ngaku lo!?" tawa ell sembari menunjuk wajah Aruna yang sudah seperti kepiting rebus


"ya nggak lah ell, nggak mungkin gue ngebayangin itu, jelas-jelas hal itu mustahil!" ucap Aruna salah tingkah


"hmm...ya-ya gue bisa tebak, rupanya ada yang udah buka hatinya ya" bisa ell mengerlingkan matanya ke Aruna


"tahu ah!, Lo nggak jelas" Aruna pun segera berdiri dari duduknya dan berlalu meninggalkan ell


"jodohnya tuan Zee!" teriak ell tertawa meledek Aruna


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


di sebuah restoran ternama,....


"GOLDEN RESTO"



sudah terlihat dari nama restoran nya, pancaran kemewahan tak terbantahkan....


disinilah Zee dan pria paruh baya yang tak lain tuan besar Jeff CEO Klaus group


Al yang berdiri di belakang Zee tengah mengamati ayah dan anak itu yang sejak tadi hanya diam setelah menikmati berbagai makanan mewah vang tersaji di atas mejanya


"khem...." dehem Jeff yang hanya dibalas lirikan oleh Zee


"sebenarnya papa mu ini sangat ingin makan di apartemen mu, bukankah aku belum pernah kesana?, kau tak pernah mengizinkan papa mu ini masuk melainkan hanya sebatas pintu sedangkan orang lain kau bawa menginap" ucap tuan jeff menyindir Zee


"orang lain?siapa maksud papa?" tanya Zee menatap Jeff intense seakan mencari kejanggalan dari papanya itu


"tidak, tidak...mari kita lanjutkan makanan pencuci mulut ini, aku sudah sangat lama tidak makan makanan yang manis" ucap Jeff sembari memasukan dessert coklat ke dalam mulutnya


"papa yang mengizinkan wanita itu menjadi sekretaris menggantikan Dila?" tanya Zee membuka pembicaraan inti yang merupakan tujuan dari pertemuan nya dengan jeff malam ini


"bicara lah yang jelas Zee, papa mu ini sudah tua buanglah sikap irit bicaramu itu, wanita siapa maksud mu?" Jeff memancing Zee untuk bicara lebih banyak


"kekasih Sean" ucap Zee singkat rasanya sangat malas baginya berbicara dengan tuan jeff karena pasti pria paruh baya itu akan bertele-tele dengan nya, sifat yang paling Zee benci


"Monica maksudmu?soal itu ya adikmu yang memintanya, kau kan tahu Sean itu keras kepala, jadi papa harus ikuti kemauan nya dan dia juga berjanji untuk lebih bertanggung jawab di perusahaan cabang"


"aku tidak setuju! aku tidak ingin wanita itu ada di dekatku, aku akan membiarkan nya bekerja di perusahaan pusat tapi tidak menjadi sekretaris ku!" ucap Zee tajam


"Zee ... tolonglah kau jangan sama keras kepala nya dengan adikmu itu, papa ini bingung dengan semua kemauan kalian, Sean ingin ini sementara kau tidak begitupun sebaliknya, kalian ini membuat papa tambah pusing, cobalah sedikit kompak "


"untuk masalah ini papa harus katakan kembali pada Sean jika aku menolak keras wanita itu menjadi sekretaris ku!"


"tidak bisa begitu Zee, papa telah menyetujui nya, dan pendidikan nya pun tidak bermasalah dia lulusan universitas terbaik, lagi pun kenapa kau begitu membenci wanita itu? papa lihat sejak dulu kau tidak pernah suka padanya apa ada permasalahan diantara kalian berdua?" tanya Jeff penasaran karena kebencian Zee pada Monica yang tak berdasar


"itu tidak penting!, dan aku tidak akan menerima nya menjadi sekretaris ku!" ucap Zee dingin lalu berdiri dari duduknya


"ayo Al" ajak Zee yang diikuti oleh Al dibelakangnya.


"kalau begitu saya pamit dulu tuan" ucap Al menunduk hormat pamit pada Zee


"silahkan...urusi boss mu itu, dan bujuk dia untuk menerima kemauan adiknya"


yang di angguki oleh Al


"kenapa dengan anak itu begitu tidak menyukai wanita?, aku harap di masih normal, tapi dia lembut pada Al apa jangan-jangan.....ah tidak!, itu sama sekali tidak mungkin!" batin tuan jeff sembari menggelengkan kepalanya membuang jauh pikiran anehnya


happy reading


jangan lupa like, vote and, coment.......