My Wild Wife

My Wild Wife
aneh



sementara di apartemen


"kak!" Sean menggedor pintu apartemen Zee dengan kuat, Sean benar-benar merasa harinya kacau Monica selalu menghantui pikirannya


mendengar gedoran pintu Zee langsung keluar


"apa matamu itu tak kau gunakan?, sehingga kau tidak bisa melihat bell di apartemen ku!?" sentak Zee tajam pada Sean yang memasang wajah marahnya


"ini laporannya"Sean menyerahkan laporan tersebut pada Zee dan berlalu pergi


"apa kau mengerjakan nya dengan baik?" tanya Zee sebelum Sean pergi


"periksa saja sendiri!" acuh Sean tanpa menggapi kegilaan kakak nya itu lagi.


"dimana ja* ang mu itu?" tanya Zee tersenyum mengejek yang membuat Sean berbalik


"berapa kali sudah ku bilang, dia kekasih ku!"


"kau marah?, rupanya kau terus marah jika ku singgung tentang nya, kau begitu mencintai jala*ng itu rupanya ya?" Zee terus saja memancing amarah Sean


"ya, aku memang sangat mencintai Monica, dengan tulus, sama seperti papa mencintai mama"


"cihhh..."Zee berdecih


"tulus?aku merasa begitu lucu dengan kata itu" Zee memicingkan mata menatap Sean seakan tak habis fikir dengan fikiran adiknya itu


"kau memang tak akan pernah tau cinta yang tulus!, karena hidup mu itu mungkin tak pernah ada cinta, kau selalu membenci orang yang mencintai dan menyayangi mu tanpa sebab seperti kau membenci mama" cerca Sean tajam


" berhenti kau mengatakan dia mamaku, dia bukan mama ku! sampai kapanpun aku tak akan pernah menganggapnya!" Zee menatap Sean dengan tatapan nyalangnya


seketika Sean menghentikan langkahnya mendengar ucapan Zee


"kau memang belum berubah, kak, kau masih saja membenci mama, apa ini karena perempuan itu?, jika iya kau memang pengecut!"


"cih, kau berbicara seperti itu seakan kau mengetahui semuanya" Zee memutar bola mata malas.


"apa yang tidak ku tahu?, mama sudah menceritakan semuanya padaku, tentang perempuan yang membuat mu berubah"


"kau mempercayai dongeng wanita itu?bodoh!"


Zee pun menutup pintu dengan keras dan membanting laporan yang diterima dari Sean dengan kasar


"arghhh," teriak Zee


meluapkan emosi yang ada di dalam pikiran dan hatinya, Zee benar-benar emosi mendengar penuturan Sean padanya begitu menyakitkan, luka lama yang berangsur sembuh kini terbuka lagi menyisihkan sakit yang mendalam bagi Zee, memori masa lalu berputar kembali di otaknya, kejadian demi kejadian tergambar jelas yang membuat Zee begitu frustasi


pagi harinya......


Aruna telah bersiap-siap dengan setelan kerjanya, memakai rok hitam selutut dan kemeja putih


"pagi bunda...".sapa Aruna pada ana yang tengah menyiapkan sarapan di atas meja makan


"pagi sayang, gimana tidurnya nyenyak?"


"nyenyak dong bun, eh papa sama ell belum bangun Bun?"


"kalau papa udah dari tadi berangkat nya, tapi kalau ell belum bangun"


"tumbenan nggak bangun tu anak biasanya paling cepat, ell nggak sakit kan Bun?" heran Aruna melihat saudaranya itu yang tak bangun seperti biasa


"nggak, bunda udah cek, katanya cuma kecapean, ya udah makan gih, nanti telat lagi"


"siap..bunda" semangat Aruna


"ya udah,bunda mau ke dapur dulu ya"


selesai menyantap makanan Aruna suara klakson mobil terdengar dari luar....


"bunda....runa pergi dulu ya" teriak Aruna pada ana yang sedang berada di dapur


ell pun keluar dari kamar dengan keadaan acak-acakan rambut yang diikat asal


"ihhhh....paansih berisik!" kesal ell berjalan menuju meja makan


"cuci muka dulu kali ell, langsung makan aja"


"biarin!, ucap ell menyantap makanannya"


"ishhh, jorok!" ledek Aruna pada ell


Titt.....bunyi klakson mobil sekali lagi ana pun keluar dari dapur....


"runa taksinya udah datang?"


