My Wild Wife

My Wild Wife
kesedihan



di rumah sakit....


Niko sedang menjalankan proses operasi pada pendarahan yang terjadi di kepalanya, lampu ruangan operasi masih tampak merah.


Aruna terlihat sudah nampak tenang, tetapi wajah nya masih sama datar tanpa ekspresi seakan menyiratkan ketakutan di sana ell masih setia menenangkannya.sedangkan ana telah pulang beberapa saat yang lalu


"runa Lo nggak pa-pa kan?" tanya ell menggenggam tangan Aruna, Aruna pun menatap ell dan beberapa detik kemudian air matanya kembali mengalir di pipi putih bersih itu, melihat itu ell kembali memeluk Aruna erat


"jangan nangis, papa nggak akan kenapa-napa" ucap ell menenangkan Aruna tapi Isak dan tangis itu seakan tak berhenti


"semua sedih, semua takut tapi Lo nggak boleh kaya gini, Lo itu kuat runa, kuat demi papa sama bunda"


"ell..." satu kata itu keluar dari bibir Aruna yang sejak tadi terus bungkam


"iya?" ell melesik wajah Aruna yang tak hampa


"papa pasti baik-baik aja kan?" tanya Aruna yang dibalas anggukan oleh ell


"iya papa pasti baik-baik aja" ell terus berusaha menenangkan saudaranya itu agar tidak terlalu down


tak beberapa lama ana pun kembali....


"dokter belum keluar?"tanya ana menatap lampu ruangan operasi yang tampak merah


"belum bun" jawab ell


"kalian udah makan?" tanya ana menenteng sebuah tas yang cukup besar sepertinya itu pelengkapan mereka selama di rumah sakit


"kita nggak selera bun" jawab ell


"gimanapun kalian harus makan, biar nggak sakit, runa gimana sekarang keadaan nya?"


tanya ana memegang bahu Aruna yang tengah di peluk ell dan ell menggeleng kan kepala sebagai jawabannya


"ell...kamu pergi makan ke kantin ya, biar bunda yang coba ngomong sama Aruna"


ell pun mengangguk dan melepaskan pelukan Aruna


"Aruna sayang tatap bunda" ana menggenggam tangan Aruna dengan sebelah tangannya, dan merengkuh wajah Aruna serta mengelus air mata yang belum mengering dan entah sampai kapan akan mengering.Aruna membalas tatapan ana dengan tatapan yang sulit di artikan


"kadang kala cobaan itu menghampiri semua manusia, masalah-masalah yang silih berganti datang bagai benang kusut, sulit!, bahkan sangat sulit untuk kita menghadapi semua cobaan yang di berikan allah" ana terus menatap ke depan


"tawa yang baru muncul bisa sekejap hilang, tapi apa? banyak manusia yang lebih memilih menyerah pada hidupnya dan ada juga yang lebih memilih berjuang, berjuang terus menerus melakukan usaha untuk memilih tetap hidup dan coba dengarkan bunda, Aruna memilih yang mana? menyerah atau berjuang?" kini ana berganti menatap putri angkat yang sudah seperti putri kandung baginya itu dengan intens


Aruna tak langsung menjawab ia diam dan kembali bersuara


"runa takut" lirihnya kembali mengeluarkan air mata


"jangan takut, disini ada bunda dan ell kita akan berjuang sama-sama bagaimana?"


"bunda yakin papa nggak pa-pa?"


"kita berdoa, minta yang terbaik Aruna belum sholat?" tanya ana yang di balas gelengan oleh Aruna


"Sekarang runa sholat dan doakan papa" ucap ana mencium puncak kepala Aruna dan Aruna pun bangkit dari duduknya menuju musholla rumah sakit


tak beberapa lama ell pun datang....


"runa mana bun?" tanya ell yang tak melihat Aruna di sisi sang bunda


"lagi sholat, kamu nggak sholat?"


"ell lagi dapet bun" ucap ell yang dibalas anggukan oleh ana


"bunda udah ngabarin kak Ray soal ini?" tanya ell menatap ana


"sudah, bunda sudah menghubungi kak Ray dan dia akan pulang" ucap ana dengan hembusan nafas kasar


"semoga papa baik-baik aja"


tiba-tiba pintu ruangan operasi terbuka....


sontak ana dan ell langsung berdiri menghampiri dokter tersebut dengan rentetan pertanyaan


"gimana keadaan suami saya dok?" tanya ana harap-harap cemas


"papa saya pasti sembuh kan Dok?" tanya ell menimpali


"huh..." dokter tersebut membuang nafas kasar


"bisa ikut ke ruangan saya?" tanya dokter tersebut dan dibalas anggukan oleh ana dan ell


tibanya di ruang dokter....


