
sore harinya......
"huh...Aruna menghembuskan kasar
"lelah juga, apa memang sebanyak ini pekerjaan di perusahaan ini?" lirih Aruna
pasalnya siang ini ia diberi pekerjaan yang sangat banyak oleh para senior di kantor nya. apa mereka berniat mengetest atau hanya mengerjai Aruna, hal itu hanya Aruna yang dapat merasakan.
"mungkin karena mereka ingin melihat kemampuan ku, baiklah akan ku perlihatkan kemampuan yang sangat luar biasa ini" ucap Aruna menyombongkan dirinya dan tetap berfikir positif.
"hey.... seseorang menepuk pundak Aruna dari belakang yang membuat nya terlonjak kaget
"ya ampun sela! " teriak Aruna memegangi dadanya
"habisnya kamu sih, ngelamun aja" ujar sela dengan tersenyum cengengesan
"manggilnya Lo gue aja gimana?" tanya sela
"sipp" jawab Aruna
" ternyata sela orang nya asik juga" batin Aruna, yang sepertinya akan mudah berteman dengan sela yang menurutnya bisa satu frekuensi dengan nya.
"lagi nungguin pacar ya?" tebak sela sembari menunjuk wajah Aruna
"nggak, lagi nunggu suami jemput" jawab Aruna asal yang berhasil membuat sela kaget hingga sedikit berteriak
"hah, apa?" teriak sela tak percaya
"ja..jadi Lo udah nikah?" tanya sela terbata sembari menatap Aruna
"emang kenapa? ada yang salah?" tanya Aruna masih mengerjai sela
"jadi beneran?" tanya sela lagi pada Aruna yang masih santai
"cuma becanda "ucap Aruna akhirnya
"kirain beneran " sela langsung memukul sedikit lengan Aruna seperti kebiasaan para wanita pada umumnya
drtt.... ponsel Aruna berdering
"halo, El Lo dimana lama amat" gerutu Aruna pada ell, yang sudah lelah menunggu
"iya,iya sabar napa, ini gue juga lagi otw"
"yaudah gue tunggu ni, awas lama" sambungan telepon pun terputus
"siapa?" tanya sela yang dari tadi mendengar percakapan Aruna
"oh, itu saudara "
"perempuan?"
"iya," jawab Aruna singkat
"jadi Lo punya kakak perempuan?"
"hmm, bisa dibilang gitu lah"
"enak Lo masih punya keluarga, dari pada gue sebatang kara, eh nggak deh soalnya gue masih punya bapak ya meskipun pemabuk" lirih sela yang membuat Aruna kaget, ia tak menyangka jika sela tak memiliki keluarga selain ayahnya
"Lo nggak boleh gitu, harus bersyukur siapa tahu nanti ayah Lo berubah kan, nggak ada yang tau juga" Aruna menguatkan dan menyemangati sela
"ya, semoga walaupun mustahil sih" senyum sela hambar
Aruna menggelengkan kepala melihat sela, di luar dia seperti gadis yang ceria seakan tak ada masalah di hidupnya, tapi siapa sangka senyum itu menyimpan luka.tapi begitu lah kebanyakan orang yang lebih memperlihatkan keceriaannya
"eh, Lo kenapa mandangin gue terus, nanti suka lo" ucap sela yang menyadari jika Aruna terus memandangi nya
"najis" ucap Aruna memalingkan wajahnya
tak lama ell dengan motor Scoopy nya menghampiri Aruna
"ell, udah bisa bawa motor?" tanya Aruna kaget
"siapa dulu, ell gitu loh" jawab ell menyombongkan diri nya
"ell, kalau belum bisa jangan dipaksa, gue belum mau mati dulu ya, gue belum nikah"
"Lo nggak percaya ama gue na?, gue udah belajar kok beneran deh, gue udah bisa" jawab ell sombong, gadis itu memang sangat percaya diri
"nggak!, bisa-bisa gue tinggal nama" ujar Aruna yang tetap tidak ingin naik motor bersama ell
"percaya deh sama gue, aman kok"
melihat perdebatan itu sela dibuat bingung
"naik aja runa" saran sela pada Aruna
"gue takut"
"siapa na?" tanya ell pada Aruna yang melihat gadis berdiri disamping Aruna
"oh, ini namanya sela, teman sekantor" jawab Aruna mengenalkan sela pada ell
ell pun langsung turun dari motor dan menyalami sela
"ell" ucap ell menyodorkan tangannya pada sela
