My Wild Wife

My Wild Wife
kemarahan



sekarang Aruna tengah berada di sebuah rumah yang sangat mewah


Aruna berdiri di depan pagar yang menjulang tinggi itu, sesaat ia memandang nanar rumah yang begitu mewah tersebut


"huh" Aruna membuang nafas kasar


"aku pasti bisa, ini demi papa" ucap Aruna menyemangati diri nya


satpam rumah tersebut pun menghampiri....


"cari siapa neng?" tanya satpam


"pak saya ingin mencari Tante Erika"


"maaf sudah membuat janji?"


"belum, katakan saja Aruna ingin bertemu"


"aduh, tidak bisa begitu neng, memang nya neng ini siapa?teman nona vera?"


"tidak, saya sepupu Vera dan cucu dari nyonya Anjani dan papa saya kakak dari Tante Erika" Aruna menjelaskan silsilah keluarga nya yang membuat satpam itu terdiam


"baiklah, akan saya sampaikan pada nyonya Erika, nona silahkan tunggu di sini" ucap satpam yang di angguki oleh Aruna


''apa mereka mau membantu ku? bagaimana kalau tidak? apa yang harus aku lakukan jika mereka tidak bersedia membantu ku?" batin Aruna cemas, asik bertarung dengan fikirannya


tiba-tiba satpam datang menghampiri lalu membukakan pintu gerbang


"silahkan masuk nona, nyonya Erika menunggu anda"ucap satpam yang seketika membuat mata Aruna berbinar, nampaknya angin baik akan segera menghampiri nya itu pikirnya


"terima kasih banyak pak" Aruna menunduk hormat dan segera masuk


" ternyata nyonya Anjani memiliki cucu selain nona Vera" batin satpam menatap Aruna yang sudah masuk ke rumah megah itu



"silahkan masuk nona" pelayanan membawa Aruna masuk ke ruang tamu yang sangat megah, disana Erika dan Vera tampak duduk manis seperti menunggu kedatangan Aruna


"hai.... sepupuku yang manis" sapa Vera tersenyum hangat yang Aruna tahu itu adalah senyum penuh dengan kepura-puraan, Aruna hanya berdiri di sisi sofa


" duduklah kenapa berdiri" Erika membuka suara, Aruna pun mengikuti dan mendudukkan bokongnya di sofa empuk itu


"ada angin apa yang membawa mu kemari? apa masalahnya?" tanya Erika dengan senyum remeh


"Aruna kesini ingin meminjam uang pada Tante, Aruna butuh untuk pengobatan papa" ucap Aruna to the point tanpa bertele-tele ia ingin segera mendapatkan uang untuk operasi Niko


"bukankah papa mu sudah mati?" tanya Vera dengan entengnya tak ada rasa bersalah sedikitpun ketika ia mengucapkan itu


degh.... mendengar itu jantung Aruna seakan terhenti perkataan Vera sangat begitu menyinggung Aruna, apa mati? tidakkah ada kata yang lebih manusiawi?


"Vera sayang, jangan berbicara seperti itu tapi benar juga apa yang Vera katakan papa mu yang mana lagi? "


rasanya Aruna ingin sekali menampar mulut sampah dua orang di depannya itu, tapi Aruna harus menahan emosi nya ini demi papanya


"om Niko, dia kecelakaan" ucap Aruna


"om Niko? tunggu siapa itu tapi aku seperti pernah mendengarnya" Tante Erika seperti berfikir


"bukankah itu orang yang memungut mu itu?" tanya Vera dengan nada meledek


"sabar...aku pasti bisa" batin Aruna menyemangati dirinya


"oh ya dia, mama lupa sayang" gelak Tante Erika pada Vera


"hei Aruna!, kau tidak marah kami berbicara seperti itu? seperti kemarin keluarkan sifat liarmu itu, kenapa sekarang tidak?" tanya Vera


terdengar seperti ledekan. ia terus memancing Aruna


"sayang...kau tahu? anjing akan menggonggong apabila di ganggu tetapi jika ia meminta sesuatu pasti akan bersikap baik dan menjadi penurut" tutur Erika seperti sedang menyindir Aruna.


"apakah mereka mengibaratkan aku anjing?cih dasar mulut sampah!" rutuk Aruna dalam hatinya, mereka benar-benar tak berperasaan


"benar itu Vera, kadang jika tak kau jaga tingkah mu, anjing itu juga bisa menyakiti mu dan kau tahu jika telah di gigit kita bisa jadi sepertinya juga" ucap Aruna penuh arti di setiap kalimat nya


"apa maksud ucapan mu?" tanya Tante Erika yang kini tersulut emosi. ia merasa tersinggung dengan kalimat yang baru di lontarkan Aruna


"aku hanya berbicara faktanya Tante, Vera akan seperti anjing jika digigit anjing bukankah begitu?" tanya Aruna dengan nada polos seperti tak ada masalah dengan kalimat yang ia lontarkan


"anakku tak akan pernah di gigit anjing kau mengerti!" ucap Tante Erika, dan Vera yang sangat tampak kesal bisa dilihat dari wajah nya. padahal bukankah mereka yang lebih dulu membalas masalah anjing?


