My Wild Wife

My Wild Wife
memasak



degh..


Zee mematung memperhatikan ikat rambut yang berada tepat di depannya


"milik siapa itu?" batin Zee


"apa kakak ku yang tampan ini membawa wanita masuk ke apartemen ini?, apa wanita itu?" tanya Sean menatap intens Zee


"wanita? oh shitt!, bagaimana aku bisa melupakannya,?wanita aneh itu pasti meninggalkan nya" geram Zee dalam hati


"kenapa diam? apa aku menangkap basah kelakuan mu yang tersembunyi ini?, kau tidak akan menyangkal bahwa ini milik Al bukan?" senyum Sean yang seperti menangkap basah kakaknya


"ckck...adik ku ini sekarang begitu perhatian kepadaku rupanya" senyum Zee yang sekarang cukup tenang dalam menyikapi keadaan jika tidak Sean benar-benar akan curiga kepadanya


"tentu saja apa wanita itu kembali?dimana dia? ayolah perkenalkan aku padanya" Sean mulai menyerang Zee dengan berbagai pertanyaan nya.


"oh jelas memang bukan milik Al, tetapi jika kau begitu penasaran siapa pemilik ikat rambut itu Al jawabannya" senyum Zee memandang Sean remeh


"apa maksudmu?" alis Sean terangkat, menyiratkan kebingungan


" karena ikat rambut itu milik orang yang Al perintahkan untuk datang kesini" pernyataan yang baru saja Zee lontarkan semakin menambah kebingungan dan rasa penasaran Sean tentu nya


"siapa orangnya?" tanya Sean menatap Zee intense seakan sangat penasaran siapa pemilik dari ikat rambut tersebut


"kenapa kau begitu penasaran, hm?"


"aku akan berhenti penasaran jika aku tahu siapa pemiliknya"


"oh, baiklah aku tidak ingin berlama-lama dengan mu disini, jadi aku akan langsung saja menelfon Al" ucap Zee menuju ruang tamu dan diikuti Sean dibelakangnya


Tut.... telefon pun tersambung


"halo tuan?"


"Al, Sean ada disini, kau ingat bukan tadi siang Dila datang kesini rupanya dia meninggalkan barang yang membuat adik tersayang ku ini salah paham" ucap Zee memandang Sean yang ikut mendengarkan percakapan itu yang di lods speaker oleh Zee


"barang? barang apa yang tuan maksud?"


"hanya sebuah ikat rambut di bawah sofa ruang tamu ku"


"milik Dila?" Al jelas bingung karena sejatinya ia tak pernah menyuruh Dila kesana


"iya hanya dia wanita yang datang ke sini bukan Al? tidak mungkin juga milik kau"


"ouhh, jadi seperti itu?" akhirnya Al mengerti dengan perkataan Zee


"Al apa benar yang dikatakan oleh kak zee?" tanya Sean yang dari tadi hanya mendengarkan Al dan Zee


"oh, tentu saja tuan Sean itu semua benar, mungkin itu milik dila yang saya perintahkan ke apartemen tuan Zee memberi berkas client" papar Al menjelaskan


"ok, Al baiklah terimakasih, maaf adik ku sudah menggangu waktu mu"


"tidak masalah tuan"


telepon pun langsung terputus...


"bagaimana Sean apa kau mau ku telfon Dila untuk lebih memastikan?" tanya Zee menaik-turun kan alisnya


"aku tidak percaya seorang kakak tersayang ku ini membiarkan Dila itu masuk ke apartemen ini?"


"oh tentu saja, karena dia membawa hal yang penting, tidak seperti mu kesini hanya mengganggu dan membuang waktu ku cuma-cuma" sarkas Zee yang kembali menatap Sean tajam yang membuat si empunya terdiam


"lalu apalagi keperluan mu kesini? jika tidak ada kau tak lupa pintu keluar apartemen ku bukan?"


"cih.." Sean akhirnya menyerah


mendengar hal itu Sean langsung meletakkan ikat rambut yang dari tadi ia pegang ke atas meja, dan melangkahkan kakinya keluar apartemen


melihat Sean yang telah pergi Zee kembali tenang


"untung saja Al selalu peka, tapi bagaimana gadis aneh itu meninggal kan ini disini?!, menyusahkan saja" geram Zee dan membawa ikat rambut itu ke kamarnya


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


di rumah keluarga Nicolas....