"sok manis" gumam Aruna menatap ell yang tersenyum manis pada sela
"diam lo" ucap ell berbisik
sela yang melihat tingkah adik kakak di depannya di buat bingung, tingkah mereka berdua begitu lucu menurut nya,
"sela" jawab sela menerima uluran tangan ell
"runa nakal nggak di kantor? kalau runa gigit pukul aja ya" ucap ell pada sela yang berhasil membuat Aruna melotot sedangkan sela yang mendengarnya nya dibuat tertawa, rupanya kakak dari Aruna ini sama-sama sengklek nya dengan Aruna pikir sela
"ell pa-paan lo" Aruna menyenggol ell
"Aruna nggak gigit kok, tapi suka gonggong aja" balas sela
"kan, na kebiasaan Lo yang dirumah sampai kebawa ke kantor, ckck pasti orang kantor pada risih"
Aruna hanya bisa menahan kesalnya pada dua manusia yang sedang membulinya, padahal baru bertemu tetapi mereka mudah sekali akrab
"canda, na" ucap sela yang telah melihat wajah Aruna di tekuk
"runa emang orangnya baperan" ell pun ikut menangapi
"ya udah, gue pulang pakai taksi aja deh" Aruna pun melangkah tapi tangan nya segera di sambar oleh ell
"iya sabar!, a elah na Lo ambekan amat sih" ell dan mulai menaiki motor
"ell Lo yakin ni?, amankan?" tanya Aruna khawatir
"iya bawel deh" ell pun mulai kesal dengan Aruna yang tak mempercayai kemampuannya
"buruan naik!"
"iya sabar napa sih!" Aruna pun mulai menaiki motor
"oh ya, kita pergi dulu ya, bye sela" pamit Aruna sembari melambaikan tangannya
"iya hati-hati"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"tuan apa anda ingin pulang?" tanya Al pada Zee yang tengah sibuk dengan beberapa berkas di tangannya
"tidak!" jawab Zee datar
"apa anda ingin makan malam?"tanya Al lagi
"tidak!"
"baiklah, saya keluar sebentar tuan" pamit Zee
"tunggu!" suara Zee menghentikan langkah Al
"apa kau sudah menyelidiki kenapa papa datang hari ini ke perusahaan cabang?" tanya Zee yang kini menatap Al dengan mata tajamnya
"oh, soal itu saya rasa tuan besar mungkin benar hanya mengeceknya tuan, saya sudah mengonfirmasi kebenaran nya pada kantor cabang" jelas Al
"tidak!, aku ingin kau menyelidiki ulang, lihat cctv kegiatan papa di sana" titah Zee pada Al yang langsung di angguki oleh Al
"akan segera saya lakukan tuan" Al pun berlalu
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"uhh, kepala gue rasanya mau pecah" rengek Aruna memegangi kepalanya
"lebay Lo na, biasa aja kali!" Seloroh ell sembari membuka pintu rumahnya
"bunda....." teriak Aruna, ia akan segera mengadu pada bundanya tentang kelakuan ell yang ugal-ugalan membawa motor.
"bunda belum pulang" ucap ell memberi tahu Aruna
"lah bunda kemana?" tanya Aruna heran
"nggak tau tadi bunda pamit buru-buru, katanya mau nemenin papa keluar kota ada urusan penting"
"bunda bawa baju?"
"iya bawa koper, kayanya lama deh" ucap ell dan melangkahkan kaki nya menuju kamar
"ell..." panggil Aruna
"ya?" ell menaikkan alisnya merespon Aruna
"bunda nggak pa-pa kan?" tanya Aruna menatap ell dengan perasaan cemas, entahlah Aruna memiliki firasat yang kurang enak
"santai na' bunda nggak pa-pa kok, bunda tadi pamit sama gue kan juga sama papa kok" ucap ell menenangkan perasaan saudaranya itu
"oke deh, semoga semua baik-baik aja" Aruna menghela nafas kasar, ia harus tetap berfikir positif
"pasti, ayok istirahat capek nih, Lo pasti capek juga kan?"
"hmm" ell menggapi Aruna melangkah
masuk ke kamar masing-masing, membersihkan diri dari semua aktivitas mereka seharian ini yang melelahkan.
happy reading....
jangan lupa, like, coment, vote, and add to your favorit......
...terima kasih...