
byurr... seseorang menyiramkan air pada Aruna
terkejut Aruna pun mendongak... ternyata si iblis yang telah lama tidak ia lihat, siapa lagi jika bukan vera dan mamanya, ya memang mereka lama tak terlihat yang Aruna dengar mereka pindah ke Australia, Vera kuliah disana entah mengapa gadis itu harus kuliah sejauh itu, disini saja mungkin tidak tertampung oleh otaknya itu, Aruna tidak tahu gadis itu masih memiliki otak atau tidak....aaa, mengapa ia jadi menghina nya seperti ini...batin Aruna mengejek
"sudah sangat lama bukan? bagaimana kabarmu?kau terlihat semakin butek "tawa Vera menggema
ha?apa butek?dikira air bekas cucian kali ternyata percuma dia kuliah sejauh itu, tata bahasa nya masih sangat-sangat kurang dan apalagi sopan santun jelas tak terlihat sama sekali. lagi-dan lagi Aruna kembali mengejek Vera di dalam hatinya rasanya ia sangat malas berurusan dengan Vera saat ini karena itu begitu tidak berfaedah.
"sebelum bertemu dengan mu aku jauh lebih baik"sarkas Aruna
"oh ya?tapi kau apakah masih membawa sial? jika benar bisa rugi orang yang memungut mu itu"ujar merendahkan Aruna
"hahaha... sepertinya masih...."tambah Tante Erika
"maaf Tante bisa pulang, tolong jangan mengganggu ketertiban pelanggan saya"
ucap dewa membuka suara
"siapa kau? apakah kau pelanggan j***ng ini?"tanya vera mengejek
jika bukan disini ingin sekali ku Jambak rambutnya yang berbicara seperti itu,tapi aku memilih pergi dari pada membuat masalah di kafe dewa
"jika kau dibuang oleh majikan mu itu kami bisa memungut mu"ujar Vera sembari tersenyum mengejek dan mendengar itu Aruna pun langsung berlalu sebelum emosinya meledak di sana
"eee, tunggu-tunggu aku lupa bukankah kau masih bisa menjual diri? seperti yang dilakukan mamamu dulu" ledek Vera
Erika pun ikut terbahak mendengarkannya.
mendengar nama mamanya disebut Aruna tidak bisa menahan emosinya lagi, ia sudah sangat berusaha menahan nya tapi kali ini mereka benar benar keterlaluan...
ia berbalik dan melangkah mendekati Vera dan Erika, ditamparnya pipi dan menjamabak rambut Vera dengan begitu kuat hingga Vera memekik Untung saja ini jam kerja hanya beberapa pelanggan yang ada di sana tetapi memilih pergi melihat Aruna menjambak Vera
"aww....gadis gila lepaskan!" teriak Vera kesakitan tapi Aruna seakan tuli
melihat Aruna menjambak dan menampar Vera,
seketika Tante Erika murka dan hendak menampar Aruna, tetapi secepat kilat tangan itu ditangkap lalu dipelintir Aruna
dewa yang melihat itu mencoba menahan dan menenangkan Aruna
"run sudah tangannya bisa patah kau pelintir seperti itu"cemas dewa
tapi Aruna sama sekali tak menghiraukan nya sepertinya telinganya seakan tuli diselimuti emosi...
"kalian sudah sangat berlebihan..aku berusaha untuk sabar ketika kalian menghinaku, tetapi kalian juga menghina mamaku aku tak kan biarkan orang menghina orang tua ku!"
sentak Aruna sembari tetap menarik rambut Vera dan mempelintir kuat tangan Tante Erika, aku tak kan segan-segan jika orang-orang merendahkan keluarga ku!"
