
di apartemen Zee,
Zee mamang memilih tinggal di apartemen, dan tidak pernah kembali atau pun menginap di rumah utama keluarga klaus, bahkan datang pun hanya pada urusan yang benar-benar mendesak dan tidak pernah menginap,
jika tidak di apartemen dia akan pergi ke sebuah tempat yang membuatnya tenang dari kecil hingga sekarang
diruang tamu apartemen Zee....
"Al selidiki wanita yang kemarin" perintah Zee pada Al yang dimaksud adalah Aruna
"perempuan yang menginap disini kemarin tuan?"tanya Al yang dihadiahi tatapan tajam oleh Zee
"baik tuan" ucap Al dengan senyum tipisnya yang nyaris tak terlihat
"kutunggu 2 jam" ucap Zee dan melongos pergi ke kamarnya
"2 jam apa aku tidak salah dengar?" gumam all dan segera meninggalkan apartemen
sementara dirumah keluarga Nicolas.....
"assalamualaikum bunda....." panggil Aruna dan ell mengejutkan ana sang bunda yang sedang menyiapkan makanan di meja makan
"cantik- cantiknya bunda udah pulang, gimana harinya seru" tanya ana
"kurang seru, bunda nggak ikut" peluk Aruna dan mencium pipi ana
"bunda masak sendiri?" tanya ell sambil meneguk air di meja makan
"iya, udah selesai, tinggal panasin" senyum ana
"bunda masak dirumah, kita malah jalan-jalan" ucap Aruna tak enak hati melihat sang bunda menyiapkan banyak sekali menu yang tersaji di atas meja makan
"tapi kita puny hadiah buat bunda, mana na?" tanya ell pada Aruna
"oh iya dong buat bunda nggak akan lupa" ucap Aruna memberikan 2 kotak roti sobek tadi
"apa ini?tanya ana dan membuka kotak kue tersebut
"ouhh,roti kesukaan bunda, kok dibeliin bunda kan nggak pesan tadi?"heran ana
" kita mah nggak pernah lupa sama bunda, kue kesukaan bunda juga nggak akan lupa, kan bunda selalu ada di hati iya nggak na" goda ell
"iya dong" senyum Aruna
"ini nggak ada maunya kan?"curiga ana
"bunda tenang aja, aman kok" senyum Aruna
"ya udah kalian bebersih gih, " perintah ana pada kedua putri cantiknya itu
" siap bos" ucap Aruna dan ell bersamaan
mereka pun kembali ke kamar masing-masing
sementara di ruang tamu apartemen zee
Zee duduk di sofa ruang tamu sibuk memandangi sebuah foto dengan senyum tipisnya
Zee terus sibuk membolak-balik foto tersebut foto seorang gadis kecil yang tengah memegang coklat di tangan dengan mulut belepotan coklat yang tak lain Aruna
entah, ada apa dibalik photo itu Zee begitu serius menatapnya
"apa ini benar dia?tapi aneh sekali" senyum tipis zee
Bel pintu terdengar menyadarkan lamunan zee......
"Siapa itu?apa mungkin Sean cepat sekali"gumam Zee dan beranjak membukakan pintu apartemennya
"Tuan" sopan Al dengan sedikit menunduk kan kepalanya
" Ternyata kau Al,? Masuk" ajak Zee
" cepat sekali kau? apa kau sudah mendapatkan apa yang kuminta tadi?" Tanya Zee datar
" Tentu saja tuan" jawab Al sembari memberikan berkas yang berisi biodata dan beberapa foto
Zee pun membawa berkas tersebut
"tentu saja tuan, saya akan melakukan yang terbaik" tutur Al yang hanya mampu menahan sabar
"Ternyata kau memang selalu bisa ku diandalkan" senyum Zee sembari membolak-balik biodata yang berisi tentang silsilah kehidupan Aruna sedetail mungkin.
"Dia bekerja di Klaus group?" Tanya Zee sedikit menyipitkan mata
"Nona Aruna baru mengajukan lamaran kemarin tuan, belum ada konfirmasi diterima dan tidaknya di cabang Klaus group tuan" ucap Al menjelaskan
"mengapa tidak di pusat?"
