My Wild Wife

My Wild Wife
penolong



"apa sekarang?aku belum sempat menyelamatkan papa" batin Aruna dengan mata terpejam


brukh.....


tubuh Aruna jatuh terduduk di tengah jalan


"oh...shitt!!" decak seorang lelaki lalu turun dari mobil dengan sebuah payung di tangannya sedangkan lampu mobil bersinar dengan terangnya


"jika kau ingin bunuh diri, lebih baik gantung diri saja setidaknya itu tidak akan menyusahkan orang" ucap lelaki tersebut berdiri dan memayungi Aruna, Aruna yang saat itu menunduk dengan mata terpejam merasa tubuhnya tidak lagi basah


" apa aku sudah mati?apa ini di surga?" batin Aruna berfikir konyol


"hei kau, apa kau tak mendengar ku?!" lelaki tersebut sedikit menaikan intonasi nya karena merasa di abaikan dan sedikit menyenggol kaki Aruna dengan kakinya memastikan apa wanita di bawahnya itu masih sadar, mendapat senggolan di kakinya membuat Aruna seketika membuka mata dan mendongak


degh ....mereka saling menatap dengan dalam, tatapan mereka seolah terkunci, wajah keduanya nampak kaget


"tuan Zee?" lirih Aruna dengan keadaan mereka saling menatap, ya orang yang ada di depannya ini tak lain adalah Zee putra pertama keluarga Nicolas, benar! ia tak lupa sedikit pun karena wajah ini telah melekat di ingatannya


sepersekian detik mereka menatap.... sama-sama sadar mereka memutuskan tatapan itu dan Aruna kembali menunduk


"berdirilah". Zee mengulurkan tangan nya di depan Aruna, sesaat Aruna memandang tangan yang berada di depannya, tangan yang nampak kekar dengan urat-urat yang menonjol, mereka disinari oleh lampu mobil sehingga Aruna dapat melihat dengan jelas


"apa kaki mu terluka?" tanya Zee menelisik gadis didepannya yang nampak kacau bagaimana tutur katanya kini lembut padahal ketika baru beberapa detik lalu ia menyarankan untuk gantung diri


"t-tidak" gagap Aruna dan segera berdiri tanpa menerima uluran tangan Zee, pada saat akan melangkah ia tersungkur tapi dengan sigap Zee menangkap tubuh Aruna sehingga payung di tangannya lepas hingga terjadilah adegan seperti di film-film dengan hujan yang terus mengguyur mereka


"sepertinya kau terluka"


"t-tidak saya baik" Aruna melepas rengkuhan Zee dan kembali berjalan tetapi tetap sama ia tersungkur dan sekarang benar-benar tersungkur karena Zee membiarkan tanpa menolongnya


"cih ...kau terlihat sangat baik" sindir Zee dan kembali mengulurkan tangannya


"berdiri sekarang jika tidak ku tinggal"


degh....


Aruna seperti pernah mendengar kata-kata itu, tapi dimana?


lama berfikir Aruna pun segera meraih tangan itu dan berdiri


"naik ke mobilku dan ku antar kau pulang!" titah Zee dan masuk ke mobilnya


"tidak usah, terima kasih saya bisa pulang sendiri" tolak Aruna


"naik!, jika tidak ku pecat kau dari perusahaan ku" ancam Zee yang seketika membuat Aruna diam


"t-tapi baju saya basah tuan" lirih Aruna memandang pakaiannya yang sudah basah


"lalu? kau ingin bertukar pakaian dengan ku?kau tidak melihat Jika pakaian ku juga basah?" entah perkataan absurt yang keluar dari mulut Zee membuat Aruna salah tingkah, ia merasa malu dengan perkataan Zee tentang "bertukar pakaian"


"b-bukan begitu maksud saya tuan t-ta..."


belum sempat Aruna menyelesaikan ucapannya Zee lebih dulu memotongnya


"cepat kau naik!" teriak Zee di tengah hujan yang turun. mendengar teriakkan itu Aruna langsung masuk ke mobil. Zee bukanlah orang yang penuh dengan kesabaran ketika mendengar penolakan terus menerus dari Aruna membuatnya harus mengeluarkan suara petir nya.


"ck...lama!" decak Zee dan langsung menjalankan kemudinya


"di mana rumah mu?" tanya Zee


"di jalan x tuan" ucap Aruna memberitahu alamat rumahnya


di tengah perjalanan....


