
" ya udah sana masuk, tuan besar tidak suka menunggu!"
"iya buk"Aruna pun membukukan badan melewati Wina dan masuk ke dalam ruangan tersebut
dari kejauhan ia bisa melihat pria paruh baya yang duduk di sebuah sofa dengan sebuah majalah di tangannya, Aruna pun mendekat dan berdiri di sebrang sofa yang tuan jeff duduki
"permisi tuan, apa tuan memanggil saya?" tanya Aruna sopan sembari kepala nya sedikit menunduk, tampak diluar ia sangat tenang tetapi berbeda di dalam hatinya yang telah cemas dengan perlakuan nya tempo hari
"oh, kau sudah datang rupanya" ucap tuan jeff kemudian meletakkan majalah di atas meja, tampak CEO Klaus group itu begitu berkharisma dengan pembawaan nya yang tenang
"silahkan duduk" titah Jeff menatap Aruna intense
Aruna pun duduk di sofa di depan tuan jeff
"khem...." Jeff sedikit terbatuk mencair kan suasana yang membuat Aruna sejak tadi menunduk sedikit mendongak menatap kearah tuan jeff
"kau yang menyelamatkan ku kemarin kan?"
"saya salah satunya tuan, yang menolong anda banyak para petugas keamanan dan karyawan juga ikut andil" papar Aruna menjelaskan
''sungguh sangat langka" batin Jeff. karena biasanya orang akan bermanis lidah di depannya tapi lain halnya dengan Aruna yang merasa jika bukan dia saja yang menolong Jeff
"iya saya tahu, saya juga tahu kamu sempat menuduh saya bapak mesum benar bukan?" tanya Jeff yang berhasil membuat Aruna membekalkan matanya
deggh....
rasanya jantung Aruna berhenti berdetak
"Tuhan tolong aku kali ini, apa ini hari terakhir disini?"batin Aruna meronta yang takut di pecat di perusahaan yang begitu ia impikan ini
melihat wajah Aruna yang kini terlihat sedikit gurat cemas Jeff ingin sekali tertawa melihatnya. padahal Tempo hari Aruna begitu berani dengan nya.
"apa yang kau pikirkan, jika di umpat oleh seseorang dengan panggilan bapak mesum?, oh tidak mungkin dengan panggilan gadis mesum bagaimana pendapatmu?"
"saya pak?" tanya Aruna linglung, sepertinya konsentrasi nya buyar dengan apa yang berputar di otaknya sekarang
panggilan yang semula tuan kini berubah menjadi panggilan bapak, karena Aruna saking gugupnya
"iya kamu siapa lagi?, bukankah disini hanya ada kita?"
Aruna pun kikuk dan dengan senyum cengengesan nya
"sebelumnya, saya minta maaf untuk kesalahan yang saya buat kemarin, yang membuat bapak kurang berkenan dengan perkataan yang menyinggung bapak, kemarin itu adalah bentuk tindakan spontan saya, saya tidak bermaksud merendahkan bapak, sekali lagi saya minta maaf atas semua kesalahan saya" ucap Aruna berbicara panjang lebar dengan tujuan mendapatkan maaf dari tuan jeff
"saya meminta pendapat mu, kenapa kamu begitu banyak bicara, saya ini sudah tua jadi jangan berbicara terlalu banyak"
"pendapat saya jika dikatakan gadis mesum pak?"
"hmm" berbicara terlalu banyak dengan gadis yang lemot cukup melelahkan bagi jeff
"saya jelas tidak terima, tapi tergantung dengan masalah nya kenapa saya bisa di panggil gadis mesum"
"baiklah, hari ini saya sangat malas berdebat, jadi kita lupakan saja" Jeff seakan sudah lelah, dengan segala penjelasan Aruna
"jadi bapak ingin melupakan masalahnya? terima kasih banyak pak, saya sangat berterima kasih" hormat Aruna beberapa kali menundukkan kepalanya
"sudah-sudah, disini saya ingin bertanya langsung pada kamu apa kamu punya hubungan dengan putra saya zee?"
"tidak pak" jawab Aruna jujur, karena memang sejatinya ia tak memiliki hubungan apapun dengan Zee
"tidak?, sekarang ini kamu tidak sedang menutupi sesuatu kan?" Jeff menaikan sebelah alisnya mendengar pernyataan Aruna
"iya, saya memang tidak memiliki hubungan apapun dengan tuan Zee, selain hubungan saya bekerja di perusahaan Klaus group sebagai bawahan nya pak"
"apa yang dikatakan gadis ini benar?" batin Jeff bertanya, karena merasa janggal dengan Zee tetapi dia tidak melihat kebohongan sedikit pun pada wajah Aruna yang nampak polos
"apa kau pernah bertemu dengan nya?"