"iya bun,runa pamit dulu ya" pamit Aruna pada ana seraya mencium tangan dan pipi ana


tak lupa


"da..dah kebo" ledek Aruna setengah berbisik pada ell dan berlalu pergi


"babi...!"teriak ell


"ell,....." tegur Aruna pada ell


"kalian udah besar masih kaya anak kecil tingkahnya" ucap ana geleng geleng kepala melihat tingkah kedua anak perempuannya itu


"ini, lain kali mandi dulu ell" nasehat ana pada ell yang melihat penampilan ell


"ehh, iya bunda maaf"


di rumah keluarga Anjani(nenek Aruna/Tante termasuk rumah Vera ya)


"' ma...gimana sih, bisa nggak sih masa itu aja nggak bisa sih" kesal Vera berdiri mondar mandir


"sayang....semua itu butuh proses, kamu tenang aja, kita lihat dulu" ucap Rika dengan santainya duduk di sofamenyerupit kopi sembari membaca majalah


"' mahh ... aku nggak bisa tenang sebelum liat tu anak menderita!"


"hey, kamu percaya kan sama mama?, kita pasti bisa buat dia bertekuk lutut memohon pada kita, kamu tunggu aja, mereka bukan lawan kita," ucap Rika tersenyum sinis


"tau, ah males,"


"daripada kamu mikirin mereka, mendingan kita shopping," ajak Rika pada Vera yang membuat Vera tersenyum manis


"ya udah, deh awas aja ya, kalo dendam aku belum kebalas juga!"


Aruna pun sampai di gedung cabang klaus group....


turun dari taksi


"huum, "Aruna menghirup nafas dalam berhenti sejenak menatap gedung pencakar langit itu, walaupun cabang, tapi menurut Aruna itu adalah gedung yang begitu besar, bangunan itu begitu kokoh, mata Aruna tak ingin berhenti memandang menikmati gedung besar itu walaupun ini sudah kali kedua Aruna menatap gedung itu dari dekat tapi Aruna tak pernah bosan menatapnya


"aku pikir nggak akan keterima lagi disini" gumam Aruna dan melangkah memasuki Klaus group


"pagi pak" spa Aruna tersenyum pada satpam yang sedang bertugas


"pagi" balas satpam tersebut tak kalah Ramah


Aruna pun masuk dan menghampiri resepsionis


"permisi mbak, saya ingin bertemu dengan kepala hrd, apa ada?"


"ouh, mbak Aruna ya?" tebak resepsionis tersebut


"eh, iya" ucap Aruna tersenyum


"mbak langsung aja, masuk ke ruang HRD, sudah tau kan kemarin?"


"iya, terima kasih mbak" ucap Aruna tersenyum


Aruna pun menuju ruang HRD menaiki lift...


"kenapa tu mbak resepsionis tau ya, nama gue? " gumam Aruna bingung bertanya-tanya


"bodoh amat lah" ucap Aruna dan berlalu keluar dari lift menuju ruang HRD


saat membuka pintu....


Aruna berpapasan dengan Al si sekretaris dingin yang baru hendak keluar dari ruang HRD


"eh, sekretaris Al kan?"tanya Aruna


"maaf anda siapa?" ucap Al pura-pura tidak mengenali Aruna


"ayolah, sekretaris Al jangan seperti itu kita sudah sering bertemu bukan" ucap Aruna sembari memukul lengan sekretaris Al


"ahh" kaget Al memegangi bahunya


apa yang dilakukan gadis ini, sering?, hanya sekali bertemu dia bilang itu sering?...batin Al


"maaf nona siapapun Anda saya benar-benar tidak mengenal anda, dan tolong bersikap lebih sopan " ucap Al dan berlalu pergi


" sombong sekali!" kesal Aruna


sebuah ide terlintas di pikiran Aruna


baiklah kau memang tidak mengenal ku rupanya ya...batin Aruna merasa tertantang


"apakah kau tidak ingat aku yang menginap di apartemen-...."teriak Aruna tapi Al dengan sigap berlari menghampiri Aruna dengan secara spontan mencengkeram tangan Aruna


sehingga mereka menjadi perhatian beberapa karyawan yang sedang berlalu lalang


"apa yang Anda lakukan nona!" geram Al berbisik masih mencengkeram tangan Aruna


"apa yang anda lakukan!, kau tidak mengenal ku kenapa memegangi tangan ku!" protes Aruna dan melepaskan cengkraman tangan Al


Al pun hanya diam membisu melihat tingkah Aruna


sungguh tak bisa dipercaya. batin Al dengan menggelengkan kepala melihat tingkah Aruna


happy reading....


jangan lupa, like, coment and vote.....