
matahari mulai naik tapi dua manusia
yang berada di bawah selimut tersebut tak kunjung terbangun dari alam mimpinya siapa lagi jika bukan Aruna dan ell hari ini mereka tidur sekamar dan bisa dibilang moment cukup langka karena tak ada keributan di pagi hari ini
ketukan pintu mulai terdengar.....
"ell....."panggil ana
"bangun....,panggil ana dibalik pintu
"enguhhh...."Aruna pun terbangun
dan membukakan pintu
"sayang....kamu disini? udah pulang?kenapa pas pulang nggak bangunin bunda?terus siapa yang bukain pintu?" tanya ana sang bunda dengan celemek yang masih melekat di tubuhnya
"eh, bunda iya tadi runa pulang ell yang bukain pintu,maaf ya bunda kemaren runa nggak pamit soalnya teman runa orang tua nya lagi pergi jadi karena kasian runa temenin deh"
"lain kali bangunin bunda, kamu nginap dirumah teman siapa?biar besoknya bunda tau, bunda sama ell sampai cemas takut kamu kenapa-napa, lain kali kabarin bunda ya kalau ada apa-apa" lirih ana cemas dan sedikit air mata mengenang di sudut matanya
"ahh, bunda jangan nangis, runa ngerasa bersalah ni, maaf soalnya hp runa mati jadi nggak bisa hubungin bunda" runa memeluk hangat sang bunda
"kamu sih, kan bisa kabarin bunda lebih awal pakai ponsel temannya runa"
"eh, iya ponselnya juga mati karena disana sempat mati lampu "cengengesan runa. lagi-lagi Aruna berbohong agar fikiran ana tenang
"ya udah , bunda udah siapin makanan ajak Ell makan, tumben belum bangun, biasanya dia yang siap duluan " ujar ana bingung
"iya nanti runa bangunin"
"runa nginap di kamar ell?" tanya ana heran. tak biasanya Aruna dan ell akan satu kamar. bisa-bisa mereka saling berkelahi di ranjang saat tidur karena Aruna dan ell sangat rusuh saat tidur. keduanya benar-benar tak bisa tidur dengan akur.
"oh soal itu, waktu Aruna pulang ell bukain pintu jadi sekalian deh ell ngajak nonton dan kita ketiduran"
"emang Aruna pulang jam berapa?"
"lupa bunda hehe" senyum Aruna. ia tak tahu harus berbohong apa lagi rasanya ia sangat berdosa membohongi bunda yang sangat menyayangi dan menghawatirkan nya.
"oh gitu, tapi lain kali bunda nggak mau ini terulang lagi, ya udah bunda ke dapur dulu" peringat ana yang di angguki Aruna
belum sempat ana melangkah pergi ell sudah berteriak yang membuat langkah nya terhenti hingga berbalik
"runa....ini baju siapa? Lo pake bajunya tuan Zee?" tanya ell dari balik pintu menghampiri Aruna
sementara Aruna diam terpaku dan tatapan aneh dari ana
"baju?tuan Zee? siapa tuan zee?" tanya ana
ell pun muncul sambil menenteng baju dan celana kaos tersebut
"runa ini bajunya tuan Zee?" tanya ell tanpa menyadari sang bunda yang berdiri disana menatap penuh tanya. sungguh ell gadis ceroboh yang akan mengantarkan saudaranya pada masalah
ni anak maunya apa sih! batin aruna
"runa ini baju siapa?" tanya ana yang langsung menyambar baju tersebut
"o..oh, i.itu bajunya teman Aruna, ya teman Aruna" ucap Aruna yang kelabakan mencari alasan, sementara ell hanya diam tersenyum paksa baru menyadari ada ana di sana
o ow maafin gue na
"baju teman?tapi ini seperti baju laki-laki" gumam ana yang membolak-balik baju dan celana tersebut
"oh, itu bunda emang begitu modelnya , bunda nggak tau style anak zaman sekarang yang kece iya kan ell" ucap Aruna tersenyum paksa dan menyikut ell dengan tangannya
"oh, iya bener, bunda kaya nggak tau aja style zaman sekarang kaos itu udah biasa bunda " ujar ell mencoba merebut baju tersebut dari tangan ana, karena ana sang bunda yang tidak mudah percaya dan terus memperhatikan baju dan celana dengan teliti
"tapi tadi bunda dengar ell nyebut nama tuan Zee, siap tuan Zee? " tanya ana penuh selidik
"oh, itu bunda tau kan anak CEO klaus group runa jatuh hati sama dia bunda, itu maksudnya ell" jawab ell spontan
"ha?"runa bingung
"ouhh, jadi anak bunda yang satu ini udah besar ya sekarang, udah mulai membuka hatinya untuk lelaki," ledek ana sang bunda
Ell.....habis kau , kesal runa dalam hati
"ya sudah ini" ana menyerahkan celana dan baju tersebut pada Aruna tanpa curiga. karena kecurigaan nya itu tertutup oleh kebahagiaan karena Aruna sudah mulai membuka hati. karena selama ini Aruna sangat cuek ia menganggap semua pria yang mendekati nya itu hanya sebatas teman.