"pernah, saya beberapa kali bertemu dengan tuan zee"
"dimana?"
bagian ini Aruna agak sedikit canggung menjawabnya
"emm... pertama di kantor dan yang ke dua itu saat tuan Zee menolong saya, dan..."
belum sempat Aruna melanjutkan kalimatnya tapi tuan jeff lebih dulu memotong
"menolong?"
"iya, waktu itu saya hampir di begal oleh beberapa preman, tapi untunglah saya langsung di tolong dan diobati di apartemen tuan zee" terang Aruna menjelaskan tanpa sadar bahwa ia menceritakan tentang Zee yang telah membawanya ke apartemen membuat Jeff semakin penasaran
"kamu dibawa ke apartemen oleh putraku?"lagi lagi Jeff dibuat kaget dengan penjelasan yang di ucapkan Aruna
"hmm...ee i-iya pak, tuan Zee mengobati saya karena waktu itu saya sempat pingsan lalu saya di antar tuan Al pulang"
"kau mengenal Al?"
" gadis ini terlihat gadis baik-baik, dan di wajah nya tidak ada kebohongan, tapi kenapa biodata dan info penting tentang gadis ini ada pada Zee, jika masalah pekerjaan tidak akan sedetail itu apa Zee sudah mengetahui nya?" batin Jeff dalam hati terus menelisik wajah Aruna
"oh iya, saya juga ingin bertanya, ini sebenarnya menyangkut privasi"
"silahkan tuan, saya akan menjawab semampunya"
"tentang orang tua mu, siapa orang tua mu?"
degh.... mendengar Jeff bertanya tentang orang tuanya hati Aruna sedikit tercubit tetapi ia sebisa mungkin kembali menetralkan perasaan nya.
"orang tua saya nyonya Anna dan tuan Nicolas"
"hmm... begitu kah?" Jeff merasa aneh karena data yang ada di ruangan Zee tersebut bertolak belakang dengan yang Aruna sampaikan sehingga ada raut tak percaya di wajah Jeff dengan pernyataan yang Aruna sampaikan
"bagaimana bisa kau menyangkalnya?" batin Jeff yang terus menatap Aruna
"iya tuan" ucap Aruna menunduk
"kau dari kecil dengan mereka?" Jeff lagi-lagi melontarkan pertanyaan pada Aruna
"tentu saja, mereka orang tua ku" Aruna menjawab dengan yakin
"kau begitu mirip dengan nya"
"'ini kartu namaku, hubungi aku jika kau kesulitan" ucap Jeff sembari menyodorkan sebuah kartu nama di atas meja
yang membuat Aruna memandang aneh kartu nama itu
" untuk apa itu bagiku?dan kenapa tuan jeff sangat ingin tahu tentang kehidupan ku"batin Aruna, tetapi untuk menghormati tuan jeff Aruna meraih kartu nama yang ada di atas meja tersebut
"baiklah, terima kasih untuk kartu namanya tuan"
"hmm...kamu bisa kembali"
Aruna pun segera keluar dari ruangan tersebut....
di kantor....
Zee yang telah selesai melakukan meeting Dengan client nya tampak duduk santai di kursi kerjanya dengan sebuah berkas di tangannya
tok...tok
"masuk" teriak Zee dari dalam
"tuan, nona Monica ingin bertemu dengan tuan" ucap Dila sekretaris Zee di kantor"
"apa keperluannya?"
"bukankah nona Monica akan menggantikan saya tuan?"
Zee berhenti membolak-balik berkas tersebut, dan berganti menetap Dila dengan tajam
"apa maksudmu?"
"saya mengundurkan diri tuan, karena sebentar lagi saya akan menikah jadi otomatis saya mengikuti suami saya ke negaranya" penjelasan Dila panjang lebar
"lalu kenapa harus dia yang menggantikan?"
"hmm...tuan Sean merekomendasikan tuan"
"oh jadi dia yang merekomendasikan?" seringai Zee dengan senyum remehnya
"benar tuan"
"aku tidak mau tahu, ganti!, aku tidak ingin dia!" tegas Zee
"tapi tuan?"
"kau membantah ku?"
"bukan itu maksud saya tuan, masalahnya tuan besar telah menyetujui nya" papar dila menjelaskan dengan menunduk
"cih...dia merayu nya rupanya" Zee tersenyum mengejek
"aku tidak ingin bertemu siapapun hari ini, jadi jangan biarkan dia masuk!"
"baik tuan, kalau begitu saya permisi"
Dila pun segera berlalu dari ruangan itu, lama-lama di ruangan itu tidak bagus untuk kesehatan nya ketampanan Zee saja sudah membuat nya keringat dingin, apalagi suara Zee yang bak petir, bisa -bisa ia serangan jantung di depan Zee
happy reading.....
jangan lupa, like, vote and, coment......