"iya Tante"


"dengan apa kau akan membayarnya?" tanya Tante Erika


"runa Sekarang sudah bekerja di sebuah perusahaan, jadi runa bisa nyicil"


"cih, berapa gaji yang dibayar perusahaan itu?


"emang Lo minjam berapa?" tanya Vera menaikkan alisnya


"500 juta" jawab Aruna memberi tahu nominal pinjamannya


"oh cuma 500 juta? kecil itu" Erika tersenyum mengejek


"memang keluarga yang mungut Lo itu benar-benar nggak ada uang? bangkrut gitu?"


"sayang... jangan mengejek orang miskin dari dulu mereka hidup memang pas-pasan jadi jangan berbicara seperti itu" Erika benar-benar merendahkan Aruna habis-habisan. padahal uang dan harta yang sekarang mereka nikmati itu semua Milik Aruna


"Lo marah?" tanya Vera menatap Aruna yang dari tadi hanya diam menggenggam tangannya erat


"nggak, aku tahu kekurangan kamu" Aruna berkata dengan santai nya


"ma...." rengek Vera mengadu, Aruna selalu saja berhasil melawan setiap perkataan Vera


"cih dasar cengeng" umpat Aruna dalam hati


"kenapa meminjam uang kesini? kau pikir ini bank?" tanya Erika


"Tante tolong kali ini saja, Aruna minta tolong Tante selamatkan papa Niko, Aruna janji Aruna akan lakuin apapun asalkan Tante memberi Aruna pinjaman" Aruna terus memohon dengan air mata yang sudah lolos, rasanya ia harus mendapatkan uang itu apapun yang terjadi itu tekadnya


"bukankah dia bukan papa kandung mu? jadi untuk apa repot-repot biarkan saja dia mati" Erika berkata sembari meneguk secangkir kopi yang berada di atas meja


sementara Aruna yang mendengar itu emosi nya memuncak tapi berusaha ia rendam sedemikian rupa


"tidak!aku tidak boleh emosi, mereka memang manusia sampah sekali lagi aku akan memohon" monolog Aruna dalam hatinya


"kau bisa sebenarnya mendapatkan uang Aruna, contohnya hmmm..... dengan tubuhmu" ujar Vera menelisik tubuh Aruna seakan memberi nilai


"aku tidak meminta pendapat mu Vera!"


ucap Aruna memandang Vera tajam, kata-kata gadis itu begitu kotor untuk di dengar oleh telinga sucinya


"hei, kenapa Aruna? Vera itu benar dia hanya memberi saran, jangan sok suci seperti itu, kau tahu mamamu? dia dulu juga melakukan hal itu,menjual dirinya demi uang kakak ku dan aku yakin kau juga bukan darah dag...."


ucapan Erika terpotong,


"cukup!" Aruna sontak berdiri dengan amarah berapi-api


"cukup mulut sampah mu itu kubiarkan berbicara!" Aruna meradang, suaranya meninggi


"bukankah aku berkata benar? itu faktanya kau tidak tahu apa-apa selama ini!" lagi-dan lagi Erika menghina Aruna dan mamanya


"tidak! mama ku bukan wanita seperti yang kau katakan dengan mulut sampah mu itu! dia wanita terhormat!" Aruna seolah kesetanan dia mengacak-acak meja majalah dan cangkir kopi berserakan di lantai tidak terkecuali vas bunga yang berharga ratusan juta hancur berkeping keping di banting Aruna, Aruna seakan menjelma seperti singa mengamuk yang siap menerkam mangsa di depannya.


"kau sudah gila ya!" teriak Vera yang langsung berdiri di belakang Erika dengan tubuh yang bergetar, ia sangat takut melihat Aruna yang seperti kesetanan padahal bukankah ini yang ingin ia lihat dari tadi?


"hei gadis gila, hentikan kelakuan mu itu!"


teriak Erika yang sebenarnya takut dengan kegilaan Aruna


"kenapa? Vera bukankah kau ingin melihat sikap liarku? sekarang lihatlah!" teriak Aruna menggema


"kalian begitu tidak berperasaan, hanya satu kali ini aku meminta pertolongan pada kalian sedangkan semua harta orang tua ku kalian rampas! apa yang tertinggal?! tidak ada! foto, semua kenangan ku dan orang tua ku kalian musnahkan, sebenci itu kalian padaku!, apa yang telah aku lakukan pada kalian?! apa?!" teriak Aruna dengan air mata yang terus mengalir semua unek-unek nya Aruna tumpahkan


Vera dan Erika seakan tersenyum remeh, rasanya sungguh bagai kebahagiaan melihat Aruna si gadis malang itu menderita di depannya


"kesalahan mu adalah hadir di dunia ini!" ucap seseorang yang sudah sangat lama suara itu tidak di dengar Aruna.


degh....


happy reading.....


jangan lupa, like, coment, vote, and add to your favorit....


...terima kasih...