My Wild Wife

My Wild Wife
masa percobaan



"bagaimana tuan Al?" bisik Aruna pada Al sembari berlalu masuk ke dalam ruang HRD


"sungguh tidak bisa dipercaya" gumam Al menggeleng kan kepalanya melihat tingkah Aruna yang tak biasa


Al pun meninggalkannya berlalu pergi tanpa mempedulikan karyawan yang sesekali melirik melihat tingkah Al. ya begitulah sikap Zee maupun Al yang sangat acuh, dingin tak tersentuh.


apa tuan Zee sudah diperusahan?...batin Al bertanya


Al pun memilih menelfon sekretaris kantor pusat Klaus group.


"apa tuan Zee sudah sampai di perusahaan" tanya Al pada seorang sekretaris wanita bernama Dila


"belum tuan, tuan Zee tidak ada di sini sekarang" jawabnya di sebrang sana.


Al langsung memutuskan sambungan teleponnya. tak heran jika tiba-tiba Zee tak ke kantor karena bisa Al Pastikan jika sekarang mood tuannya itu sedang buruk.


"huh, baiklah menunggu beberapa saat itu tidak masalah" gumam Al dan berlalu meninggalkan perusahaan cabang Klaus group. berharap jika mood Zee telah kembali agar bisa datang ke perusahaan


sementara Aruna sudah begitu tegang dihadapan ketua HRD. ia sedang melaksanakan interview hari ini. entah kenapa suasana menurutnya terasa horor padahal ia hanya interview saja.


"baiklah nona tidak usah terlalu tegang kita sudah pernah bertemu sebelumnya bukan?" ucap ketua HRD tersebut sembari tersenyum menyadari jika Aruna saat ini tengah tegang


"fiuh..." Aruna menghembuskan nafas, menghilangkan kegugupannya


"iya buk" Aruna menjawab mantap, menumbuhkan sikap percaya diri nya kembali.


"oke, baiklah kita mulai seperti biasa, nona tidak langsung dikontrak, sebelum dikontrak nona harus melewati masa percobaan di perusahaan ini yaitu dalam waktu 1 bulan masa percobaan, jika memenuhi syarat dan kriteria perusahaan kami, anda akan resmi diterima, tapi anda tenang saja jika anda tidak diterima kami akan tetap memberikan kompensasi waktu anda dalam satu bulan tersebut sehingga tak waktu anda tak akan terbuang sia-sia" ucap ketua HRD tersebut menjelaskan


"saya mengerti" Aruna menjawab dengan mantap


"oke baiklah anda bisa mendatangi berkas ini sebelum memulai besok untuk berkerja" tutur kepala hrd tersebut mengeluarkan berkas kontrak yang siap di tandatangani Aruna


Aruna pun pulang setelah menandatangani berkas tersebut, rasanya sekarang ia telah lega. sebelum pergi Aruna memandangi perusahaan raksasa itu dengan penuh kekaguman.


"huh, akhirnya.... jika aku bisa bekerja dengan baik pasti aku akan bekerja selamnya disini" ucap Aruna tersenyum bangga. yang harus dilakukan nya sekarang adalah menunjukkan potensi yang ada pada dirinya.


saat Aruna hendak berbalik dia menabrak seseorang laki-laki tampan


brukk....Aruna terjatuh


"apa anda baik-baik saja?" tanyanya yang tak lain adalah Sean, Sean menjulurkan tangannya menolong Aruna berdiri


"ouh"...ucap Aruna sedikit terpaku menatap Sean lalu menerima uluran tangan Sean


"tidak pa-pa tuan, maaf saya telah menabrak anda" ucap Aruna merasa bersalah karena tak berhati hati sehingga menabrak orang yang kini berada di depannya dengan wajah yang tersenyum


"tidak apa-apa lain kali lebih berhati-hati lah" ujar Sean lalu meninggalkan Aruna yang tak henti menatap Sean tanpa berkedip, merasa jika ia familiar dengan wajah itu.


"dia...itu...." gumam Aruna mencoba mengingat-ingat sesuatu


"sean Jefferson Klaus" lirih Aruna kaget mengingat siapa yang ia tabrak tadi


"arghhh, kenapa aku tidak bisa mengingat lagi!, kenapa dengan otak ku ini tidak bisa mengingat pria tampan, padahal aku sering melihatnya di majalah" gerutu Aruna merutuki dirinya yang begitu pelupa. tapi penyakit pelupanya itu sepertinya tak akan ada obatnya.