"bunda papa gimana?" tanya ell terisak ana seketika memeluk ell dengan sangat erat


"saya sarankan pihak keluarga segera menyelesaikan administrasi agar kami cepat memberi tindakan"


"baik akan kami usahakan" ucap ana dan membawa ell keluar


Aruna yang telah selesai melaksanakan sholat nya sekarang Tampak cukup tenang, saat ia hendak melangkah ke ruangan operasi tapi matanya melihat dua sosok yang sangat ia kenal duduk di depan lorong ia berdiri posisinya berada di depan ruang dokter


"bunda, ell?" gumam Aruna melihat ana memeluk ell dengan posisi mereka yang sedang menangis


saat hendak melangkah...


"papa gimana bunda?" tanya ell melepaskan pelukannya pada ana


degh .. jantung Aruna rasanya berhenti berdetak


"kita harus segera cari uang buat operasi papa bunda, bunda masih punya uang kan?" tanya ell yang dijawab gelengan oleh ana


"maksud bunda apa?! kita masih bisa bayar operasi papa kan?"


"kita udah nggak punya apa-apa lagi ell" ucap ana yang seketika membuat ell menganga


"apa maksud bunda? kita masih punya rumah kita bisa jual rumah itu, ell nggak pa-pa kok nggak tinggal di situ asalkan papa bisa sehat dan kumpul lagi bareng kita"


"rumah itu sudah papa gadaikan dan akan disita pihak bank" papar ana


"a-apa?"


"lalu sekarang papa gimana bun?" tanya ell dengan wajah yang tampak sangat hancur dengan luka yang sekarang ia alami


"entahlah yang penting kita terus berdoa, bunda akan berusaha meminta pinjaman"


"kemana bunda akan minta pinjaman?"


"pasti semua ada jalannya" ucap ana mengelus pipi ell lembut menghapus air mata itu


sementara Aruna yang sejak tadi mendengar pembicaraan ana dan ell kini terdiam, lutut nya lemas yang membuat nya luruh ke lantai seketika air mata tak tertahankan lagi, ia bangkit lalu berlari ke luar rumah sakit


"hiks hiks...ini semua pasti karena aku, aku pembawa sial, aku membuat keluarga ini hancur" Aruna terus menangis sesenggukan di kursi taman rumah sakit


cukup lama Aruna menangis dan merenung hingga ia mulai berpikir...


"aku harus mencari pinjaman untuk papa, bagaimanapun aku harus mendapatkan uang itu " tekad Aruna dan berdiri dari kursi taman dan melangkah memasuki rumah sakit


"bunda" panggilan Aruna sontak ana dan ell menengok ke belakang.


"sayang, kamu habis dari mana? bunda sama ell nyariin loh" ucap ana dengan merengkuh tubuh Aruna


"maaf bunda, runa tadi ke depan sebentar"


"na, Lo habis nangis ?" tanya ell melihat mata Aruna merah


"runa oke?" tanya ana


"bunda runa pamit pulang sebentar"


"pulang? ngapain?" tanya ana mengelus pipi Aruna


"runa mau bersih-bersih" ucap Aruna


"ya udah di temenin ell ya" ucap ana yang di angguki oleh ell


"nggak usah, ell disini jagain bunda aja, runa sendiri aja. bunda percaya sama runa, runa nggak akan pernah lakuin hal bodoh ucap Aruna menolak di temani ell. ia paham apa yang sedang ana khawatir kan


"Lo yakin?" tanya ell menelisik wajah Aruna, seperti nya ada yang tidak beres pada saudaranya itu


"iya, yakin kalau gitu Aruna pamit, assalamualaikum" pamit Aruna mencium tangan ana


"waalaikum'salam" balas ana dan ell


"bunda, runa nggak pa-pa pergi sendiri?" tanya ell pada ana yang membiarkan Aruna pergi


"bunda percaya sama runa" lirih ana, ia sangat percaya jika Aruna tak akan melakukan hal-hal bodoh(bunuh diri)


happy reading....


jangan lupa, like, vote and coment


terima kasih