"aww ...sakit!" teriak Vera meringis
"lepaskan kami! " geram Tante Erika tetapi rupanya tenaga Aruna tak ada tandingannya jika sedang emosi jangan kan satu orang dua pun dilawannya. dewa yang melihat itu sungguh pusing, ingin menghentikan Aruna tetapi dua orang itu juga sangat keterlaluan jadi dewa memilih untuk diam saja melihat mereka merintih karena menurutnya itu pantas mereka dapatkan
"hei!, kau tolong tarik gadis gila ini!" teriak Erika dibalas gedikan bahu oleh dewa
"ma... rambut Vera rontok" rengek di manja Vera
cih selalu saja merengek! dasar cengeng! batin Aruna mencibir
tidak ingin membuat keributan lebih, Aruna pun memilih melepaskan mereka, ia sudah sangat menjadi pusat perhatian disini... orang-orang melihat dengan melongo kepada mereka walau hanya sedikit tapi itu begitu memalukan, tampaknya mereka begitu terpukau melihat Aruna dan melupakan dua iblis yang kesakitan mintak tolong itu
Aruna pun kembali melangkah dengan emosi yang masih tersisa, rasanya ia tak puas tapi mau bagaimana lagi?....
"dasar gadis brengsek!" sentak Vera yang masih didengar Aruna tapi Aruna memilih mengabaikan
"maa...sakit, rambut Vera rontok kita harus ke salon Sekarang ma" rengek Vera
"tenang saja sayang, sampai mana dia bisa melawan kita" sombong Erika
"kalian bisa pergi dari sini"usir dewa pada dua iblis di depannya itu
"ayo sayang, gatel jika berlama-lama disini..."ucap Tante Erika
dan mereka pun berlalu pergi...
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
diluar mall seseorang menarik tangan Aruna sontak membuat nya terkejut..
"dewa?" ternyata dewa
"lu nggak pa-pa?" tanya dewa khawatir
"hmm nggak, ITS okay jangan cemas"
"oh ya soal tadi gw minta maaf udah buat keributan di cafe Lo" ucap Aruna merasa bersalah
"nggak usah dipikirin, mereka yang salah bukan lo" sanggah dewa tersenyum
"oh ya gw sampai lupa bayar minuman tadi" Aruna mengambil dompet di tas nya dan mengeluarkan satu lembar pecahan lima puluh ribu
"nggak usah, itu gratis" tolak dewa
"nggak, Lo itu sering banget kasih gratisan ke gw ama ell bisa-bisa nanti cafe lu bangkrut, sekarang gue mau bayar"Aruna tetap kekeh sembari memberikan uang 50 ribuan
"nggak usah, anggap aja bayaran karena Lo udah atraksi di caffe gue" tawa dewa
"ngeledek Lo wa?" tanya Aruna kesal
"nggak, cuma apresiasi aja sih, Lo hebat banget"
"nggak usaha, gue tetap mau bayar apapun itu!"
"lu emang keras kepala na"ucap dewa sembari menerima uang Aruna
"nggak enak kalau gratisan mulu" Aruna tersenyum cengengesan
yaitu sudah gw antar lu pulang?" tawar dewa
"nggak usah repot-repot gw bisa pulang sendiri" tolak Aruna
"Lo nolak gw?" tanya dewa
"ahh, nggak gitu lu itu pasti sibuk di cafe... lebih baik lu kembali lagi gih...lagian gw juga ada sedikit urusan"
"oke deh ya sudah, kalau gitu Lu hati hati" ucap dewa
"oke bye " balas Aruna berjalan berlalu pergi meninggalkan dewa yang menatapnya
"Lo emang unik na" gumam dewa dengan senyum di bibirnya
tak beberapa lama taksi yang di pesan Aruna pun sampai.
"mbak Aruna?" tanya supir taksi
"iya betul pak" jawab Aruna sembari naik
"kemana mbak?"tanya supir taksi
aku tidak ingin pulang dulu, aku ingin sedikit menenangkan pikiran ku
"hmm, saya ke jalan x pak "ucap Aruna memberitahu alamat rumahnya dulu, ya rumah masa kecilnya. meski sudah dijual oleh Tante Erika dan neneknya tapi Aruna masih sering melihat nya dari jauh meski hanya dari jauh tapi itu berhasil mengurangi kerinduan nya terhadap papa dan mama.
to be continued....
happy reading....
jangan lupa like, coment, and vote......