Zee melirik Aruna yang tampak kedinginan


Srukk....


Zee melempar jas yang di buka nya tadi saat menolong Aruna, otomatis jas nya tak terkena hujan


"pakai itu" perintah Zee dengan jas yang telah menutupi kepala dan wajah Aruna akibat dari lemparan Zee


"apa tuan tidak takut terkena sial jika satu mobil dengan ku ?" tanya Aruna dengan menatap ke luar jendela, Zee yang mendengar itu seketika melirik Aruna


"apa kau dari rumah dukun?" bukannya menjawab pertanyaan Aruna,Zee malah balik bertanya


"kenapa anda bertanya begitu?" tanya Aruna yang kini menatap Zee yang sedang menyetir


"kau baru selesai melakukan ramalan? dan dukun itu menyebutmu pembawa sial?" Zee menerka dengan pikiran datarnya, apa yang ia pikirkan sehingga berasumsi jika Aruna dari rumah dukun?


"bukan dukun yang menyebut ku pembawa sial tetapi nenekku sendiri" monolog Aruna dalam hati


tak mendapati Aruna menjawab, Zee kembali mengeluarkan suara


"jika dukun itu berkata kau pembawa sial, berarti kau kurang memberi nya uang" ucap Zee tanpa menatap Aruna


mendengar itu membuat Aruna menoleh


"benarkah begitu? bagaimana jika keluarga kita sendiri yang menyebut kita sebagai pembawa sial?" Aruna kembali melontarkan pertanyaan kepada Zee, entahlah sekarang ia merasa Zee yang sekarang berada di depannya ini tampak berbeda dengan Zee yang ditemuinya pertama kali karena sekarang Zee merespon saat berbicara tak seperti sebelumnya terkesan begitu angkuh, keangkuhan nya itu berkurang di mata Aruna sekarang


"kita lihat saja jika kita kecelakaan di mobil ini maka kau benar pembawa sial" Zee menatap Aruna sekilas


"cih mana bisa dibuktikan begitu?"batin Aruna menggerutu


tak menunggu lama mereka pun sampai di kediaman Nicolas....


di samping Zee Aruna tampak memejamkan mata pertanda jika ia sekarang tengah tertidur dengan pulas, Zee melirik ke arah Aruna dengan bola mata malas


"cih..dia tertidur? yang benar saja " gumam Zee tak percaya, di pandangi nya Aruna yang tampak sangat lelap seperti nya hari ini ia begitu lelah


"menggemaskan" tanpa sadar kata itu keluar dari mulut Zee dengan sebuah lengkungan terbit di wajahnya tapi buru-buru Zee menyadarkan dirinya


"gila! apakah aku sudah gila! menggemaskan yang benar saja!" batin Zee dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, ia seakan tak terima jika telah memuji gadis di depannya


tak beberapa lama Aruna pun terbangun dan melihat Zee yang ber geleng-geleng


" tuan kenapa?" tanya Aruna bingung


"khem..." dehem Zee


"tidak saya tidak kenapa-napa, kamu bisa turun karena kita sudah sampai" Zee kembali berbicara dingin seperti mencoba menutupi salah tingkah nya.


"terima kasih telah mengantar saya tuan" Aruna langsung turun dari mobil tersebut tapi sebelum menutup pintu....


"tuan terima kasih jas nya" Aruna membuka jas yang melekat pada tubuhnya dan menyodorkan pada Zee


"buang saja" ucap Zee dingin


"maaf, saya akan mencucinya dan segera mengembalikan pada anda, sepertinya anda tidak suka barang yang kotor" ucap Aruna tapi tak di tanggapi Zee


Aruna segera melangkah tetapi ia melupakan sesuatu....


"tuan Zee!" panggil Aruna setengah berteriak sebelum Zee menjalankan mobilnya, Aruna berlari ke arah mobil Zee dan mengetuknya.


Zee dibuat jengkel dengan tindakan Aruna tersebut


"ada apa lagi?!" tanya Zee geram dengan membukakan pintu jendela mobilnya


"hmm....saya ingin bertanya, apakah saya benar pembawa sial?" tanya Aruna sedikit takut


"pertanyaan konyol macam apa itu?" batin Zee geram


"kau tahu jawabannya" ucap Zee datar dan menjalankan mobilnya


"jawaban apa seperti itu!"


Aruna pun melangkahkan kakinya memasuki rumah,


happy reading


jangan lupa, like, coment, and vote.... sebagai bentuk apresiasi