
pagi harinya Aruna telah siap berangkat kerja....
hari ini adalah hari masa percobaan kerja Aruna, begitu juga dengan ell hari ini saatnya ia melamar kerja kembali di sebuah perusahaan yang bisa dibilang cukup besar
"tumben na lu rapi, pakai lipstik lagi, tu rambut juga di strika"ledek ell melihat Aruna dengan dandanan nya, hari ini Aruna memakai setelan rok di atas lutut berwarna cream dan baju merah jambu dengan ornamen di bagian dadanya dan rambut yang selalu dikuncir nya, jangan lupakan riasan yang natural, sedangkan ell selalu tampil cetar rok hitam di atas lutut, dan baju putih, rambut di gerai dan riasan yang yang cukup tebal seperti biasanya
"serah lu lah ell, udah susah-susah pakai catokan dibilang setrika lagi" kesal Aruna
"baperan lu, tapi gimana dandanan gue? kece kan?" tanya ell sembari berputar-putar di depan Aruna
" selalu cetar membahana ell" puji Aruna geleng-geleng kepala
"iya dong, tapi na, Lo walaupun nggak dandan lumayan oke kok" ucap ell sedikit memuji Aruna tapi itu terdengar seperti ledekan bagi Aruna
"ya, dong walaupun nggak pake bedak 5 centi, gue tetap mempesona" ucap Aruna sombong
"salah muji orang gue kayanya" ell pun meninggalkan Aruna dan menuju ruang makan
"lah, makanan mana?, cuma ada roti aja?" bingung ell yang tak melihat satupun makanan yang tersaji, kecuali roti dan beberapa selainnya
"bunda yang ditanya?, jangan makanan yang Lo tanyain" ucap Aruna dan berlalu menuju kamar ana dan Niko, ia hanya ingin memastikan dimana kedua orang tuanya
"bunda...." panggil Aruna mengetuk pintu kamar
"ada nggak?" tanya ell
Aruna pun hanya menggeleng
" di dapur juga nggak ada" ucap ell setelah mengecek dapur
"nggak ada sahutan" jawabnya
"bunda" ell pun ikut memanggilnya
tak ada sahutan, ell langsung memutar kenop pintu yang ternyata tidak terkunci
"nggak dikunci" ell pun berniat hendak masuk dan Mendorong pintu tapi di cegah oleh Aruna
"ell... jangan" saran Aruna
"emang kenapa?, santai aja kali" ell pun langsung masuk dan tidak mendapati ana maupun Niko disana
"lah, kok nggak ada orang?" gumam ell, merasa penasaran Aruna pun ikut masuk dan melihat sesekeling kamar itu tampak bersih, rapi, tidak ada tanda-tanda ana maupun Niko disana
"di kamar mandi juga nggak ada" ucap ell melihat kamar mandi itu juga tidak ada orang
"terus bunda sama papa kemana?" tanya Aruna
"kayaknya bunda nggak di rumah deh,tas yang biasa di pakai bunda nggak ada di atas meja" ucap ell menunjuk meja yang biasa ana dan Niko letakan tas
Aruna pun mengeluarkan ponselnya berniat menelfon ana
Tut....Tut.... ana sama sekali tak mengangkat telepon nya
"gimana na?" tanya ell
"nggak di angkat" geleng Aruna
"coba lagi"
Aruna pun mencoba kembali, menelfon ana tapi hasilnya nihil ana tetap tidak mengangkat telepon nya
"bunda kemana sih" ucap Aruna yang terdengar cemas
"coba lagi deh na"
Aruna pun kembali mencoba menelfon ana, kali ini ana mengakat teleponnya
"bunda kenapa lama banget angkat telfon kita sih?" kesal ell dan Aruna khawatir dengan ana
"maaf sayang, teleponnya nggak bunyi jadi bunda nggak ngeh kalau kalian nelfon"
"emangnya bunda lagi di mana?, sampai nggak tau kalau kita nelfon" ucap Aruna
"iya maaf ini bunda lagi keluar….." belum sempat ana menyelesaikan kalimatnya ell lebih dulu memotong nya
"Kenapa nggak kabarin kita dulu kalau bunda mau pergi biar kita nggak khawatir"
"Iya maaf ya sayang, maaf bunda lupa"
"Emangnya bunda di mana sih?, Rame amat kaya teriak-teriak" tanya Aruna karena mendengar suara bising di telefon
"Bunda?...halo?, Bunda masih disana?"tanya ell yang tak mendapat jawaban dari sang bunda
"Eh, iya ada apa?tanya ana dengan tergagap
"Kita nanya bunda lagi di mana?"