Aruna memilih pulang menaiki taksi dan meninggalkan perusahaan Klaus group


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


sementara disisi lain Zee baru terbangun dari tidurnya


"enguhhh....." lenguh Zee meregangkan otot nya


"jam berapa sekarang?" gumamnya melihat cahaya matahari yang menyelinap masuk di balik tirai jendelanya


Zee meraba ponselnya yang berada di nakas sampai ranjangnya


"fiuh...Zee membuang nafas kasar melihat jam yang menunjukkan pukul 09:45 wib


Zee pun langsung menelfon seseorang yang tak lain sekretaris Al


Zee pun turun dari ranjangnya dan masuk ke kamar mandi


Zee adalah tipe orang yang gila terhadap pekerjaan dia tidak akan melewatkan pekerjaannya saat mood nya telah kembali, bekerja tanpa kenal waktu dan berhenti ketika moodnya sedang tidak baik dia tidak akan mempedulikan apapun pekerjaan nya, sepenting apapun itu Zee tidak akan memperdulikan nya walaupun terdengar tidak bertanggung jawab, tapi itulah Zee


selesai mandi Zee pun memakai pakaian formalnya ke kantor stelan jas berwarna abu-abu beserta celananya tak lupa sepatu pantofel yang melekat di kakinya begitu menambah pesona Zee


saat hendak pergi Zee, mata Zee menangkap sebuah album dan amplop coklat yang berisi biodata Aruna


Zee pun mengambilnya dan memasukkan ke dalam tas kerjanya


tak lama Al pun datang


"tuan" ucap Al menunduk hormat


"bawa ini" Zee memberikan tas kerjanya pada Al


" untuk apa tuan membawa tas kerja?"batin Al heran dengan tingkah Zee yang membawa tas kerjanya, pasalnya Zee adalah tipe orang yang paling malas dengan membawa sesuatu ditangannya, biasanya Al lah yang menyiapkan sesuatu seperti bekas kontrak dan berkas meeting lainnya yang akan di masukan kedalam tas kerja


tapi seingat Al hari ini tidak ada meeting atau berkas penting yang disiapkan, Zee hanya perlu menandatangani berkas yang sudah Al siapkan di atas meja kerjanya, Al dibuat penasaran dengan isi dari tas kerja Zee hari ini


Zee dan Al pun menuju perusahaan pusat klaus group dengan mobil yang dikendarai Al


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


sementara Aruna telah sampai di rumah...


"sepi banget," heran Aruna


"assalamualaikum bunda...panggi Aruna pada ana


"wa'alaikumsallam....bunda di dapur" teriak ana


Aruna pun langsung ke dapur dan memeluk ana dari belakang


"bunda" peluknya


"udah pulang?, gimana semua nya lancar?" tanya ana berbalik dan memeluk Aruna erat sembari mencium puncak kepala Aruna penuh kasih. sungguh ibu dan anak yang begitu saling menyayangi


"Alhamdulillah lancar, Aruna dikasih masa percobaan sebulan, kalo Aruna bekerja dengan baik insyaallah diterima" senyum Aruna menatap pada ana. rasanya lelahnya hilang ketika menatap wajah ana dengan senyum yang tak pernah luntur dari wajah ke ibuan itu.


"Alhamdulillah, bunda ikut senang" ana mencium kening Aruna


"bunda lagi apa?" tanya Aruna yang tersadar dengan celemek yang dipakai sang bunda


"bunda, bikin cemilan lagi buat roti"


"roti sobek?" tanya Aruna


"iya, runa mau yang rasa apa?" tanya ana


"nggak deh, runa udah sering liat, yang original lagi"


" anak bunda udah mulai nakal ya" ana yang langsung menghadiahi Aruna dengan cubitan di hidungnya


"canda kok bun"


"'ya, udah sana ganti baju dulu" perintah ana yang melihat Aruna belum mengganti pakaiannya


"oke Bun, ehh ell mana kok dari tadi nggak keliatan?" tanya Aruna


"ell katanya mau ngelamar kerja lagi"


"dimana bunda?" tanya Aruna tak menyangka jika ell akan melamar kerja, kerena tadi lagi ell masih tak terlihat seperti orang yang akan melamar kerja.


happy reading.....


jangan lupa, like, coment and vote....