"ell, nggak gitu bawang nya ditumis agak kekuningan dulu baru kecapnya masukin"


"ihh, sama aja nanti akhirnya semuanya dimasukinya kan, kenapa sih ribet amat"


"nggak...ell, nanti rasanya nggak sama loh kalau nggak sesuai metode yang bunda ajarin!"


"beda dikit, nggak pa-pa siapa tahu lebih enak dari yang bunda bikin"


disinilah ell dan Aruna di dapur tempat yang berpotensi membuat mereka saling bertengkar


adu argumen pun terjadi sekarang celemek telah melekat pada tubuh mereka masing-masing, dan jangan lupakan rambut yang diikat ke atas sudah sangat mendalami peran seperti cheff amatiran bukan?, inilah sebabnya ana sang bunda tak memberi mereka izin untuk masak bersama apalagi jika membantunya, dapur bisa porak poranda oleh dua manusia yang saling beradu argumentasi tersebut


"na, Lo nggak harus ngikutin cara bunda, kita bisa berkreasi"


"itu bukan kreasi namanya ell, bawang nya ditunggu kekuningan dulu baru kecapnya masukin biar harum bawang nya terasa!" ucap Aruna memberi pengertian pada ell, namun sikap keras kepala ell lebih mendominasi


"kalo tunggu bawangnya ke Kuningan lama runa, kita udah lapar nih, emang Lo nggak itung jarak bawang kekuningan? lagian ngapain bawang yang lagi di wajan ke Kuningan kaya nggak ada kerjaan aja" ucap ell yang terus mengaduk bawang dan kecap di wajan


"ihh.." mendengar candaan ell Aruna pun langsung menoyor kepalanya


"sakit!" kesal ell memegangi kepalanya


"makanya jangan becanda terus, maksud gue Kuningan itu warna bawangnya bukan daerah goblok!"


"ya mana gue tahu" ucap ell menggedikan bahu merasa tak bersalah


"sini deh, gue yang masak" kesal Aruna yang akan mengambil sendok di tangan ell


"nggak, gue aja Lo kerjain yang lain biar cepat selesai nanti telat Lo kita perginya"


"makanya biar gue yang masak, Lo kerjain yang lain, gue mau kerja nih ell nanti terlambat, kalau gini jadi lama nih"


"makanya gue masukin kecapnya langsung jadi nggak lama, Lo nya sih ribet banget pakai nunggu bawang kekuningan dulu udah tahu laper pake nunggu bawangnya healing ke Kuningan lagi!"


"ell itu metode, yang benar ell nanti nggak enak kayak masakan Lo yang sebelumnya" sindir Aruna


"enak aja, sebelumnya itu selalu enak kok kata bunda sama papa enak!"


"itu bohong!, yang benar kak Ray langsung muntah makannya" tawa Aruna yang membuat wajah seorang ell ditekuk


"ini pasti enak gue yakin!" ucap ell sombong yang telah menuang ayam ke dalam wajan


"ell kok ayam Nya Lo masukin sih, itu belum ell, kasih air dikit dulu"


"na, Lo sana deh pergi pusing kepala gue denger Lo ngoceh terus"


"ell..Lo yakin nggak mau gue bantu? gue bisa terlambat kekantor nih kalau debat di dapur sama lo!"


"iya...iya bawel loh sana Lo siap-siap biar gue yang masak, lagian Lo nggak ngebantu apa-apa disini cuma ngoceh nggak jelas"


"ishh..Lo keras kepala banget sih! terserah deh, gue nggak peduli mau ayamnya berubah jadi batu pun gue nggak perduli!" geram Aruna melepas celemeknya kasar dan langsung melangkahkan kakinya ke kamar meninggalkan si keras kepala "ell" di dapur


"ngapain ayam nya jadi batu? emang Malin Kundang?" celetuk ell tertawa sendiri


to be continued......


happy reading


jangan lupa, like, coment, dan vote......


untuk menunjukan dukungan