"bunda udah siapin sarapan, mandi sana baru sarapan" ucap ana pada kedua anaknya tersebut
Aruna langsung menutup pintu kamar....
"ell....Lo maunya apa sih!, nanti kalau bunda nanya yang aneh-aneh gimana? urusannya bisa panjang" frustasi Aruna
"ya gimana lagi, dari pada bunda curiga itu lebih bahaya" ucap ell tanpa dosa dan melongos ke kamar mandi. menurutnya jika tetap disitu Omelan Aruna akan lebih panjang.
"aaaaa, hidup gue hancur gara-gara dua preman sialan itu" kesal Aruna
"bunda" sapa Aruna dan ell bersamaan sambil mencium pipinya bergantian, itu adalah kebiasaan mereka setiap pagi harus ada morning kiss untuk sang bunda
"anak-anak bunda udah rapi ni" ucap ana melihat kedua anaknya yaitu ell dan Aruna kompak mengenakan celana kaos dan oversize andalan mereka jika berada dirumah
perhatian ana sedikit teralih pada bekas merah di leher aruna, yang terlihat karena Aruna mengikat rambutnya
"sayang leher kamu kenapa?" bingung ana memperhatikan leher Aruna
"bunda jangan salah paham dulu, ini tu alergi, runa makan udang waktu di rumah teman itu bunda" Aruna menjelaskan pada ana sebelum berfikir yang tidak-tidak seperti ell kemarin. padahal ana bisa membedakan hal itu tak seperti ell gadis yang memang belum memiliki pengalaman
"kamu makan udang?sayang kan Aruna alergi kenapa di makan? masih sakit?" tanya ana cemas mendekati Aruna sembari memeriksa
"udah nggak gatal kok bunda, udah sembuh" ucap Aruna tersenyum memegang tangan sang bunda
hatinya selalu dibuat terenyuh dengan kekhawatiran keluarga itu, keluarga yang selalu memberikan kasih sayang dan perhatian walau hanya masalah kecil
"itu bukan alergi bunda, itu karma karena nggak ngajak kalau pergi" sindir ell
" ada juga orang yang ditungguin malah nggak datang" sindir Aruna pada ell
"eh, enak aja itukan gara-gara urusan kerjaan" ucap ell tak terima
"sama aja, huu" cibir Aruna pada ell
"nggak" jawab ell ketus
"udah, Yo makan" ajak ana menengahi Perdebatan mereka, jika tidak diakhiri maka bisa semakin runyam masalah nya
Aruna yang tak melihat sang papa di meja makan pun bertanya pada ana
"oh, ya papa mana bunda?"tanya Aruna
"papa, masih istirahat" jawab ana
"papa sakit bunda?" tanya ell
"nggak, cuma kecapekan aja, yaudah makan nanti keburu dingin"
akhirnya mereka pun mulai menyantap makanan masing-masing....
ditempat lain......
Zee sedang bersiap-siap ke kantor
"masalah baru apa lagi yang dibuat sean" tanya Zee sembari memakai jas nya
"tidak terlalu besar tuan, masih bisa saya tangani" jawab Al
"cih..."decih zee
"kau masih melindunginya?, pasti papa yang memohon padamu"
AL hanya menunduk sopan
"ayo"ajak Zee datar melangkah mendahului AL
di dalam mobil...
aL melihat sebuah ponsel dan Album foto
"apakah ini milik anda tuan?" tanya Al menyerahkan album tersebut pada Zee
dan mulai mengemudikan mobil
penasaran, Zee membuka album tersebut
dihalaman pertama Zee tertegun melihat foto tersebut yang memperlihatkannya Aruna dan kedua orangtuanya duduk di sofa tersenyum lebar halaman pertama tersebut seperti foto keluarga yang memperlihatkan ketiga nya begitu bahagia saat itu Aruna berumur dua tahun
Zee seakan tenang melihat pemandangan tersebut, lalu dia membalik halaman berikutnya, senyum kecil timbul di wajah Zee
melihat Aruna dengan wajah imut nya
pemandangan tadi tak luput dari perhatian AL yang sedang menyetir, AL dibuat heran tak biasanya Zee tersenyum, yang sering dilihat Al yaitu wajah datar dan dingin zee
tersadar seperti diperhatikan, Zee langsung bersikap datar kembali
"antarkan tas ini pada gadis kemarin"perintah Zee
"gadis yang kemarin menginap di apartemen tuan itu?" tanya Al yang langsuang di hadiahi tatapan tajam
"baik tuan" Al tersenyum kecil
happy reading.....
jangan lupa, like, coment, and vote