"tuan tahu sendiri jika kriteria karyawan di Klaus group tersebut minimal S2 dan nona Aruna hanya menempuh pendidikan S1"
"cih, Masi saja peraturan itu di pakai" Zee geleng-geleng kepala dengan peraturan yang di buat oleh papanya itu bersama petinggi perusahaan. Al hanya diam tanpa menanggapi ucapan Zee yang menurutnya benar.
"terima saja " ucap Zee tanpa sadar
"apa tuan?"tanya Al memastikan bahwa yang didengar nya tidak salah, bagaimana tidak percaya, seorang Zee menerima karyawan tanpa menyeleksi terlebih dahulu itu terdengar mustahil bagi Al
"khem,...."dehem Zee mencairkan suasana
"maksud saya jika dia bisa memenuhi kriteria perusahaan ya terima saja" kilah Zee masih dengan tenang menutupi kegugupannya
"itu sudah pasti tuan" jawab Al sembari menahan senyum
"kalau begitu saya mohon pamit tuan" Al pun langsung pergi meninggalkan apartemen Zee
sepeninggal Al pergi, Zee masih setia membolak-balik biodata yang berisi info lengkap riwayat hidup Aruna dengan di sertai beberapa foto Aruna yang nampak tersenyum manis tanpa sadar Zee pun ikut tersenyum memandang foto itu.
"Patricia Aruna Danendra? apakah ini benar-benar dia?" lirih Zee menatap foto itu intense. entah apa yang sekarang ada di dalam fikiran Zee jelas hanya dia yang tahu.
sementara di hotel paradise....
"Sean kenapa kau lama sekali!" kesal Monica yang melihat cara Sean mengerjakan laporan yang diberikan Zee tadi siang.
"sayang, berhentilah berbicara. aku tak bisa berkonsentrasi memperbaiki laporan ini" Sean menatap serius layar laptop di depannya
"kenapa kau jadi menyalahkan ku! aku hanya menyuruh mu agar cepat! bagaimana kau bisa kalah dari kakak mu itu! dia laki-laki yang sangat sempurna sedangkan kau?! mengerjakan ini saja tak bisa, aku benar-benar muak dengan semua ini!" kesal Monica lalu menyambar tasnya, melongos pergi meninggalkan Sean
"sayang...." kejar Sean
" tolong jangan pergi, temani aku di sini, mengertilah aku. aku memang tak bisa seperti kak Zee tapi aku akan berusaha lebih baik darinya. demi kamu" Sean memegang kedua tangan Monica dengan erat seakan menyiratkan jika dia sangat takut kehilangan Monica
"apa katamu? melebihi Zee?apa aku tak salah dengar? aku muak dengan semua ini Sean!dan sekarang aku jadi ragu menikah dengan mu!" sentak Monica melepaskan genggaman tangan Sean dengan kasar
"sayang...." panggil Sean yang tak dihiraukan sama sekali oleh Monica.
saat ingin mengejar Monica, tiba-tiba ponselnya Sean berdering....
"kakak?!" yang melihat layar ponsel tertera nama Zee di sana, ia menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan dari Zee
"laporan!" ucap Zee to the point
"kak, bisakah tidak sekarang? aku benar-benar si-" belum sempat Sean menyelesaikan ucapannya Zee lebih dulu memotong
"apa kau tuli? sekarang antarkan laporan itu ke apartemen ku!" Zee langsung mematikan sambungan ponselnya
"arghh..." Sean menarik kasar rambutnya, ia benar-benar frustasi dengan tingkah Monica maupun Zee yang tak memahami nya
"ck, tak di angkat" kesal Sean mencoba menghubungi Monica, meminta sedikit pengertian padanya.
"aku benar-benar bisa gila karena ini!" Sean memilih untuk melanjutkan memperbaiki laporan daripada mengejar Monica. karena ini menurutnya sangat begitu penting dan Monica bisa ia bujuk dengan barang-barang mewah nantinya. tetapi Zee tak akan bisa dibujuk. bisa-bisa Zee menghujam nya dengan pukulan nantinya.
visual....
Sean Jefferson Klaus
Monica
happy reading.....
jangan lupa, like, coment, and vote....