"Ohh...bunda lagi di pasar"jawab ana
"Tumbenan bunda kepasar pagi banget?" Heran Aruna, pasalnya ana akan selalu ke pasar jika mereka sudah berangkat
"Iya, kalian emangnya nggak jadi kerja?, Kenapa belum berangkat?"
"eh, iya untuk sekarang kalian sarapannya roti dulu ya bunda lupa kalau bahan makanan lagi habis, jadi bunda nggak sempat bikin sarapan buat kalian"
"oh, gitu ya udah nggak pa-pa kok Bun, tadinya kita kira bunda kemana-kemana jadi kita panik kan nggak biasanya bunda pergi sepagi ini, jadinya kita khawatir" ucap Aruna
"anak bunda belum jawab pertanyaan nya bunda, kenapa masih belum pergi?, hm?"
"ini mau berangkat kok Bun, habis sarapan"
"ya udah hati-hati ya"
"siappp bun"jawab Aruna dengan ell kompak
merekapun sarapan....
ada yang aneh.... batin Aruna dengan raut wajah herannya
"kenapa wajah lo gitu na?"tanya ell melihat perubahan raut 2ajah Aruna yang tampak bingung
"hm?"
"itu wajah Lo ekspresi nya ngapa gitu?, kaya orang bingung aja lo"
"nggak-nggak pa-pa, yaudah kita sarapan Yuk nanti telat lagi"ucap Aruna mengalihkan pembicaraan
"eh na, bunda aneh banget masa nggak buatin kita makanan" ucap ell sembari memasukan roti tawar ke dalam mulutnya
"ya, kan bunda udah bilang tadi, kalau bahan masak habis"
"ya juga sih, tapi nggak pa-pa deh nanti gue makan di kantor aja" ucap ell cengengesan
"emang udah keterima?"
"ya, belum sih tapi gue yakin interview sekarang gue benar benar keterima, Lo liat aja nanti"
"gue doa'in deh semoga keterima"
"iiiiii..... romantis banget sih, saudara aku yang satu ini"
"najis gue denger nya" ucap Aruna dengan wajah jijiknya
terdengar suara klakson tadi diluar.....
"siapa?" tanya Aruna bingung mendengar klakson mobil di depan rumah
"eh, udah datang, yok berangkat" ajak Ell pada Aruna
"siapa?"
"itu taksi yang gue pesen udah datang" seru ell bangkit dari kursi
"ouhh"
"kok oh sih, ayok barengan" ajak Ell
"eh, nggak deh, gue mau ke toilet sakit perut Lo duluan aja ya" tolak Aruna sebenarnya itu bukan alasan yang sebenarnya Aruna menolak ajakan ell, tapi ada suatu hal yang mengganjal di hati nya yang harus Aruna pastikan
"lah kenapa tiba-tiba?, tadi Lo baik-baik aja"
"ya namanya sakit perut, nggak ada yang tau kapan datangnya kan"
"makanya makan tu jangan banyak, yaudah deh, gue duluan" ell pun berlalu meninggalkan Aruna menuju taksi yang dipesannya tadi
"lah dia yang makannya banyak," heran Aruna
Aruna pun menuju ke dapur untuk memastikan sesuatu
"semoga nggak benar" gumam Aruna
"ya namanya sakit perut, nggak ada yang tau kapan datangnya kan"
"makanya makan tu jangan banyak, yaudah deh, gue duluan" ell pun berlalu meninggalkan Aruna menuju taksi yang dipesannya tadi
"lah dia yang makannya banyak," heran Aruna
Aruna pun menuju ke dapur untuk memastikan sesuatu
"semoga nggak benar" gumam Aruna
Aruna pun menuju kulkas di dapur
"huh......Aruna menghembuskan nafas kasar
dan membuka pintu kulkas perlahan
"bunda.....gumam Aruna dengan wajah yang sulit diartikan
happy reading.....
jangan lupa, like, coment and vote....